<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Nikel - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/nikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Sat, 08 Aug 2026 19:13:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.3</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Nikel - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">189108407</site>	<item>
		<title>Australia Kesulitan Olah Litium Sendiri, Pelajaran bagi RI</title>
		<link>https://cekricek.id/australia-kesulitan-olah-litium-hilirisasi/</link>
					<comments>https://cekricek.id/australia-kesulitan-olah-litium-hilirisasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ardi Putra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2026 19:13:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Baterai]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Hilirisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kendaraan Listrik]]></category>
		<category><![CDATA[Litium]]></category>
		<category><![CDATA[Nikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=268701</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/australia-kesulitan-olah-litium-hilirisasi/" title="Australia Kesulitan Olah Litium Sendiri, Pelajaran bagi RI" rel="nofollow"><img width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/tambang-litium-australia-hilirisasi.webp?fit=800%2C450&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Dua truk raksasa mengangkut bijih menyusuri jalan tambang litium terbuka di Australia" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/tambang-litium-australia-hilirisasi.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/tambang-litium-australia-hilirisasi.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/tambang-litium-australia-hilirisasi.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/tambang-litium-australia-hilirisasi.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/tambang-litium-australia-hilirisasi.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Australia Kesulitan Olah Litium Sendiri, Pelajaran bagi RI 1"></a><p>Cekricek.id — Australia duduk di atas salah satu cadangan litium terbesar dunia, dan pemerintahnya sejak lama ingin lebih banyak bagian dari rantai pasok baterai diolah di dalam negeri. Kenyataannya, satu per satu kilang litium di negara itu justru berhenti beroperasi. Mengutip ABC News, Minggu (9/8/2026), Survei Geologi Amerika Serikat memperkirakan cadangan litium Australia mencapai tujuh juta ton pada 2024 — terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok yang memiliki 9,3 juta ton. Sepanjang sejarahnya, penambang Australia menggali spodumene, bentuk mineral litium, lalu mengapalkannya ke luar negeri, sebagian besar ke Tiongkok, untuk diolah menjadi bahan kimia baterai seperti litium hidroksida. Kilang yang Berhenti Satu demi Satu Upaya menaikkan kelas industri itu belakangan justru menemui jalan buntu. Kilang Kemerton, yang dibangun sejak 2019 di utara Bunbury, semula dirancang berkapasitas 100 ribu ton litium hidroksida per tahun. Rencana itu dipangkas pada 2023, konstruksi dua jalur produksi dihentikan pada 2024, dan pada Februari 2026 seluruh</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/ardiputra/">Ardi Putra</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/australia-kesulitan-olah-litium-hilirisasi/" title="Australia Kesulitan Olah Litium Sendiri, Pelajaran bagi RI" rel="nofollow"><img width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/tambang-litium-australia-hilirisasi.webp?fit=800%2C450&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Dua truk raksasa mengangkut bijih menyusuri jalan tambang litium terbuka di Australia" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/tambang-litium-australia-hilirisasi.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/tambang-litium-australia-hilirisasi.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/tambang-litium-australia-hilirisasi.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/tambang-litium-australia-hilirisasi.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/tambang-litium-australia-hilirisasi.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Australia Kesulitan Olah Litium Sendiri, Pelajaran bagi RI 2"></a>
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Cekricek.id</strong> — Australia duduk di atas salah satu cadangan litium terbesar dunia, dan pemerintahnya sejak lama ingin lebih banyak bagian dari rantai pasok baterai diolah di dalam negeri. Kenyataannya, satu per satu kilang litium di negara itu justru berhenti beroperasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengutip ABC News, Minggu (9/8/2026), Survei Geologi Amerika Serikat memperkirakan cadangan litium Australia mencapai tujuh juta ton pada 2024 — terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok yang memiliki 9,3 juta ton. Sepanjang sejarahnya, penambang Australia menggali spodumene, bentuk mineral litium, lalu mengapalkannya ke luar negeri, sebagian besar ke Tiongkok, untuk diolah menjadi bahan kimia baterai seperti litium hidroksida.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kilang yang Berhenti Satu demi Satu</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Upaya menaikkan kelas industri itu belakangan justru menemui jalan buntu. Kilang Kemerton, yang dibangun sejak 2019 di utara Bunbury, semula dirancang berkapasitas 100 ribu ton litium hidroksida per tahun. Rencana itu dipangkas pada 2023, konstruksi dua jalur produksi dihentikan pada 2024, dan pada Februari 2026 seluruh fasilitas masuk status perawatan tanpa produksi. Pemiliknya, Albemarle, menyebut biaya operasional yang tinggi sebagai penyebabnya — meski harga spodumene dan litium hidroksida sudah pulih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nasib serupa membayangi kilang di Kwinana milik TLEA, patungan Tianqi Lithium Corporation dan perusahaan Australia IGO. Berkapasitas terpasang 24 ribu ton per tahun, kilang itu hanya memproduksi 6.783 ton litium hidroksida pada 2024–2025 dan 8.839 ton pada 2025–2026. Pada Juni 2025, IGO menghapus seluruh nilai penyertaannya di kilang tersebut menjadi nol.</p>



