- Jalan gelap menempati urutan pertama dengan 18,9 persen, disusul penyerangan atau perampokan 12,5 persen.
- Rata-rata perempuan dalam penelitian ini berjalan sekitar 126 menit per minggu.
- Nilai rasa aman bahkan menarik ke dua arah sekaligus.
- Pendapatan yang lebih tinggi berkaitan dengan rasa sejahtera yang lebih tinggi, sejalan dengan riset terdahulu.
Daftar Isi
- Fainstein dan Servon: kota yang dirancang untuk laki-laki
- Paydar 2017 hingga 2025: rasa tidak aman yang terus naik
- Januari–Mei 2025: jalan gelap di urutan pertama
- Kritz dan Delhey: teman berjalan dan tetangga yang saling kenal
- García dan Schwartz: nilai pribadi yang berbelok arah
- Temuco dan Santiago: perempuan adat di dua kota
- Catatan pada naskah Kamani Fard dan Paydar
Selama beberapa dekade terakhir, kota-kota fungsional dibangun dengan mendahulukan kecepatan dan infrastruktur kendaraan bermotor, sementara berjalan kaki tersisih ke pinggir perencanaan. Di banyak kota Amerika Latin, termasuk di Chile, berjalan kaki justru tetap menjadi moda harian utama, terutama di kawasan berpendapatan rendah hingga menengah. Di kawasan seperti itu, perempuan kerap memikul urusan pengasuhan dan rumah tangga sehingga paling bergantung pada langkah kakinya sendiri di dalam lingkungan.
Pertanyaan tentang apa yang menahan langkah itu, dan apakah langkah itu ada kaitannya dengan rasa bahagia, diangkat kembali oleh Asal Kamani Fard dari Universidad Tecnológica Metropolitana dan Mohammad Paydar dari Universidad Mayor dalam artikel Women’s walking behaviour and subjective well-being in the middle-income neighbourhoods of Santiago, Chile, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keduanya menelaah perempuan dewasa di enam lingkungan berpendapatan menengah di Santiago, ibu kota Chile.
Fainstein dan Servon: kota yang dirancang untuk laki-laki
Rantai riset yang dirujuk naskah berangkat dari kritik lama dalam kajian perencanaan. Fainstein dan Servon, dalam bunga rampai Gender and Planning, menilai pendekatan kota yang mengutamakan kendaraan bermotor lebih cocok dengan kebutuhan mobilitas harian laki-laki ketimbang perempuan. Menurut Kamani Fard dan Paydar, kecenderungan itu dapat ikut menyumbang ketimpangan di Chile dan di seluruh Amerika Latin, tempat berjalan kaki masih menjadi cara bergerak yang paling umum.
Kajian Herrmann-Lunecke, Mora, dan Sagaris pada 2020 kemudian menegaskan bahwa kebiasaan berjalan kaki bertahan kuat di Chile, terutama di kawasan berstatus sosial ekonomi rendah hingga menengah. Namun, bertahannya kebiasaan itu tidak berarti jalanannya ramah. Naskah mencatat bahwa mobilitas harian perempuan dibatasi berbagai kondisi lingkungan, termasuk persepsi rasa tidak aman yang meningkat di Chile dalam beberapa tahun terakhir, di samping faktor sosial dan pribadi yang juga ikut membentuk kebiasaan berjalan.
Paydar 2017 hingga 2025: rasa tidak aman yang terus naik
Kamani Fard dan Paydar sendiri bukan pendatang baru di persoalan ini. Pada 2017, Paydar, Kamani-Fard, dan Etminani menelaah persepsi keamanan perempuan dan pilihan jalur mereka menuju lingkungan berkelanjutan di Santiago. Sejak itu, menurut naskah, penduduk Santiago melaporkan penurunan tajam rasa aman, dan lebih jauh lagi runtuhnya persepsi keamanan mereka, meski Chile masih termasuk negara yang relatif aman dibandingkan tetangganya di Amerika Latin.
