- Sebelum latihan, hanya 11,0 persen kurir yang merasa mampu melakukan RJP atau CPR, sesudahnya 68,5 persen.
- Kemauan memulai CPR pada orang tak dikenal naik dari 24,7 persen menjadi 69,9 persen.
- Kedalaman tekanan dada rata-rata naik dari 51,4 milimeter menjadi 55,7 milimeter.
- Studi satu kelompok tanpa pembanding ini memadukan gim, kuliah, dan umpan balik, sehingga peran gim belum bisa dipisahkan.
Daftar Isi
Kurir makanan di Wuhan lebih siap menolong korban henti jantung setelah berlatih. Sebelum latihan, hanya 11,0 persen yang merasa mampu melakukan resusitasi jantung paru (RJP), yang dalam bahasa Inggris disebut CPR. Sesudah satu sesi latihan yang memadukan kelas singkat dan gim, angkanya menjadi 68,5 persen.
Temuan itu dilaporkan Yin Lin dan rekan dari Departemen Gawat Darurat, Rumah Sakit Pusat Wuhan, Tongji Medical College, Huazhong University of Science and Technology. Judul laporannya From street to lifesaving: a pre–post study of a blended serious game–based CPR training program for food delivery riders. Laporan itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Pesertanya 73 kurir makanan aktif di Wuhan, Tiongkok, dari 96 kurir yang didekati antara Oktober dan Desember 2024. Mereka berlatih di stasiun pengantaran makanan. Satu sesi latihan berlangsung sekitar 60 menit, separuh untuk teori dan peragaan, separuh untuk gim. Studinya memakai rancangan satu kelompok yang diukur sebelum dan sesudah latihan, tanpa kelompok pembanding.
Lebih Siap Menolong
Lonjakan paling tajam ada pada rasa mampu. Peserta yang menjawab mampu karena sudah mempelajari pengetahuan dan keterampilannya naik dari 8 orang menjadi 50 orang. Peneliti mencatat selisihnya 57,5 persen.
Yang merasa belum siap menyusut tajam. Sebelum latihan jumlahnya 61 orang atau 83,6 persen, sesudahnya tinggal 4 orang atau 5,5 persen. Yang masih ragu justru bertambah, dari 4 orang menjadi 19 orang atau 26,0 persen.
Kemauan menolong orang asing juga naik. Bila menyaksikan orang tak dikenal mengalami henti jantung, 24,7 persen peserta menjawab akan memulai CPR sebelum latihan, dan 69,9 persen sesudahnya. Jawaban tidak turun dari 31,5 persen menjadi 6,9 persen, sedangkan jawaban tidak tahu turun dari 43,8 persen menjadi 23,3 persen.
Untuk keluarga dan teman, kemauan itu sudah tinggi sejak awal. Sebelum latihan 74,0 persen menjawab ya, sesudahnya 94,5 persen atau 69 dari 73 orang. Tujuh orang yang semula menjawab tidak kini tak ada lagi, dan yang menjawab tidak tahu turun dari 12 menjadi 4 orang.
Rasa Takut Surut
Peserta juga memberi skor pada dua pernyataan. Skor rasa mampu menolong orang yang mengalami henti jantung naik dari rata-rata 2,5 menjadi 3,9. Skor rasa takut melakukan CPR turun dari 3,7 menjadi 2,5, dan menurut paper keduanya bermakna secara statistik.
Para peneliti membaca hasil ini sebagai rasa percaya diri yang membaik dan kecemasan yang berkurang. Suasana gim yang aman dan interaktif, menurut mereka, kemungkinan ikut berperan. Peserta bisa mencoba, keliru, lalu memperbaiki tanpa akibat di dunia nyata.
Baca juga Pekerja Lepas China Utamakan Iuran Saat Menimbang Asuransi
Siapa Para Kurir
Mayoritas peserta laki-laki, yakni 64 orang atau 87,7 persen. Kelompok usia terbanyak 31 sampai 40 tahun, sebanyak 41 orang atau 56,2 persen. Dari sisi pendidikan, 46,6 persen berpendidikan perguruan tinggi atau lebih, 43,8 persen lulusan sekolah menengah atas, dan 9,6 persen lulusan sekolah menengah pertama.
