<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Pendakian Gunung - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/pendakian-gunung/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Sat, 08 Aug 2026 14:36:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.3</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Pendakian Gunung - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">189108407</site>	<item>
		<title>Green Boots, Jasad Beku 30 Tahun di Everest Dipulangkan</title>
		<link>https://cekricek.id/green-boots-jasad-beku-everest-dipulangkan/</link>
					<comments>https://cekricek.id/green-boots-jasad-beku-everest-dipulangkan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nadia Putri]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2026 14:36:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Rona]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Everest]]></category>
		<category><![CDATA[India]]></category>
		<category><![CDATA[Nepal]]></category>
		<category><![CDATA[Pendakian Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/?p=268583</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/green-boots-jasad-beku-everest-dipulangkan/" title="Green Boots, Jasad Beku 30 Tahun di Everest Dipulangkan" rel="nofollow"><img width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/green-boots-everest-dorje-morup.webp?fit=800%2C450&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Dorje Morup mengenakan pakaian pelindung di puncak bersalju saat mendaki gunung" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/green-boots-everest-dorje-morup.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/green-boots-everest-dorje-morup.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/green-boots-everest-dorje-morup.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/green-boots-everest-dorje-morup.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/green-boots-everest-dorje-morup.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Green Boots, Jasad Beku 30 Tahun di Everest Dipulangkan 1"></a><p>Cekricek.id — Selama 30 tahun, sebuah jasad yang dikenal dengan nama Green Boots terbaring di salju, meringkuk di bawah cadas yang menjorok, tak jauh dari puncak Everest. Sepatu gunung berwarna hijau limau milik seorang pendaki India yang tewas pada 1996 itu menjadi penanda jalur yang muram bagi para pendaki menuju atap dunia. Mengutip laporan BBC, Sabtu (8/8/2026), India kini mencari tim pemulihan ketinggian ekstrem untuk menjalankan misi rumit dan berisiko: mengambil jasad yang mereka yakini milik Dorje Morup — bisa dibilang yang paling terkenal di antara ratusan jenazah yang dibiarkan membeku di gunung itu. Janji yang Tak Sempat Ditepati Malam sebelum berangkat mengikuti ekspedisi bersejarah India ke Everest, Morup duduk bersama istrinya di rumah mereka di Ladakh. Ia berjanji akan pulang sebagai pahlawan dan membuat negaranya bangga. "Ia memintaku menjaga anak-anak dan datang ke bandara menyambutnya saat pulang," kata Konchak Yangskit kepada BBC di rumahnya. Namun malam itu ia justru</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/nadiaputri/">Nadia Putri</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/green-boots-jasad-beku-everest-dipulangkan/" title="Green Boots, Jasad Beku 30 Tahun di Everest Dipulangkan" rel="nofollow"><img width="800" height="450" src="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/green-boots-everest-dorje-morup.webp?fit=800%2C450&amp;ssl=1" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Dorje Morup mengenakan pakaian pelindung di puncak bersalju saat mendaki gunung" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/green-boots-everest-dorje-morup.webp?w=800&amp;ssl=1 800w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/green-boots-everest-dorje-morup.webp?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/green-boots-everest-dorje-morup.webp?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/green-boots-everest-dorje-morup.webp?resize=640%2C360&amp;ssl=1 640w, https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/green-boots-everest-dorje-morup.webp?resize=150%2C84&amp;ssl=1 150w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" title="Green Boots, Jasad Beku 30 Tahun di Everest Dipulangkan 2"></a>
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Cekricek.id</strong> — Selama 30 tahun, sebuah jasad yang dikenal dengan nama <em>Green Boots</em> terbaring di salju, meringkuk di bawah cadas yang menjorok, tak jauh dari puncak Everest. Sepatu gunung berwarna hijau limau milik seorang pendaki India yang tewas pada 1996 itu menjadi penanda jalur yang muram bagi para pendaki menuju atap dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengutip laporan BBC, Sabtu (8/8/2026), India kini mencari tim pemulihan ketinggian ekstrem untuk menjalankan misi rumit dan berisiko: mengambil jasad yang mereka yakini milik Dorje Morup — bisa dibilang yang paling terkenal di antara ratusan jenazah yang dibiarkan membeku di gunung itu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Janji yang Tak Sempat Ditepati</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Malam sebelum berangkat mengikuti ekspedisi bersejarah India ke Everest, Morup duduk bersama istrinya di rumah mereka di Ladakh. Ia berjanji akan pulang sebagai pahlawan dan membuat negaranya bangga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">"Ia memintaku menjaga anak-anak dan datang ke bandara menyambutnya saat pulang," kata Konchak Yangskit kepada BBC di rumahnya. Namun malam itu ia justru dihinggapi firasat aneh: "Aku bertanya-tanya, apakah aku masih akan melihatnya lagi."</p>