<p class="wp-block-paragraph">"Itu sungguh berat didengar di dunia yang justru membutuhkan lebih banyak pengolahan hilir di Australia. Hitungan ekonominya tidak masuk," kata Direktur Utama IGO Ivan Vella dalam rapat umum pemegang saham perusahaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemilik mayoritas kilang, Tianqi, menyatakan belum menerima tawaran resmi apa pun untuk membubarkan kemitraan. "Ini seperti pernikahan. Melanggar aturan saya kalau mulai mencari pasangan baru," kata Direktur Utama Tianqi, Frank Ha.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak semuanya suram. Covalent Lithium, patungan Wesfarmers dan perusahaan Chile SQM, mulai memproduksi litium hidroksida pada Juli 2025 dan menargetkan kapasitas 50 ribu ton per tahun. Sementara PLS memilih jalur berbeda: pabrik demonstrasi Mid Stream miliknya akan mengubah 27 ribu ton konsentrat spodumene menjadi tiga ribu ton litium fosfat per tahun, memakai proses kalsinasi listrik beremisi lebih rendah yang dikembangkan bersama perusahaan teknik Calix.</p>



<h2 class="wp-block-heading">"Kami Memilih dengan Kaki Kami"</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Namun sebagian besar nilai tambah tetap lari ke luar. PLS mengolah sebagian spodumene-nya menjadi litium hidroksida bukan di Australia, melainkan di Gwangyang, Korea Selatan, lewat kepemilikan 18 persen di fasilitas kimia bersama POSCO.</p>



<p class="wp-block-paragraph">"Kalau biaya masukan Anda tinggi, kami harus menang lewat cara lain — lewat harga yang lebih tinggi atau dengan mendapatkan premi untuk produk berkualitas lebih baik," kata Direktur Utama PLS Dale Henderson. "Kami memilih dengan kaki kami, kalau boleh dibilang begitu."</p>



