Jejak Keris Abad ke-15 di Catatan Armada Cheng Ho

A A

Ilustrasi belati bermata dua berpola pamor dengan gagang berukir figur manusia dan sarung kayu, sebagaimana digambarkan dalam catatan pelayaran Cheng Ho tentang Jawa Timur pada awal abad ke-15. [Foto: Dibuat dengan AI]

Cekricek.id — Antara 1405 dan 1433, armada besar Dinasti Ming yang diprakarsai Kaisar Yongle dan dipimpin Cheng Ho tujuh kali menyeberang menuju Samudra Barat, dan Jawa Timur hampir selalu masuk daftar persinggahannya. Para pengiringnya menulis apa saja yang mereka lihat di darat: pakaian raja, adat pasar, upacara perkawinan, sampai sebilah senjata pendek yang tampaknya disandang nyaris setiap laki-laki Jawa yang mereka temui. Enam abad kemudian, tiga catatan yang tersisa dari pelayaran itu dibuka kembali oleh Ippei Suzuki dari SOKENDAI, The Graduate University for Advanced Studies, bersama Rama Putra Siswantara dan Marlon N.R. Ririmasse dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan, Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Hasilnya terbit sebagai Senjata Tajam Jawa pada Awal Abad ke-15 dalam Catatan Cina: Studi Perbandingan antara Yingyai Shenglan, Xiyang Fanguo Zhi, dan Xingcha Shenglan di AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 43 No. 2, Desember 2025. Pendekatannya kualitatif dan filologis. Bagian-bagian yang menyinggung senjata tajam Jawa ditranskripsikan dari teks asli ketiga naskah, digarisbawahi, diberi nomor, diterjemahkan ke bahasa Indonesia, lalu dibandingkan menurut tujuh aspek: syarat kepemilikan, cara membawa, penamaan, karakteristik bentuk, bahan, desain, dan situasi penggunaan. Makna kata dan frasa diperiksa dengan merujuk Dai Kan-Wa Jiten susunan Morohashi Tetsuji, kamus paling lengkap untuk kata dan frasa bahasa Cina.

Daftar Isi
  1. Harsrinuksmo, Haryoguritno, dan Sebilah Bernama Bulatou
  2. Salah Baca Groeneveldt 1877 dan Pola pada Bilah
  3. Ma Huan 1413 dan Gong Zhen 1430
  4. Hill 1956 dan Ciri Keris yang Tidak Tercatat

Harsrinuksmo, Haryoguritno, dan Sebilah Bernama Bulatou

Sebelum ini, sejarah keris di bawah abad ke-17 sebagian besar tetap gelap. Nama peralatan logam yang mirip keris — kres, kris — memang sudah muncul dalam prasasti dan naskah Jawa kuno sejak abad ke-9, sebagaimana ditunjukkan kajian epigrafi Himansu Bhusan Sarkar pada 1971 serta Mashi Suhadi dan M.M. Soekarto pada 1986, dan kata “kris” hadir sebagai alat perang dalam kakawin Arjunawiwaha abad ke-11. Namun nama tidak menerangkan ukuran, bentuk, hiasan, atau cara pakai. Perkembangan baru datang lewat David van Duuren yang pada 2004 mengkaji keris Jawa berangka tahun abad ke-14 pada bilahnya, dan lewat kajian Suzuki pada 2024 atas ikonografi keris di arca dan relief batu Jawa Timur.

Di luar Jawa, satu catatan sudah lama dikenal pencinta keris. Dalam pasal Jawa di Yingyai Shenglan tercantum senjata bernama Bulatou, dan Bambang Harsrinuksmo dalam Ensiklopedi Keris (2004) maupun Haryono Haryoguritno dalam Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar (2006) menganggapnya sebagai keris sekaligus sebagai deskripsi rinci paling awal tentang senjata itu. Suzuki dan rekan-rekannya tidak menolak dugaan tersebut, tetapi menilai jalan menuju kesimpulannya menyimpan dua persoalan: ketergantungan pada terjemahan bahasa Inggris tanpa pemeriksaan teks asli, dan pemakaian satu sumber saja sementara dua catatan sezaman dibiarkan di luar kajian karena tidak pernah diterjemahkan ke bahasa Inggris maupun Indonesia.

