Cekricek.id — Di lapangan terbuka di Yogyakarta, seorang pemanah duduk bersila di atas tanah, mengenakan busana Jawa lengkap, lalu menarik busurnya. Yang dibidik bukan papan lingkaran, melainkan benda kecil menggantung yang bergoyang seperti bandul: panjangnya hanya 30 sampai 33 sentimeter, garis tengahnya 2,5 sampai 3,5 sentimeter, dan jaraknya 35 sampai 50 meter. Sebuah lonceng kecil berbunyi setiap kali anak panah mengenainya. Olahraga tradisional itu bernama jemparingan — dan sejarahnya, anehnya, hampir tidak pernah ditulis siapa pun.
Kekosongan itulah yang coba diisi Jiří Jákl, sejarawan sosial dan budaya Asia Tenggara dari Palacky University, Republik Ceko, lewat artikel Archery and target-shooting in pre-Islamic Java; What can be known? (Panahan dan menembak sasaran di Jawa pra-Islam; apa yang bisa diketahui?), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia, Vol. 26 No. 3, pada 2025. Jákl mengumpulkan bukti tekstual, visual, dan arkeologis dari Jawa sebelum masuknya Islam, lalu mengajukan satu dugaan: menembak sasaran buatan yang berbentuk kentongan belah dari kayu atau perunggu — disebut kukulan dalam bahasa Jawa Kuno — sudah dikenal sebagai bentuk latihan militer di Jawa pada masa Majapahit, abad keempat belas Masehi.
Artikel itu ia tempatkan sebagai tulisan pertama dalam seri yang ia beri nama “Contributions to the premodern and early-modern history of Indonesian sport”, sebuah upaya menjadikan sejarah olahraga Asia Tenggara pramodern sebagai subdisiplin tersendiri. Risetnya didanai European Research Council lewat proyek SINOPHON.
Baca juga: Ketika Haji Merah Menyerang Muhammadiyah dari Mimbar dan Koran
Busur di Tangan Prajurit, dari Neolitikum sampai Istana Surakarta
Panahan bukan barang baru di kawasan ini. Jákl menunjuk temuan proyektil batu yang sudah terdokumentasi sejak periode Neolitikum sebagai bukti tradisi yang sangat panjang. Pada masa Hindu-Buddha, busur lazim di tangan prajurit Khmer dan Cham. Di Vietnam abad keempat belas, seorang pemanah diperlengkapi satu busur dan tujuh anak panah yang sifatnya wajib. Pada relief Angkor Wat dari pertengahan abad kedua belas, sebuah arak-arakan prajurit Siam berbaris di hadapan Sūryavarman II: prajurit biasa memanggul tombak, sementara pemimpin mereka berdiri di atas gajah sambil memegang busur dengan anak panah yang sudah ditarik ke belakang.
Di Jawa, menurut kajian Michael W. Charney yang dikutip Jákl, busur berhenti dipakai dalam peperangan pada abad ketujuh belas. Namun di istana-istana Jawa Tengah, pemanah — termasuk satuan kecil pemanah berkuda — masih dilatih sampai jauh di akhir abad kedelapan belas. Pada dasawarsa terakhir abad itu, korps prajurit perempuan (prajurit estri) yang menjaga istana Mangkunagara I di Surakarta menunggang kuda dan dilatih memanah sekaligus menembak dengan senjata api. Di Bali, busur masih disebut sebagai senjata tempur pada abad kesembilan belas, meski tidak menonjol. Sementara di Aceh, catatan Belanda tahun 1603 menyebut pengawal perempuan bersenjata tombak, pedang, perisai, dan sumpitan; Peter Mundy yang berkunjung pada 1637 melihat pasukan penjaga perempuan bersenjata busur.