Di jalur yang sejajar, kesejahteraan subjektif, yakni penilaian orang atas kepuasan hidup dan kebahagiaannya sendiri, ikut menjadi sorotan. Kajian Caycho-Rodríguez dan rekan yang dirujuk naskah mencatat bahwa selama pandemi COVID-19, tingkat kesejahteraan subjektif Chile lebih rendah daripada negara Amerika Latin lain, sebagian karena tingginya kecemasan. Naskah juga menyinggung bahwa kesenjangan kesehatan berbasis gender mengisyaratkan perempuan bisa mengalami kesejahteraan yang lebih rendah daripada laki-laki.
Yang jarang dilakukan, menurut kedua penulis, adalah menimbang faktor sosial demografis, pribadi, sosial, dan lingkungan binaan sekaligus terhadap kebiasaan berjalan dan kesejahteraan subjektif, khususnya pada perempuan. Di situlah naskah 2026 ini menempatkan diri. Lingkungan berpendapatan menengah dipilih agar perbedaan sosial ekonomi antarresponden tidak terlalu jauh, sehingga hubungan yang terlihat lebih mudah ditafsirkan secara konsisten.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Januari–Mei 2025: jalan gelap di urutan pertama
Sepanjang Januari hingga Mei 2025, 584 perempuan di enam lingkungan itu mengisi kuesioner yang juga memuat satu pertanyaan terbuka tentang hal yang membuat mereka enggan berjalan. Dari 534 jawaban, muncul 42 hambatan. Jalan gelap menempati urutan pertama dengan 18,9 persen, disusul penyerangan atau perampokan 12,5 persen. Setelah itu menyusul orang jahat atau penghuni jalanan 10,5 persen, serta rasa sendirian di jalanan sepi 10,3 persen.
Daftar itu berlanjut dengan rasa tidak aman, sampah, penggunaan narkoba, orang minum alkohol, bahaya, kejahatan, trotoar buruk, dan rasa takut. Dari dua belas hambatan teratas, semuanya kecuali trotoar buruk berkaitan dengan aspek fisik dan sosial rasa tidak aman di sepanjang trotoar. Di ekor daftar muncul pula pembunuhan dan penembakan, masing-masing empat kali, serta satu jawaban yang menyebut hambatannya adalah karena menjadi perempuan.
Kedua penulis membaca pola itu dengan tegas. Rasa tidak aman yang dipersepsikan, tulis mereka, “bekerja sebagai hambatan struktural dan psikologis utama bagi mobilitas berjalan kaki perempuan di lingkungan-lingkungan ini, membentuk baik keputusan mobilitas rutin maupun perilaku menghindar.” Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris. Hitungan statistik mereka menguatkannya: persepsi bahwa lingkungan rawan kejahatan berasosiasi dengan waktu berjalan yang lebih pendek.
Rata-rata perempuan dalam penelitian ini berjalan sekitar 126 menit per minggu. Menurut naskah, perempuan yang lebih sering berjalan cenderung melaporkan kesejahteraan subjektif yang sedikit lebih tinggi. Namun, kedua penulis berulang kali menegaskan bahwa hubungan itu adalah asosiasi, bukan sebab-akibat, karena datanya diambil pada satu titik waktu dan tidak bisa memisahkan mana yang lebih dulu, langkah kaki atau rasa bahagia.
Naskah bahkan merujuk riset terdahulu yang menduga hubungan keduanya berjalan dua arah. Berjalan bisa memperbaiki suasana hati dan menurunkan stres, sementara orang yang lebih bahagia juga lebih mungkin rajin berjalan. Menurut Kamani Fard dan Paydar, asosiasi yang mereka temukan bisa jadi mencerminkan proses timbal balik semacam itu, yang tidak dapat diurai dengan rancangan penelitian yang mereka pakai.
