Diskusi UGM Soal Batas Antara Merawat dan Menjual Budaya

A A

Kawasan kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. (Foto: Rahmatdenas/Wikimedia Commons, CC BY 4.0)

Pertanyaan yang dipasang sebagai judul diskusi itu terdengar seperti tuduhan: nyawa yang dijual?

Diskusi Pojok Bulaksumur bertajuk “Nyawa yang Dijual? Seni, Kuasa, dan Wajah Baru Kebudayaan Jogja” digelar di Gelanggang Inovasi Kreativitas Universitas Gadjah Mada, Sabtu (29/08/2026). Yang dibicarakan adalah jarak antara merawat kebudayaan Yogyakarta dan menjualnya lewat industri kreatif.

Kebudayaan sebagai Kata Kerja

Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM, Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi, menolak memperlakukan kebudayaan sebagai benda yang bisa dipajang.

Baca juga Unhas Sambut 10.401 Mahasiswa Baru, Rektor: Jangan Sampai Drop Out

“Harusnya kebudayaan itu dilihat sebagai kata kerja,” katanya. Ia menambahkan, “Seniman adalah orang yang memfasilitasi warga.”

Seniman Anang Saptoto menimbang kemungkinan lain. “Jangan-jangan praktik-praktik kebudayaan itu memang dilakukan untuk mengamplifikasi sesuatu yang biasanya enggak didengar,” ujarnya. Menurut dia, tidak semua konteks kegiatan kebudayaan adalah menjual.

Ekspresi dan Nafkah

Anggota Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta sekaligus musisi, Ishari Sahida atau Ari Wulu, membedakan seni sebagai ekspresi dan seni sebagai pekerjaan. Tentang kerja komersial, ia berkata, “Kamu memang sedang mencari uang, kemudian membuat sesuatu yang kamu tahu metodenya.”

Baca juga UNP dan QUT Australia Perkuat Kerja Sama Riset

Sastrawan UGM, Prof. Faruk, memindahkan letak persoalannya. “Bukan dijual atau tidak dijual, tapi serakah atau tidak,” katanya. Ia membaca ulang slogan Jogja Ora Didol sebagai tuntutan agar pertukaran berlangsung adil, bukan monopolistik.

Yang Disepakati

Diskusi itu berujung pada satu titik temu: pengembangan kebudayaan menuntut keseimbangan antara keberlanjutan ekonomi bagi seniman dan perlindungan ruang hidup warga.

Baca juga UGM Gandeng Kampus Australia Riset Etika AI

Keputusan tentang arah kebudayaan, menurut para pembicara, harus tetap berada di tangan seniman dan warga sebagai pemangku kepentingan utama.

Bagikan

Baca Juga

Peraih Nobel Perdamaian Kailash Satyarthi berbicara dalam UGM Annual Lecture Nobel Laureate Series di Universitas Gadjah Mada.
Nobel Kailash Satyarthi: Bawa KKN UGM ke Panggung Global
Ilustrasi seorang anak dan neneknya mengamati lemari kaca museum sejarah alam
Museum Biologi UGM Dinilai Gelap dan Tak Ada yang Bisa Dimainkan
Arsip Pribadi Heri Dono Dibuka, Termasuk Surat dari Kedutaan
Arsip Pribadi Heri Dono Dibuka, Termasuk Surat dari Kedutaan
Ilustrasi rombongan pesepeda melintasi gang berdinding tembok tua pada pagi hari
53 Mahasiswa Menguji Rute Sepeda Cagar Budaya Yogyakarta
Festival Kiamat dan Hutan Wakaf, Dua Cara Iman Menjaga Alam
Festival Kiamat dan Hutan Wakaf, Dua Cara Iman Menjaga Alam
Dosen Fakultas Kehutanan UGM Atus Syahbudin memperlihatkan kain ecoprint karya warga Sangurejo di Leiden
Bekas Kampung Kumuh Sleman Masuk 32 Nominasi ProKlim