Cekricek.id — Rusia menaikkan tajam intensitas serangan rudalnya ke Ukraina sepanjang musim panas ini, menjadikan Juli 2026 sebagai bulan paling mematikan dalam perang tersebut sejak Mei 2022. Moskow menembakkan 376 rudal sepanjang Juli, jauh melampaui 288 rudal pada Maret 2026 dan 192 rudal pada Juli 2025, dilengkapi hampir 5.000 drone jarak jauh dan jarak pendek serta ratusan bom luncur berpemandu yang meratakan bangunan di kawasan garis depan.
Tiga Rudal di Kyiv dan Satu Keluarga yang Terbelah
Pada 24 Juli, tiga rudal Rusia diarahkan ke Kyiv. Pertahanan udara Ukraina hanya berhasil menjatuhkan satu, sedangkan dua sisanya menghantam sebuah pusat olahraga yang tengah menggelar pameran drone. Serangan itu menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya. Salah satu korban tewas adalah Valentyna Savitska, petugas pengamanan perbatasan berusia 32 tahun sekaligus ibu dua anak. Suaminya, Ihor Solovey, memimpin Pusat Komunikasi Strategis yang dikelola pemerintah Ukraina.
Baca juga: Ukraina Gempur Moskow dengan Ratusan Drone, Enam Tewas di Rusia
Kepala Pusat Komunikasi Strategis Ukraina, Ihor Solovey, menuturkan dampaknya pada Vladyslav yang berusia 15 tahun dan Polyna yang berusia 11 tahun. “Masa kanak-kanak mereka sudah berakhir; mereka kehilangan ibu mereka,” katanya. Putranya kini bertekad masuk militer, sementara putrinya masih dalam pemulihan. “Psikolognya mengatakan ada stres yang tertunda, luka seumur hidup,” ujar Solovey. Dikutip dari Al Jazeera. Sebelumnya, pada 2 Juli, serangan rudal di pusat Kyiv menewaskan 31 orang dan melukai lebih dari 100 orang, gelombang tunggal paling mematikan dalam perang itu hingga saat itu.
Ukraina Kehabisan Rudal Pencegat
Rekor serangan dan jumlah korban itu dikaitkan para pengamat dengan keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menahan pasokan rudal pencegat PAC-2 dan PAC-3 untuk sistem pertahanan udara Patriot. Kapasitas produksi pabrik Lockheed Martin di Arkansas hanya sekitar 50 pencegat per bulan, sementara Gedung Putih mengalihkan pasokannya ke sekutu-sekutu di Timur Tengah setelah operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sembari menambah cadangan strategisnya sendiri.
Baca juga: Ukraina Klaim Hantam Pusat Roket dan Antariksa Rusia di Samara
Dalam wawancara dengan CNN pada 12 Agustus, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan Kyiv hanya memiliki sepersepuluh dari kebutuhan rudal pencegatnya. Ia menyebut bahkan porsi kecil dari stok Amerika Serikat sudah cukup menolong; bila Washington “menjual kepada kami 5 persen, kami akan melewati musim dingin dan menyelamatkan nyawa orang-orang,” katanya. Mantan Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina, Letnan Jenderal Ihor Romanenko, menambahkan bahwa persoalannya lebih luas. “Persoalannya bukan hanya soal rudal; kami juga butuh awak untuk mengoperasikan Patriot yang dijanjikan Trump, 17 atau 18 unit, tetapi kami belum melihatnya sama sekali,” ujarnya.
Di seberang garis depan, pabrik-pabrik Rusia bekerja dalam sistem sif dan melampaui target produksi hingga 300 rudal balistik dan jelajah per bulan. Komandan pasukan drone Ukraina Robert Brovdi mengatakan kepada kantor berita AP bahwa Moskow berencana menaikkan konsentrasi serangan hingga 200 rudal dalam satu gelombang. Kepala lembaga kajian Penta di Kyiv, Volodymyr Fesenko, menilai ketimpangan itu sedang dieksploitasi habis-habisan. “Rusia punya keunggulan, dan Rusia memakai keunggulan itu, memakainya secara sinis dan brutal,” katanya. “Belakangan ini Putin punya ilusi bahwa ia bisa memenangi perang ini karena Ukraina mengalami defisit besar rudal pencegat.” Menurut Fesenko, “itu menciptakan ketimpangan, dan keadaan ini menjauhkan kita dari perundingan damai yang sesungguhnya.”
Baca juga: Rusia Ancam Inggris soal Drone, Burnham Bela Ukraina
Odesa Lumpuh, Harga Gandum Melonjak
Serangan rudal Rusia juga menghantam Odesa, pelabuhan laut utama Ukraina, hingga nyaris melumpuhkan pengapalan gandum, minyak nabati, dan slab baja. Ukraina membalas dengan menyasar pelabuhan, terminal minyak, dan kapal kargo Rusia di Novorossiysk serta pelabuhan-pelabuhan pendudukan di Laut Azov. Blokade saling silang itu, berpadu dengan kekeringan dan gelombang panas di belahan bumi utara, mengerek harga gandum sekitar 30 persen pada awal Agustus dan langsung memukul negara-negara yang bergantung pada impor biji-bijian seperti Mesir, Lebanon, dan Sudan. “Situasinya paradoks. Kedua pihak saling memblokade ekspor biji-bijian dan menciptakan masalah besar,” kata Fesenko.
Pada Kamis pekan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menolak usulan Kyiv untuk memberlakukan moratorium permusuhan di Laut Hitam. Peneliti dari Universitas Bremen, Jerman, Nikolay Mitrokhin, menilai Moskow tidak terlalu terganggu oleh kerugian petaninya sendiri, karena biji-bijian yang gagal diekspor akan dipakai sebagai pakan ternak di dalam negeri, sementara perusahaan agrikultur besar bisa memperoleh kredit pemerintah untuk membeli lahan yang bangkrut.
