Pendapatan bulanan terbanyak berada di kisaran 6.000 sampai 8.000 renminbi, yakni 43,8 persen. Sebanyak 31,5 persen berpenghasilan 8.000 renminbi atau lebih. Masa kerja terbanyak satu sampai tiga tahun, 38,4 persen.
Mengapa kurir? Paper mencatat Tiongkok punya lebih dari 5,7 juta kurir makanan terdaftar, dan jumlahnya diperkirakan segera melampaui 10 juta. Mereka bekerja berjam-jam, terus bergerak di zona antar yang sempit, dan selalu terlihat di lingkungan kota.
Paper menyebut henti jantung di luar rumah sakit sebagai masalah kesehatan masyarakat yang besar. Lebih dari 550.000 kasus terjadi di Tiongkok setiap tahun, dengan angka bertahan hidup sekitar 1,2 persen. Paper juga mencatat 16,2 persen henti jantung di luar rumah sakit terjadi di ruang publik seperti jalan dan simpul transportasi.
Waktunya pun sempit. Menurut paper, setiap menit penundaan CPR menurunkan peluang bertahan hidup 7 sampai 10 persen. Padahal CPR oleh orang di sekitar korban dimulai pada kurang dari 20,3 persen kasus.
Lima Misi di Trotoar
Latihan dibuka dengan kuliah singkat dan peragaan sekitar 30 menit. Materinya mencakup cara mengenali henti jantung, memanggil layanan gawat darurat, kompresi dada, dan memakai defibrilator eksternal otomatis atau AED. Peragaan dilakukan perawat gawat darurat bersertifikat bantuan hidup dasar di atas manekin.
Sisa 30 menit dipakai untuk gim. Peserta dibagi ke dalam 15 kelompok kecil berisi empat atau lima orang. Kelompok kecil dipakai supaya anggota saling bekerja sama dan meniru pembagian tugas di dunia nyata, di arena yang meniru jalan kota lengkap dengan trotoar dan deretan toko.
Gim itu berisi lima misi. Misi pertama adalah menilai keadaan dan memastikan korban mengalami henti jantung, dan misi ini membuka misi lainnya. Empat misi sisanya boleh dikerjakan dalam urutan bebas, yakni menelepon nomor darurat, kompresi dada, memakai AED, dan menyerahkan korban kepada petugas medis.
Kompresi dada wajib bagi semua anggota tim. Tiap orang menekan dada manekin setidaknya 30 kali, dipantau alat umpan balik Palm CPR. Alat itu memberi aba-aba seperti tekan lebih keras atau tekan lebih cepat.
Di misi ini, setiap gerakan keliru mengurangi satu poin. Tiap kartu tugas menyimpan petunjuk tersembunyi yang bisa digosok, paling banyak tiga per tugas, dengan potongan skor. Misi yang selesai tanpa petunjuk membuka pencapaian tambahan.
Ada pula tantangan bonus menyebut lokasi AED yang umum. Dua jawaban benar bernilai 5 poin, tiga jawaban atau lebih bernilai 10 poin. Di akhir sesi, skor tim diumumkan dan tim terbaik mendapat stiker lencana serta hadiah kecil.
Baca juga Dementia Game di Singapura: yang Berubah Justru yang Belum Kenal
Tekanan Makin Tepat
Mutu tekanan dada diukur dengan alat Palm CPR. Kedalaman tekanan rata-rata naik dari 51,4 milimeter menjadi 55,7 milimeter. Paper menyebut kedalaman yang dianjurkan untuk orang dewasa 5 sampai 6 sentimeter.
Kecepatan tekanan naik dari rata-rata 104,4 menjadi 110,3 kali per menit, dengan selisih rata-rata 6,0 kali per menit. Targetnya 100 sampai 120 kali per menit. Seluruh data tekanan direkam dan diunggah ke layanan CPR Data Cloud untuk dianalisis.
