- Penelitian melibatkan 71.364 pelajar berusia 10 sampai 19 tahun di Sichuan dalam dua musim dingin.
- Pada model yang disesuaikan penuh, rasio odds kecemasan menjadi 1,29 untuk PM10 dan 1,24 untuk ozon.
- Sebanyak 21.548 remaja, atau 30,19 persen, memiliki gejala cemas dan depresi bersamaan.
- Risiko yang terkait PM10 terutama terpusat di Dataran Chengdu, sedangkan ozon konsisten di semua subwilayah.
Daftar Isi
- Dua Musim Dingin dan Lebih dari Tujuh Puluh Ribu Jawaban Pelajar
- Partikel Kasar dan Ozon Tetap Bertahan Setelah Semua Faktor Dihitung
- Saat Kabut Paling Tebal, Remaja Memilih Bertahan di Dalam Ruangan
- Hubungan Ozon Muncul dalam Dua Pekan, PM10 Menguat hingga Enam Bulan
- Risiko PM10 Terpusat di Dataran Chengdu, Ozon Konsisten di Semua Wilayah
Saat kabut asap paling pekat menyelimuti Cekungan Sichuan pada musim dingin, remaja di sana biasanya menghindar. Mereka bertahan di dalam ruangan, sekolah diliburkan, dan pemurni udara dinyalakan. Gambaran itu ditulis tim peneliti di Chengdu untuk menjelaskan satu kejutan dalam data mereka: dua polutan justru tampak berhubungan dengan lebih sedikit gejala cemas dan murung.
Kejutan itu baru separuh cerita. Separuh lainnya lebih muram. Dua polutan lain, partikel kasar PM10 dan ozon, berkaitan dengan risiko kecemasan dan depresi yang lebih tinggi pada 71.364 pelajar berusia 10 sampai 19 tahun di provinsi di barat daya Tiongkok itu. Hubungan tersebut tetap bertahan setelah faktor pribadi, keluarga, kebiasaan, dan cuaca diperhitungkan.
Temuan itu dilaporkan Cong Wang dan rekan dari Pusat Kesehatan Jiwa, Rumah Sakit China Barat, Universitas Sichuan, di Chengdu, dalam artikel Air Pollution and Mental Health in Adolescents: A Cross-Sectional Study in Sichuan, China. Naskah itu dimuat jurnal BMC Public Health pada 2026. Cong Wang menyusunnya bersama Hongyu Xie dan Yulu He sebagai penulis pertama bersama, dengan Yonghong Li, Mao-Sheng Ran, dan Ga Liao sebagai penulis korespondensi.
Dua Musim Dingin dan Lebih dari Tujuh Puluh Ribu Jawaban Pelajar
Datanya dikumpulkan dalam dua musim dingin, Desember 2022 hingga Maret 2023 dan Desember 2023 hingga Maret 2024. Kuesioner daring dikirim ke guru, lalu diteruskan kepada siswa SMP dan SMA di seluruh Sichuan. Gejala depresi diukur dengan kuesioner PHQ-9 dan kecemasan dengan GAD-7; skor lima atau lebih dihitung sebagai gejala, setidaknya ringan.
Kadar udara diambil dari 123 stasiun pemantau nasional di Sichuan, lalu dicocokkan dengan lokasi tiap peserta berdasarkan alamat IP. Analisis utama memakai rata-rata kadar sebulan sebelum kuesioner diisi. Rata-rata kadar PM10 yang tercatat untuk para peserta mencapai 84,13 mikrogram per meter kubik, ozon 62,25, dan PM2,5 59,26 mikrogram per meter kubik.
Angka gejala yang mereka temukan tidak kecil. Sebanyak 33,17 persen peserta, atau 23.670 remaja, menunjukkan gejala kecemasan. Gejala depresi tercatat pada 38,42 persen, atau 27.421 remaja. Usia rata-rata peserta 15,91 tahun, dan 59,17 persen di antaranya duduk di bangku SMA, sisanya di SMP.
