Merayakan Tahun Baru dalam Perspektif Sejarah

Cekricek.id - Merayakan Tahun Baru dalam Perspektif Sejarah

Ilustrasi. [Foto: Canva]

Cekricek.id - Tahun baru Masehi adalah perayaan yang sangat dinanti di seluruh dunia. Setiap kali pergantian tahun, kita merayakan momen baru yang penuh harapan dan optimisme. Namun, tahukah Anda bahwa perayaan Tahun Baru Masehi memiliki asal-usul yang kaya dan beragam? Nah, berikut perspektif sejarah dari perayaan Tahun Baru dan melihat bagaimana perayaan tahun baru berkembang dari zaman kuno hingga saat ini.

Asal usul perayaan Tahun Baru

Asal-usul perayaan Tahun Baru Masehi dapat ditelusuri kembali ke zaman kuno. Pada awalnya, perayaan tahun baru berhubungan erat dengan siklus alam dan pertanian. Bangsa Mesir kuno, misalnya, merayakan Tahun Baru mereka pada saat sungai Nil mulai meluap. Mereka percaya bahwa banjir sungai Nil ini adalah tanda kekayaan dan kesuburan yang akan datang.

Di sisi lain dunia, bangsa Romawi kuno merayakan perayaan Tahun Baru yang mereka sebut "Kalends of January". Pada hari tersebut, mereka memberikan persembahan kepada dewa Janus, dewa yang melambangkan awal dan akhir. Upacara ini juga melibatkan janji-janji baru dan pemilihan konsul baru.

Perspektif sejarah tentang Hari Tahun Baru Gregorian

Cekricek.id - Merayakan Tahun Baru dalam Perspektif Sejarah
Ilustrasi. [Foto: Canva]

Perayaan Tahun Baru Masehi yang kita kenal sekarang ini berakar dari kalender Gregorian yang diperkenalkan oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1582.

Sebelumnya, kalender yang digunakan adalah kalender Julian yang memiliki kesalahan perhitungan waktu. Oleh karena itu, Paus Gregorius XIII memutuskan untuk memperbaiki kesalahan tersebut dengan menghapus beberapa hari dalam kalender.

Sebagai hasil dari reformasi kalender ini, tanggal 4 Oktober 1582 langsung diikuti oleh tanggal 15 Oktober 1582. Perubahan ini juga mempengaruhi perayaan Tahun Baru. Sebelumnya, Tahun Baru dirayakan pada tanggal 25 Maret, namun setelah reformasi kalender, Tahun Baru dipindahkan ke tanggal 1 Januari.

Hari Tahun Baru di peradaban kuno

Perayaan Tahun Baru juga memiliki sejarah yang kaya dalam peradaban kuno. Misalnya, perayaan Tahun Baru di Mesir kuno sering kali dihubungkan dengan kisah Osiris, dewa kematian dan kehidupan baru. Festival ini berlangsung selama 11 hari dan diisi dengan upacara, prosesi, dan pertunjukan teater.

Di Babilonia kuno, perayaan Tahun Baru, yang mereka sebut "Akitu", merupakan perayaan penting yang berlangsung selama 11 hari. Puncak perayaan Akitu adalah penobatan kembali raja dan janji baru untuk melindungi rakyat. Upacara ini juga melibatkan pembebasan tawanan, pembagian makanan gratis, dan pertunjukan musik dan tarian.

Fakta menarik tentang sejarah Tahun Baru

Selain asal-usul dan perayaan Tahun Baru di berbagai peradaban kuno, ada juga fakta menarik yang terkait dengan sejarah perayaan Tahun Baru. Sebagai contoh, di Inggris pada abad ke-18, Tahun Baru dirayakan dengan "First Footing".

Tradisi ini melibatkan seseorang yang pertama kali menginjak rumah orang lain setelah tengah malam. Orang ini membawa hadiah seperti roti, garam, dan minuman keras sebagai simbol keberuntungan.