Ketepatan posisi tangan naik dari 75,0 persen menjadi 85,2 persen. Ukuran ini adalah persentase tekanan dengan tangan di separuh bawah tulang dada. Pengembalian dada penuh naik dari 79,5 persen menjadi 86,8 persen.
Peneliti menilai hasil ini menunjukkan kinerja yang umumnya baik. Peserta tanpa pelatihan formal sebelumnya mencapai tingkat kemampuan yang setara dengan studi terdahulu. Selama latihan, tidak ada kejadian yang merugikan peserta.
Nilai dari Peserta
Seusai latihan, peserta menilai gimnya pada skala 1 sampai 5. Tiga pernyataan mendapat rata-rata tertinggi, 4,7. Ketiganya adalah tujuan tugas mudah dipahami, gim menarik perhatian, serta umpan balik jelas dan tepat waktu.
Tingkat kesulitan gim dinilai pas dengan skor 4,0. Rasa seolah berada di situasi darurat sungguhan mendapat 3,8. Nilai yang sama diberikan untuk umpan balik yang membantu memperbaiki gerakan dan untuk minat belajar penanganan darurat.
Skor terendah, 3,6, diberikan untuk efek suara dan visual yang menambah kesan nyata. Skor yang sama diberikan untuk pernyataan bahwa gim menambah percaya diri peserta saat harus menolong dalam situasi nyata.
Peneliti mengakui kesan nyata dan realisme suara serta gambarnya baru sedang. Teknologi realitas virtual atau realitas tertambah disebut bisa dijajaki pada studi mendatang. Variasi skenario, gangguan lingkungan, dan batas waktu juga disebut bisa dipertimbangkan, meski manfaatnya masih perlu diuji.
Belum Bisa Dipisah
Tim peneliti menutup laporannya dengan kesimpulan singkat. “Singkatnya, studi ini mengisyaratkan bahwa intervensi pelatihan CPR campuran berbasis gim serius tampaknya layak dan dapat diterima bagi para kurir makanan,” tulis Yin Lin dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Para peneliti juga mencatat sejumlah keterbatasan. Latihan ini memadukan gim, kuliah, serta umpan balik instruktur dan alat. Karena itu, perbaikan yang terlihat bisa saja berasal dari bimbingan instruktur atau umpan balik langsung, bukan dari gimnya.
Rancangan studi tidak memisahkan unsur-unsur itu, sehingga peneliti menyarankan kelompok kontrol pada riset berikutnya. Sikap dan kemauan pun diukur lewat laporan peserta sendiri, yang rawan dipengaruhi keinginan tampil baik. Selain itu, studi hanya menangkap perubahan sesaat sesudah latihan.
Baca juga Pengojek Kamerun Mau Pakai Rompi Pemantul, Lampu Motor Tetap Mati
Urutan langkah peserta di dalam gim tidak dicatat. Pengaruh unsur rancangan seperti mutu suara, gambar, dan mekanisme gim juga belum diteliti. Studi ini pun tidak mengukur waktu tanggap sungguhan ataupun nasib pasien.
Langkah Berikutnya
Peneliti menyarankan riset jangka panjang untuk melihat apakah keterampilan itu bertahan. Mereka juga ingin tahu bagaimana keterampilan tersebut terpakai saat henti jantung sungguhan. Studi dengan peserta lebih banyak dinilai perlu untuk memastikan daya tahan dan perluasannya.
Menurut tim, pendekatan serupa bisa disesuaikan untuk kelompok lain di kota yang sering berinteraksi di ruang publik. Kurir makanan, kata mereka, bisa memperluas jumlah calon penolong pertama.
Seusai latihan, 50 dari 73 kurir makanan di Wuhan merasa mampu melakukan CPR, dan 51 orang mau memulainya pada orang tak dikenal. Berapa lama kesiapan itu bertahan belum diukur.













