Cekricek.id — Untuk pertama kalinya sejak berdiri pada 1967, peringatan Hari ASEAN dihadiri sebelas negara anggota. Tambahan satu kursi itu milik Timor-Leste, yang resmi bergabung pada November 2025.
Momen itu menjadi latar bagi pesan Menteri Luar Negeri Sugiono pada peringatan ke-59 Hari ASEAN di Markas Besar ASEAN, Jakarta, Sabtu (8/8/2026). Dikutip dari laman resmi Kementerian Luar Negeri, kemlu.go.id, Sabtu (8/8/2026), Sugiono menekankan satu hal: kerja sama kawasan harus terasa manfaatnya oleh warga biasa, bukan berhenti di ruang pertemuan.
"Keberhasilan ASEAN akan diukur dari kemampuannya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan keluarga, memperoleh pekerjaan yang layak, hidup dengan aman, serta menatap masa depan dengan penuh keyakinan," tutur Menlu Sugiono.
Bukan Arena Rivalitas
Dari pernyataan itu Sugiono menurunkan sejumlah pekerjaan rumah: memperkuat ketahanan pangan dan energi, melindungi warga negara ketika krisis terjadi, serta menyiapkan generasi muda lewat pendidikan, keterampilan, dan kepercayaan diri untuk memimpin ASEAN pada masa mendatang.
Ada satu kalimat yang terdengar biasa tetapi sebetulnya menyentuh persoalan paling sensitif di kawasan. Menurut Sugiono, ASEAN tidak boleh menjadi arena rivalitas antarkekuatan besar ataupun memihak salah satunya. ASEAN, katanya, harus selalu berpihak pada masyarakatnya demi kesejahteraan, keamanan, dan masa depan mereka.
Ia menilai ASEAN punya modal untuk menavigasi dunia yang makin rumit. Sejak 1967, organisasi ini disebut mampu menghadapi berbagai persaingan dan krisis di kawasan tanpa melepas prinsip utamanya: memajukan persatuan, perdamaian, dan dialog.
"Dunia saat ini membutuhkan bridge-builder yang mampu meredakan ketegangan, menumbuhkan kepercayaan, dan menjaga dialog tetap berjalan. Inilah peran yang telah dimainkan ASEAN selama hampir enam dekade," ujarnya.
Menuju Visi 2045
Ke depan, Sugiono menyebut ASEAN harus mampu menentukan arahnya sendiri sekaligus memperkuat institusi, kapasitas, dan sumber daya yang diperlukan untuk mewujudkan aspirasi Visi Komunitas ASEAN 2045.
Peringatan tahun ini dihadiri Sekretaris Jenderal ASEAN, komunitas diplomatik dari negara anggota di Jakarta, serta perwakilan berbagai misi diplomatik.
Sebagai konteks, tanggal 8 Agustus dipilih karena pada hari itu tahun 1967 lima menteri luar negeri — Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand — menandatangani Deklarasi Bangkok di Jakarta. Adam Malik mewakili Indonesia. Keanggotaan kemudian bertambah menjadi sepuluh negara sampai Timor-Leste diterima pada 2025, sehingga peringatan ke-59 ini menjadi yang pertama dengan formasi sebelas anggota.
Yang perlu dicatat pembaca, pernyataan Menlu bersifat penegasan arah kebijakan pada momen seremonial, bukan pengumuman program baru. Kementerian Luar Negeri tidak merinci target terukur maupun tenggat waktu untuk penguatan ketahanan pangan dan energi yang disebutkan.
Baca juga: Pengaruh Islam terhadap Budaya Melayu: Warisan yang Hidup hingga Kini
Meski begitu, penegasan bahwa ASEAN tidak boleh memihak salah satu kekuatan besar punya bobot tersendiri pada saat kawasan ini justru menjadi rebutan pengaruh — dan Indonesia, sebagai anggota terbesar sekaligus tuan rumah markas besarnya, adalah pihak yang paling menentukan apakah prinsip itu bertahan.


















