Harapan Hidup Subjektif Lansia Thailand Naik Seiring Usia

A A

Seorang lelaki lanjut usia di Hang Chat, Lampang, Thailand. [Foto: Adam Jones/Wikimedia Commons CC BY-SA 2.0]

  • Panel HART 2015-2022 mengikuti 1.038 warga Thailand berusia 80-107 tahun, 3.113 pengamatan.
  • Setiap tahun usia bertambah, taksiran peluang hidup naik 0,11 poin, berlawanan dengan riset terdahulu.
  • Membeli asuransi kesehatan naik 1,35 poin, berhenti bekerja 0,86, tinggal sendiri turun 0,46.
  • Tabel regresi mencantumkan 1.681 individu padahal peserta unik hanya 1.038 orang.
Daftar Isi
  1. Dari Griffin sampai Kobayashi: Keyakinan yang Dibawa ke Thailand
  2. Pertanyaan 2015 sampai 2022: Peluang Hidup sampai 95, 100, atau 105
  3. Temuan yang Membalik Griffin: Makin Tua, Makin Yakin
  4. Mirowsky dan Ross Tidak Terbukti pada yang Tertua
  5. Melewatkan Makan dan Tinggal Sendiri: Dua Penurun yang Bertahan
  6. Laki-laki dan Perempuan: Faktor yang Sama, Jalan yang Berbeda
  7. Batas Panel HART dan Angka yang Perlu Diperiksa

Selama dua dekade terakhir, para peneliti penuaan di negara-negara berpendapatan tinggi memegang satu keyakinan yang terasa masuk akal: makin tua seseorang, makin pendek ia menaksir sisa umurnya sendiri. Taksiran itu, yang disebut harapan hidup subjektif, dipercaya ikut menentukan cara orang menjaga kesehatan dan menjalani hari tuanya. Sebuah panel nasional di Thailand yang mengikuti orang-orang berusia 80 tahun ke atas selama tujuh tahun kini menyodorkan arah yang berlawanan.

Temuan itu ditulis Supa Pengpid dan Karl Peltzer dalam Factors linked to subjective life expectancy in a national longitudinal research conducted in Thailand between 2015 and 2022 among community-dwelling people 80 years of age and older, terbit di BMC Public Health volume 26 sebagai artikel dalam proses terbit, tahun 2026. Keduanya berafiliasi ke Fakultas Kesehatan Masyarakat Mahidol University di Bangkok, dengan afiliasi tambahan di Afrika Selatan dan Taiwan.

Dari Griffin sampai Kobayashi: Keyakinan yang Dibawa ke Thailand

Kerangka yang dipakai kedua peneliti berasal dari Griffin, Loh, dan Hesketh, yang pada 2013 merumuskan model mental tentang harapan hidup subjektif sebagai hasil empat lapis faktor: biomedis, sosial-ekonomi, perilaku kesehatan, dan psikososial. Dalam kerangka itu, usia yang lebih muda dikaitkan dengan taksiran umur yang lebih panjang. Kobayashi, Beeken, dan Meisel menemukan pola serupa pada sampel nasional laki-laki dan perempuan lanjut usia pada 2017.

Riset-riset terdahulu yang dirujuk paper ini hampir seluruhnya berasal dari negara berpendapatan tinggi, dan sebagian besar mengandalkan potret satu waktu, bukan pengamatan berulang pada orang yang sama. Pengpid dan Peltzer menyebut tiga hal yang belum ada di literatur sekaligus: rancangan longitudinal yang mewakili satu negara, fokus khusus pada kelompok tertua yang masih tinggal di rumah, dan latar budaya Asia Tenggara. Ketiganya mereka gabungkan dalam satu analisis.

Bahannya adalah survei Health, Aging, and Retirement in Thailand, disingkat HART, yang dilaksanakan pada 2015, 2017, 2020, dan 2022. Dari survei itu diambil 1.038 orang berusia 80 sampai 107 tahun, rata-rata 85,4 tahun, yang menyumbang 3.113 pengamatan sepanjang empat gelombang. Sebanyak 62,6 persen berstatus duda atau janda, 77,9 persen hanya tamat sekolah dasar, dan 15,9 persen tidak pernah bersekolah.

Pertanyaan 2015 sampai 2022: Peluang Hidup sampai 95, 100, atau 105

Setiap responden ditanya berapa peluangnya, dari nol sampai seratus persen, untuk hidup sampai usia tertentu. Batas usianya bergeser mengikuti umur si penjawab: 95 tahun bagi yang berusia 80 sampai 84, 100 tahun bagi kelompok berikutnya, lalu 105 dan 110 tahun bagi yang paling sepuh. Jawaban rata-rata bergerak dari 51 pada 2015, turun ke 47 pada 2017, lalu naik ke 61 pada 2020 dan 65 pada 2022.

