Cekricek.id — Rudal balistik Rusia menghantam Kyiv pada dini hari Kamis, 20 Agustus 2026, menewaskan sedikitnya lima orang, merusak blok hunian dan gudang, serta memutus aliran listrik di sebagian ibu kota Ukraina. Dikutip dari theguardian.com, jumlah korban tewas itu dilaporkan pejabat setempat dan militer Ukraina beberapa jam setelah gelombang serangan berakhir.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menyatakan serangan rudal yang berat itu mengenai kawasan permukiman dan pergudangan. “Lantai-lantai atas sebuah blok hunian sembilan lantai runtuh dan kebakaran pecah,” kata Klitschko. “Di alamat lain, orang-orang terjebak di dalam sebuah blok hunian.”
Baca juga: IAEA: PLTN Zaporizhzhia Kini Bergantung pada Satu Saluran Listrik
Laporan awal yang dimuat theglobeandmail.com menyebut sedikitnya tiga orang tewas dan 20 orang terluka, dengan sasaran yang meliputi bangunan hunian, fasilitas nonhunian, gudang, dan sebuah rumah sakit anak. Satu orang lagi tewas di wilayah sekitar ibu kota, menurut seorang pejabat daerah. Angkatan udara Ukraina memperingatkan bahwa Rusia menembakkan rudal Kalibr ke arah Kyiv.
Korban Berjatuhan di Sejumlah Kota
Serangan Kamis dini hari itu menyusul rangkaian serangan sehari sebelumnya. Pada Rabu, 19 Agustus 2026, sebuah drone Rusia menghantam minibus di Kherson dan menewaskan empat orang, menurut kejaksaan Ukraina. Di Zhytomyr, Ukraina bagian tengah, rudal-drone jenis Banderol menghantam markas kepolisian, menewaskan dua polisi dan melukai sedikitnya 20 orang lain, kata dinas kepolisian setempat. Di wilayah perbatasan Rusia, Belgorod dan Bryansk, dua orang tewas ketika drone menghantam mobil, menurut pejabat Rusia.
Kepala urusan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Tom Fletcher, yang mengunjungi Kherson menyebut situasi di kota itu mengerikan dan menyatakan warga sipil serta pekerja bantuan menjadi sasaran. Kendaraan berlambang lembaga bantuan tetap dihantam meski dilindungi hukum internasional. Menurut Fletcher, organisasi lokal yang menjalankan misi bantuan atas nama dana kemanusiaan Ukraina adalah pihak yang paling terpapar. “Merekalah yang paling lantang mengatakan kepada kami, kami tidak terlindungi,” ujarnya.
Di tengah serangan yang saling berbalas itu, Rusia dan Ukraina menukar masing-masing 103 tawanan perang pada Rabu, menurut pejabat kedua pihak. Intelijen Ukraina menyebut satu pertukaran lagi diperkirakan berlangsung sebelum akhir Agustus. Kamis ini merupakan hari ke-1.639 perang sejak Rusia melancarkan invasi penuh pada 24 Februari 2022.
Drone Jarak Jauh Ukraina Menyasar Moskow
Baca juga: Ukraina Gempur Moskow dengan Ratusan Drone, Enam Tewas di Rusia
Pada saat yang sama, kampanye serangan jarak jauh Ukraina ke dalam wilayah Rusia terus meluas. Dikutip dari apnews.com, gelombang drone Ukraina menghantam pusat logistik raksasa di luar Moskow pada malam hari dan bangunan itu masih terbakar keesokan paginya, dengan asap hitam membubung dari salah satu gudang ritel terbesar Rusia. Gudang milik peritel daring Wildberries itu berjarak sekitar 45 kilometer di selatan Moskow.
Komandan Resimen Sistem Nirawak ke-413 “Raid” Ukraina, Yevhen Karas, mengatakan satuannya ikut dalam serangan ke gudang tersebut, salah satu serangan terbesar Ukraina ke Rusia sejauh ini. Menurut Karas, Ukraina perlu menghukum Kremlin “kalau kita ingin mendapatkan periode damai yang stabil dan panjang, dan damai yang normal”. Ia menambahkan, “Makin besar korban yang mereka derita,” makin cepat mereka menuju perdamaian.
Tim jurnalis kantor berita itu menyaksikan peluncuran sekitar 20 drone berbentuk pesawat kecil bermuatan bahan peledak dari sebuah ladang bunga matahari di Ukraina selatan pada Minggu, 16 Agustus 2026. Resimen ke-413 dibentuk pada 2024, awalnya memakai drone untuk pengintaian, lalu ditugasi operasi jarak jauh memakai drone FP-1 produksi dalam negeri Ukraina. Karas, 38 tahun, adalah lulusan filsafat yang mendaftar sebagai sukarelawan pada hari invasi dimulai; saudaranya, Volodymyr, tewas saat mempertahankan wilayah Kyiv.
“Warga Moskow seharusnya menghabiskan malam-malam mereka di metro mereka yang indah itu, sama seperti warga Kyiv yang bertahun-tahun turun ke bawah tanah untuk menghindari serangan rudal dan drone Rusia,” kata Karas.
Baca juga: Serangan Semalam Rusia Tewaskan 12 Orang, Zelenskyy Sebut Rudal Korea Utara Dipakai
Rusia Mulai Mengimpor Bensin
Tekanan serangan itu mulai terlihat pada pasokan bahan bakar Rusia. Pemerintah Rusia mengonfirmasi negaranya kini mengimpor bensin setelah serangan Ukraina menghantam kilang dan depot, sebuah pembalikan arah bagi negara yang pada masa damai merupakan pengekspor bahan bakar. Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengakui pada Rabu bahwa impor telah dimulai, tetapi tidak merinci volume maupun sumbernya.
Satu kapal tanker berbendera Oman memuat sekitar 68.000 ton bensin di area labuh Port Said melalui alih muat antarkapal dari tanker Agni, yang sebelumnya dimuat di pelabuhan Vadinar, India. Kapal itu membongkar muatan di pelabuhan Arktik Rusia, Vitino, pada awal Agustus. Sedikitnya dua kargo bensin lain dari India diperkirakan tiba di pelabuhan-pelabuhan Rusia dalam dua pekan ke depan, sementara Moskow juga mengatur impor bensin lewat jalur kereta dari Belarus dan Kazakhstan serta memberlakukan larangan ekspor bahan bakar.
Di dalam negeri, stasiun pengisian bahan bakar di Moskow kembali memberlakukan pembatasan pembelian. Rosneft, perusahaan minyak terbesar Rusia yang dimiliki negara, menyatakan pembelian bensin dibatasi 30 liter di seluruh stasiun pengisiannya di penjuru negeri.



![Presiden Rusia Vladimir Putin mencicipi produk saat mengunjungi kompleks pengolahan ikan di Pulau Iturup, Kepulauan Kuril. [Foto: AP]](https://i0.wp.com/cekricek.id/wp-content/uploads/2026/08/Presiden-Rusia-Vladimir-Putin-mengunjungi-kompleks-pengolahan-ikan-di-Pulau-Iturup-Kepulauan-Kuril.webp?resize=200%2C150&ssl=1)












