Ekspor Kopi Olahan RI USD 692,1 Juta, Premix Terbesar Dunia

A A

Hamparan biji kopi sangrai berwarna cokelat tua memenuhi seluruh bidang gambar. [Foto: Pexels]

  • Ekspor kopi olahan Indonesia mencapai USD 692,1 juta pada 2025, naik 4,56 persen.
  • Indonesia menjadi eksportir kopi premix terbesar dunia dengan pangsa 17,54 persen.
  • Kemendag mendorong pelaku kopi memanfaatkan keanggotaan Indonesia di ICO.
  • Gapkindo menyoroti penurunan produksi karet alam dan perlunya ketertelusuran.

Cekricek.id — Ekspor kopi olahan Indonesia mencapai USD 692,1 juta pada 2025 atau naik 4,56 persen, dan Indonesia tercatat sebagai eksportir kopi premix terbesar dunia dengan pangsa pasar 17,54 persen.

Angka itu dipaparkan menurut keterangan tertulis Kementerian Perdagangan, Minggu (18/10/2026), mengenai seminar Kuasai Pasar Global yang digelar Sabtu (17/10/2026) di Indonesia Convention Exhibition BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, sebagai bagian dari Trade Expo Indonesia ke-41.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Johni Martha menyatakan seminar itu digelar untuk mengumpulkan masukan langsung dari pelaku usaha, sehingga kebijakan dapat diperbaiki dan hambatan administratif ekspor dipangkas.

“Informasi dari pelaku usaha sangat penting agar kegiatan ekspor dapat difasilitasi dengan baik tanpa kendala administratif yang berarti,” kata Johni Martha.

Baca juga UMKM Kopi Jabar Ekspor Rp2,64 Miliar ke Inggris

Kementerian Perdagangan mendorong pelaku usaha kopi memanfaatkan keanggotaan Indonesia di International Coffee Organization, termasuk mengkaji pengembangan standar kopi spesial berbasis Robusta.

Kopi Indonesia juga diarahkan ke segmen pasar premium melalui peningkatan nilai tambah, dengan tetap memperhatikan verifikasi mutu dan standar yang berlaku.

Direktur Perundingan Antar Kawasan dan Organisasi Internasional Kementerian Perdagangan Natan Kambuno menyatakan keanggotaan di organisasi komoditas internasional perlu naik kelas pemanfaatannya.

Baca juga Neraca Perdagangan Agustus 2026 Surplus USD 3,55 Miliar

“Kita perlu bergerak dari participation ke utilization, dari sekadar berpartisipasi menjadi mampu memanfaatkan kerja sama internasional secara strategis,” ujar Natan Kambuno.

Pada komoditas karet alam, narasumber dari ANRPC memproyeksikan permintaan meningkat, sementara Gabungan Perusahaan Karet Indonesia menyoroti penurunan produksi.

Gapkindo mengusulkan penguatan ketertelusuran, kemitraan langsung dengan petani, dan diversifikasi pasar. Peserta seminar juga mengusulkan perluasan dukungan sertifikasi bagi petani.

Baca juga RI Mitra Dagang Terbesar Timor Leste di ASEAN, Porsi 76 Persen

Bagikan

Baca Juga

BI Dorong Transaksi Mata Uang Lokal di Pertemuan G20
ISEF 2026 Ditutup, Temu Usaha Syariah Capai Rp3,16 Triliun
Trade Expo Indonesia Ditutup, Transaksi USD 22,94 Miliar
OJK dan Bursa Temui Pelaku Pasar Modal Usai Denda Rp2,1 Triliun
Negara Makin Inovatif Belum Tentu Makin Dekat ke Target SDGs
Emas Menekan Saham Hijau Brasil, Bitcoin Mengangkatnya Perlahan