Gejala cemas dan depresi itu banyak yang tumpang tindih. Sebanyak 21.548 remaja, atau 30,19 persen, memiliki gejala cemas dan depresi bersamaan. Hanya 2,97 persen yang cemas saja dan 8,23 persen yang depresi saja, sedangkan 58,60 persen tidak menunjukkan keduanya. Skor kedua kuesioner pun bergerak sangat seiring.
Baca juga Remaja Tiongkok Tenang bila Harapan Sekolah Seirama Orang Tua
Partikel Kasar dan Ozon Tetap Bertahan Setelah Semua Faktor Dihitung
Titik baliknya muncul ketika para peneliti memeriksa enam polutan: PM2,5, PM10, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, karbon monoksida, dan ozon. Dua di antaranya, PM10 dan ozon, menunjukkan hubungan positif yang kuat dan bermakna dengan gejala. Tanpa penyesuaian apa pun, setiap kenaikan kadar PM10 sebesar satu rentang antarkuartil berhubungan dengan rasio odds kecemasan 1,15. Untuk ozon, angkanya 1,19.
Angka itu tidak mengecil setelah usia, jenis kelamin, kelas, indeks massa tubuh, pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, pola asuh, kebiasaan merokok dan minum, olahraga, suhu, serta kelembapan dimasukkan. Pada model yang disesuaikan penuh, rasio odds kecemasan menjadi 1,29 untuk PM10 dan 1,24 untuk ozon. Untuk depresi, rasionya 1,23 dan 1,17.
Skor gejala ikut bergerak. Dalam analisis yang memperhitungkan kota tempat tinggal, setiap kenaikan satu rentang antarkuartil ozon berhubungan dengan skor PHQ-9 lebih tinggi 0,358 poin dan skor GAD-7 lebih tinggi 0,416 poin. Untuk PM10, kedua angkanya sama, yaitu 0,117 poin. Pada kedua kuesioner itu, perkiraan efek ozon tercatat lebih besar daripada PM10.
Saat Kabut Paling Tebal, Remaja Memilih Bertahan di Dalam Ruangan
Cerita berbalik pada PM2,5 dan sulfur dioksida. Kedua polutan itu menunjukkan hubungan terbalik yang bermakna dengan kecemasan maupun depresi pada model-model yang disesuaikan. Karbon monoksida memperlihatkan hubungan positif yang lemah, sedangkan nitrogen dioksida umumnya tidak menunjukkan hubungan yang konsisten.
Para peneliti tidak membaca angka itu sebagai kabar baik. Hubungan terbalik PM2,5 dan sulfur dioksida itu, tulis Cong Wang dan rekan dalam terjemahan dari bahasa Inggris, “kecil kemungkinannya mencerminkan perlindungan biologis yang sesungguhnya.” Mereka mengaitkannya dengan perilaku menghindar saat kabut asap pekat. Kadar di luar yang sangat tinggi, tulis mereka, bisa justru berarti paparan pribadi yang lebih rendah.
Penulis juga menjelaskan mengapa hasil mereka berbeda dari sejumlah penelitian sebelumnya. Menurut mereka, cekungan yang tertutup, tidak seperti kawasan pesisir yang lebih lancar sirkulasi udaranya, memicu inversi suhu musim dingin yang bertahan lama dan kabut tebal. Partikel terperangkap, sinar matahari berkurang drastis. Dalam data musim dingin mereka, kadar PM2,5 juga tercatat lebih rendah daripada partikel kasar PM10 yang mendominasi.
Baca juga Ozon Udara Terkait Rabun Usia Tua di Kota Korea, Bukan di Desa
Hubungan Ozon Muncul dalam Dua Pekan, PM10 Menguat hingga Enam Bulan
Jendela waktu mengubah gambaran. Saat paparan dihitung dari rata-rata dua minggu, PM10 malah berhubungan terbalik dengan kecemasan, dengan rasio odds 0,971, dan tidak berhubungan bermakna dengan skor PHQ-9. Pada rata-rata dua bulan, hubungannya berubah positif. Pada enam bulan, rasio odds kecemasan naik menjadi 1,275 dan depresi 1,222.
