<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Edward Said - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/edward-said/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 07:27:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Edward Said - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bacaan Barat yang Menciptakan Timur yang Dijelaskannya</title>
		<link>https://cekricek.id/orientalisme-edward-said-menciptakan-timur/</link>
					<comments>https://cekricek.id/orientalisme-edward-said-menciptakan-timur/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ardi Putra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2026 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Covering Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Edward Said]]></category>
		<category><![CDATA[Orientalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Poskolonialisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=272879</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/orientalisme-edward-said-menciptakan-timur/" title="Bacaan Barat yang Menciptakan Timur yang Dijelaskannya" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-edward-said.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Edward W. Said berbincang dengan Daniel Barenboim" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-edward-said.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-edward-said-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-edward-said-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-edward-said-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-edward-said-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-edward-said-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Bacaan Barat yang Menciptakan Timur yang Dijelaskannya 1"></a><p>Umi Barjiyah menelaah bagaimana Orientalism dan Covering Islam karya Edward Said membongkar cara Barat menciptakan Timur lewat wacana, bukan sekadar menggambarkannya.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/ardiputra/">Ardi Putra</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/orientalisme-edward-said-menciptakan-timur/" title="Bacaan Barat yang Menciptakan Timur yang Dijelaskannya" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-edward-said.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Edward W. Said berbincang dengan Daniel Barenboim" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-edward-said.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-edward-said-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-edward-said-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-edward-said-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-edward-said-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-edward-said-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Bacaan Barat yang Menciptakan Timur yang Dijelaskannya 3"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Barat lama meyakini bahwa dunia terbelah rapi menjadi dua ruang yang tidak setara, satu yang berhak mengetahui dan satu yang hanya pantas diketahui, dan pembagian itu dianggap sebagai kebenaran ilmiah, bukan kesepakatan sepihak yang dijaga oleh kekuasaan kolonial. Klaim itu bertahan berabad-abad di balik jubah akademik: kajian bahasa, sejarah, dan etnografi tentang Timur disusun seolah objektif, padahal disusun oleh orang-orang yang juga memegang kendali politik atas Timur yang mereka pelajari. Edward W. Said meruntuhkan klaim itu bukan dengan menuduh Barat berbohong, melainkan dengan menelusuri bagaimana pengetahuan tentang Timur dan kekuasaan atas Timur ternyata dibangun oleh tangan yang sama, dalam waktu yang sama, untuk kepentingan yang sama.</p>
<p>Umi Barjiyah dari Universitas Khairun menuliskan telaah ini dengan judul <em>Telaah Poskolonialisme pada Kajian Edward W. Said dalam Karyanya Orientalism dan Covering Islam</em>, dimuat Jurnal Pusaka Volume 5 Nomor 1 tahun 2025. Ia menempatkan dua buku Said, Orientalism yang terbit 1978 dan Covering Islam, sebagai satu rangkaian argumen yang sama: Barat tidak pernah benar-benar melihat Timur, ia hanya menyusun Timur yang sesuai dengan kebutuhannya sendiri, lalu memperlakukan susunan itu sebagai fakta yang berdiri sendiri di luar kepentingan siapa pun.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Dekret yang Melahirkan Sebuah Disiplin</h2>
<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1200" height="675" decoding="async" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-mural-edward-said-w.webp" alt="Mural bergambar wajah Edward Said di dinding kampus" class="wp-image-273243" title="Bacaan Barat yang Menciptakan Timur yang Dijelaskannya 2" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-mural-edward-said-w.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-mural-edward-said-w-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-mural-edward-said-w-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-mural-edward-said-w-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-mural-edward-said-w-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/2026-09-02-mural-edward-said-w-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mural Edward Said di San Francisco State University. (Foto: Wikimedia Commons)</figcaption></figure>
