Cekricek.id — Naga di Candi Naga tidak sepenuhnya bercerita Samudramanthana. Begitu kesimpulan Kyra Andhayu Noer dan Dwi Pradnyawan, dua peneliti dari Program Studi Sarjana Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Bacaan lama atas relief candi di Blitar itu mereka gugat dengan alat baca semiotik. Titik sengketanya sederhana: ada satu tokoh yang tidak pernah dipahat di sana.
Gugatan tersebut terbit dengan judul Interpretasi Ragam Hias Naga pada Candi Naga Panataran: Sebuah Kajian Semiotik Peirce. Artikelnya dimuat AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 42 No. 1, terbitan Juni 2024, pada halaman 41 sampai 52. Naskahnya diterima 11 Januari 2024, diperiksa 13 Maret 2024, dan disetujui 15 Mei 2024.
Model analisisnya deskriptif kualitatif dengan penalaran induktif, dan tahapannya ada lima. Datanya dikumpulkan lewat observasi langsung di lapangan, studi pustaka dokumen sezaman, peta, serta dokumentasi terdahulu. Alat bacanya segitiga makna Charles Sanders Peirce. Bahan pembandingnya empat naskah Jawa Kuno dan sejumlah artefak beratribut serupa.
Candi Naga berdiri di Kompleks Candi Panataran, Desa Panataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kompleks berlatar agama Hindu itu disebut “state temple” Kerajaan Majapahit dan mencakup lahan seluas 12.946 meter persegi. Sampai hari ini ia tercatat sebagai kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur, dan Candi Naga hanya satu bangunan kecil di dalamnya.
Daftar Isi
Empat Kepala di Sudut
Thomas Stanford Raffles menemukan candi ini pada 1815 dan mencatatnya dalam bukunya, The History of Java. Catatan itu dikutip kembali oleh Bernet Kempers dalam kajiannya pada 1959. Bangunannya dibangun ulang pada 1917 sampai 1918 tanpa atap. Yang tersisa sampai sekarang hanya bagian kaki dan bagian tubuh candi.
Atapnya tidak pernah ditemukan dalam keadaan utuh. Kempers menduga penutup itu dahulu dibuat dari bahan yang mudah rusak, kemungkinan besar kayu, lalu hancur dan ditemukan kembali dalam keadaan tak lengkap. Dugaan tersebut ia tulis dalam Ancient Indonesian Art terbitan 1959. Bahan semacam itu memang jarang bertahan berabad-abad di iklim tropis.
Bahan candinya batu andesit dan denahnya bujur sangkar. Bangunan itu menghadap ke barat, dan di sisi yang sama terdapat penampil beserta tangga naik menuju bilik. Anak tangganya berjumlah sepuluh, sementara pipi tangganya tidak dilengkapi makara. Bilik utamanya hanya satu dan langsung dapat dimasuki dari ujung tangga.
Kaki candinya nyaris polos. Profilnya berupa batur yang cukup tinggi dengan susunan pelipit-pelipit datar tanpa satu pun ragam hias. Hiasan baru muncul di ujung tangga, berbentuk ukel seperti gulungan. Ukel itu dilengkapi hiasan tumpal bermotif kepala kala stiliran, dan di luar itu bidangnya dibiarkan kosong.
Naganya berada di bagian paling atas tubuh candi, berbatasan langsung dengan bekas atap. Jumlahnya empat ekor, masing-masing dengan kepala di satu sudut bangunan. Kepala seekor naga mengait ekor naga di sebelahnya, sehingga keempat sisi candi terlilit tanpa putus. Representasi naga di bangunan ini memang dominan.
Penggambaran naga itu seram. Matanya melotot, mulutnya terbuka lebar, dan lidahnya menjulur keluar. Taringnya berjumlah empat dengan gigi yang runcing, sementara sisik menutup sekujur tubuhnya. Di kepala tiap naga terpasang mahkota, penanda bahwa ia bukan ular biasa.
Baca juga Lagu Kampuang dan Furusato dalam Kajian Antropolinguistik
Sembilan Figur, Satu Genta
Di bawah lilitan naga berdiri sembilan sosok yang menyerupai manusia. Semuanya digambarkan memiliki sirascakra di belakang kepala dan mahkota kiritamakuta di atasnya. Perhiasannya raya: tali upavita, anting-anting, kalung atau hara, dan kelat bahu atau keyura. Atribut selengkap itu lazim dipakai untuk menandai sosok dewa atau tokoh suci.