Laṅkap, Laras, dan Kata-Kata yang Tersisa
Bagian pertama artikel itu adalah pembongkaran kosakata. Bahasa Jawa Kuno punya sedikitnya tiga kata untuk busur: laṅkap, laras, dan panah, ditambah kata serapan Sanskerta seperti cāpa. Laṅkap sering digambarkan sebagai busur kuat berbentang lebar, laras sebagai busur sederhana. Tetapi Jákl mencatat bahwa dalam praktiknya perbedaan itu nyaris tidak ada: dalam kakawin Rāmāyaṇa — karya penyair anonim dari awal abad kesepuluh — kedua kata dipakai bergantian untuk busur Paraśurāma, dan hal serupa terjadi dalam Arjunavivāha, kakawin gubahan Mpu Kaṇva dari paruh pertama abad kesebelas, untuk busur Arjuna.
Sebagian besar busur Jawa pra-Islam tergolong busur sebilah, yaitu busur polos dari satu potong kayu atau bambu. Sampai sekitar 1300 Masehi, hanya jenis inilah yang muncul di seni rupa Jawa. Petunjuk sastranya halus: ketika Rāma menggambarkan pohon eboni yang menjulang, ia bisa menyebutnya “ramping seperti busur”, sebuah perbandingan yang hanya masuk akal untuk busur sebilah yang memang lurus saat tidak dipasangi tali. Soal bahan, Jákl terus terang mengaku kekurangan data untuk masa sebelum 1500. Satu-satunya keterangan yang ia punya justru berasal jauh sesudahnya: pada awal abad kesembilan belas Th.S. Raffles melaporkan bahwa kayu keras pohon jaṅlot paling disukai untuk membuat busur.
Tali busur menyimpan kejutan kecil. Kata Jawa modern kendheng bisa dilacak ke bentuk Jawa Kuno, tetapi tidak pernah secara khusus berarti tali busur; kata yang paling lazim dipakai justru tali. Yang menarik, dalam prasasti Turyan yang dikeluarkan Siṇḍok pada 929 Masehi muncul sebutan “penyedia tali busur” (vəli tāmbaṅ), tanda bahwa pembuatan tali busur mungkin sudah menjadi kerajinan semiprofesional pada abad kesepuluh. Bahannya sendiri tidak diketahui; Jákl hanya berani menduga urat rusa dan kerbau serta serat tumbuhan.
Untuk anak panah, kata panah sudah dipakai sejak Jawa pra-Islam dan bertahan sampai sekarang. Kata jəmpariṅ — yang kini terdengar tinggi dan menjadi akar nama jemparingan — baru muncul pertama kali dalam teks-teks Jawa Pertengahan. Kata lain yang sering muncul adalah hrū, varayaṅ, dan (ta)taṅgvan. Mata panah logam, kata Jákl, selalu langka di Jawa pra-Islam, dan alasannya bersifat ekonomi: pulau itu sepenuhnya bergantung pada besi impor, mula-mula dari Delta Sarawak dan kemudian dari kawasan Luwu di Sulawesi, sementara dari Tiongkok besi datang dalam bentuk batangan — ratusan ton di antaranya diangkat dari bangkai Kapal Laut Jawa yang bertarikh pertengahan abad ketiga belas. Dua jenis mata panah logam justru terlihat di antara produk sebuah bengkel pandai besi pada relief terkenal Candi Sukuh, salah satu monumen terakhir peradaban Hindu-Buddha Jawa, yang bertarikh paruh pertama abad kelima belas.
Tabung anak panah lebih sulit lagi. Tidak satu pun tabung utuh dari Jawa pra-Islam bertahan sampai sekarang, dan gambarnya jarang muncul dalam seni rupa. Kebanyakan pemanah digambarkan tanpa wadah apa pun. Salah satu penggambaran langka ada di Candi Panataran, di mana seorang abdi berwujud kera membawakan tabung anak panah untuk tuannya yang memegang busur, dan menyodorkan satu anak panah persis ketika tabung itu tampak sudah kosong. Bentuknya bukan tabung bambu bulat, melainkan kantong pipih yang menyempit. Jákl menduga adegan itu bukan gambaran perang sungguhan, melainkan suasana latihan atau lomba yang gampang diamati pemahat istana.
