Kemenhut Latih 421 Anak Muda Jadi Wirausaha Hutan

Ilustrasi sarang lebah madu tradisional di batang pohon

Ilustrasi sarang lebah madu yang dibudidayakan di batang pohon. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Kementerian Kehutanan mencatat 421 anak muda telah melewati pembinaan kewirausahaan kreatif kehutanan sepanjang 2025 hingga 2026. Angka itu diumumkan bersamaan dengan pelatihan terbaru di Banyumas yang menempatkan budidaya lebah tanpa sengat sebagai pintu masuk lapangan kerja baru di sekitar hutan.

Menurut siaran pers bernomor SP. 427/HKLN/08/2026 yang dimuat kehutanan.go.id, Kamis, 20 Agustus 2026, Bimbingan Teknis Kewirausahaan Kreatif Kehutanan Budidaya dan Digitalisasi Pemasaran Produk Lebah Trigona berlangsung pada 18 sampai 20 Agustus 2026 di Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Pelatihan diikuti 95 peserta muda yang berasal dari Banyumas, Cilacap, dan Purbalingga, dan diselenggarakan Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.

Baca juga: 4 Kakek di Banyumas Terlibat Hamili Bocah 12 Tahun

Komoditas yang Menuntut Hutan Tetap Berdiri

Pemilihan lebah Trigona bukan pilihan acak. Lebah tanpa sengat ini hanya produktif bila vegetasi di sekitarnya sehat, sehingga pendapatan pembudidaya ikut jatuh ketika tegakan hutan rusak. Karakter itulah yang menurut Kementerian Kehutanan membuat komoditas tersebut mengikat kepentingan ekonomi dan kepentingan konservasi dalam satu tarikan.

Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan Luckmi Purwandari menyatakan keterlibatan generasi muda di sektor kehutanan perlu diperluas, tidak berhenti pada kampanye kepedulian.

“Kami ingin generasi muda melihat bahwa menjaga hutan dan membangun kesejahteraan dapat berjalan bersama. Melalui forestpreneurship, anak muda dapat menciptakan nilai ekonomi dari potensi hutan tanpa harus merusaknya,” ujar Luckmi.

Menurut kementerian, generasi muda tidak cukup dibangun kepeduliannya terhadap hutan, melainkan perlu diberi pengetahuan, keterampilan, jejaring, sekaligus ruang untuk menjalankan usaha produktif yang tetap menjaga kelestarian sumber daya hutan. Kerangka itu yang membedakan pembinaan kewirausahaan dari kegiatan penyuluhan konservasi yang selama ini lebih banyak berhenti pada edukasi.

Materi pelatihan tidak berhenti pada teknik budidaya. Peserta juga dibekali pengembangan produk, digitalisasi pemasaran, pemanfaatan media sosial, serta penguatan merek agar produk yang dihasilkan punya nilai tambah dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Baca juga: Kenalin, Ini Mbak Nita Penjual Es Cendol Cantik, Bikin Netizen Terpana

“Anak muda hari ini sangat dekat dengan teknologi dan media sosial. Kemampuan tersebut harus menjadi kekuatan untuk mengangkat produk-produk kehutanan. Jangan hanya bisa menghasilkan produk yang baik, tetapi harus mampu membangun cerita, merek, dan pasar yang baik,” lanjut Luckmi.

Baru 206 Unit Wanawiyata Widyakarya di Seluruh Indonesia

Lokasi pelatihan di Banyumas berstatus Wanawiyata Widyakarya, yakni Petani Muda Prawita. Status ini yang menjelaskan mengapa pelatihan digelar di lahan petani, bukan di aula kantor. Laporan Kinerja Pusat Penyuluhan Kehutanan Tahun 2025 mendefinisikan Wanawiyata Widyakarya sebagai model usaha bidang kehutanan dan/atau lingkungan hidup yang dimiliki dan dikelola oleh kelompok masyarakat atau perorangan, dan ditetapkan oleh menteri.

Dokumen yang sama mencatat jumlahnya masih terbatas. Hingga 2025 terdapat 206 unit Wanawiyata Widyakarya di seluruh Indonesia, dengan sebaran 89 unit di Jawa, 46 unit di Sumatera, 24 unit di Kalimantan, 23 unit di Sulawesi, 18 unit di Bali dan Nusa Tenggara, serta 6 unit di Maluku dan Papua. Ketimpangan itu berarti model pelatihan berbasis lahan seperti di Ajibarang jauh lebih mudah direplikasi di Jawa daripada di kawasan timur Indonesia, tempat tekanan terhadap hutan justru besar.

Pada indikator lain, laporan tersebut mencatat 398 Kelompok Tani Hutan berstatus mandiri sepanjang 2020 sampai 2025, sementara target 4.400 kelompok tani hutan yang terlibat dalam pengelolaan hutan pada 2025 tercapai seluruhnya.

Baca juga: Mourinho: Arda Guler Bisa Berkembang seperti Modric

Dari Pelatihan ke Rintisan Usaha

Pembinaan kewirausahaan kreatif kehutanan merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem Generasi Pelestari Hutan atau Genries. Dari 421 anak muda yang sudah dibina sejak 2025, Kementerian Kehutanan menyebut sudah lahir berbagai rintisan usaha berbasis potensi hutan, meski rilis tidak memerinci berapa yang bertahan atau berapa nilai omzetnya.

Pemerintah daerah setempat, menurut keterangan kementerian, melihat pengembangan lebah Trigona berpeluang menciptakan kegiatan ekonomi baru bagi generasi muda sekaligus dikembangkan lewat inovasi produk, pemasaran, dan kolaborasi dengan usaha lokal lain.

Kementerian Kehutanan di bawah Menteri Raja Juli Antoni menargetkan semakin banyak generasi muda memandang sektor kehutanan sebagai ruang berkarya dan berinovasi. Keterangan resmi kementerian itu mencantumkan Luckmi Purwandari sebagai narahubung materi dan Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Ristianto Pribadi sebagai penanggung jawab berita.

Baca Juga

Cekricek.id - Media sosial dibuat gempar dengan aksi 4 orang kakek cabul yang tega mencabuli seorang bocah berusia 12 tahun
4 Kakek di Banyumas Terlibat Hamili Bocah 12 Tahun
Berita terkini, terbaru, dan berita pilihan hari ini: Niat hati ingin menggoda, sosok penjual es cendol cantik ini buat netizen terpana.
Kenalin, Ini Mbak Nita Penjual Es Cendol Cantik, Bikin Netizen Terpana
Gelandang PSS Sleman Christophe Nduwarugira
Nduwarugira Tunggu Debut Perdananya bersama PSS Sleman
Rapat pembahasan keselamatan pelayaran di Kompleks Parlemen
BMKG Rinci Cuaca dan Arus Empat Insiden Kapal
Jose Mourinho dalam wawancara di Real Madrid City
Mourinho: Arda Guler Bisa Berkembang seperti Modric
Drone serang jarak jauh FP-1 Ukraina diluncurkan
Rudal Rusia Hantam Kyiv, Lima Tewas Dini Hari Kamis