Salah Baca Groeneveldt 1877 dan Pola pada Bilah

Persoalan pertama bisa dilacak sampai 1877. Ketika W.P. Groeneveldt menyusun catatannya tentang Kepulauan Melayu dan Melaka dari sumber-sumber Cina, ia menerjemahkan frasa yang menerangkan bahan bilah senjata Jawa itu menjadi “garis-garis yang sangat tipis dan bunga-bunga keputihan”. Terjemahan itu diwarisi hampir semua pembacaan sesudahnya. Menurut Suzuki dan rekan-rekannya, menerjemahkan bagian “xuehua” sebagai bunga putih tidak tepat mengingat konteksnya, dan kesalahan semacam itu memengaruhi pemahaman atas deskripsi asli tentang keris di dalam sumber sejarah tersebut.

Pembacaan ulang mereka bertumpu pada perbandingan idiom. Kata “tuhao” berarti bulu kelinci yang tipis dan lazim dipakai untuk menggambarkan garis-garis halus, seperti pada keramik mangkuk Tuhao; “xuehua” berarti kepingan salju atau sesuatu yang putih dan berbutir; sedangkan “shangdeng” menunjukkan kualitas baik. Karakter untuk bin dalam bintie di Yingyai Shenglan kemungkinan salah tulis, dan kata yang dimaksud berarti besi tempa berkualitas baik. Dalam Gegu Yaolun susunan Zhao Cao pada awal Dinasti Ming, frasa sejenis dengan kata wijen dipakai untuk bintie asal India yang kemungkinan besar mengacu pada baja Damaskus. Dari perbandingan itu, pola yang disebut tuhao xuehua diduga merupakan pola hasil pelipatan dan penempaan yang di Nusantara dikenal sebagai pamor.

Perbedaan kecil antarnaskah justru memperkuat dugaan itu. Xiyang Fanguo Zhi menulis “tuer”, bukan “tuhao”; idiom tuer berarti kelinci itu sendiri, sehingga jika diterjemahkan harfiah deskripsinya menjadi besi tempa berpola putih seperti kelinci dan maknanya kabur. Penulis artikel menduga itu salah transkripsi dari tuhao. Kekeliruan serupa mereka temukan pada beberapa titik lain, misalnya karakter untuk sepatu di Xingcha Shenglan yang dari konteksnya lebih masuk akal dibaca sebagai gagang — koreksi yang berbeda dari Feng Chengjun, penganotasi naskah itu, yang membacanya sebagai sarung atau ujung sarung.

Baca juga Jemparingan dan Jejak Panahan Jawa Sebelum Islam

Ma Huan 1413 dan Gong Zhen 1430

Persoalan kedua menyangkut siapa yang melihat apa, dan kapan. Yingyai Shenglan ditulis Ma Huan antara 1416 dan 1451; ia ikut tiga dari tujuh pelayaran — keempat (1413–1415), keenam (1421–1422), dan ketujuh (1430–1433) — dan sebagian besar catatannya berdasar pengamatan selama pelayaran keempat. Xiyang Fanguo Zhi ditulis Gong Zhen pada 1434, dan ia hanya ikut pelayaran ketujuh. Xingcha Shenglan ditulis Fei Xin pada 1436 setelah mengikuti pelayaran kedua, keempat, kelima, dan ketujuh. Karena isi catatan Gong Zhen begitu serupa dengan Yingyai Shenglan seri A, naskahnya pernah dianggap pemalsuan atau sekadar varian.

Dugaan itu ditolak Akio Funakoshi, peneliti Jepang yang pada 1966 menerbitkan kajian khusus tentang Xiyang Fanguo Zhi di Japanese Journal of Human Geography. Menurut Funakoshi, kedua naskah harus dilihat sebagai “semacam hubungan kakak beradik”, dan dengan merujuk silang keduanya, akses ke sumber asli justru menjadi lebih lengkap. Suzuki dan rekan-rekannya berdiri di sisi Funakoshi. Bagian tentang senjata Jawa dalam catatan Gong Zhen, tulis mereka, punya nilai arsip yang signifikan justru karena mencatat dua hal yang tidak ada di tempat lain: panjang senjata dan bentuk sarungnya.