Ozon bergerak ke arah sebaliknya. Pada jendela dua minggu, setiap kenaikan satu rentang antarkuartil ozon berhubungan dengan rasio odds kecemasan 1,084. Hubungan itu melemah pada dua bulan, lalu berbalik pada enam bulan, dengan rasio odds kecemasan 0,764 dan depresi 0,804. Pada jendela terpanjang itu, ozon juga berhubungan dengan skor PHQ-9 yang lebih rendah 0,4946 poin.
Penulis membaca pola ozon enam bulan itu sebagai pengaruh musim, bukan perlindungan bagi saraf. Di Cekungan Sichuan, kadar ozon memuncak pada musim panas yang cerah, sedangkan gejala cemas dan depresi remaja biasanya memuncak pada musim dingin yang suram. Rata-rata enam bulan ikut menangkap musim panas itu. Pola PM10 yang makin kuat seiring waktu mereka kaitkan dengan paparan kronis.
Risiko PM10 Terpusat di Dataran Chengdu, Ozon Konsisten di Semua Wilayah
Wilayah ternyata ikut menentukan. Dari 70.338 peserta yang lokasinya bisa digolongkan, ozon berhubungan positif dengan kecemasan dan depresi, baik di cekungan maupun di kawasan pegunungan dan dataran tinggi. Rincian empat subwilayah, yaitu Dataran Chengdu, Sichuan Selatan, Sichuan Timur Laut, dan dataran tinggi barat, memperlihatkan ozon konsisten merugikan di semuanya. Risiko yang terkait PM10 terutama terpusat di Dataran Chengdu.
Pendapatan keluarga tidak banyak mengubah gambaran. PM10 dan ozon sama-sama berhubungan positif dengan kecemasan dan depresi, baik pada kelompok berpendapatan rendah maupun menengah ke atas. Uji interaksinya tidak bermakna, sehingga penulis menyatakan tidak ada bukti kuat bahwa pendapatan keluarga mengubah hubungan tersebut.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Penulis juga menyusun skor gabungan berbobot dari PM10 dan ozon, lalu membagi peserta ke dalam lima kelompok sama besar. Dibanding kelompok terbawah, kelompok keempat memiliki rasio odds kecemasan 1,4648 dan kelompok teratas 1,4242. Untuk depresi, angkanya 1,3375 dan 1,2764. Kelompok kedua justru berada di bawah satu, yakni 0,9041 untuk kecemasan.
Penulis mencatat hubungan dosis dan respons PM10 dan ozon tampak pada kadar tinggi, bukan pada kadar rendah. Meski begitu, mereka menegaskan hasil skor gabungan ini bersifat pendukung dan eksploratif. Arah dan besar hubungannya ternyata peka terhadap cara indeks paparan itu disusun.
Penulis mengakui sejumlah keterbatasan. Desain potong lintang tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat, dan tidak jelas apakah gejala muncul sebelum atau sesudah masa paparan. Penentuan paparan lewat alamat IP dan stasiun pemantau tetap tidak menangkap pergerakan remaja, kebiasaan di dalam dan di luar ruangan, maupun polusi dari dalam rumah seperti pemanas.
Sampel daring yang tidak acak dan kuesioner yang diisi sendiri membuka peluang bias. Peserta lebih banyak berasal dari Cekungan Sichuan, termasuk Chengdu, dan lebih sedikit dari dataran tinggi barat. Data juga hanya mencakup dua musim dingin, sehingga temuannya mungkin tidak berlaku untuk musim lain atau populasi dengan polusi lebih rendah.
Dari temuan itu, para penulis mengusulkan langkah yang dekat dengan sekolah. “Temuan ini menunjukkan perlunya memperkuat pemantauan kualitas udara jangka panjang dan mengeluarkan peringatan polusi pada periode berisiko tinggi,” tulis Cong Wang dan rekan, dalam terjemahan dari bahasa Inggris. Mereka juga menyebut pentingnya skrining dan dukungan kesehatan jiwa di sekolah dan komunitas.
Kembali ke ruangan-ruangan yang tertutup saat kabut turun. Di sana, menurut penulis, remaja kehilangan waktu di luar, gerak badan, dan pertemuan tatap muka dengan teman sebaya. Yang tersisa adalah lebih banyak duduk diam dan lebih lama menatap layar.