<p>Disiplin yang disebut orientalisme itu sendiri, menurut Barjiyah, bukan lahir dari rasa ingin tahu yang murni. Secara formal ia berdiri tahun 1312, ketika Konsili Gereja Wina memutuskan agar bahasa Arab, Yunani, Ibrani, dan Suryani diajarkan di Oxford, Bologna, Avignon, dan Salamanca, dan pengajarnya pada masa itu umumnya cendekiawan Injil yang ingin mengenal musuh teologisnya dari dekat. Semangat itu kemudian melembaga lewat Asiatic Society yang berdiri 1784 di Inggris dan Royal Asiatic Society yang menyusul 1823, tumbuh bersama minat yang sama terhadap Yunani klasik dan Latin di zaman Renaisans, sebelum akhirnya merambah arkeologi, sosiologi, sastra, dan kebudayaan.</p>
<p>Titik balik yang paling menentukan, tulis Barjiyah mengutip Said, adalah penyerbuan Napoleon ke Mesir pada 1798 hingga 1799, yang menjadi awal orientalisme akademik yang sistematis, terutama terhadap Islam. Said bukan orang pertama yang membicarakan orientalisme, sebelumnya ada Abdul Latif Tibawi dari Suriah, Hichem Djait dari Tunisia, dan Syed Hussein Alatas dari Malaysia, namun Barjiyah mencatat bahwa Saidlah yang paling populer, mungkin karena posisinya di New York, namun lebih mungkin lagi karena ia menawarkan kerangka yang jauh lebih sistematis untuk menjelaskan sesuatu yang selama ini hanya dirasakan tanpa nama.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/sejarah-rijsttafel-meja-nasi/">Rijsttafel, Meja Nasi yang Meniru Cara Bumiputera</a></p>
<p>Menurut Said, istilah oriental sendiri sudah bersifat kanonik jauh sebelum era kolonial modern, dipakai penyair Inggris seperti Chaucer, Shakespeare, Dryden, Pope, dan Byron untuk membicarakan geografi, moral, dan budaya Timur sekaligus, sehingga kosakata Ketimuran sudah lebih dulu mengendap dalam sastra sebelum dipakai birokrasi kolonial. Barjiyah menyoroti bagaimana pembagian itu ikut membentuk dialektika gender di dalam wacana Said: jika Timur digambarkan statis, tidak beradab, dan sensual, maka Barat harus tampil sebagai peradaban yang berkembang, terkendali nafsunya, dan maskulin, sehingga Timur pada gilirannya harus feminin agar Barat bisa menjadi maskulin. Pertanyaan Gayatri Spivak, Can the subaltern speak, tulis Barjiyah, muncul justru dari celah itu, dari orang-orang yang suaranya dikonstruksi habis-habisan oleh wacana yang bahkan tidak pernah benar-benar mendengarkannya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Sandera di Teheran, Bukti di Atas Kertas</h2>
<p>Pada 20 Januari 1981, klaim abstrak itu berubah menjadi peristiwa yang bisa disaksikan lewat layar televisi di seluruh Amerika. Warga negara Amerika Serikat yang disandera di Teheran dibebaskan pemerintah Iran setelah 444 hari, dan kepulangan mereka disambut sebagai perayaan kepahlawanan nasional, lengkap dengan simbol kemenangan yang dilekatkan pada tubuh para mantan sandera, sementara para penyandera digambarkan media sebagai binatang buas berwujud manusia. Barjiyah mengangkat bab pembuka Covering Islam justru dari peristiwa ini, bukan dari teori, karena di sinilah Said menunjukkan wacana kolonial bekerja bukan di ruang kuliah, melainkan di ruang tamu jutaan pemirsa.</p>
<p>Sepuluh hari sesudahnya, pada 31 Januari 1981, majalah New Republic membongkar keras soal uang tebusan dan menyerang pemerintahan Carter karena dianggap menyerah pada teroris, sementara wartawan Fred Halliday yang menulis di Los Angeles Times tanggal 25 Januari justru mengecam kekerasan sebaliknya, bahwa para mahasiswa penyandera di Kedutaan Iran juga tidak bersikap lembut kepada tawanannya. Tulisan Halliday langsung dikecam dan dituduh memutarbalikkan fakta, sebuah nasib yang menurut Barjiyah memperlihatkan betapa sempitnya ruang bagi versi yang tidak sejalan dengan kemarahan nasional yang sudah telanjur terbentuk.</p>
<p>Jauh sebelum krisis sandera itu meletus, artikel berjudul Time for a Show of Power yang ditulis untuk Washington Post pada 11 November 1979 sudah menyebut jatuhnya Syah sebagai bencana bagi kepentingan nasional Amerika, karena Syah dianggap penyedia minyak yang stabil dan penjaga ketertiban Iran. Barjiyah juga mencatat artikel Columbia Journalism Review tahun 1979 yang menemukan bahwa pers Amerika umumnya menerima begitu saja argumen Syah, bahwa satu-satunya alternatif bagi rakyatnya hanyalah fanatisme agama atau komunisme, sebuah kerangka pilihan yang menyingkirkan segala kemungkinan lain di luar dua ekstrem itu.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kekuasaan yang Menyamar sebagai Pengetahuan</h2>