Angka rata-rata itu belum menjawab apa pun tentang perubahan dalam diri seseorang, dan di sinilah kedua peneliti memilih jalan yang membedakan mereka dari riset sebelumnya. Mereka mengukur apakah perubahan pada diri orang yang sama, misalnya menjadi janda atau berhenti bekerja, diikuti perubahan taksiran umurnya. Karena itu koefisien yang mereka laporkan bukan perbandingan antara orang yang berbeda, melainkan pergeseran di dalam satu orang dari gelombang ke gelombang.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Apa yang menggeser harapan hidup subjektif lansia 80+ ThailandMembeli asuransi kesehatan swasta: Koefisien beta +1,35; Beralih menjadi tidak bekerja: Koefisien beta +0,86; Beralih menjadi duda/janda: Koefisien beta +0,65; Ikut cek kesehatan tahunan: Koefisien beta +0,37; Kualitas hidup naik 1 poin: Koefisien beta +0,35; Kesehatan mental swanilai naik 1 poin: Koefisien beta +0,16; Kesehatan fisik swanilai naik 1 poin: Koefisien beta +0,12; Usia bertambah 1 tahun: Koefisien beta +0,11; Melewatkan makan (per kali): Koefisien beta −0,23; Beralih tinggal sendiri: Koefisien beta −0,46.Apa yang menggeser harapan hidup subjektiflansia 80+ ThailandPerubahan skor 0-100 dalam diri orang yang sama, 2015-2022−0,50,51,01,50Membeli asuransi kesehatan swasta+1,35Beralih menjadi tidak bekerja+0,86Beralih menjadi duda/janda+0,65Ikut cek kesehatan tahunan+0,37Kualitas hidup naik 1 poin+0,35Kesehatan mental swanilai naik 1 poin+0,16Kesehatan fisik swanilai naik 1 poin+0,12Usia bertambah 1 tahun+0,11Melewatkan makan (per kali)−0,23Beralih tinggal sendiri−0,46Regresi efek tetap, 3.046 observasi dari 1.038 orang. Semua faktor disini bermakna statistik (p<0,05).
Sumber: Supa Pengpid dan Karl Peltzer, Factors linked to subjective life expectancy in a national longitudinal research conducted in Thailand between 2015 and 2022 among community-dwelling people 80 years of age and older, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Temuan yang Membalik Griffin: Makin Tua, Makin Yakin

Hasil yang paling mengejutkan justru muncul pada faktor paling sederhana, yakni usia. Setiap tambahan satu tahun umur diikuti kenaikan 0,11 poin pada skor harapan hidup subjektif, dengan nilai p di bawah 0,001. Arahnya berkebalikan dengan yang ditemukan Griffin dan rekan-rekannya maupun Kobayashi dan rekan-rekannya, yang sama-sama mencatat orang lebih muda menaksir umurnya lebih panjang.

“Mengenai faktor biomedis, secara mengejutkan, bukan usia yang lebih muda, seperti ditemukan penelitian-penelitian terdahulu, melainkan bertambahnya usia yang berasosiasi dengan harapan hidup subjektif lebih tinggi dalam diri individu sepanjang masa pengamatan,” tulis Supa Pengpid dan Karl Peltzer dalam naskah berbahasa Inggris itu. Mereka menambahkan bahwa temuan ini menunjukkan para peserta menjadi lebih optimistis tentang peluang bertahan hidupnya seiring bertambahnya umur.

Kedua peneliti menawarkan beberapa penjelasan, semuanya sebagai dugaan. Bertahan hidup sampai usia sangat lanjut mungkin memperkuat rasa tangguh dan rasa berkuasa atas hidup sendiri. Cara bertanya yang menggeser batas usia target menurut umur responden mungkin ikut menyumbang. Dukungan keluarga yang kuat, rumah tangga lintas generasi, keyakinan Buddhis yang mendorong penerimaan atas penuaan dan kematian, serta keterlibatan sosial yang berlanjut disebut sebagai sumber daya budaya Thailand yang mungkin menahan pandangan muram tentang sisa umur.

Namun mereka sendiri memasang rem pada penafsiran itu. Karena model yang dipakai mengukur perubahan di dalam diri seseorang, koefisien usia yang positif hanya berarti taksiran umur naik ketika orang yang sama menua, bukan berarti orang yang lebih tua menaksir umurnya lebih panjang daripada orang yang lebih muda. Kalimat asli mereka berbunyi rather than demonstrating that older individuals have higher SLE than younger older adults.

