Toshimaru di Pantai Sosol, Tinggal Enam Puluh Persen

A A

Haluan Kapal Toshimaru pada 2015. (Foto: Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI)

Cekricek.id — Sekitar seratus meter dari garis Pantai Sosol, Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara, sebuah haluan baja mencuat dari air. Siang hari laut surut. Sore hari air kembali pasang. Di bawah permukaan, jarak pandang penyelam hanya sekitar satu meter karena perairan keruh. Sisa lambung memanjang ke arah laut, lalu hilang pada kedalaman nol sampai delapan meter, di titik yang tidak bisa dicapai tanpa alat selam.

Warga setempat menyebut rangka itu Kapal Toshimaru dan meyakininya sebagai kapal perang Jepang. Panjang keseluruhannya sekitar 100 meter, lebar 15 meter, tinggi 12 meter. Yang tersisa tinggal sekitar 60 persen. Angka-angka itu dicatat Dwi Sumaiyyah Makmur, M.Hum, dari Universitas Khairun, Ternate, dalam artikel Identifikasi Bangkai Kapal Toshimaru di Pantai Sosol Malifut Halmahera Utara yang terbit di Jurnal Pusaka Vol. 5 No. 2 tahun 2025.

Daftar Isi
  1. Pantai Sosol
  2. Haluan dan Palka
  3. Teluk Kao dan Little Tokyo
  4. Besi Tua dan Batas Seratus Tahun

Pantai Sosol

Palka Kapal Toshimaru yang terisi air laut, dilihat dari geladak
Bagian palka Kapal Toshimaru yang kini terisi air laut. (Foto: Dwi Sumaiyyah Makmur/Jurnal Pusaka)

Pantai Sosol berada di pesisir Malifut. Bangkai kapal itu sudah lama diketahui penduduk sekitar dan masuk kategori objek yang diduga cagar budaya. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI – Maluku Utara pernah melakukan survei di lokasi itu pada 2015. Sembilan tahun kemudian, pada Oktober 2024, pengumpulan data lapangan kembali dilakukan di titik yang sama.

Cara kerjanya bertumpu pada apa yang bisa dilihat dan diukur. Deskripsi objek dicatat. Bagian-bagian kapal diukur. Foto dan video diambil untuk tiap bagian yang masih bisa dijangkau. Data lapangan itu lalu disandingkan dengan studi arsip historis, artikel, dan buku, ditambah wawancara dengan tokoh dan warga yang secara turun-temurun masih menyimpan kisah tentang kapal tersebut. Metodenya deskriptif-analitis, dengan kerangka arkeologi perkapalan atau nautical archaeology.

Bagian yang paling mudah dijumpai justru bagian yang paling terbuka pada perusakan. Haluan berada di dekat permukaan. Badan kapal hingga buritan terendam. Karena itu sebagian catatan hanya bisa dibuat sesudah menyelam, dan sebagian besar bagian atas kapal sudah tidak ada lagi.

Haluan dan Palka

Yang tersisa dari Toshimaru adalah kerangka dan bagian dasar kapal. Bagian atasnya habis. Dari sisa itu, beberapa bagian masih dapat dikenali satu per satu: haluan, lambung di sisi kanan dan kiri, serta tiang mast yang terbuat dari baja dan kini sudah rebah. Ada dua palka dengan ukuran yang berbeda. Di dasar kapal, konstruksi memanjang berbentuk segi empat menandai lunas.

Baca juga Bangkai Kapal Onrust yang Muncul Lima Tahun Sekali

Buritannya berbentuk V. Bagian itu sudah berkarat dan hanya bisa didatangi dengan penyelaman. Perbandingan dua foto haluan — satu dari survei 2015, satu lagi dari kerja lapangan 2024 — memperlihatkan selisih rentang sembilan tahun pada objek yang sama. Sebuah foto udara yang diambil dengan drone dipakai untuk menandai posisi lambung, dua palka, tiang mast, haluan, dan buritan dalam satu bingkai.

Dari bahan dan bentuknya, kapal itu ditafsirkan sebagai kapal baja. Menurut fungsinya, ia dimasukkan ke golongan kapal khusus, yaitu kapal yang dirancang untuk tugas tertentu dan bukan semata mengangkut barang atau penumpang. Kapal perang termasuk di dalamnya, dan istilah itu tidak selalu berarti kapal yang bertempur langsung; ia bisa berperan mendukung operasi militer. Penafsiran itu bersandar pada bagian-bagian yang masih bisa diidentifikasi, bukan pada pelat nama atau nomor lambung.