Anak Panah yang Lebih Mengganggu daripada Mematikan
Prasasti-prasasti Jawa Kuno menegaskan pemanah adalah bagian dari pasukan. Mereka disebut mamanah dan didaftar sebagai golongan tersendiri dalam sejumlah piagam sīma. Dalam prasasti Kusambyan yang dikeluarkan Airlangga pada 1023 Masehi, alasan utama raja menganugerahkan status sīma adalah bantuan militer yang diterimanya dari warga Kusambyan pada masa perang. Daftar warga bersenjata di piagam itu berbunyi mamanaḥ, magalaḥ, magaṇḍi, mahalimān, makuda: para pemanah, para penombak, pembawa gaṇḍi, penjaga gajah, dan pemelihara kuda. Dalam prasasti Sima Anglayang yang memuat tarikh 1046 Masehi, pemanah kembali didaftar bersama penombak, kali ini berstatus pasukan kerajaan.
Yang menarik, sastra Jawa Kuno justru merendahkan busur. Kalau dalam puisi Sanskerta busur dan anak panah adalah senjata kepahlawanan par excellence, dalam kakawin kehormatan itu jatuh ke tombak. Pemanah Jawa digambarkan lebih suka menembak dari balik semak, sama seperti pengumban batu. Dalam Rāmāyaṇa, pasukan pembawa umban dan busur diperintahkan mengambil posisi di semak-semak — sebuah adegan yang, kata Jákl, tidak punya padanan di model Sanskerta, sehingga besar kemungkinan mencerminkan praktik lokal.
Fungsi utamanya adalah hujan anak panah. Kata “jatuh” (tibā) yang berulang kali dipakai dalam deskripsi tembakan massal menyiratkan lintasan melengkung di atas kepala. Stuart Robson menerjemahkan satu bait Rāmāyaṇa tentang kepiawaian seorang pemanah tunggal begini: “His arrows were like a layered roof, / The sky became dark, covered over, and could not be seen; / Without a break they fell and struck, / So that the army of demon warriors was wiped out” — anak panahnya bagaikan atap bersusun, langit menjadi gelap, tertutup dan tak terlihat; tanpa jeda semuanya jatuh dan menghantam, sehingga pasukan raksasa itu musnah.
Baca juga: Satu-satunya Nisan Bertulis di Lombok Menyebut Angka Tahun 1729
Tetapi Jákl mengingatkan agar lisensi puitis diperhitungkan. Di banyak teks lain, tembakan panah justru digambarkan tidak cukup ampuh untuk memaksa kemenangan. Dalam Sumanasāntaka, prajurit yang terkena tembakan pemanah hanya “tak bisa bergerak” (tan pasāra), bukan tewas. Dalam Bhāratayuddha, kakawin gubahan tahun 1157, kesatria Prātipeya yang terkena panah Bhīma terhuyung kesakitan tetapi tetap bertahan dan membalas dengan lembingnya. Dalam Kṛṣṇāyana karya Mpu Triguṇa dari abad ketiga belas, melesatnya anak panah dibandingkan dengan belalang yang melompat. Ada pula banyak deskripsi anak panah yang patah (pupug) begitu membentur sasaran. “Instead of being a weapon primarily designed to kill, the bow was used as a part of a broader strategy,” tulis Jákl — alih-alih senjata yang dirancang untuk membunuh, busur dipakai sebagai bagian dari strategi yang lebih luas: memecah formasi lawan, merusak moral, dan mengejar musuh yang lari.
Racun menutup bagian ini. Upas dan viṣa dioleskan pada anak panah untuk berburu — justru karena panahnya sendiri tidak cukup kuat membunuh mangsa. Pada 1349, penulis Tiongkok Wāng Dàyuān dalam Dǎoyí Zhìlüè menggambarkan penggunaan panah dan racun secara luas oleh bajak laut di Selat “Jílìmén”, yang biasanya diidentifikasi sebagai Kepulauan Karimun di dekat Jawa: para pelaut jung menyiapkan baju zirah dan tabir berlapis sebagai pelindung dari anak panah, sebab dua sampai tiga ratus perahu bajak akan menyerang mereka selama beberapa hari.