<p class="wp-block-paragraph">Morup adalah seorang <em>lance naik</em> atau kopral kepala di Indo Tibetan Border Police (ITBP), pasukan yang menjaga sebagian besar perbatasan India dengan China. Di usia 48 tahun, ia bukan orang baru di jalur trekking Himalaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia satu dari enam pendaki dalam ekspedisi ITBP yang menargetkan puncak Everest — gunung yang berdiri di perbatasan Nepal dan wilayah Tibet yang dikuasai China. Sebagian besar pendaki memilih naik dari sisi Nepal, tetapi rombongan Morup ingin mencatat sejarah sebagai ekspedisi India pertama yang menembus puncak dari sisi China yang jauh lebih ganas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiga dari enam anggota berbalik arah karena badai salju. Morup bersama Tsewang Smanla dan Tsewang Paljor terus mendaki hingga ketinggian 8.849 meter. Bencana datang saat mereka turun: badai menerjang dan menewaskan ketiganya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://cekricek.id/gunung-machhapuchhre-keunikan-keindahannya-dan-misteri-puncak-yang-tidak-boleh-didaki/">Gunung Machhapuchhre: Keunikan, Keindahannya dan Misteri Puncak yang Tidak Boleh Didaki</a></p>



<h2 class="wp-block-heading">Salah Nama Selama Puluhan Tahun</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti lebih dari 300 orang yang meninggal di kawasan Everest sejak pencatatan dimulai seabad lalu, jasad ketiganya ditinggalkan di gunung. Dua di antaranya tak pernah ditemukan. Satu-satunya yang tertinggal dan terlihat — <em>Green Boots</em> — membeku pada ketinggian 8.500 meter selama tiga dekade.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bertahun-tahun lamanya, jasad itu diyakini milik Tsewang Paljor. Namun kesaksian anggota ekspedisi 1996 yang selamat serta lokasi kontak radio terakhir membuat otoritas kini berkesimpulan jenazah tersebut adalah Morup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang pejabat ITBP yang berbicara tanpa mau disebut namanya menyampaikan kepada BBC News Hindi bahwa pakaian dan perlengkapan pendakian Morup membantu identifikasi dalam beberapa tahun terakhir. "Kami tidak pernah melupakannya. Ini hanya soal waktu," katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">ExplorersWeb mencatat ekspedisi 1996 itu dipimpin Mohinder Singh. Pada 11 Mei, sebuah tim pendaki Jepang bertemu ketiga pendaki India dalam keadaan masih hidup namun mengalami radang beku parah. Tim Jepang meneruskan pendakian tanpa memberi bantuan berarti, dan ketiganya kemudian tewas kedinginan. India sempat melayangkan protes soal etika penyelamatan sebelum akhirnya menariknya — sebuah perdebatan yang sampai kini masih hidup di kalangan pendaki.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Zona Kematian dan Ongkos Rp Ratusan Juta</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Mengambil jenazah dari gunung adalah pekerjaan berbahaya dan melelahkan, dan hingga satu dekade terakhir sangat jarang dilakukan. Jasad Morup berada di wilayah yang disebut pendaki sebagai zona kematian, tempat suhu bisa anjlok hingga minus 40 derajat Celsius dan kadar oksigen hanya sekitar sepertiga dari permukaan laut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">"Cuaca dan kondisi salju akan sangat menentukan," kata Tshiring Jangbu Sherpa, pendaki terkemuka Nepal yang pernah terlibat misi pemulihan jenazah. "Sisi utara punya lebih sedikit celah es, tapi lebih berisiko. Kalau terjadi sesuatu dari sisi Nepal, evakuasi helikopter cepat datang. Dari sisi China tidak ada sistem semacam itu."</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://cekricek.id/gletser-kiamat-di-antartika-mencair-30-tahun-lebih-cepat-dari-perkiraan/">'Gletser Kiamat' di Antartika Mencair 30 Tahun Lebih Cepat dari Perkiraan</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemandu pendakian Pemba Ongchu Sherpa menambahkan, "Sangat sulit menurunkan jasad itu bahkan di musim semi yang ramai, apalagi musim gugur. Itu alasan sederhana mengapa ia masih di sana bertahun-tahun. Dibutuhkan 10 sampai 12 pendaki yang mampu mencapai puncak, hanya untuk memasang tali pengaman sampai ke titik itu."</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jasad harus digotong turun ke ketinggian yang bisa dijangkau helikopter atau yak, lalu diangkut ke bandara. Menurut para sherpa, jenazah yang terbungkus perlengkapan membeku kerap berbobot beberapa kali lipat orang dewasa dan membeku dalam posisi janggal. Setibanya di ketinggian lebih rendah, jasad juga mulai mencair dan membusuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendaki India Kuntal Joisher menyebut awal penurunan sebagai bagian tersulit. "Ini akan jadi upaya yang sangat, sangat berisiko. Medannya amat curam dengan banyak batu. Secara logistik, 1.000 meter pertama ini akan menjadi tantangan raksasa," katanya kepada BBC Nepali. Ia menambahkan, "Yang utama adalah jangan mempertaruhkan nyawa sherpa demi jenazah."</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para ahli memperkirakan misi pemulihan yang paling mulus sekalipun menelan biaya 40.000 hingga 80.000 dolar AS — jumlah yang jauh di luar jangkauan sebagian besar keluarga. Karena itu, lebih lazim jasad hanya dipindahkan ke lokasi yang tersembunyi dari pandangan, seperti yang dilakukan pada Francys Arsentiev, penjelajah yang dijuluki <em>Sleeping Beauty of Everest</em>, pada 2007.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kali ini ITBP yang membiayai operasi. Mereka menargetkan jasad Morup pulang paling lambat September dan sedang mencari kelompok sherpa penyelamat gunung yang sanggup mengerjakannya. Sesampainya di India, jenazah akan menjalani uji DNA.</p>



