<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	 xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Kebudayaan - Cekricek.id</title>
	<atom:link href="https://cekricek.id/tag/kebudayaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://cekricek.id</link>
	<description>Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Sep 2026 01:04:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://cekricek.id/wp-content/uploads/2021/01/cropped-Fav-512-1-150x150.png</url>
	<title>Kebudayaan - Cekricek.id</title>
	<link>https://cekricek.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Diskusi UGM Soal Batas Antara Merawat dan Menjual Budaya</title>
		<link>https://cekricek.id/diskusi-ugm-kebudayaan-jogja/</link>
					<comments>https://cekricek.id/diskusi-ugm-kebudayaan-jogja/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Maharani]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2026 22:08:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://cekricek.id/diskusi-ugm-kebudayaan-jogja/</guid>

					<description><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/diskusi-ugm-kebudayaan-jogja/" title="Diskusi UGM Soal Batas Antara Merawat dan Menjual Budaya" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-k2-3108b.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Pemandangan udara kawasan kampus Universitas Gadjah Mada" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" fetchpriority="high" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-k2-3108b.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-k2-3108b-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-k2-3108b-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-k2-3108b-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-k2-3108b-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-k2-3108b-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Diskusi UGM Soal Batas Antara Merawat dan Menjual Budaya 1"></a><p>Empat pembicara di UGM membedah pertanyaan lama: sampai di mana kebudayaan Jogja boleh dijual.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/maharani/">Maharani</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<a href="https://cekricek.id/diskusi-ugm-kebudayaan-jogja/" title="Diskusi UGM Soal Batas Antara Merawat dan Menjual Budaya" rel="nofollow"><img width="1200" height="675" src="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-k2-3108b.webp" class="webfeedsFeaturedVisual wp-post-image" alt="Pemandangan udara kawasan kampus Universitas Gadjah Mada" style="display: block; margin: auto; margin-bottom: 5px;max-width: 100%;" link_thumbnail="1" decoding="async" srcset="https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-k2-3108b.webp 1200w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-k2-3108b-300x169.webp 300w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-k2-3108b-768x432.webp 768w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-k2-3108b-800x450.webp 800w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-k2-3108b-640x360.webp 640w, https://cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/ck-k2-3108b-150x84.webp 150w" sizes="(max-width: 1200px) 100vw, 1200px" title="Diskusi UGM Soal Batas Antara Merawat dan Menjual Budaya 2"></a><p><strong>Cekricek.id</strong> &#8212; Pertanyaan yang dipasang sebagai judul diskusi itu terdengar seperti tuduhan: nyawa yang dijual?</p>
<p>Diskusi Pojok Bulaksumur bertajuk &ldquo;Nyawa yang Dijual? Seni, Kuasa, dan Wajah Baru Kebudayaan Jogja&rdquo; digelar di Gelanggang Inovasi Kreativitas Universitas Gadjah Mada, Sabtu (29/08/2026). Yang dibicarakan adalah jarak antara merawat kebudayaan Yogyakarta dan menjualnya lewat industri kreatif.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kebudayaan sebagai Kata Kerja</h2>
<p>Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM, Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi, menolak memperlakukan kebudayaan sebagai benda yang bisa dipajang.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/unhas-sambut-10401-mahasiswa-baru/">Unhas Sambut 10.401 Mahasiswa Baru, Rektor: Jangan Sampai Drop Out</a></p>
<p>&ldquo;Harusnya kebudayaan itu dilihat sebagai kata kerja,&rdquo; katanya. Ia menambahkan, &ldquo;Seniman adalah orang yang memfasilitasi warga.&rdquo;</p>
<p>Seniman Anang Saptoto menimbang kemungkinan lain. &ldquo;Jangan-jangan praktik-praktik kebudayaan itu memang dilakukan untuk mengamplifikasi sesuatu yang biasanya enggak didengar,&rdquo; ujarnya. Menurut dia, tidak semua konteks kegiatan kebudayaan adalah menjual.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Ekspresi dan Nafkah</h2>
<p>Anggota Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta sekaligus musisi, Ishari Sahida atau Ari Wulu, membedakan seni sebagai ekspresi dan seni sebagai pekerjaan. Tentang kerja komersial, ia berkata, &ldquo;Kamu memang sedang mencari uang, kemudian membuat sesuatu yang kamu tahu metodenya.&rdquo;</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/unp-dan-qut-australia-perkuat-kerja-sama-riset/">UNP dan QUT Australia Perkuat Kerja Sama Riset</a></p>
<p>Sastrawan UGM, Prof. Faruk, memindahkan letak persoalannya. &ldquo;Bukan dijual atau tidak dijual, tapi serakah atau tidak,&rdquo; katanya. Ia membaca ulang slogan Jogja Ora Didol sebagai tuntutan agar pertukaran berlangsung adil, bukan monopolistik.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Yang Disepakati</h2>
<p>Diskusi itu berujung pada satu titik temu: pengembangan kebudayaan menuntut keseimbangan antara keberlanjutan ekonomi bagi seniman dan perlindungan ruang hidup warga.</p>
<p><strong>Baca juga</strong> <a href="https://cekricek.id/ugm-gandeng-kampus-australia-riset-etika-ai/">UGM Gandeng Kampus Australia Riset Etika AI</a></p>
<p>Keputusan tentang arah kebudayaan, menurut para pembicara, harus tetap berada di tangan seniman dan warga sebagai pemangku kepentingan utama.</p>
<p>Artikel ini pertama kali terbit di <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id">Cekricek.id</a>. Ditulis oleh <a rel="nofollow" href="https://cekricek.id/author/maharani/">Maharani</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://cekricek.id/diskusi-ugm-kebudayaan-jogja/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
