- CEO Deutsche Telekom menilai Starlink Mobile butuh minimal 200 miliar dolar AS
- SpaceX baru memiliki spektrum 76 megahertz, jauh di bawah 400 megahertz milik Deutsche Telekom
- Bos induk T-Mobile itu mengaku menganggap Elon Musk sangat serius
- SpaceX berencana bersaing dengan tiga operator seluler terbesar di AS
Cekricek.id — CEO Deutsche Telekom, induk perusahaan T-Mobile, Tim Höttges meragukan rencana SpaceX menjadikan Starlink Mobile operator seluler besar di Amerika Serikat. Menurutnya, perusahaan milik Elon Musk itu butuh dana minimal 200 miliar dolar AS untuk mewujudkannya.
Melansir laporan The Verge, Kamis (5/11/2026), Höttges menyampaikan hal itu dalam paparan kinerja keuangan perusahaannya. Ia mengaku menganggap SpaceX “sangat serius”, tetapi menilai biaya masuk ke industri ini sangat besar.
“Ia kini sudah membeli spektrum 76 megahertz. Sebagai perbandingan, kami punya 400. Jadi kalau Anda bilang ia bisa membeli spektrum ke depannya, silakan hitung. Butuh ratusan miliar dolar untuk mendapatkan posisi spektrum itu. Kalau ia punya uangnya, silakan saja,” kata Höttges.
Baca juga SpaceX Incar 80.000 Menara demi Jadi Operator Seluler di AS
“Selamat Bergabung di Pesta”
Höttges menambahkan SpaceX juga harus membangun jaringan. “Saya bisa bilang, kami punya 85.000 menara. Ia memang bisa menyewa menara, tidak diragukan. Tetapi itu butuh 20 hingga 30 miliar dolar lagi,” ujarnya.
“Jadi penilaian saya, SpaceX, kalau mau bermain di industri itu, butuh minimal 200 miliar dolar. Tetapi lebih dari itu, untuk bermain di industri yang telah kami profesionalkan selama 20 tahun terakhir, oke, selamat bergabung di pesta,” lanjutnya.
Bulan lalu, SpaceX memaparkan rencana Starlink Mobile untuk bersaing dengan T-Mobile, AT&T, dan Verizon dengan memadukan satelit yang terhubung langsung ke ponsel dan jaringan darat. Sebuah laporan menyebut SpaceX bisa memanfaatkan 80.000 menara seluler di seluruh AS, sementara laporan lain menyebut Musk tengah berunding untuk mengakuisisi Boost Mobile. Pekan ini, Qualcomm juga mengumumkan SpaceX akan memakai teknologi infrastruktur selulernya untuk membangun jaringan Starlink Mobile.
Baca juga Elon Musk Batasi Pemakaian Grok Bot, Biayanya Terlalu Tinggi
Belajar dari Industri Mobil
Meski begitu, Höttges menyadari Starlink Mobile berpotensi menjadi ancaman karena menghadirkan jenis layanan baru. “Ia punya chipset, ia punya pusat data, ia punya AI, ia punya satelit. Ia mungkin juga akan mengintegrasikan media sosial atau setidaknya model agen ke dalam layanannya. Jadi ia menciptakan cara baru layanan komunikasi,” katanya.
“Itulah sebabnya saya bilang saya menganggapnya sangat serius, karena saya menyaksikan apa yang terjadi pada industri mobil. Mereka terlalu lama mengabaikannya, dan kami harus menghadapi situasi ini. Tetapi ini bukan makan siang gratis. Anda juga melihatnya pada Tesla di industri mobil,” ujar Höttges.
Baca juga Inggris Timbang Larangan Kacamata Pintar akibat Rekaman Diam-diam















