Cekricek.id — 45 persen. Itu tingkat kepatuhan pemakaian aplikasi Mobile JKN di RSUD Bandar Negara Husada, Lampung, pada September 2025. Angka itu berasal dari data internal rumah sakit tersebut. Yang mencatatnya adalah Ari Sukma Nela dari Program Studi Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Mitra Indonesia. Ia menulisnya bersama dua rekan pengabdi. Angka itu pula yang menjadi alasan kegiatan mereka.
Laporan mereka berjudul Enhancing Outpatient Use of JKN Mobile Through Digital Education and Assistance at Bandar Negara Husada Hospital, Lampung. Naskah itu terbit pada 2026 di Warta Pengabdian Andalas, Volume 33 Nomor 2, halaman 285–294. Dua penulis lain adalah Laisa Azka dari Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan Armen Patria dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Mitra Indonesia. Panjang laporannya 10 halaman.
Daftar Isi
45 Persen dan Dua Target yang Belum Tersentuh
Angka 45 persen baru berarti setelah disandingkan dengan target. Rumah sakit mematok pemanfaatan antrean daring secara keseluruhan di atas 95 persen. Khusus antrean daring lewat Mobile JKN, targetnya di atas 60 persen. Capaian September 2025 masih tertinggal 15 poin dari target yang paling longgar di antara keduanya. Terhadap target 95 persen, jaraknya 50 poin. Dua target itu belum tersentuh.
Pendaftaran rawat jalan di rumah sakit itu sebagian besar masih manual. Penulis menyebut dua akibat yang berpotensi muncul dari angka 45 persen tersebut. Beban administrasi tenaga kesehatan bertambah. Waktu tunggu pasien memanjang pada jam pelayanan puncak. Keduanya ditulis sebagai potensi, bukan sebagai hasil pengukuran di lapangan. Laporan ini tidak memuat satu pun angka waktu tunggu. Yang tersedia hanya angka kepatuhan tadi.
RSUD Bandar Negara Husada adalah salah satu rumah sakit rujukan di Provinsi Lampung. Angka 45 persen dipakai Nela dan rekan sebagai titik berangkat kegiatan pengabdian masyarakat. Kegiatan berjalan satu bulan penuh. Sasarannya 60 orang. Hasilnya diukur dengan pra-tes, pasca-tes, dan pengamatan keterampilan peserta. Bentuknya kegiatan pengabdian, bukan uji berkelompok pembanding. Perbedaan itu menentukan sejauh mana angkanya boleh dibaca.
Selisih 30 Poin antara 98,77 dan 68,97
Angka kedua lebih menarik. Sampai Maret 2025, sebanyak 95,7 persen penduduk Indonesia sudah terdaftar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional. Data itu dikutip penulis dari DJSN. Di Provinsi Lampung, cakupan JKN pada Juni 2024 tercatat 98,77 persen. Angka provinsi itu tercatat di atas angka nasional, meski diukur pada bulan yang berbeda. Hampir seluruh penduduk Lampung sudah berstatus peserta jaminan kesehatan.
Angka ketiga memotong optimisme tadi. Sampai Juli 2025, hanya 68,97 persen peserta terdaftar yang aktif memakai aplikasi Mobile JKN. Catatan itu berasal dari BPJS Kesehatan Lampung. Jarak antara kepesertaan dan pemakaian aplikasi sekitar 30 poin persentase. Sekitar tiga dari sepuluh peserta terdaftar tidak tercatat aktif memakainya. Kartunya ada, aplikasinya menganggur. Selisih itulah yang dikejar kegiatan di Bandar Negara Husada.
Aplikasi Mobile JKN dikembangkan BPJS Kesehatan sebagai kanal digital peserta program. Fiturnya mencakup pendaftaran layanan, pemantauan status kepesertaan, dan pengambilan nomor antrean daring. Ada pula akses informasi fasilitas kesehatan serta tagihan layanan. Semua itu dimaksudkan menggantikan proses administrasi manual di fasilitas kesehatan. Sampai Juli 2025, kira-kira dua dari tiga peserta terdaftar yang benar-benar memakainya secara aktif.
Selisih 30 poin itu tidak dibiarkan lewat tanpa penjelasan. “Ketimpangan ini menunjukkan bahwa cakupan asuransi yang tinggi belum disertai adopsi layanan kesehatan digital yang optimal,” tulis Ari Sukma Nela dari Program Studi Keperawatan Universitas Mitra Indonesia bersama dua rekannya. Kalimat itu menempatkan angka 98,77 persen sebagai capaian administratif. Capaian layanan diukur dengan angka yang lain.