Kritz dan Delhey: teman berjalan dan tetangga yang saling kenal
Rantai riset berikutnya menyangkut orang-orang di sekitar pejalan kaki. Kajian Kritz dan rekan yang dirujuk naskah menemukan bahwa mereka yang rutin berjalan bersama teman mengalami kenaikan kecepatan dan jarak tempuh yang lebih besar daripada yang berjalan sendirian. Temuan Santiago sejalan: perempuan yang berjalan atau bersepeda bersama orang lain cenderung berjalan lebih lama, meski kebiasaan itu tidak berkaitan dengan kesejahteraan subjektif mereka.
Sebaliknya, kohesi sosial, yakni rasa saling percaya dan saling kenal di antara tetangga, justru berkaitan erat dengan kesejahteraan subjektif dan tidak dengan lama berjalan. Asosiasinya termasuk yang paling kuat di antara faktor sosial. Naskah menautkannya dengan gagasan Delhey dan Dragolov, bahwa kohesi sosial menaikkan kesejahteraan dengan menambah pengalaman sosial yang menyenangkan dan mengurangi tekanan sosial yang merugikan.
Faktor lingkungan fisik ikut bersuara. Akses yang dekat ke toko, taman, dan halte bus berasosiasi dengan waktu berjalan yang lebih lama, begitu pula jalur yang nyaman, dari lebar dan perawatan trotoar sampai pemisah dari jalan raya dan bangku. Persepsi aman dari lalu lintas berkaitan dengan kesejahteraan subjektif, sejalan dengan kajian Lucchesi dan rekan yang dirujuk naskah tentang besarnya pengaruh keselamatan lalu lintas pada rasa sejahtera.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
García dan Schwartz: nilai pribadi yang berbelok arah
Pada titik ini temuan Santiago mulai bersilang jalan dengan riset terdahulu. Kajian García dan rekan pada 2019 mendapati bahwa kebiasaan berjalan berasosiasi negatif dengan nilai kekuasaan dan positif dengan nilai kemandirian serta universalisme, yakni keyakinan bahwa semua orang layak diperlakukan setara. Di Santiago polanya terbalik: nilai kekuasaan berkaitan dengan berjalan lebih lama, sementara kemandirian dan universalisme berkaitan dengan berjalan lebih singkat.
Untuk kesejahteraan subjektif, arah temuannya lebih cocok dengan kerangka nilai Schwartz. Menurut kerangka itu, sebagaimana dikutip naskah, kemandirian dan universalisme adalah nilai yang berorientasi pada pertumbuhan diri, sedangkan rasa aman, kekuasaan, dan kepatuhan bersifat protektif atau ekstrinsik. Sagiv dan Schwartz berpendapat nilai pertumbuhan cenderung menaikkan kesejahteraan. Di Santiago, kemandirian berkaitan dengan rasa sejahtera yang lebih tinggi, sedangkan nilai rasa aman berkaitan dengan yang lebih rendah.
Nilai rasa aman bahkan menarik ke dua arah sekaligus. Perempuan yang menempatkan jaminan hidup di lingkungan yang aman sebagai hal sangat penting cenderung berjalan lebih lama, tetapi melaporkan kesejahteraan subjektif yang lebih rendah. Gaya hidup juga memperlihatkan belahan serupa: gaya hidup aktif di luar rumah berkaitan dengan rasa sejahtera yang lebih tinggi, sedangkan kebiasaan ke restoran dan mal bersama teman berkaitan dengan waktu berjalan yang lebih pendek dan rasa sejahtera yang lebih rendah.
Kedua penulis mengakui tafsir untuk kebiasaan ke restoran dan mal itu belum kokoh. Mereka menduga perempuan dengan gaya hidup semacam itu lebih banyak memakai kendaraan bermotor, tetapi pilihan moda perjalanan tidak diukur dalam penelitian ini. Kaitannya dengan rasa sejahtera yang lebih rendah, menurut mereka, bisa berhubungan dengan beban keuangan atau harapan yang tak terpenuhi, dan tafsir itu mereka sebut sendiri masih spekulatif.