<p class="wp-block-paragraph">Litium bukan satu-satunya. Kilang alumina Alcoa di Australia Barat dan pabrik peleburan mangan Liberty Bell di Tasmania sudah mengumumkan penutupan permanen. Pabrik baja Whyalla, peleburan aluminium Bell Bay milik Rio Tinto, peleburan tembaga Mount Isa milik Glencore, hingga peleburan timbal Nyrstar di Port Pirie dan Hobart semuanya sempat terguncang keuangan dan membutuhkan dukungan pemerintah untuk bertahan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tiongkok Terlalu Jauh di Depan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Akar persoalannya, menurut para analis, adalah keunggulan Tiongkok yang sulit dikejar. "Klasterisasi ekonomi Tiongkok, biaya energi, biaya tenaga kerja, dan yang terpenting pengalaman mereka memproduksi bahan kimia litium hilir hampir tak terkalahkan di dunia saat ini," kata Direktur Produk Litium di Benchmark Mineral Intelligence, Cameron Perk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Raksasa baterai BYD terintegrasi penuh dari tambang sampai ruang pamer mobil, sementara CATL terintegrasi dari tambang hingga produk baterai jadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Guru besar dari Critical Minerals Initiative Universitas Monash, Sankar Bhattacharya, menilai kesulitan kilang litium Australia sebagai penyakit tumbuh industri yang masih muda, campuran antara kegagalan kebijakan dan kenyataan ekonomi. Solusinya, katanya, bukan meniru cara lama. "Cara-cara lama memurnikan logam-logam ini di negara lain tidak akan pernah berhasil di negara-negara Barat," ujarnya, seraya menyerukan teknologi pengolahan dengan alur proses yang jauh lebih sederhana, hemat energi, dan berdaya pisah tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia memperkirakan dukungan pemerintah masih dibutuhkan sekitar satu dekade lagi. "Kita tertinggal 50 tahun dari pesaing di negeri ini," katanya. Kredit pajak produsen dalam paket Future Made in Australia senilai 22,7 miliar dolar Australia baru akan berlaku pertengahan 2027.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Peta Kimia Baterai yang Sedang Bergeser</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ada perubahan lain yang membuat perhitungan makin rumit. Dua kimia katoda mendominasi pasar kendaraan listrik: katoda berbasis nikel dan katoda litium-besi-fosfat atau LFP. Katoda adalah bagian termahal dari biaya produksi baterai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nikel membuat katoda lebih padat energi sehingga jarak tempuh lebih jauh. Tetapi LFP lebih murah, dianggap lebih aman, dan inovasi terbaru telah memperbaiki jarak tempuh serta waktu pengisiannya. Tahun lalu produksi LFP untuk pertama kalinya melampaui katoda berbasis nikel — tren yang diperkirakan berlanjut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">"Katoda LFP kini bekerja sama baiknya dengan banyak baterai berkimia nikel tinggi," kata Perk. "Mereka jauh lebih aman dari sisi pengoperasian dan menjaga kesehatan baterai, sehingga kami melihat pasar bergerak lebih jauh ke tipe katoda LFP."</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di belakangnya, baterai natrium-ion mulai mengintip. Tahun lalu CATL memperkenalkan baterai natrium-ion produksi massal untuk mobil penumpang dengan kepadatan energi menyerupai LFP dan jarak tempuh sekitar 500 kilometer. Natrium jauh lebih murah dan tersedia di seluruh dunia.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Artinya bagi Hilirisasi Indonesia</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Indonesia, kisah Australia adalah cermin yang tidak nyaman sekaligus menenangkan. Menenangkan, karena Indonesia justru berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan Australia: melarang ekspor bijih nikel mentah sejak 2020 dan memaksa pembangunan smelter di dalam negeri. Tidak nyaman, karena alasan keberhasilan itu tidak seluruhnya patut dibanggakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang membuat pengolahan di Indonesia layak secara ekonomi adalah biaya listrik yang murah — sebagian besar dari pembangkit batu bara — biaya tenaga kerja yang rendah, serta modal dan teknologi dari Tiongkok. Ketiganya persis yang tidak dimiliki Australia. Artinya, keunggulan hilirisasi Indonesia bertumpu pada faktor yang justru menjadi sasaran pengetatan aturan iklim dan aturan asal-usul rantai pasok di pasar Amerika Serikat dan Eropa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Risiko kedua lebih mendasar. Seluruh taruhan nikel Indonesia bersandar pada asumsi bahwa baterai kendaraan listrik akan terus membutuhkan nikel dalam jumlah besar. Data yang dikutip ABC menunjukkan arah sebaliknya: LFP — yang sama sekali tidak memakai nikel — sudah melampaui katoda nikel tahun lalu, dan natrium-ion sedang menyusul. Perdebatan tentang tata kelola dan manfaat hilirisasi di dalam negeri, yang antara lain muncul dalam <a href="https://cekricek.id/ui-tangguhkan-gelar-doktor-bahlil-menko-investasi-angkat-bicara/">polemik seputar kebijakan hilirisasi</a>, akan kehilangan konteks bila pergeseran kimia baterai ini tidak ikut diperhitungkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelajaran ketiga menyangkut diplomasi dagang. Australia mengejar status pemasok yang patuh aturan Amerika Serikat demi akses insentif, sementara Indonesia menempuh jalur diversifikasi mitra — termasuk lewat forum seperti <a href="https://cekricek.id/mendag-brics-tmm-jaipur-uea-brasil-india/">pertemuan menteri perdagangan BRICS</a>. Keduanya sedang menjawab pertanyaan yang sama: siapa yang boleh mengolah, dengan modal siapa, dan untuk pasar siapa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terakhir, ada faktor yang tak bisa dikendalikan negara mana pun. Ketika biaya modal global berubah cepat dan mata uang besar bergejolak — seperti terlihat pada <a href="https://cekricek.id/intervensi-yen-as-kejutkan-eropa-asia-waspada/">intervensi bersama Amerika Serikat dan Jepang atas yen</a> — proyek pengolahan mineral yang butuh belasan tahun untuk balik modal adalah yang paling awal dikaji ulang oleh investor.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/ardiputra/">Ardi Putra</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/australia-kesulitan-olah-litium-hilirisasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">268701</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Minified using Disk

Served from: cekricek.id @ 2026-08-09 05:18:10 by W3 Total Cache
-->