Relief Indrajit dan Busur Melengkung dari Utara
Batu bata argumen Jákl yang paling penting ada di Candi Panataran. Pada seri relief bertema Rāmāyaṇa di Candi Induk, Indrajit — putra Rāvaṇa — digambarkan sebagai pemanah berkuda. Wajahnya jelas bukan Jawa dan ia mungkin bahkan bersepatu bot tinggi. Kudanya bukan kuda biasa: alih-alih kepala kuda, hewan itu berkepala ular banyak. Busurnya jelas berjenis melengkung balik, sementara anak panah yang dilepaskannya berubah menjadi ular berpusar, sebentuk senjata dewata. Jos Gommans menyebut relief itu sebagai “a Mongol horse archer and perhaps the only one of any horse archers in all Indonesia” — seorang pemanah berkuda Mongol dan barangkali satu-satunya penggambaran pemanah berkuda di seluruh Indonesia.
Busur melengkung balik juga muncul di tempat lain. Di Candi Kedaton, Probolinggo, Jawa Timur, sebuah candi Hindu bertarikh sekitar 1370 Masehi, Arjuna berhadapan dengan Śiva dan keduanya memegang busur berlapis. Menurut catatan A.J. West, orang pertama yang mengenali gambar-gambar itu sebagai busur komposit adalah Adieyatna Fajri, arkeolog Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Busur komposit — yang bilahnya dilaminasi dari lebih dari satu bahan, misalnya kayu dan tanduk — melepaskan anak panah dengan akurasi jauh lebih baik dan daya tembus lebih dalam.
Dari mana busur semacam itu datang? Jákl menyebut invasi Mongol ke Jawa pada 1292 Masehi sebagai kemungkinan jalur masuk pengetahuan busur komposit dan tradisi panahan Tiongkok-Mongol yang unggul. Tetapi ia tidak menutup pintu lain: karena busur komposit dipakai di seluruh Afro-Eurasia abad pertengahan, benda itu bisa sampai ke Jawa lewat sekian banyak jalur perdagangan. Petunjuk lain datang dari Bujaṅga Maṇik, puisi Sunda Kuno dari paruh kedua abad kelima belas, yang menyinggung kehadiran pemanah profesional Tiongkok sebagai penjaga di kapal-kapal yang melintasi perairan Jawa.
Jákl sendiri menahan diri untuk tidak membesar-besarkan temuannya. Ia menegaskan busur komposit di Jawa pra-Islam kemungkinan besar dipakai terutama, kalau bukan semata-mata, oleh pemanah profesional asing. Keunggulan utama busur komposit — bisa dibuat lebih pendek tanpa kehilangan kekuatan — hampir tidak berguna di Jawa, tempat pemanah berkuda nyaris tidak punya peran. Ditambah lagi masa latihan yang panjang, masuknya senjata api relatif dini ke dunia Indo-Melayu, dan sulitnya merawat busur berlapis di udara lembap tropis.
Kukulan, Kentongan yang Dijadikan Sasaran
Pertanyaan yang menurut Jákl belum pernah diajukan siapa pun adalah: seperti apa bentuk sasaran buatan di Jawa pra-Islam? Petunjuknya ada pada frasa yang membingungkan dalam beberapa prasasti sīma masa Majapahit: amanah kukulan, ‘memanah kukulan’. Arlo Griffiths dan Pauline Lunsingh Scheurleer mencatat frasa itu muncul dalam daftar hak istimewa pada prasasti Tuhanyaru yang dikeluarkan pada 1323 Masehi dan prasasti Mādhavapura yang diperkirakan berasal dari akhir abad ketiga belas.
Dalam puisi istana, kukulan berarti kentongan belah — sekarang disebut kəntoṅan, masih dipakai di desa-desa Jawa untuk memperingatkan warga akan kebakaran, banjir, gerhana matahari, atau, dulu, serbuan musuh, serta untuk memanggil para tetua berkumpul. Bentuknya tabung dari batang pohon berongga. Ada pula spesimen perunggu yang dibuat menggantung bebas sebagai tiruan model kayu, dan sebagian bertulisan. Salah satunya, kentongan perunggu di Metropolitan Museum of Art New York yang bertarikh abad ketiga belas sampai keempat belas, memuat kata kukulan dalam inskripsinya: saṅ apan ji taṇ·pahalar kukulan, yang oleh Griffiths dan Lunsingh Scheurleer diterjemahkan “Saṅ Apañji Tan Pahalar, the slit drum”.