<p class="wp-block-paragraph">ExplorersWeb mencatat sekitar 200 jasad masih tertinggal di Everest di lokasi yang dinilai terlalu berbahaya untuk dijangkau. Guy Cotter, pendaki Selandia Baru yang berpengalaman dalam pemulihan jenazah, mengingatkan bahwa memulangkan jasad memang memberi ketenangan, "selama tidak menempatkan orang lain dalam risiko yang tidak semestinya".</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://cekricek.id/klhk-dukung-rencana-jalur-pendakian-gunung-kerinci-dari-solok-selatan/">KLHK Dukung Rencana Jalur Pendakian Gunung Kerinci dari Solok Selatan</a></p>



<h2 class="wp-block-heading">"Hatiku Menolak Percaya Ia Sudah Tiada"</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di Ladakh, keluarga Morup bertahun-tahun kesulitan menerima kepergiannya. Kini berusia sekitar 75 tahun, Yangskit bahkan sulit mengingat hari pernikahannya. Tetapi hari-hari setelah tragedi itu tertanam kuat di ingatannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">"Aku hanya tahu ada badai di gunung. Meski kami menggelar doa kremasi di rumah, hatiku menolak percaya ia sudah tiada," katanya sambil menangis. "Aku tidak melihat jasadnya, jadi sulit bagiku untuk percaya."</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang tersisa dari Morup hari ini adalah medali dan pialanya, beberapa foto lama dari petualangannya di gunung — dan yang paling penting, sertifikat dari pemerintah China yang menyatakan bahwa pada pukul 17.30 tanggal 10 Mei 1996, Morup mencapai puncak Everest.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika misi berhasil, putra sulungnya, Punchok Dorjai, mengatakan keluarga akan menggelar pemakaman di dekat Taman Martir di Leh, ibu kota Ladakh. "Ayah saya memberikan nyawanya untuk negara dan ia layak dikenang sebagai martir," ujarnya, seraya menyebut rekan-rekan setimnya pantas mendapat gelar yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu benda akan mereka simpan di rumah, berdampingan dengan sertifikat puncak itu. "Kami berencana menyimpan sepatu hijau itu," kata Dorjai.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/nadiaputri/">Nadia Putri</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/green-boots-jasad-beku-everest-dipulangkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">268583</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Minified using Disk

Served from: cekricek.id @ 2026-08-09 00:00:59 by W3 Total Cache
-->