Apa Itu Pan-Islamisme?
Pan-Islamisme adalah gagasan penyatuan negeri-negeri berpenduduk Islam di bawah satu kekuasaan tunggal Kesultanan Turki Usmani pada paruh terakhir abad ke-19.
Istilah pan-Islamisme muncul kali pertama dalam majalah berbahasa Turki oleh Franz von Werner dan koran berbahasa Inggris oleh Arminius Vambery pada 1878.
Akan tetapi istilah pan-Islamisme baru populer dua tahun kemudian setelah Gabriel Charmes, jurnalis Perancis, menulis serangkaian artikel tentang Kesultanan Turki Usmani pada 1880.
Pan-Islamisme terbagi dua jenis, yaitu klasik dan modern. Pan-Islamisme klasik berkembang ketika kekhalifahan Islam mulai terbentuk setelah Nabi Muhammad wafat pada abad ke-7.
Penekanan pan-Islamisme klasik terletak pada penaklukan negeri di luar Jazirah Arab untuk misi penyebaran Islam. Pan-Islamisme modern menitikberatkan pembebasan negeri-negeri berpenduduk mayoritas Muslim dari dominasi negeri Barat seperti Belanda, Perancis, Rusia, dan Inggris.
Gagasan ini adalah buah pikir Namik Kemal, intelektual Kesultanan Turki Usmani pada 1870-an. Gagasan ini memperoleh rumah nyaman di kalangan pemikir pembaruan pemikiran Islam dari Mesir seperti Jamaluddin al-Afghani.
Pada masa Abdul Hamid II, Sultan Kesultanan Turki Usmani 1876-1909, pan-Islamisme menjadi kebijakan resmi negara.
Pan-Islamisme menimbulkan kekhawatiran di Hindia Belanda. Snouck Hurgronje, penasehat Pemerintah Kolonial untuk urusan Agama Islam, melihat pan-Islamisme sebagai ancaman bagi Pemerintah Kolonial.
Snouck berupaya mencegah penyebaran pan-Islamisme dengan membreidel pers dalam negeri yang mengusung gagasan tersebut. Pers-pers itu kebanyakan berbahasa Arab karena sebagian besar pengusung gagasan pan-Islamisme di Hindia Belanda berasal dari kalangan Hadrami (orang Yaman). Mereka mengalami pengawasan yang ketat dari Pemerintah Kolonial.
Para pemikir Islam dari kalangan bumiputera sebenarnya tak begitu menaruh perhatian terhadap pan-Islamisme. Mereka lebih tertarik pada gagasan pembaruan Islam daripada pan-Islamisme.
Hal ini terlihat dari ketiadaan organisasi Islam di Hindia Belanda yang menjadikan pan-Islamisme sebagai ideologi. Penyebaran pan-Islamisme melemah ketika Kesultanan Turki Usmani kalah pada Perang Dunia I.
Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

















