Cekricek.id — Dalam dua hari di Jaipur, India, Menteri Perdagangan Budi Santoso menemui sejawatnya dari Uni Emirat Arab, Brasil, dan India. Ketiganya membicarakan hal yang sama dari sudut berbeda: bagaimana Indonesia menambah pintu keluar bagi barangnya di tengah dunia perdagangan yang makin tertutup.
Rangkaian pertemuan itu berlangsung di sela BRICS Trade Ministers Meeting pada 6-7 Agustus 2026, di bawah Keketuaan India. Dikutip dari laman resmi Kementerian Perdagangan, kemendag.go.id, Sabtu (8/8/2026), Indonesia menegaskan sikapnya soal sistem perdagangan multilateral sekaligus membuka tiga jalur perundingan bilateral.
Menjaga WTO, Mendorong UMKM
Pada forum utamanya, Budi Santoso — yang biasa disapa Mendag Busan — menempatkan Indonesia di sisi aturan main lama yang sedang digoyang banyak negara.
"Indonesia menegaskan pentingnya menjaga sistem perdagangan multilateral yang berbasis aturan melalui WTO yang kuat, inklusif, dan adaptif terhadap tantangan global," katanya.
Ia juga menyatakan dukungan pada agenda konkret BRICS. "Indonesia mendukung penuh berbagai inisiatif konkret BRICS yang memperkuat perdagangan, mulai dari memberikan kemudahan akses pembiayaan bagi UMKM, membangun nilai pasok yang lebih tangguh, serta mendorong transformasi digital," ujarnya.
Pertemuan itu membahas empat agenda: sistem perdagangan multilateral, internasionalisasi UMKM, penguatan rantai nilai global, dan fasilitasi jasa digital. Para menteri juga merampungkan Strategi Kemitraan Ekonomi BRICS 2030.
Menteri Perdagangan dan Industri India, Piyush Goyal, menutup forum dengan menyinggung estafet kepemimpinan. "Saya sangat yakin ketika Tiongkok melanjutkan Keketuaan BRICS pada 2027, kita akan terus melangkah maju bersama, memperkuat kerja sama, dan bersama-sama mewujudkan kemakmuran yang lebih besar bagi seluruh negara anggota BRICS," katanya.
India: Surplus Rp Ratusan Triliun, tapi Perundingan Belum Rampung
Dari tiga pertemuan bilateral, angka terbesar datang dari India. Sepanjang Januari sampai Juni 2026, perdagangan kedua negara mencapai 11,89 miliar dolar AS — ekspor Indonesia 9,28 miliar dolar dan impor 2,60 miliar dolar, menyisakan surplus 6,68 miliar dolar bagi Indonesia.
Sepanjang 2025, totalnya 23,13 miliar dolar AS dengan surplus 13,46 miliar dolar. India, dengan kata lain, adalah salah satu pasar paling menguntungkan bagi Indonesia.
Namun ada pekerjaan yang belum selesai: peninjauan ulang ASEAN-India Trade in Goods Agreement. "Indonesia mendukung penyelesaian AITIGA Review pada tahun ini. Namun, kami juga memerlukan waktu untuk menyelesaikan konsultasi," kata Mendag Busan. Kalimat itu terdengar diplomatis, tetapi isinya jelas: Indonesia tidak mau diburu-buru menandatangani sesuatu yang belum dibicarakan tuntas dengan pelaku usaha di dalam negeri.
Brasil: Pintu Masuk ke Amerika Latin
Dengan Menteri Pembangunan, Industri, Perdagangan, dan Jasa Brasil, Márcio Fernando Elias Rosa, Indonesia menawarkan langkah yang lebih sederhana daripada perjanjian besar.
"Indonesia terbuka dengan opsi PTA sebagai langkah awal untuk memperkuat kerja sama perdagangan dengan Mercosur," kata Mendag Busan. PTA atau preferential trade agreement hanya memangkas tarif untuk sejumlah produk terpilih — jauh lebih ringan daripada perjanjian kemitraan ekonomi menyeluruh, dan karena itu lebih cepat disepakati.
Logika yang dipakai kedua pihak bersifat timbal balik: Brasil bisa menjadi gerbang Indonesia ke pasar Amerika Latin, sementara Indonesia menjadi pintu masuk Brasil ke pasar Asia.
Nilai perdagangannya masih jauh di bawah India. Pada Januari-Juni 2026 tercatat 3,53 miliar dolar AS dengan ekspor Indonesia 1,17 miliar dolar. Sepanjang 2025, totalnya 7 miliar dolar dengan ekspor Indonesia 2,21 miliar dolar — artinya Indonesia justru defisit terhadap Brasil. Ekspor utama Indonesia ke sana berupa lemak dan minyak hewani-nabati, kendaraan dan komponennya, mesin listrik, produk karet, serta bahan bakar mineral.
Jalan menuju ke sana masih panjang. Mercosur beranggotakan Brasil, Argentina, Paraguay, Uruguay, dan Bolivia, dan keputusan perjanjian dagangnya diambil secara kolektif — bukan lewat Brasil sendiri. Yang terjadi di Jaipur pun baru berupa penjajakan, belum perundingan resmi.
Uni Emirat Arab: Menagih Hasil Perjanjian
Pertemuan dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri UEA, Thani bin Ahmed Al Zeyoudi, membahas hal yang berbeda — bukan membuka perjanjian baru, melainkan memastikan yang sudah ada benar-benar dipakai.
"Perjanjian IUAE-CEPA menjadi katalis yang mengangkat kerja sama perdagangan dan ekonomi kita ke tingkat yang lebih maju," kata Mendag Busan. Ia berharap pertemuan kedua Komite Bersama tahun ini menjadi momentum menuntaskan sisa persoalan implementasi.
Al Zeyoudi menyambut dengan rencana konkret. "Kami berkomitmen mengoptimalkan pemanfaatan IUAE-CEPA. Kami berencana membawa delegasi bisnis UEA ke Indonesia untuk bertemu pelaku usaha Indonesia," ujarnya.
Perdagangan kedua negara pada Januari-Juni 2026 mencapai 3,14 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia 1,76 miliar dolar dan impor 1,38 miliar dolar. Sepanjang 2025, totalnya 6,42 miliar dolar dengan surplus 1,63 miliar dolar bagi Indonesia.
Baca juga: Hari ASEAN ke-59, Pertama dengan Sebelas Anggota
Yang menarik dari rangkaian pertemuan ini justru polanya. Indonesia tidak sedang mengejar satu perjanjian besar, melainkan menyebar taruhan: menjaga WTO agar aturan lama tidak runtuh, merapikan perjanjian yang sudah ada dengan UEA, menyelesaikan peninjauan dengan India, dan merintis jalur baru ke Amerika Latin lewat pintu yang paling ringan. Di tengah dunia yang makin gemar memasang tarif, strategi itu masuk akal.


