Tangan kiri tiap figur mengarah ke atas dan menopang tubuh naga yang melintas di atasnya. Tangan kanannya memegang sebuah genta atau lonceng. Alat semacam itu biasa dipakai dalam upacara keagamaan. Posisi kedua tangan inilah yang belakangan menjadi bahan perdebatan di antara para peneliti.
Sembilan figur tersebut berdiri di atas pedestal atau lapik batu. Lapiknya dihiasi relief bergambar hewan dan manusia; Marijke Klokke dalam disertasinya mencatat ular, kijang, sapi, dan singa di antaranya. Relief itu merupakan potongan cerita tantri, bukan bagian dari kisah para dewa.
Cerita tantri umumnya mengisahkan sifat manusia dan kehidupan sehari-hari. Perannya kerap diambil binatang, lalu dituangkan ke dalam bentuk fabel yang dipahat pada dinding candi. Di antara figur-figur itu terdapat pula hiasan medalion berbentuk lingkaran. Isinya pahatan berupa perpaduan antara fauna dan bentuk stiliran.
Asura yang Hilang
Selama puluhan tahun naga di Panataran dilekatkan pada cerita Samudramanthana. Naga itu dianggap Basuki, sang pengaduk lautan dalam pencarian air amrta. Pendapat tersebut muncul dalam tulisan Soekmono, Kumala, dan Hariani Santiko. Dasarnya satu: naga dan air sama-sama saling berkaitan dalam kisah itu.
Noer dan Pradnyawan menguji dugaan lama itu lewat segitiga makna Peirce. Naga didudukkan sebagai tanda, yaitu wujud fisik yang bisa ditangkap panca indra manusia. Samudramanthana ditempatkan sebagai objek yang menjadi acuannya. Kitab Adiparwa menempati posisi interpretan, yakni dasar pemikiran bagi pemberi makna.
Persoalannya, dua sudut segitiga itu goyah. Objek yang diacu pembuat candi tidak diketahui secara jelas, dan interpretan di benaknya juga gelap. Keduanya menulis, “Kesimpulan ini masih dianggap belum relevan dengan data-data pendukung yang sudah diuraikan sebelumnya.”
Keberatan pertama menyangkut tokoh. Cerita Samudramanthana selalu melibatkan asura sebagai pemeran inti di salah satu ujung tubuh naga yang ditarik. Di Candi Naga sosok asura sama sekali tidak dipahat. Tanpa asura, adegan pengadukan lautan itu kehilangan separuh pemainnya.
Baca juga Rahwana Berkepala Tujuh di Prambanan, Manusia Biasa di Panataran
Keberatan kedua menyangkut posisi. Dalam adegan Samudramanthana naga ditarik dan berada dalam dekapan tangan para penariknya. Di Candi Naga naga justru melilit bagian teratas bangunan, jauh di atas kepala sembilan figur itu. Tidak ada satu pun figur yang digambarkan sedang menariknya.
Dua Pancuran Pembanding
Pembandingnya ada di Blitar juga. Di Candi Sirah Kencong ditemukan sebuah pancuran air berbahan batu dengan relief figur dewa dan asura yang sedang menarik naga. Pancuran itu kini disimpan di Museum Nasional Indonesia. Adegannya lengkap, kedua kubu hadir, dan tarik-menarik itu terlihat jelas.
Contoh kedua datang dari Situs Ampelgading. Tubuh saluran airnya berbahan batu putih dengan penggambaran serupa, dipahat di bagian bawah saluran. Benda itu kini berada di Pusat Informasi Majapahit, Trowulan. Keduanya sama-sama benda yang berhubungan langsung dengan air, tidak seperti tubuh sebuah candi.
Beda dewa dan asura pada dua pancuran itu kasatmata. Dewa dipahat memakai mahkota serta atribut busana yang sangat menggambarkan sosok kedewataan. Asura tidak memakai keduanya. Raut wajahnya pun cenderung menyeramkan, dengan mata melotot dan taring yang mencuat dari mulut yang terbuka.
Dua pancuran itu punya tokoh yang lengkap; Candi Naga tidak. Selisih itulah yang dipakai kedua peneliti untuk menolak bacaan lama. Kalau candi tersebut benar merekam Samudramanthana, sosok asura semestinya ikut dipahat di tubuh bangunannya. Kenyataannya, yang ada di sana hanya naga dan sembilan figur bermahkota.