Baca juga Rompi Antiradiasi AstroRad Diuji di Misi Artemis I, Pangkas Paparan hingga 60 Persen
20 Responden, 10 yang Rutin
Tim menjalankan survei pendahuluan pada Januari 2026 sebelum kegiatan dimulai. Sasarannya 20 responden di instalasi rawat jalan RSUD Bandar Negara Husada. Hasil survei memecah angka 45 persen tadi menjadi bagian yang lebih kecil. Hanya 10 responden, atau 50 persen, yang rutin memakai Mobile JKN untuk mendaftar layanan. Separuh sisanya punya alasan yang berbeda-beda.
Sepuluh responden sisanya terbagi tiga kelompok. Sebanyak 5 responden atau 25 persen menyatakan tidak paham cara memakai aplikasi. Sebanyak 3 responden atau 15 persen mengalami masalah teknis. Kesulitan masuk akun dan koneksi internet yang tidak stabil disebut sebagai contohnya. Sebanyak 2 responden atau 10 persen mengaku tidak mendapat pendampingan petugas saat mendaftar. Tiga angka kecil itu menentukan bentuk kegiatan berikutnya.
Upaya menaikkan pemakaian aplikasi sebenarnya sudah pernah dijalankan sebelumnya. Bentuknya edukasi publik, pelatihan, dan penyebaran informasi. Penulis mencatat, upaya semacam itu menaikkan jumlah unduhan tetapi tidak menaikkan pemakaian aktif. Karena itu pelatihan digabung dengan pendampingan langsung untuk 60 peserta di Lampung. Penyuluhan satu arah dinilai tidak cukup mengubah kebiasaan 5 orang yang tidak paham tadi.
60 Peserta dalam Satu Bulan Kegiatan
Kegiatan diikuti 60 peserta. Sebanyak 40 orang, atau 66,7 persen, adalah pasien rawat jalan peserta BPJS Kesehatan. Sisanya 20 orang, atau 33,3 persen, adalah anggota keluarga pasien. Penulis mencatat latar peserta beragam dari sisi usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Keluarga ikut dilibatkan karena perannya menopang pasien lanjut usia yang literasi digitalnya terbatas.
Intervensi berjalan selama satu bulan. Urutannya dimulai dari sosialisasi program, lalu sesi edukasi kesehatan, demonstrasi langsung, praktik terbimbing, dan evaluasi. Tahap persiapan dilaporkan tuntas dengan tingkat pelaksanaan 100 persen. Artinya seluruh rencana pada tahap itu terlaksana sesuai jadwal dan tujuan. Persiapannya mencakup survei lokasi, koordinasi administrasi, dan perizinan dengan pihak rumah sakit.
Materi edukasi disampaikan berkelompok dengan video, poster, leaflet, panduan aplikasi, dan salindia presentasi. Isinya mencakup pengenalan aplikasi serta manfaatnya di layanan kesehatan. Tiga fitur utama yang dijelaskan adalah pendaftaran layanan, pengelolaan antrean daring, dan akses informasi kepesertaan. Penyampaiannya diselingi diskusi dan sesi tanya jawab. Media visual dipakai supaya materi lebih mudah diikuti peserta.
Baca juga Tes Feses di Rumah Pangkas Kematian Kanker Usus 43%
Tahap pendampingan digital memakai ponsel peserta sendiri. Peserta dibimbing mengunduh aplikasi, membuat akun, lalu menjalankan fitur utamanya satu per satu. Metodenya berupa simulasi pemakaian, diskusi kelompok kecil, dan demonstrasi langsung. Dua fitur yang didemonstrasikan adalah pendaftaran layanan dan antrean daring. Evaluasi ditutup dengan pra-tes dan pasca-tes pada 60 peserta yang sama.
Penulis juga mencatat kenaikan dukungan tenaga kesehatan di RSUD Bandar Negara Husada. Petugas disebut aktif memotivasi dan membimbing pasien memakai Mobile JKN untuk mendaftar layanan. Perawat ditempatkan sebagai edukator sekaligus fasilitator bagi pasien. Bagian ini tidak disertai satu pun angka. Yang terukur hanya skor 60 peserta kegiatan, bukan perilaku petugas yang mendampingi mereka.
