Daftar Isi
Ruang biru sering dibayangkan sebagai pelarian yang lembut bagi siapa saja yang menua, tempat air dipercaya menenangkan apa yang tak lagi bisa ditenangkan usia, dan kepercayaan itu terdengar begitu wajar sehingga jarang benar-benar dipertanyakan. Namun sebuah studi dari Jepang justru menaruh kepercayaan itu di atas meja pembuktian, memaksanya berhadapan dengan data ribuan lansia yang hidup berdampingan dengan sungai, danau, dan laut yang bagi mereka tidak selalu ramah.
Kazuki Matsumoto, Yu-Ru Chen, Yoko Matsuoka, Hiroaki Yoshida, Atsushi Nakagomi, Katsunori Kondo, dan Masamichi Hanazato dari Chiba University menuliskan penelusuran ini dalam Association Between Visits to Blue Spaces within Walking Distance and Mental Health Among Older Adults in Japan: A Cross-Sectional Study from the Japan Gerontological Evaluation Study, dimuat jurnal BMC Public Health, tahun 2026. Penelusuran itu memakai data survei atas 21.339 lansia berusia 65 tahun ke atas di 69 kota dan kabupaten Jepang, mencakup wilayah pesisir maupun daratan yang jauh dari laut.
Godaan Sebuah Ruang yang Menenangkan
Anggapan bahwa kontak dengan alam menyehatkan mental sudah lama beredar, dan ruang biru belakangan ikut menarik perhatian setelah riset serupa lebih dulu ramai membahas ruang hijau seperti taman dan hutan. Sebagian besar bukti tentang ruang biru datang dari negara-negara Barat, sementara bukti dari kawasan Asia, apalagi yang khusus membahas lansia, masih tergolong langka dan tersebar di kota-kota yang jumlahnya bisa dihitung jari.
Justru di situlah persoalannya menjadi rumit ketika lokasinya berpindah ke Jepang. Kedekatan dengan air di banyak wilayah Jepang bisa berarti ketenangan sekaligus ancaman sekaligus, sebab kawasan itu berulang kali menghadapi bencana terkait air seperti topan dan tsunami, dan lansia yang disurvei kemungkinan besar pernah mengalami langsung atau menyaksikan dampaknya pada lingkungan tempat tinggal mereka sendiri.
Yang Justru Ditemukan Data
Dari seluruh peserta yang disurvei, hampir sepertiganya melapor berkunjung ke ruang biru dalam jarak jalan kaki dari rumah, sedikitnya sebulan sekali, sepanjang setahun terakhir. Dibanding lansia yang tidak berkunjung sama sekali atau hanya beberapa kali setahun, kelompok pengunjung rutin ini punya prevalensi gejala depresi yang lebih rendah dan skor kebahagiaan yang lebih tinggi, sebuah pola yang konsisten dengan dugaan awal peneliti sebelum data benar-benar diolah.
Angka-angka itu tidak berdiri sendiri sebagai kebetulan statistik belaka, sebab pola serupa tetap muncul setelah memperhitungkan usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, status pekerjaan, status pernikahan, penyakit yang sedang diobati, status tinggal, kepemilikan mobil, dan tingkat urbanitas tempat tinggal masing-masing lansia. Kelompok pengunjung ruang biru juga memiliki proporsi laki-laki yang lebih besar dibanding kelompok yang tidak berkunjung.
Pola itu tidak runtuh ketika peneliti mempersempit sampel hanya pada kota dan kabupaten yang jauh dari laut, tempat ruang biru yang tersedia hanya berupa sungai, danau, dan kolam air tawar tanpa pesisir sama sekali. Asosiasi antara kunjungan dan kesehatan mental yang lebih baik tetap terlihat di sana, bahkan dengan besaran yang sedikit lebih kuat dibanding hasil pada seluruh sampel gabungan.
Air tawar daratan, yang selama ini lebih jarang diteliti dibanding garis pantai dalam riset-riset sejenis di negara lain, ternyata tidak kalah dari laut dalam kaitannya dengan kesehatan mental lansia yang mengunjunginya secara rutin. Temuan pada subsampel ini penting justru karena sebagian besar lansia di Jepang tidak tinggal persis di garis pantai, melainkan di pedalaman yang hanya punya akses ke sungai atau danau terdekat.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Bukan Sekadar Berkunjung, melainkan Melakukan Apa di Sana
Di antara lansia yang memang berkunjung, peneliti lantas menelusuri lebih jauh apa yang sebenarnya mereka lakukan di ruang biru itu. Empat aktivitas tercatat berhubungan dengan gejala depresi yang lebih rendah sekaligus kebahagiaan yang lebih tinggi secara bersamaan, yaitu berjalan kaki untuk menjaga kesehatan, menikmati pemandangan, bersosialisasi dengan orang lain, dan bepergian atau mengurus keperluan sehari-hari lewat ruang biru itu.