Mirowsky dan Ross Tidak Terbukti pada yang Tertua

Mata rantai berikutnya menyangkut uang. Mirowsky dan Ross pada 2000, disusul Ho pada 2021 dan riset lain yang dirujuk paper ini, menemukan status ekonomi yang lebih baik berjalan bersama taksiran umur yang lebih panjang. Pada lansia Thailand 80 tahun ke atas, kepuasan terhadap keadaan ekonomi tidak menunjukkan hubungan apa pun dengan harapan hidup subjektif; koefisiennya minus 0,02 dengan nilai p 0,605.

Yang bekerja justru dua peralihan yang lebih konkret. Berhenti bekerja diikuti kenaikan 0,86 poin, dan membeli asuransi kesehatan swasta diikuti kenaikan 1,35 poin, yang terbesar di antara semua faktor. Menurut kedua peneliti, pensiun dan asuransi swasta menambah rasa aman finansial, memperbaiki akses ke layanan medis, dan mengurangi tekanan. Perlu dicatat bahwa yang bekerja hanya 6,4 persen pengamatan dan yang membeli asuransi hanya 2,2 persen.

Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka

Melewatkan Makan dan Tinggal Sendiri: Dua Penurun yang Bertahan

Di sisi perilaku, ikut pemeriksaan kesehatan tahunan diikuti kenaikan 0,37 poin, sejalan dengan temuan Wardle dan Steptoe pada 2003 serta Ross dan Mirowsky pada 2002 yang dirujuk paper. Sebaliknya, setiap tambahan satu kali melewatkan makan dalam dua hari terakhir diikuti penurunan 0,23 poin. Pengpid dan Peltzer menyandingkannya dengan studi Sun dan rekan-rekan pada 2023 di Amerika Serikat, yang mengaitkan melewatkan makan dengan harapan hidup yang lebih pendek.

Tiga kebiasaan yang di riset-riset terdahulu disebut menekan harapan hidup subjektif ternyata tidak menunjukkan hubungan pada kelompok ini. Merokok, tubuh terlalu kurus, dan jarang berolahraga sama-sama tidak bermakna secara statistik, meski 22,1 persen pengamatan tergolong kurus. Kedua peneliti mencatat perbedaan ini apa adanya tanpa menawarkan sebab, selain menyebut bahwa temuan sebelumnya berasal dari populasi yang berbeda.

Pada lapis psikososial, kenaikan satu poin kualitas hidup diikuti kenaikan 0,35 poin taksiran umur, dan kenaikan satu poin kesehatan mental swanilai diikuti 0,16 poin. Beralih menjadi duda atau janda, di luar dugaan awam, diikuti kenaikan 0,65 poin. Beralih tinggal sendiri diikuti penurunan 0,46 poin, sejalan dengan Abell dan Steptoe pada 2021 yang menemukan tinggal sendiri di usia lanjut berkaitan dengan risiko kematian lebih tinggi.

Faktor yang bekerja berbeda pada laki-laki dan perempuan 80+Cek kesehatan tahunan dan pensiun bermakna hanya pada laki-laki; asuransi, menjanda, dan kesehatan mental hanya pada perempuan.Faktor yang bekerja berbeda pada laki-laki danperempuan 80+Koefisien beta; 1.310 observasi laki-laki, 1.625 perempuanLaki-lakiPerempuan+0,55 (bermakna)+0,20 (tidak)Cek kesehatantahunan+1,13 (bermakna)+0,65 (tidak)Beralih tidakbekerja-0,19 (bermakna)+0,01 (tidak)Disabilitasfungsional-0,31 (bermakna)-0,19 (tidak)Melewatkan makan+1,02 (tidak)+1,82 (bermakna)Membeli asuransikesehatan+0,43 (tidak)+0,77 (bermakna)Menjadiduda/janda+0,12 (tidak)+0,17 (bermakna)Kesehatan mentalswanilai+0,35 (bermakna)+0,35 (bermakna)Kualitas hidupBermakna = p<0,05. Usia dan kesehatan fisik swanilai bermakna padakeduanya.
Sumber: Supa Pengpid dan Karl Peltzer, Factors linked to subjective life expectancy in a national longitudinal research conducted in Thailand between 2015 and 2022 among community-dwelling people 80 years of age and older, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Laki-laki dan Perempuan: Faktor yang Sama, Jalan yang Berbeda

Ketika sampel dipisah menurut jenis kelamin, hanya tiga faktor yang bekerja pada keduanya: usia, kesehatan fisik swanilai, dan kualitas hidup, yang koefisiennya persis 0,35 pada laki-laki maupun perempuan. Pada laki-laki, berhenti bekerja menaikkan 1,13 poin, pemeriksaan kesehatan tahunan 0,55 poin, sementara disabilitas fungsional dan melewatkan makan menurunkannya. Pada perempuan, keempat faktor itu tidak bermakna.