Nilai arsip itu terlihat begitu ketiganya dijajarkan. Ketiganya sepakat senjata itu disandang di pinggang, disisipkan di celah antara kain dan tubuh atau kain dan sabuk — cara yang, menurut kajian Suzuki pada 2024 atas pahatan batu Jawa Timur dari periode berdekatan, juga terlihat pada arca yang menyandang keris di bagian belakang badan. Ketiganya juga sepakat bahwa kepemilikannya melintasi umur dan kelas: Yingyai Shenglan menyebut rentang 3 sampai 100 tahun, Xingcha Shenglan menyebut usia satu tahun dan menegaskan kepemilikan tidak terkait kekayaan, sedangkan Xiyang Fanguo Zhi tidak merinci usia sama sekali.

Baca juga Guru Besar Bima dan Boyolali di Meja Bedah Metodologi Sejarah

Yang tidak mereka sepakati adalah bahan gagang. Yingyai Shenglan mencatat emas, cula badak, dan gading gajah; Xingcha Shenglan mencatat emas, perak, dan gading; Xiyang Fanguo Zhi hanya mencatat kayu. Daftar itu sama sekali tidak bertumpang tindih. Penulis artikel mengajukan dugaan yang mereka sebut sendiri masih hipotetis: Ma Huan dan Fei Xin mungkin bergaul dengan orang berpangkat lebih tinggi, sementara Gong Zhen berhubungan dengan kalangan berpangkat lebih rendah atau penduduk biasa. Kemungkinan lain, perbedaan itu mencerminkan lokasi kunjungan yang berlainan, lama tinggal yang tidak sama, atau perubahan yang terjadi di Jawa dalam rentang sekitar tujuh belas tahun antara pelayaran keempat dan ketujuh.

Dari catatan Gong Zhen pula datang angka yang paling sering dikutip dari artikel ini. Panjang senjata disebut hanya sedikit lebih dari 1 chi. Berdasarkan artefak pengukur Dinasti Ming — pengukur tulang dari Liangshan di Provinsi Shandong dan pengukur gading koleksi Museum Istana Tiongkok yang ditelaah He Lejun dan Wu Wei pada 2019 — 1 chi masa Ming setara sekitar 317 sampai 318 milimeter, sehingga panjang senjata itu diperkirakan sekitar 32 sentimeter. Naskah yang sama menyebut bilahnya bermata dua dan sangat tajam, berbeda dari pedang bermata satu seperti katana, dan sarungnya dibuat dari kayu yang dipahat.

Baca juga Dua Prasasti yang Memundurkan Umur Bahasa Jawa Kuno

Hill 1956 dan Ciri Keris yang Tidak Tercatat

Nama senjata itu sendiri sudah lama diperdebatkan. Groeneveldt membacanya Pu-lak dan menduganya serupa dengan senjata yang disebut dalam bagian tentang Melaka pada Haiyu (1537), yang menurutnya transkripsi fonetik dari Badik. W.W. Rockhill pada 1915 memberi pembacaan serupa, pu-la. J.V.G. Mills, penerjemah Yingyai Shenglan pada 1970, membacanya pu-la-t’ou dan menduganya merujuk senjata Melayu bernama Beladau, meski kamus yang ia pakai merekam lafal akhir Dinasti Qing, hampir 500 tahun sesudah Ming. Xiang Da, penganotasi Xiyang Fanguo Zhi, juga menganggapnya Beladau tanpa menjelaskan pengucapannya. Rekonstruksi Edwin Pulleyblank (1991) menghasilkan pu-la-thew, sementara kamus dialek Minnan susunan Zhou Changji (2006) merekamnya sebagai put-la-thau.

Penulis artikel memilih bentuk Bulatou dengan alasan internal: nama daerah yang muncul di Xingcha Shenglan dan berbagi dua karakter pertama dengan nama senjata itu diduga merupakan transkripsi fonetik Brawa atau Barawa di pantai timur Afrika, sehingga bagian awalnya kemungkinan dibaca Bura, Bara, Bula, atau Bala. Bagi mereka, bunyi bukan hal terpenting. Yang lebih menentukan, tidak ada catatan bahwa senjata bernama Belatou dipakai secara dominan di Jawa, sementara bahasa Melayu pada abad ke-15 sudah menjadi lingua franca yang dipakai orang Tionghoa, sebagaimana ditunjukkan Louis-Charles Damais pada 1957. Senjata khas Jawa itu, dengan kata lain, kemungkinan dicatat dengan nama Melayu.