Teluk Kao dan Little Tokyo

Sekitar dua jam perjalanan darat dari Malifut ke arah utara terbentang Teluk Kao. Di sanalah letak alasan mengapa sebuah kapal baja berakhir di perairan dangkal Sosol. Kao dahulu disebut Little Tokyo dan menjadi pangkalan utama Angkatan Laut Jepang di Kepulauan Maluku, sebuah pilihan yang ditopang topografi wilayahnya.

Baca juga Cangkang di Benteng Tabanio Ternyata Dibawa Ombak

Urutan peristiwanya tercatat begini. Ternate pertama kali dibom pesawat-pesawat Jepang pada Januari 1942. Pendaratan tentara Jepang di Ternate terjadi pada April 1942. Sebelum pendaratan itu, sebuah kapal bernama Honun Maru merapat di dermaga Ternate, membawa naik Asisten Residen Velde, Komandan Militer KNIL Kapten Zondag, seorang dokter tentara Belanda, para biarawati, dan sejumlah anak keluarga Belanda, lalu menghilang menuju Ambon. Pada 1943, Jepang membangun fasilitas pertahanan secara besar-besaran di Kao, termasuk lapangan terbang dan galangan untuk memperbaiki kapal perang. Lapangan terbang itu disebut mendukung pendaratan dan penerbangan sekitar 300 pesawat tempur.

Alasan Jepang datang jauh lebih tua dari kapal itu. Indonesia menjadi sasaran karena penghasil minyak dan berpenduduk banyak, sehingga tenaganya bisa dipakai sebagai kerja paksa atau romusha. Jepang menguasai Maluku, termasuk Ternate, sejak 1942 sampai 1945, dan membentuk pemerintahan militer untuk mengendalikan sumber daya serta penduduk setempat. Di Kao, Angkatan Laut membangun fasilitas pertahanan sekitar 1942 sampai 1945; Angkatan Darat membangun lapangan terbang di Wasilei, Miti, dan Galela, menyusul Morotai dan Bacan.

Toshimaru berangkat dari Tokyo menuju Teluk Kao dengan membawa 200 tentara Jepang, logistik, dan persenjataan. Muatan itu ditujukan untuk basis militer Jepang di Halmahera Utara yang tengah berhadapan dengan pasukan Sekutu bermarkas di Morotai, di timur laut Teluk Kao. Kapal itu dihancurkan pesawat tempur Sekutu dan karam di posisinya sampai hari ini.

Tahun kejadiannya perlu dibaca hati-hati. Pada bagian pendahuluan, kapal itu disebut diduga berada di Pantai Sosol sejak 1944. Pada bagian pembahasan, penghancurannya ditulis terjadi pada 1943, saat kapal tiba di Teluk Kao. Dua angka itu sama-sama tercetak dalam satu artikel dan tidak didamaikan. Sesudah Sekutu menduduki Morotai, keunggulan laut dan udara Jepang rontok; banyak kapal Jepang ditenggelamkan di Kao, dan sebagian bangkainya masih terlihat di perairan itu sampai sekarang.

Besi Tua dan Batas Seratus Tahun

Yang mengurangi kapal itu bukan hanya laut. Kondisi Toshimaru yang tinggal 60 persen disebabkan korosi karena faktor alam dan penjarahan besi tua yang punya nilai ekonomi. Karena itu pengaturan zona pelestarian, penelitian lanjutan, dan penetapan sebagai cagar budaya diajukan sebagai jalan perlindungan. Vandalisme dan penjarahan disebut sebagai dua ancaman yang paling mendesak.

“Bangkai kapal karam tersebut merupakan objek historis bawah laut yang wajib dilindungi bersama, baik dalam level individu hingga level internasional,” tulis Dwi Sumaiyyah Makmur, M.Hum.

