- CheckPD diunduh 30.327 kali; 13.381 orang di 10 provinsi tuntas menjalani skrining 8–10 menit
- Nilai duga positif 81,23 persen: 593 dari 730 orang berisiko yang diperiksa neurolog memang Parkinson
- Relawan kesehatan desa jadi jalur masuk terbesar, 6.742 peserta; jalur berpendamping lebih sering tuntas
- Baru 41 persen orang berisiko diperiksa; 1.031 orang belum tercatat tindak lanjutnya
Daftar Isi
Skrining, dalam pengalaman sehari-hari, adalah ketika seseorang yang merasa sehat diminta menjalani pemeriksaan singkat untuk mengetahui apakah ia perlu diperiksa lebih jauh. Di Thailand, pemeriksaan singkat itu kini berlangsung di layar ponsel selama delapan sampai sepuluh menit, dan sasarannya adalah penyakit Parkinson, gangguan saraf yang membuat gerak tubuh melambat dan bergetar.
Laporan tentang program itu ditulis Roongroj Bhidayasiri bersama puluhan rekannya dalam National implementation of a digital Parkinson’s disease screening programme in Thailand: reach, adoption, and real-world performance of the CheckPD app, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2008, tahun 2026. Bhidayasiri memimpin pusat penyakit Parkinson di Chulalongkorn University dan King Chulalongkorn Memorial Hospital, Bangkok.
Aplikasinya bernama CheckPD. Pengguna berusia 40 tahun ke atas mengisi kuesioner gejala dan faktor risiko, lalu mengerjakan tugas sensor: mengetuk jari, menahan getar tangan, berjalan dan menjaga keseimbangan, serta merekam suara. Sebuah algoritma, yakni rangkaian aturan hitung yang dipelajari mesin, memilah hasilnya menjadi dua kelompok saja, normal atau berisiko.
Reach, atau jangkauan
Reach adalah istilah pertama yang dipakai paper ini, dan artinya sederhana: seberapa jauh program benar-benar sampai ke orang. Antara Januari 2024 dan Oktober 2025, aplikasi diunduh 30.327 kali di seluruh Thailand. Dari jumlah itu, 21.882 orang memulai skrining dan meninggalkan data yang bisa dinilai, sehingga jangkauannya 72,15 persen.
Maksudnya, dari setiap seratus orang yang mengunduh, sekitar 72 orang benar-benar mulai memeriksa diri. Yang dianalisis lebih lanjut adalah 18.520 pengguna dari sepuluh provinsi pertama: Bangkok, Nonthaburi, Pathum Thani, Samut Prakan, Chonburi, Nakhon Pathom, Phetchaburi, Nakhon Sawan, Chiang Rai, dan Sisaket. Dari mereka, 13.381 orang atau 72,3 persen menyelesaikan seluruh tugas.
Dua angka 72 itu tidak sama. Yang pertama membandingkan orang yang memulai dengan orang yang mengunduh, yang kedua membandingkan orang yang tuntas dengan orang yang masuk kohort, kelompok yang diikuti analisis, di sepuluh provinsi. Kebetulan keduanya jatuh di angka yang mirip, dan abstrak paper hanya menampilkan yang kedua sebagai tingkat penyelesaian.
Positive predictive value, atau nilai duga positif
Nilai duga positif menjawab satu pertanyaan yang paling dipedulikan pengguna: kalau aplikasi bilang saya berisiko, seberapa sering itu benar. Dari 13.381 orang yang tuntas, algoritma menandai 1.761 orang atau 13,2 persen sebagai berisiko. Sebanyak 730 di antaranya sempat diperiksa neurolog, dokter spesialis saraf, sebelum analisis ditutup.
Hasilnya, 593 orang memang didiagnosis Parkinson dan 137 tidak. Nilai duga positifnya 81,23 persen, dengan rentang kepercayaan 78,39 sampai 84,07 persen. Bedanya begini: angka itu hanya bicara tentang orang yang sudah ditandai berisiko dan sudah diperiksa, bukan tentang semua orang yang mengunduh aplikasi.
Angka ini lebih rendah dari uji sebelumnya di rumah sakit, yang mencatat ketepatan 91 persen. Paper menyebut selisih itu sebagai deployment gap, jurang penerapan: model yang bagus di ruang uji terkendali bekerja lebih lemah begitu dipakai di lapangan, dengan ponsel yang berbeda-beda dan tanpa pengawasan langsung.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Village Health Volunteers, atau relawan kesehatan desa
Relawan kesehatan desa adalah warga yang sudah lama menjadi bagian dari layanan kesehatan primer Thailand. Dalam program ini mereka menjadi jalur masuk terbesar: 6.742 peserta diskrining lewat pendampingan relawan. Kampanye lapangan dinas kesehatan provinsi menyumbang 5.207 peserta, sesi yang diaktifkan pelatihan daring 3.448, dan orang yang mengunduh sendiri 3.123.
Tiga jalur pertama punya satu kesamaan, yaitu ada orang lain yang menemani. Paper mencatat tingkat penyelesaian secara konsisten lebih tinggi pada jalur berpendamping, terutama relawan dan pelatihan daring, dibanding jalur unduh mandiri di beberapa provinsi. Lonjakan peserta juga muncul persis setelah sesi pelatihan dan kegiatan lapangan, dengan puncak Mei sampai September 2025 melewati seribu orang per minggu.