Di sinilah artikel ini paling berhati-hati terhadap temuannya sendiri. Merujuk A.H. Hill yang pada 1956 menulis tentang keris dan senjata Melayu lain, penulis mencatat bahwa tidak satu pun indikator khas keris muncul dalam ketiga naskah: pelebaran pangkal bilah yang tiba-tiba, pelebaran yang tidak tegak lurus terhadap sumbu bilah, dan ganja yang ditinggikan. Angka 32 sentimeter pun tidak bisa dipastikan mengacu pada bilah saja, bilah beserta gagang, atau keseluruhan termasuk sarung. Usia 1, 3, dan 100 tahun mungkin batas nyata, mungkin pula sekadar contoh ilustratif penulis naskah. Naskah asli ketiganya tidak dapat diakses sehingga yang dipakai adalah edisi dan revisi beranotasi, dan kemungkinan Bulatou merupakan senjata lain, tulis mereka, tidak dapat diabaikan.

Yang menahan timbangan tetap condong adalah desain gagang. Yingyai Shenglan dan Xingcha Shenglan sama-sama menyebut gagang berbentuk manusia dan wajah setan, dan bentuk semacam itu jarang ditemukan pada senjata tajam Jawa selain keris. Deskripsi itu bergema dalam catatan Eropa sesudahnya: Van Neck, yang tinggal di Jawa pada 1598–1599, mencatat gagang keris raja Tuban dari emas berwajah setan, dan Edmund Scott, yang tinggal di Banten pada 1603–1605, menulis gagang dari tanduk atau kayu yang diukir menyerupai setan. Sebaliknya, tidak satu pun naskah Cina itu menyinggung bilah berkelok, sehingga penulis menduga keris luk mungkin belum ada di Jawa awal abad ke-15 atau hanya dipakai kalangan tertentu — keberadaannya baru tercatat pada abad ke-16 lewat Livro de Duarte Barbosa (1516) dan Boxer Codex (1590).

Yang tersisa dari kompilasi ini bukan kepastian, melainkan satu mata rantai yang sebelumnya kosong. Bulatou, tulis penulis di penutup, kemungkinan besar adalah keris abad ke-15 berupa belati bermata dua dari besi sepanjang sekitar 32 sentimeter dengan pola pamor pada permukaan bilahnya — informasi tentang panjang dan bilah bermata dua yang belum pernah diungkapkan penelitian sebelumnya. Gambaran bahwa hampir semua laki-laki memilikinya tanpa batasan kelas atau usia mengisyaratkan adanya sistem produksi senjata besi tempa dalam jumlah besar dan kondisi ekonomi yang menopangnya. Selebihnya, sebagaimana diakui sendiri di halaman terakhir, kita hanya bisa menunggu penemuan dokumen-dokumen baru terkait Pelayaran Cheng Ho di masa mendatang.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi meriam besi tua berkarat di atas landasan batu dengan lubang sundut terlihat jelas, berlatar meriam perunggu berpatina hijau di atas kereta kayu jati di beranda gedung museum bergaya kolonial
Sembilan Belas Logo Kamar Dagang VOC di Meriam Kuno
Pesisir Takisung di Kabupaten Tanah Laut dengan hamparan rumput dan laut di kejauhan.
Cangkang di Benteng Tabanio Ternyata Dibawa Ombak
Ilustrasi halaman desa Jawa abad ke-9 di tepi hutan jati dengan bangunan kayu beratap daun yang sedang didirikan, tumpukan papan dan serpih kayu, lumbung padi berpanggung, serta warga bekerja dari kejauhan
Kalang Mataram Kuno Bukan Kelas Bawah, Kata Prasasti
Ilustrasi tanduk kerbau tua berwarna cokelat gelap yang permukaannya penuh goresan halus sejajar, terbaring di atas kain tenun lipat pada lantai papan rumah kayu, dengan jendela terbuka ke arah lembah hijau
Tanduk Kerbau Kerinci dan Dipati yang Diupah
Dua Umpak yang Mengubah Riwayat Candi Boyolangu
Dua Umpak yang Mengubah Riwayat Candi Boyolangu
Kotak galian arkeologi di lantai gua kapur dengan lukisan dinding berpigmen hitam di atasnya.
Rangka Perempuan di Bawah Gambar Cadas Gua Batu Baras