Temuco dan Santiago: perempuan adat di dua kota
Perbedaan pendapat paling tajam justru muncul antara naskah ini dan riset kedua penulis sendiri. Di Santiago, perempuan dari kelompok adat berjalan lebih banyak daripada yang lain, tetapi melaporkan kesejahteraan subjektif yang lebih rendah. Kamani Fard dan Paydar menduga perempuan adat lebih bergantung pada berjalan kaki sebagai moda utama karena kendala struktural atau ekonomi, sehingga pola itu mungkin mencerminkan keharusan, bukan pilihan.
Padahal, dalam kajian mereka tentang perjalanan aktif di Temuco yang terbit pada 2025, penduduk adat justru melaporkan kesejahteraan subjektif lebih tinggi daripada penduduk bukan adat. “Perbedaan ini menunjukkan bahwa hubungan antara etnisitas dan kesejahteraan subjektif sangat bergantung pada konteks,” tulis keduanya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Menurut mereka, hubungan itu bisa berbeda jauh antarkota, tergantung integrasi sosial, pola segregasi, dan akses pada sumber daya kota.
Pertentangan serupa muncul pada pendidikan. Pendapatan yang lebih tinggi berkaitan dengan rasa sejahtera yang lebih tinggi, sejalan dengan riset terdahulu. Namun, perempuan bergelar sarjana melaporkan kesejahteraan subjektif lebih rendah daripada yang hanya berpendidikan dasar, berlawanan dengan banyak kajian yang dirujuk naskah. Kedua penulis menduga harapan mereka soal kualitas pekerjaan, keamanan, dan kondisi kota tidak sepenuhnya terpenuhi di lingkungan berpendapatan menengah, lalu menyerahkannya pada riset lanjutan.
Kedua penulis juga mencatat keterbatasan yang cukup panjang. Lama berjalan diukur dalam menit per minggu tanpa membedakan tujuan, misalnya rekreasi atau keperluan sehari-hari, dan kesejahteraan subjektif hanya diukur dari dua pertanyaan tentang kepuasan hidup dan kebahagiaan. Semua data berasal dari laporan diri, hanya mencakup lingkungan berpendapatan menengah, dan temuan soal lingkungan fisik yang diukur langsung perlu dibaca hati-hati karena jumlah lingkungannya sedikit.
Catatan pada naskah Kamani Fard dan Paydar
Ada beberapa hal di naskah yang bisa diperiksa pembaca. Bagian pengambilan sampel menyebut 584 jawaban lengkap, tetapi judul tabel statistik deskriptif menulis 586 responden, dan jumlah perempuan yang bekerja serta yang tidak bekerja di luar rumah memang berjumlah 586. Pertanyaan terbuka tentang hambatan dihitung dari 534 jawaban, tanpa penjelasan ke mana selisih dari jumlah responden itu.
Angka di teks dan di tabel juga tidak selalu sama. Koefisien universalisme terhadap lama berjalan ditulis minus 0,106 di teks, persis sama dengan angka kemandirian, sedangkan tabelnya mencatat minus 0,136, dan koefisien kekuasaan ditulis 0,136 di teks tetapi 0,133 di tabel. Tabel yang sama memuat dua angka hubungan berjalan dan rasa sejahtera, 0,082 bertanda nyata dan 0,063 tanpa tanda. Deskripsi butir nilai hedonisme dan kemandirian pun tampak tertukar.
Baca juga Harapan Hidup Subjektif Lansia Thailand Naik Seiring Usia
Dalam rantai riset yang berawal dari kritik bahwa kota dirancang untuk laki-laki, lalu berlanjut ke kajian tentang bertahannya kebiasaan berjalan di Chile dan menurunnya rasa aman di Santiago, penelitian Kamani Fard dan Paydar menambahkan satu mata rantai. Mereka menunjukkan bahwa langkah perempuan di lingkungan menengah Santiago tertahan terutama oleh jalan gelap dan rasa terancam, sementara kaitannya dengan rasa bahagia masih menunggu penelitian lintas waktu untuk diurai arahnya.