Berjalan kaki demi memperbaiki suasana hati, berjalan kaki untuk tujuan lain, joging, dan bersepeda justru tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kedua ukuran kesehatan mental itu. Di antara empat aktivitas yang berhubungan bermakna, bersosialisasi mencatat perkiraan titik paling besar untuk kedua ukuran sekaligus, sesuatu yang sekilas tampak seperti pemenang jelas dalam daftar itu.
“temuan ini tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa bersosialisasi berhubungan lebih kuat dengan kesehatan mental dibanding aktivitas lain,” tulis Kazuki Matsumoto dan kawan-kawan dalam naskahnya, aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu membelokkan arah pembacaan data, sebab perbedaan antarperkiraan titik itu sendiri tidak pernah diuji secara formal satu sama lain di dalam penelitian ini.
Kehati-hatian itu bukan tanpa alasan, sebab lansia yang berkunjung sekaligus melakukan berbagai aktivitas mungkin memang secara umum lebih aktif secara fisik dan sosial, sehingga kesehatan mental yang lebih baik bisa jadi mencerminkan gaya hidup yang lebih aktif itu sendiri, bukan semata efek satu aktivitas tunggal di satu lokasi tertentu. Sejumlah kategori aktivitas, terutama joging, bersepeda, dan bersosialisasi, juga hanya diikuti sedikit peserta.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Semakin Sering, Semakin Kuat Asosiasinya
Ketika frekuensi kunjungan dihitung sebagai jumlah kunjungan per bulan, tiap tambahan satu kali kunjungan tercatat berhubungan dengan prevalensi gejala depresi yang sedikit lebih rendah dan skor kebahagiaan yang sedikit lebih tinggi. Pengunjung harian mencatat perkiraan paling menguntungkan di antara seluruh kategori frekuensi yang dibandingkan, sementara lansia yang mengaku hanya berkunjung beberapa kali dalam setahun pun sudah menunjukkan asosiasi yang lebih baik dibanding tidak pernah berkunjung sama sekali.
Tidak adanya lonjakan tajam tepat pada titik sebulan sekali membuat peneliti sendiri menandaskan bahwa batas itu sebaiknya dibaca sebagai pembeda praktis antara keterlibatan rutin dan keterlibatan jarang, bukan sebagai garis pemisah perilaku yang benar-benar ditemukan secara empiris dari data. Nuansa itu mudah hilang bila hasil penelitian hanya dibaca dari satu angka ringkasannya saja.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Batas yang Diakui Peneliti Sendiri
Rancangan potong lintang penelitian ini tidak bisa menyingkirkan kemungkinan sebab-akibat terbalik, sebab lansia yang kesehatan mentalnya sudah lebih baik lebih dulu bisa jadi memang lebih sering memilih berkunjung ke ruang biru, bukan kunjungan itu sendiri yang membuat kesehatan mental mereka menjadi lebih baik. Peneliti menyebut studi jangka panjang masih diperlukan sebelum hubungan itu bisa disebut sebagai sebab-akibat.
Frekuensi kunjungan sepenuhnya bersandar pada laporan sendiri para peserta, sehingga rawan bias ingatan, sementara persepsi tentang apa yang disebut jarak jalan kaki bisa berbeda-beda tergantung kemampuan mobilitas masing-masing orang. Peneliti juga tidak memiliki data tentang kualitas air maupun keamanan ruang biru yang dikunjungi, dan sejumlah faktor perancu seperti kepemilikan anjing, taman pribadi, pemandangan laut dari rumah, atau sifat kepribadian sama sekali tidak terukur dalam survei ini.
Kejanggalan yang Bisa Diperiksa Sendiri
Halaman depan naskah sumber menyatakan secara eksplisit bahwa versi yang beredar ini berstatus “Article in Press,” yakni versi belum diedit yang sengaja disebarkan lebih awal untuk memberi akses dini pada temuannya, lengkap dengan peringatan bahwa masih mungkin ada kekeliruan yang memengaruhi isinya sebelum publikasi final. Akibatnya, naskah ini belum memiliki nomor volume dan nomor terbitan dari jurnal BMC Public Health, dan yang tercantum baru nomor DOI-nya saja.
Siapa pun bisa memeriksa sendiri peringatan itu di halaman sampul naskahnya, tanpa perlu bantuan pihak lain untuk menemukannya. Kejanggalan semacam ini tidak mengubah temuan yang sudah dilaporkan, namun tetap layak diketahui pembaca yang ingin menelusuri naskah aslinya sendiri sampai ke rincian sitasinya.
Studi ini berlangsung di negeri yang kerap dihantam bencana terkait air seperti tsunami, topan, dan banjir sungai, sehingga air di sana membawa dua wajah sekaligus, yakni ketenangan sehari-hari dan ingatan akan ancaman yang pernah nyata. Pertanyaan yang ditinggalkan naskah ini pun tetap terbuka: ketenangan macam apa yang sebenarnya dicari lansia Jepang setiap kali mereka berjalan kaki menuju ruang biru di dekat rumahnya sendiri.