Perempuan membawa cerita yang lain. Membeli asuransi kesehatan menaikkan 1,82 poin, menjadi janda menaikkan 0,77 poin, dan kesehatan mental swanilai menaikkan 0,17 poin, sedangkan pada laki-laki ketiganya tidak bermakna. Paper tidak menguraikan mengapa pola ini terbelah, dan hanya melaporkannya sebagai perbedaan yang patut dicatat. Sampel laki-laki menyusut dari 47,0 persen pada 2015 menjadi 39,6 persen pada 2022.

Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas

Batas Panel HART dan Angka yang Perlu Diperiksa

Pengpid dan Peltzer mengakui bahwa perkiraan untuk faktor kategorik seperti status kawin, tempat tinggal, pekerjaan, dan asuransi hanya bertumpu pada peserta yang benar-benar berubah status, sehingga daya statistik dan jangkauannya terbatas. Kohort setua ini juga rentan terhadap gugurnya peserta dan bertahannya yang paling sehat; dari 1.038 orang pada 2015, 335 tidak terlacak dan 37 meninggal pada gelombang berikutnya. Mereka menulis tidak dapat menyingkirkan kemungkinan sebab-akibat terbalik.

Kualitas hidup hanya diukur dengan satu pertanyaan, semua data dilaporkan sendiri oleh responden, dan faktor seperti penurunan kognitif, umur panjang orang tua, kepribadian, serta rasa kendali tidak diukur. Survei 2022 juga tertunda karena pandemi Covid-19, dan angka pemeriksaan kesehatan tahunan pada gelombang itu anjlok dari 56,6 persen menjadi 34,9 persen, penurunan yang dalam analisis terdahulu mereka kaitkan dengan pandemi.

Ada beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Tabel regresi sampel penuh mencantumkan 1.681 individu, dan tabel per jenis kelamin mencantumkan 746 laki-laki serta 854 perempuan, padahal bagian hasil menyatakan peserta unik berjumlah 1.038 orang. Abstrak menyebut harapan hidup subjektif sebagai peluang hidup 10 sampai 15 tahun lagi, sementara bagian pengukuran memakai batas usia 95, 100, 105, dan 110 tahun yang jaraknya dari umur responden tidak selalu sebesar itu.

Daftar 15 penyakit kronis yang dihitung menyebut penyakit ginjal dua kali. Paragraf hasil mengulang kalimat yang sama tentang skor kesehatan mental 7,9, kualitas hidup 7,7, dan gejala depresi 5,2 dua kali berturut-turut. Pada bagian pembahasan, kedua peneliti menulis peralihan berhenti bekerja dan pembelian asuransi meningkatkan odds, istilah yang lazim untuk regresi logistik, padahal model yang dipakai adalah regresi linear dengan koefisien poin.

Dalam rantai riset harapan hidup subjektif yang dimulai dari Mirowsky dan Ross pada 2000 dan dirapikan Griffin, Loh, dan Hesketh pada 2013, paper ini menempati posisi yang jarang diisi: orang-orang paling sepuh, diikuti berulang, di luar dunia Barat. Sebagian temuan lama bertahan, seperti peran kesehatan swanilai dan kualitas hidup. Sebagian lagi, terutama soal usia dan status ekonomi, tidak berlaku pada mereka yang sudah melewati 80 tahun di Thailand.

Yang tersisa adalah pertanyaan yang belum dijawab siapa pun: apakah keyakinan yang menguat seiring umur itu buah dari bertahan hidup, dari cara bertanya, atau dari keluarga dan keyakinan yang menemani hari tua di sana. Pengpid dan Peltzer menyerahkannya kepada riset berikutnya, yang mereka harap menggabungkan laporan diri dengan penanda klinis dan penilaian kognitif. Sampai saat itu, angka 0,11 poin per tahun berdiri sebagai catatan dari Bangkok yang menunggu diuji di tempat lain.

Bagikan

Baca Juga

Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja
Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Bibit Ginseng Jawa Ditanam di Salimpek, Pestisida Tetap Dipakai
Aplikasi CheckPD Thailand: 81 Persen Peringatan Parkinson Benar
Stunting Mengelompok di Timur, Berat Lahir Jejak yang Tersisa
Kampus Perlu Perkuat Resiliensi Mahasiswa Cegah Kasus Bunuh Diri