Baca juga Migrasi Orang Tobelo: Dari Talaga Lina ke Bacan dan Obi

Rujukan hukumnya dua lapis. Konvensi Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air UNESCO tahun 2001 menyebut warisan budaya bawah air sebagai semua jejak keberadaan manusia berkarakter budaya, sejarah, atau arkeologis yang sebagian atau seluruhnya berada di bawah air selama sedikitnya 100 tahun, termasuk kapal, muatannya, dan konteks arkeologi serta alaminya. Lapis kedua adalah Pasal 149 UNCLOS 1982, yang menyatakan bahwa “semua benda-benda purbakala dan yang mempunyai nilai sejarah yang ditemukan di Kawasan harus dipelihara atau digunakan untuk kemanfaatan umat manusia sebagai suatu keseluruhan”.

Ambang 100 tahun itu patut dicatat. Bila kapal karam pada 1943 atau 1944, umurnya belum genap seabad. Artinya patokan usia UNESCO belum otomatis menaungi Toshimaru, sementara korosi dan pengambilan besi tua berjalan tanpa menunggu tanggal. Di sisi lain, bangkai kapal juga disebut dapat menjadi tempat tumbuh terumbu karang dan habitat ikan serta biota lain, sehingga membentuk ekosistem baru; bila dikelola sebagai wisata edukasi atau wisata bahari, ia bisa bernilai ekonomi.

Ada ukuran lain yang dipakai untuk menimbang benda seperti ini. Nilai penting kesejarahan dilekatkan bila sumber daya arkeologi itu menjadi bukti berbobot dari suatu peristiwa pada masanya, atau berkaitan erat dengan tokoh sejarah dan perkembangan penting di bidang tertentu. Nilai penting ilmu pengetahuan dilekatkan bila objek itu masih menyimpan potensi untuk diteliti lebih lanjut dan menjawab persoalan keilmuan. Toshimaru diletakkan pada dua ukuran itu sekaligus: saksi bisu pertempuran, sekaligus objek yang pemeriksaannya belum selesai.

Batas kajian ini diakui sendiri oleh penulisnya. Kondisi kapal itu disebut sangat memprihatinkan, dan sebagian data yang bisa diselamatkan hanya sempat direkam sebelum kerusakan berikutnya terjadi. Objek kapal karam itu dinyatakan masih perlu diteliti lebih lanjut dari perspektif arkeologi perkapalan, dan sebagian data historis kapal bersandar pada dokumen Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI tahun 2015 serta buku terbitan sebelumnya, bukan pada arsip Jepang yang diperiksa langsung. Identifikasi jenis kapal ditarik dari bentuk dan struktur yang tersisa, dengan setengah badan kapal berada di bawah air dan jarak pandang sekitar satu meter. Satu bangkai kapal di satu pantai juga belum menjelaskan seluruh jejak Perang Dunia II di perairan Halmahera.

Yang bisa dipastikan hanya yang masih bisa diukur. Haluan baja itu tetap mencuat di Pantai Sosol pada siang hari, sekitar seratus meter dari garis pantai, dan menghilang lagi ketika air pasang datang sore hari.

Bagikan

Baca Juga

Oudetrap dan Spiegel: Dua Jalan Konservasi Kota Lama
Oudetrap dan Spiegel: Dua Jalan Konservasi Kota Lama
Candi Naga di Kompleks Candi Panataran, Blitar, dengan tubuh candi batu andesit berhias pahatan naga melingkar dan deretan figur penopang
Candi Naga Panataran Bukan Kisah Samudramanthana
Bangkai lokomotif uap Silukah dengan ketel dan roda berjari-jari yang disimpan di bawah bangunan pelindung beratap seng
Lokomotif Uap Silukah, Saksi Jalur Maut Sijunjung
Ilustrasi meriam besi tua berkarat di atas landasan batu dengan lubang sundut terlihat jelas, berlatar meriam perunggu berpatina hijau di atas kereta kayu jati di beranda gedung museum bergaya kolonial
Sembilan Belas Logo Kamar Dagang VOC di Meriam Kuno
Kompleks Rumah Sakit St. Carolus di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, dengan gedung bertingkat modern berdampingan bangunan lama beratap genteng
Yang Tersisa dari Arsitektur Kolonial RS St. Carolus
Ilustrasi tanduk kerbau tua berwarna cokelat gelap yang permukaannya penuh goresan halus sejajar, terbaring di atas kain tenun lipat pada lantai papan rumah kayu, dengan jendela terbuka ke arah lembah hijau
Tanduk Kerbau Kerinci dan Dipati yang Diupah