Di Jepang, perayaan Tahun Baru disebut "Oshogatsu" dan merupakan perayaan yang paling penting dalam budaya Jepang. Selama perayaan ini, orang Jepang mengunjungi kuil-kuil untuk berdoa dan memberikan persembahan.

Mereka juga mengadakan makan malam bersama keluarga dan teman-teman, dengan hidangan khas seperti soba dan osechi-ryori.

Tradisi Malam Tahun Baru di seluruh dunia

Selain perayaan Tahun Baru Masehi, perayaan malam pergantian tahun juga penuh dengan tradisi menarik di seluruh dunia. Misalnya, di Amerika Serikat, orang-orang berkumpul di Times Square, New York City, untuk melihat bola kristal raksasa yang diturunkan saat tengah malam.

Di Skotlandia, tradisi "Hogmanay" melibatkan pertunjukan api kembang api dan tarian tradisional.

Di Spanyol, mereka merayakan malam pergantian tahun dengan "Las Doce Uvas de la Suerte" atau "Dua Belas Anggur Keberuntungan".

Setiap kali lonceng berdentang menandai pergantian tahun, orang-orang memakan satu anggur untuk setiap dentang lonceng. Ini diyakini membawa keberuntungan untuk setahun ke depan.

Evolusi perayaan Tahun Baru Imlek dari waktu ke waktu

Salah satu perayaan Tahun Baru yang paling terkenal dan berwarna adalah perayaan Tahun Baru Imlek di Tiongkok.

Perayaan ini memiliki sejarah yang panjang dan telah mengalami evolusi selama berabad-abad. Tahun Baru Imlek biasanya jatuh pada akhir Januari atau awal Februari dan dirayakan selama 15 hari.

Perayaan Tahun Baru Imlek diisi dengan tradisi dan kepercayaan seperti membersihkan rumah dari roh-roh jahat, memberi angpao atau amplop merah berisi uang kepada anak-anak, dan menyalakan petasan untuk mengusir makhluk jahat.

Makanan khas seperti jiaozi (dumpling) dan tangyuan (bola ketan) juga menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan ini.

Baca juga: Ritual Pemakaman Neolitikum di Spanyol: Pembongkaran Rahasia Mumi Berusia Ribuan Tahun

Dari penelusuran sejarah perayaan Tahun Baru, kita dapat melihat betapa kaya dan beragamnya asal-usul dan tradisi yang terkait dengan perayaan tahun baru. Dari peradaban kuno hingga saat ini, perayaan tahun baru terus berubah dan berkembang, tetapi tetap menjadi momen yang istimewa dalam kehidupan kita. Selama perayaan Tahun Baru berikutnya, mari kita hargai dan merayakan perjalanan panjang perayaan ini dengan penuh sukacita dan harapan baru.

Baca Juga

Ternyata Penemu 'Titik Desimal' Bukan Christopher Clavius, Tapi Giovanni Bianchini pada Tahun 1440-an
Ternyata Penemu 'Titik Desimal' Bukan Christopher Clavius, Tapi Giovanni Bianchini pada Tahun 1440-an
Menelusuri Jejak Mumi Mesir: Sejak Kapan Tradisi Ini Dimulai?
Menelusuri Jejak Mumi Mesir: Sejak Kapan Tradisi Ini Dimulai?
13 Jenis Makanan yang Bisa Menurunkan Risiko Terkena Kanker
13 Jenis Makanan yang Bisa Menurunkan Risiko Terkena Kanker
Monster Laut Jurassic Setinggi 9,1 Meter Kembali Hidup dalam Film Dokumenter Baru David Attenborough
Monster Laut Jurassic Setinggi 9,1 Meter Kembali Hidup dalam Film Dokumenter Baru David Attenborough
Kisah Cinta dan Harta Oei Tiong Ham: Sugar Daddy Era Hindia Belanda
Kisah Cinta dan Harta Oei Tiong Ham: Sugar Daddy Era Hindia Belanda
Fragmen "Zombie" Virus Corona, Picu Gejala Parah COVID-19
Fragmen "Zombie" Virus Corona, Picu Gejala Parah COVID-19