Dari sinilah Jákl mengajukan dugaannya. “In my view, shooting at targets in the form of a wooden or metal kukulan hung from a tree or other prop become a sort of training or competitive practice for archers in Majapahit times, when more precise, composite bows were introduced to Java,” tulisnya — menurut pandangannya, menembak sasaran berupa kukulan kayu atau logam yang digantung pada pohon atau penyangga lain menjadi semacam latihan atau lomba bagi pemanah pada masa Majapahit, ketika busur komposit yang lebih akurat masuk ke Jawa. Logikanya sederhana dan bunyinya harfiah: setiap tembakan tepat pada kentongan akan menghasilkan suara khas. Pemberian tanda lewat bunyi memang masih hidup dalam jemparingan masa kini — sekelompok pembantu lomba duduk di pinggir lapangan dengan gong dan kenceng, memukul gong sekali untuk setiap tembakan yang mengenai bagian “badan” sasaran dan dua kali untuk tembakan “kepala”. Bagian atas bandhulan yang dicat merah memang disebut molo atau sirah ‘kepala’, bagian bawah yang putih disebut awak, dan pertemuan keduanya yang dicat kuning disebut jangga ‘leher’. Jákl menambahkan satu lapis tafsir: di Jawa, memukul kentongan secara tradisional adalah hak eksklusif kepala desa, sehingga tidak terlalu jauh membayangkan bahwa memanah kukulan pun merupakan hak istimewa — persis seperti yang disiratkan daftar keistimewaan dalam prasasti-prasasti itu.
Baca juga: Guru Besar Bima dan Boyolali di Meja Bedah Metodologi Sejarah
Sikap duduk bersila dalam jemparingan juga punya jejak tua. Menurut Gayatri Nath Pant, kitab-kitab dhanurveda Sanskerta membedakan tiga sikap duduk dan delapan sikap berdiri, dan salah satu sikap duduk itu adalah padmāsana, bersila. Tentang sikap ini Pant menulis bahwa ia “[...] was not considered effective. It was merely for practice” — tidak dianggap efektif, semata-mata untuk latihan. Penggambaran pemanah duduk sudah dikenal dari Jawa pra-Islam: yang paling terkenal adalah arca perunggu kecil dari harta terpendam Surocolo, ditemukan di Jawa Tengah pada 1976 dan bertarikh awal abad kesepuluh, yang diidentifikasi sebagai Vajrarāga, bodhisatwa cinta, bagian dari sebuah maṇḍala Buddha esoteris. Jákl tidak mengklaim ada garis lurus dari sana ke lapangan jemparingan modern; ia justru menulis bahwa masih perlu diteliti sejauh mana — kalau memang bisa — sikap duduk pemanah jemparingan sekarang dapat dilacak secara historis ke konteks keagamaan Vajrayāna.
Kejujuran semacam itu berulang di sepanjang artikel. Jákl mengakui bukti untuk menembak sasaran di Jawa pra-Islam sebagian besar terbatas pada kisah rekaan tentang “kehebatan luar biasa” para pahlawan wiracarita, dan bahwa bukti yang tidak ambigu untuk panahan lomba baru tersedia dari masa modern awal. Syair Bidasari, puisi Melayu dari pertengahan abad kedelapan belas, menyebut lomba memanah (bermain panah). Sərat Babad Pakunəgaran, otobiografi Mangkunagara I yang hidup 1726 sampai 1795, mencatat bagaimana pada 1751 sang pangeran melatih pasukannya dengan busur dan anak panah. Dan catatan harian tahun 1781 sampai 1791 yang ditulis seorang anggota korps prajurit estri yang tidak disebut namanya melaporkan latihan memanah para prajurit perempuan, sekaligus lomba memanah yang diselenggarakan Mangkunagara I lengkap dengan taruhan.
