<p>Said menyebut cara kerja ini sebagai wacana, meminjam istilah Michel Foucault, dan menjelaskan bahwa teks-teks besar tentang Timur bukan sekadar menggambarkan dunia, melainkan ikut menciptakan dunia yang mereka klaim hanya digambarkannya. Barjiyah menuliskan ulang gagasan itu: pengetahuan dan kenyataan yang dihasilkan lama-lama membentuk tradisi, dan bobot tradisi itulah, bukan orisinalitas satu penulis tertentu, yang sesungguhnya bertanggung jawab atas teks-teks yang terus lahir daripadanya, generasi demi generasi cendekiawan.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/historiografi-perempuan-indonesia/">Tambo, Kartini, dan Syarat Perempuan Masuk Sejarah</a></p>
<p>Barjiyah memberi contoh konkret lewat Richard Burton, penerjemah Inggris yang membawa Arabian Nights, Rubaiyat karya Omar Khayyam, dan Kama Sutra ke pembaca Barat, dan yang oleh Said justru dijadikan bukti bagaimana kemenangan atas sistem pengetahuan Timur bisa disamarkan sebagai jasa penerjemahan yang mulia. Burton menguasai bahasa dan teks Timur sedemikian dalam, namun penguasaan itu sendiri, tulis Said, adalah bentuk lain dari penaklukan, disaring lebih dulu lewat bias kultural sang penerjemah sebelum sampai ke rak buku pembacanya.</p>
<p>Cara membaca teks semacam itu yang membuat Said, dalam Covering Islam, mengutip pemikiran Hans-Georg Gadamer tentang bagaimana seharusnya seseorang mendekati sebuah teks asing. Gadamer, yang pendapatnya dirujuk Said untuk menjelaskan tugas penafsir, menuliskan: &#8220;Yang penting adalah menjadi sadar akan prasangkanya sendiri, sehingga teks ini dapat menyajikan dirinya dalam semua kesadarannya dan dengan demikian mampu menguatkan kebenarannya sendiri dari makna-makna yang lebih dahulu ada.&#8221; Kutipan itu, tulis Barjiyah, menjadi semacam cermin yang justru dihindari oleh kebanyakan pemberitaan tentang Iran, sebab yang muncul di layar bukan kesadaran akan prasangka, melainkan prasangka yang dibiarkan berbicara sebagai kebenaran.</p>
<p>Barjiyah juga menyusun perbandingan pandangan dari Covering Islam: bagi Said, Islam menerima etnosentrisme yang melampaui batas dan kebencian yang terus menerus, sementara bagi arus utama Barat, Islam adalah agama dengan nabi palsu dan ancaman yang harus diwaspadai. Ia menautkan kontras itu dengan kolonialisme lewat nama C. Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang menyalahgunakan kepercayaan umat Islam untuk melancarkan perang brutal melawan rakyat Aceh, sebuah contoh yang menurut Barjiyah membuktikan bahwa pengetahuan tentang Timur dan kekerasan atas Timur memang pernah berjalan bergandengan tangan. Pada baris lain perbandingan yang sama, Barjiyah mencatat bagaimana kalangan Barat sendiri sesungguhnya terbelah menilai kajian tentang Islam, sebagian menyebutnya kebiadaban, sebagian lain menyebutnya teokrasi abad pertengahan, dan sisanya sekadar eksotisme yang tidak menarik, tiga label yang menurut Said sama-sama gagal mendengarkan Islam berbicara atas nama dirinya sendiri.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kritik yang Tidak Kunjung Padam</h2>
<p>Tidak semua orang sepakat dengan kerangka Said. Barjiyah mencatat Arif Dirlik yang menyebut poskolonialisme sebagai anak dari posmodernisme, lahir bukan dari perspektif baru tentang sejarah melainkan dari meningkatnya visibilitas kaum intelektual dunia ketiga di panggung akademik Barat sendiri. Aijaz Ahmad bahkan lebih keras, menuduh kepekaan pascakolonial semacam ini lebih buruk dari radikalisme Marx, sementara Homi Bhabha, lewat catatan Leela Gandhi, menilai Said terlalu naif ketika menganggap stereotipe orientalis selalu menegaskan satu wacana imperialis yang utuh dan seragam.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/driyarkara-minteri-industrialisasi-pendidikan/">Driyarkara 1962: Pintar Tanpa Kesusilaan Jadi Minteri</a></p>
<p>Barjiyah sendiri, pada bagian penutup telaahnya, mengakui bahwa penjelasan mengapa oposisi biner semacam Timur dan Barat berubah menjadi konflik nyata di masyarakat belum sepenuhnya tuntas dikerjakan dalam analisisnya, sebuah pengakuan yang jarang ditemukan dalam tulisan yang begitu percaya diri membongkar wacana orang lain.</p>
<p>Barjiyah menutup telaahnya bukan dengan kesimpulan, melainkan dengan mempertautkan kembali Orientalism dan Covering Islam sebagai satu proyek yang sama, membongkar cara Barat memandang dirinya lewat cara ia memandang yang lain. Pertanyaan yang ditinggalkannya tetap terbuka: jika Timur dan Barat sama-sama diciptakan lewat wacana yang saling berhadapan, dapatkah salah satu dari keduanya berhenti menciptakan yang lain, ataukah keduanya justru saling membutuhkan oposisi itu untuk bisa mengenali dirinya sendiri?</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/ardiputra/">Ardi Putra</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/orientalisme-edward-said-menciptakan-timur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
