Sugondo Djojopuspito

Sugondo Djojopuspito

Sugondo Djojopuspito. [Foto: Istimewa]

Siapa Sugondo Djojopuspito?

Sugondo Djojopuspito adalah salah seorang pendiri Partai Sosialis Indonesia. Sugondo adalah seorang politikus Indonesia yang lahir di Tuban, 22 Februari 1905. Sugondo disekolahkan oleh pamannya hingga ia menuntut ilmu di Rechthoogeschool di Batavia.

Sejak saat itu, ketertarikan Sugondo dengan politik telah muncul. Meski belum bisa bergabung dengan partai politik, Sugondo aktif menghadiri rapat-rapat umum saat itu.

Sugondo muda juga gemar membaca majalah milik sejumlah organisasi pergerakan sehingga matanya terbuka dan segera menyadari pentingnya meraih sebuah kemerdekaan. Pada 1926, ia ikut serta dalam Kongres Pemuda I.

Baru pada Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928, namanya terpilih sebagai ketua yang berkontribusi besar terhadap jalannya Sumpah Pemuda.

Pada tahun-tahun berikutnya, Sugondo terlibat secara aktif dalam dinamika partai politik di Indonesia. Ia bergabung dengan Partai Pendidikan Nasional Indonesia dan kemudian mendirikan Partai Sosialis Indonesia.

Referensi: Kamus Sejarah Indonesia.

Baca Juga

Sumpah Terlarang dan Akhir Dinasti Kerajaan Koto Besar Takluk oleh Belanda
Sumpah Terlarang dan Akhir Dinasti Kerajaan Koto Besar Takluk oleh Belanda
Dari Tragedi Karbala ke Pantai Pariaman: Perjalanan Spiritual Tradisi Tabuik
Dari Tragedi Karbala ke Pantai Pariaman: Perjalanan Spiritual Tradisi Tabuik
Siak Lengih dan Masjid Keramat: Warisan Spiritual yang Mengubah Wajah Kerinci
Siak Lengih dan Masjid Keramat: Warisan Spiritual yang Mengubah Wajah Kerinci
Jejak Imperium Terlupakan: Kisah Kerajaan Melayu yang Menguasai Nusantara Selama 9 Abad
Jejak Imperium Terlupakan: Kisah Kerajaan Melayu yang Menguasai Nusantara Selama 9 Abad
Penelitian DNA Membuktikan Kekerabatan Suku Sakai dengan Minangkabau Pagaruyung
Penelitian DNA Membuktikan Kekerabatan Suku Sakai dengan Minangkabau Pagaruyung
Ketika Islam Menulis Ulang Sejarah Minangkabau: Jejak Spiritual dalam Tambo Kuno
Ketika Islam Menulis Ulang Sejarah Minangkabau: Jejak Spiritual dalam Tambo Kuno