Dari 18 Orang ke 52 Orang
Angka inti laporan ini berkumpul di satu tabel. Sebelum intervensi, 18 dari 60 peserta atau 30 persen masuk kategori berpengetahuan baik. Sebanyak 24 peserta atau 40 persen berada di kategori cukup. Sebanyak 18 peserta lagi atau 30 persen masuk kategori kurang. Totalnya 60 orang atau 100 persen. Tujuh dari sepuluh peserta belum berpengetahuan baik sebelum kegiatan.
Sesudah intervensi, komposisinya berubah tajam. Peserta berpengetahuan baik menjadi 52 orang atau 86,7 persen. Kategori cukup menyusut menjadi 8 orang atau 13,3 persen. Kategori kurang tinggal 0 orang atau 0 persen. Selisih di kategori baik saja mencapai 34 orang. Kategori kurang berkurang penuh 18 orang, dan kategori cukup berkurang 16 orang.
Jumlah pesertanya tetap 60 pada kedua pengukuran. Karena itu persentase pra-tes dan pasca-tes bisa langsung dibandingkan tanpa penyesuaian apa pun. Kenaikan di kategori baik setara 56,7 poin persentase. Penurunan di kategori kurang setara 30 poin persentase. Seluruh perubahan bersih pada tabel itu bergerak ke arah yang sama.
Baca juga 444 Alat Batu Lembah Walennae dan Satu Bahan Baku yang Melimpah
Penulis menjelaskan kenaikan itu lewat bentuk pelatihannya. Peserta tidak sekadar mendengar ceramah satu arah. Mereka mempraktikkan setiap fitur di ponsel masing-masing. Pendaftaran akun sampai penjadwalan temu dikerjakan sendiri oleh peserta. Pengalaman langsung itu, menurut penulis, memperkuat pemahaman dan daya ingat 60 peserta terhadap materi yang baru mereka terima.
Selain skor tes, ada hasil pengamatan. Peserta dinilai mampu mengoperasikan fitur utama secara mandiri. Empat fitur yang disebut adalah masuk akun, pendaftaran antrean daring, akses informasi kepesertaan, dan pencarian fasilitas kesehatan. Hasil pengamatan ini tidak disajikan dalam bentuk angka. Bedanya jelas dengan tabel pengetahuan yang memuat enam angka sekaligus.
Satu Rumah Sakit, 60 Orang, Nol Pengukuran Lanjutan
Satu catatan penting menyertai angka 86,7 persen. Yang naik adalah tingkat pengetahuan peserta, bukan pemakaian aplikasi yang terukur ulang. Laporan menyebut peserta lebih mau dan lebih mampu memakai aplikasi secara mandiri. Namun tidak ada persentase baru untuk kepatuhan pendaftaran daring sesudah kegiatan selesai. Yang tersedia untuk bagian itu hanya penilaian kualitatif.
Penulis menyebut sendiri batas kerjanya. Kegiatan berlangsung di satu rumah sakit dengan jumlah peserta yang relatif kecil. Evaluasi hanya menyentuh hasil sesaat sesudah intervensi. Ketahanan pemakaian aplikasi dalam jangka panjang tidak diukur. Dampak terhadap efisiensi layanan juga tidak masuk dalam pengukuran 60 peserta itu. Batas-batas itu ditulis terbuka di bagian simpulan.
“Kegiatan ini dilaksanakan di satu rumah sakit dengan jumlah peserta yang relatif kecil, sehingga membatasi keteralihan temuan ke tatanan layanan kesehatan lain,” tulis Nela dan rekan. Kalimat itu menjaga angka 86,7 persen tetap pada tempatnya. Angka tersebut milik 60 orang di satu rumah sakit rujukan, bukan milik 98,77 persen peserta JKN Lampung.
Lompatan dari 30 persen ke 86,7 persen karena itu tidak bisa dibaca sebagai bukti tren. Tidak ada kelompok pembanding di dalam kegiatan ini. Tidak ada pengukuran ulang beberapa bulan sesudahnya. Penulis menyarankan program berikutnya melibatkan peserta lebih banyak di beberapa fasilitas kesehatan. Saran lainnya adalah memperpanjang masa pemantauan dan mengukur dampaknya pada efisiensi layanan.
Angka terakhir tetap 45 persen. Itu tingkat kepatuhan pemakaian Mobile JKN di RSUD Bandar Negara Husada pada September 2025. Laporan ini tidak pernah memperbaruinya sampai halaman terakhir. Berapa angkanya sesudah 60 orang dilatih selama satu bulan, tidak dijawab di dalam 10 halaman tersebut.