Naga di Dasar Bumi
Lalu naga di puncak candi itu tanda dari apa? Jawabannya dicari di kesusastraan Jawa Kuno. Empat naskah dipakai sebagai data pendukung, yakni Udyogaparwa, Agastyaparwa, Tantu Panggelaran, dan Korawasrama. Keempatnya menempatkan naga di alam bawah, bukan di tengah lautan yang sedang diaduk.
Udyogaparwa menyebut naga bertempat di Saptapatala, tujuh lapisan alam bawah. Agastyaparwa menyatukan ular-naga dan kura-kura sebagai satu kesatuan makhluk penjaga bumi. Tantu Panggelaran menyebut seekor naga bernama Sang Hyang Anantabhoga yang menjadi dasar bumi. Tiga naskah, satu arah pemaknaan yang sama.
Korawasrama dari abad ke-16 melangkah lebih jauh. Naskah itu menyebut Pulau Jawa disangga oleh Badawang Nala, si kura-kura, bersama Anantabhoga. Jan Lodewick Swellengrebel menerbitkan dan menerjemahkan naskah tersebut pada 1936. Kutipan darinya dipakai sebagai penopang argumen dalam artikel ini.
Baca juga Busur di Relief Candi Menyusut Delapan Abad, dari Vansa ke Saranga
Dari empat potongan kalimat itu gambarannya seragam. Naga digambarkan sebagai binatang mitologi yang hidup di dunia bawah atau patala. Perannya penyangga sekaligus penyelaras. Ia menghubungkan bumi dengan dunia yang berada di bawahnya, dan karena itu disucikan.
Sifat penghubung itulah yang dipakai mengisi dua sudut segitiga makna yang tadinya kosong. Naga dibaca sebagai makhluk perantara antara alam manusia dan alam kedewaan. Ia bukan pemeran satu adegan tertentu. Ia ikon dari sebuah mitologi, bukan ilustrasi sebuah cerita.
Teras Kedua
Pembacaan itu cocok dengan letak candinya. Kompleks Panataran tersusun menurut konsep triloka, dan Candi Naga berdiri di halaman kedua. Halaman tersebut berfungsi sebagai teras transisi. Ia menghubungkan teras pertama dengan teras ketiga, dan tidak berdiri sebagai tujuan akhir.
Teras pertama berisi Bale Agung, Pendopo Batur, dan Candi Angka Tahun. Bagian itu mewakili Bhurloka, tingkatan yang profan. Teras ketiga memuat candi induk dan petirtaan sebagai tempat utama. Bagian itu Swarloka, dunia yang sakral dalam susunan kosmologi kompleks tersebut.
Teras kedua mewakili Bhurvaloka, tempat penyucian sebelum orang memasuki wilayah sakral. Di situlah Candi Naga berdiri. Kedua peneliti menyebutnya “ruang transit” atau “tangga penghubung” yang harus dilalui sebelum pemujaan inti di Candi Induk Panataran.
Tidak semua ragam hias di candi itu ikut bercerita. Medalion dan adegan tantri di lapik figur dinilai tidak berkaitan dengan fungsi bangunan. Keduanya menulis, “Kedua ragam hias tersebut hanya sebagai hiasan untuk kepentingan estetika belaka.”
Batas kajian ini perlu disebut terang-terangan. Seluruhnya interpretasi atas tanda, bukan temuan prasasti atau dokumen yang merekam maksud pemahatnya. Argumen utamanya bahkan bertumpu pada sesuatu yang tidak ada, yaitu asura. Ketiadaan sebuah sosok bukanlah bukti langsung tentang apa yang dimaksudkan pembuatnya.
Objek kajiannya juga tunggal. Hanya satu candi di satu kompleks, dengan sebagian besar data berasal dari pustaka dan dokumentasi lama. Sebagian bahannya bersumber dari skripsi Noer di Universitas Gadjah Mada pada 2023. Hasilnya berlaku untuk Candi Naga, belum tentu untuk candi lain di Jawa Timur.
Empat naga itu masih melingkar di puncak candi, dan alasan pemahatnya menaruh mereka di sana belum juga terjawab.














