Siapa Soepardjo?
Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo, yang lahir pada 23 Maret 1923, adalah sosok militer yang memiliki jejak signifikan dalam sejarah Indonesia. Sebagai Komandan TNI Divisi Kalimantan Barat, Soepardjo memiliki peran kunci dalam Gerakan 30 September (G30S).
Sebelum keterlibatannya dalam G30S, Soepardjo memiliki riwayat militer yang cemerlang. Ia pernah menjabat sebagai Panglima Komando Tempur Siaga Dua di Bengkayang, Kalimantan Barat. Selain itu, ia juga terlibat dalam gerakan Ganjang Malaysia dengan misi penyerbuan ke Kuching. Pendidikannya pun tak kalah menarik, dimana ia sempat mengenyam ilmu di Sekolah Staf Tentara Pakistan di Quetta dan sekolah pelayaran calon Bintara AL Jepang di Cilacap. Tak hanya itu, Soepardjo juga pernah memimpin Resimen Divisi Siliwangi di Jawa Barat.
Namun, peran terbesarnya datang saat G30S. Soepardjo, yang saat itu berada di bawah komando Untung, terlibat aktif dalam gerakan tersebut. Ia bahkan terbang khusus dari Kalimantan ke Jakarta untuk berpartisipasi. Saat peristiwa berlangsung, Soepardjo menjadi sosok yang melaporkan penangkapan jenderal-jenderal kepada Presiden Soekarno dan menerima instruksi langsung dari sang presiden untuk menghentikan gerakan demi mencegah pertumpahan darah lebih lanjut.
Namun, nasib tragis menanti Soepardjo. Setelah menyadari kegagalan G30S, ia mencoba melarikan diri. Namun, pada tahun 1966, ia berhasil ditangkap dan dihadapkan ke pengadilan militer, Mahmilub. Hasilnya, Soepardjo dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati.
Penangkapan Soepardjo sendiri merupakan operasi intelijen besar-besaran yang diberi kode "Operasi Kalong". Pada 10 Januari 1967, berkat informasi dari Mayor KKO Adnan Suwardi, lokasi persembunyian Soepardjo terdeteksi di Komplek KKO Cilincing, Jakarta Utara. Meski sempat melarikan diri, akhirnya pada 12 Januari 1967, Soepardjo berhasil ditangkap.
Kabar penangkapan ini segera sampai ke Panglima Kodam V/Jaya, Brigjen Amirmachmud. Pada 15 Mei 1970, sehari sebelum eksekusi, keluarga Soepardjo diberi kesempatan untuk bertemu dengannya untuk terakhir kalinya. Awalnya, Soepardjo meminta agar eksekusi dilakukan dengan mata terbuka, namun setelah berdiskusi dengan keluarga, keinginannya itu tidak jadi dilaksanakan.
Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.