Gunting Syafrudin

Sejarah Indonesia, Kamus sejarah indonesia.

Ilustrasi: sejarah Indonesia. [Foto: creator Cekricek.id]

Apa Itu Gunting Syafrudin?

Gunting Syafrudin adalah strategi keuangan yang dilakukan Syafruddin Prawiranegaraselaku, Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta menggulirkan program pengguntingan uang dari nilai Rp 5 ke atas, sehingga nilainya jadi separuh

Pada Maret 1950 Syafruddin Prawiranegara, selaku Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta, menggulirkan program pengguntingan uang dari nilai Rp 5 ke atas, sehingga nilainya jadi separuh.

Uang yang kena kebijakan ini adalah “uang merah” (uang NICA) dan uang De Javache Bank. Guntingan kiri dari uang tersebut masih berlaku dan dapat digunakan sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai setengah dari nilai semula sampai l9 Agustus 1950 pukul 18.00. Bagian kiri dari potongan uang tersebut harus ditukarkan dengan uang kertas baru di Bank atau tempat-tempat yang telah diunjuk selama periode 22 Maret sampai 16 April 1950.

Apabila melebihi tenggat waktu yang ditentukan maka bagian kiri tersebut sudah tidak berlaku lagi.

Adapun guntingan uang sisi kanan dinyatakan tidak berlaku, tetapi dapat ditukarkan dengan obligasi negara sebesar setengah dari nilai semula, dan akan dibayarkan empat tahun kemudian dengan bunga 3% pertahun.

Kebijakan Gunting Sjafruddin ini berlaku juga bagi uang simpanan yang ada di Bank. Pecahan Rp 2,50 ke bawah tidak mengalami pengguntingan, begitupun dengan uang Oeang Republik Indonesia (ORI).

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Deretan lampion merah tergantung di bangunan kelenteng
Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat
Hamparan hutan hujan tropis terlihat dari udara
Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Mushaf Al-Quran terbuka di atas rehal di dalam masjid
Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid
Tumpukan surat kabar lama yang menguning
Iklan yang Menyamar Jadi Berita: Cara Belanda Merayu Kaum Terpelajar ke Lampung
Penari mengenakan busana tradisional Indonesia dalam sebuah pertunjukan
Sepuluh Klaim Budaya dalam Sepuluh Tahun: Bagaimana Indonesia Membalas
Bangunan bergaya kolonial Belanda di kawasan kota tua Jakarta
Dari 17.000 Orang Indo Melarat ke Partai Politik Pertama di Hindia Belanda