Umpan balik dari 30 relawan dan 30 petugas kesehatan menyebut dua hal yang menumbuhkan kepercayaan warga: dukungan Palang Merah Thailand dan dukungan dinas kesehatan setempat. Mereka juga mencatat tugas motorik seperti berjalan, menjaga keseimbangan, dan memosisikan ponsel lebih sering butuh bantuan daripada kuesioner atau rekaman suara.
Completion, atau tuntas sampai akhir
Tuntas berarti semua tugas selesai, termasuk tugas dua sisi seperti mengetuk dengan tangan kiri dan kanan. Kuesioner dan rekaman suara paling banyak dituntaskan. Yang paling sering ditinggalkan adalah tugas berjalan, keseimbangan, dan mencubit layar untuk menyesuaikan ukuran. Makin tua kelompok usia, makin rendah tingkat penyelesaiannya.
Paper membedakan dua cara berhenti. Peserta muda lebih sering melewati tugas tertentu, sedangkan peserta tua lebih sering berhenti di tengah urutan. Peserta berpendidikan sarjana ke atas 1,528 kali lebih mungkin tuntas dibanding yang di bawahnya. Peserta yang tinggal di Bangkok justru 0,755 kali, lebih rendah dari luar Bangkok.
Penulis menafsirkan angka Bangkok bukan sebagai soal kota dan desa. Mereka menduga warga Bangkok lebih banyak mengunduh sendiri tanpa pendamping, sementara warga luar Bangkok lebih banyak masuk lewat relawan dan kegiatan terorganisasi. Akses internet dan ponsel pintar di Thailand disebut tinggi dan hampir merata, sehingga infrastruktur digital saja tidak menjelaskan bedanya.
Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Verification bias, atau bias verifikasi
Bias verifikasi adalah cacat yang muncul ketika hanya sebagian hasil yang dicek kebenarannya. Di sini yang diperiksa neurolog hanya orang yang ditandai berisiko, dan itu pun baru 730 dari 1.761 orang atau 41 persen. Orang yang ditandai normal tidak diperiksa sama sekali, sehingga tidak diketahui berapa penderita Parkinson yang lolos.
Karena itu paper menolak menyebut angka akurasi menyeluruh. Sensitivitas, yakni kemampuan menangkap yang sakit, spesifisitas, yakni kemampuan mengenali yang sehat, dan nilai duga negatif tidak bisa dihitung dari data yang ada. Penulis juga mengakui sampelnya adalah sampel pelaksanaan, bukan potret penduduk Thailand: 76 persen peserta perempuan, padahal Parkinson sedikit lebih sering pada laki-laki, dan sepuluh provinsi dipilih karena kesiapan tata kelola, tanpa satu pun provinsi selatan.
Kesalahpahaman yang paling mungkin adalah menganggap 81 persen sebagai bukti alat ini berhasil. Penulis justru menunjuk ke arah lain. “Tantangan implementasi utama yang ditemukan dalam studi ini adalah jurang antara identifikasi risiko dan tindak lanjut klinis,” tulis Roongroj Bhidayasiri dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Sebanyak 1.031 orang berisiko belum tercatat diperiksa siapa pun.
Kalimat berikutnya lebih tegas lagi. Keterkaitan ke layanan yang tidak lengkap, tulis mereka, adalah keterbatasan kritis bagi efektivitas di dunia nyata, sebab manfaat deteksi dini bergantung pada konfirmasi diagnosis yang tepat waktu. Skrining yang berhenti di layar ponsel belum menjadi diagnosis, apalagi pengobatan.
Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus
Yang bisa diperiksa pembaca di naskah
Beberapa angka di naskah layak dicocokkan sendiri. Model regresi, perhitungan statistik yang menemukan pengaruh pendidikan dan Bangkok memang bermakna secara statistik, tetapi nilai Nagelkerke R kuadratnya 0,006, artinya model hanya menjelaskan sekitar enam per seribu variasi penyelesaian. Dua variabel itu nyata, namun hampir semua alasan orang tuntas atau tidak masih belum tertangkap.
Tabel demografi mencatat 91 pengguna dari Chon Buri, sedangkan tabel klasifikasi mencatat kampanye lapangan Chonburi nol peserta dan 65 orang tuntas lewat unduh mandiri. Teks menyebut provinsi itu terendah tanpa menjelaskan mengapa jalur lapangannya kosong. Proporsi berisiko juga melebar tajam antarjalur: 5 persen pada pengunduh mandiri di Nakhon Pathom, 33 persen pada pengunduh mandiri di Chiang Rai, dan 68 persen pada peserta klinik ChulaPD di Bangkok.
Penulis sendiri mencatat pendaftaran studi di ClinicalTrials.gov dilakukan pada September 2024, sesudah program dimulai Januari 2024, dan karena itu tidak menyebutnya terdaftar secara prospektif. Angka kepuasan pengguna, skor SUS atau skala kegunaan sistem 83 dan penyelesaian 92 persen, berasal dari 30 orang yang semuanya sudah tuntas, sehingga orang yang gagal di tengah jalan tidak pernah ditanya.
Skrining, pada akhirnya, hanya sejauh nama yang disandangnya. Ia menyaring, memperbesar peluang bahwa orang yang ditandai memang sakit, dan di Thailand angka itu 81 dari 100 pada mereka yang sempat diperiksa. Ia tidak menghitung siapa yang terlewat, tidak mendiagnosis, dan tidak mengantar orang ke ruang praktik neurolog; bagian terakhir itu masih menunggu 1.031 orang.













