- Sebanyak 13,56 persen peserta melaporkan pernah mengalami diskriminasi di tempat kerja.
- Di antara yang mengalami diskriminasi, 23,08 persen bergejala depresi, dibanding 6,03 persen pada yang tidak.
- Pada laki-laki yang mengalami diskriminasi, rasio odds yang disesuaikan mencapai 7,42.
- Distres psikologis menjelaskan 81,44 persen kaitan antara diskriminasi yang dialami dan gejala depresi.
Daftar Isi
Di sebuah perusahaan tambang besar di Chile, diskriminasi di tempat kerja berjalan seiring dengan gejala depresi. Di antara pekerja yang pernah mengalaminya, lebih banyak yang menunjukkan gejala depresi sedang atau berat. Pola serupa juga muncul pada pekerja yang hanya menyaksikan orang lain diperlakukan diskriminatif.
Temuan ini datang dari Gonzalo Bravo-Rojas dan rekan dari Program Doktor Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universidad de Chile. Laporannya berjudul Association between perceived discrimination and depressive symptoms among male and female mining workers in Chile: a sex-stratified analysis and the mediating role of psychological distress. Naskah itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Datanya berasal dari 712 pekerja sebuah perusahaan tambang skala besar di Chile, termasuk pekerja subkontraktor. Mereka mengisi survei daring antara September dan Desember 2024. Undangannya dikirim lewat surel kantor, sementara pekerja subkontraktor menerimanya lewat WhatsApp atau surel dari atasan langsung.
Peneliti menggambarkan tambang tembaga Chile sebagai tempat kerja dengan kondisi ekstrem. Kegiatan ini dikaitkan dengan silikosis, gangguan otot dan rangka, gangguan jantung, kelelahan kronis, stres, serta gangguan tidur. Menurut tim, kajian mereka termasuk yang pertama menelusuri diskriminasi dan depresi di sektor tambang Amerika Latin.
Siapa Pekerjanya
Sampelnya didominasi laki-laki, yakni 569 orang, sedangkan perempuan berjumlah 143 orang. Sebanyak 70,93 persen bekerja langsung untuk perusahaan utama. Sisanya, 29,07 persen, bekerja untuk perusahaan subkontraktor yang melayani perusahaan utama itu.
Hampir separuh peserta, 47,05 persen, bekerja di lapangan. Sebanyak 35,11 persen menjalani tugas campuran lapangan dan kantor, sedangkan 17,84 persen murni bekerja di bagian administrasi. Lebih dari separuh, 52,53 persen, berstatus menikah, dan 83,15 persen sudah punya anak.
Sif bergilir menjadi keseharian bagi 66,01 persen pekerja. Pola sif 4x4 paling umum dipakai, lalu pola 7x7 dan 4x3. Separuh lebih, 51,12 persen, baru bekerja kurang dari lima tahun di perusahaan itu.
Untuk pengalaman di sektor pertambangan, 45,37 persen peserta sudah 11 sampai 20 tahun bekerja di sektor itu. Sebanyak 83,57 persen mengaku tahu perusahaan punya kebijakan antidiskriminasi, sedangkan 16,43 persen tidak tahu.
Dialami dan Disaksikan
Sebanyak 13,56 persen peserta melaporkan pernah mengalami diskriminasi di tempat kerja. Diskriminasi diukur dengan kuesioner yang disusun tim sendiri. Isinya diperiksa lima pakar dari bidang psikologi organisasi, ilmu sosial, statistik, dan pertambangan.
Yang pernah menyaksikan diskriminasi terhadap orang lain di tempat kerja lebih banyak lagi, yaitu 19,29 persen. Kedua pengalaman itu ditanyakan terpisah dengan jawaban ya atau tidak.
Gejala depresi sedang atau berat muncul pada 8,31 persen peserta. Gejala itu diukur dengan kuesioner sembilan butir PHQ-9 yang skornya 0 sampai 27. Skor 10 ke atas digolongkan sedang atau berat.
Baca juga Jadwal Kerja Tak Menentu, Buruh Korea Lebih Sering Sulit Tidur
Dua Kelompok Pekerja
Perbedaannya terlihat jelas pada tabel kedua laporan itu. Di antara pekerja yang tidak mengalami diskriminasi, 6,03 persen bergejala depresi, sedangkan di antara yang mengalaminya angkanya 23,08 persen. Pada kelompok saksi polanya mirip, yakni 5,51 persen pada yang tidak pernah menyaksikan dan 20,00 persen pada yang pernah menyaksikan.
Tim lalu menghitung rasio odds lewat regresi logistik, dan tanpa penyesuaian angkanya 4,67 untuk diskriminasi yang dialami. Setelah usia, jumlah anak, pendidikan, sif, peran kerja, dan masa kerja di perusahaan diperhitungkan, angkanya naik menjadi 5,17. Dalam pembahasan, para peneliti menyebut pekerja yang mengalami diskriminasi kira-kira lima kali lebih mungkin melaporkan gejala depresi sedang atau berat.
Diskriminasi yang hanya disaksikan juga berkaitan dengan depresi. Rasio oddsnya 4,28 tanpa penyesuaian dan 4,01 pada model yang disesuaikan. Peneliti menyebut saksi diskriminasi hampir empat kali lebih mungkin bergejala depresi sedang atau berat.
Lebih Kuat pada Laki-laki
Hasil kemudian dipisah menurut jenis kelamin. Pada laki-laki yang mengalami diskriminasi, rasio odds yang disesuaikan mencapai 7,42, dari 5,92 pada model tanpa penyesuaian, dan keduanya bermakna secara statistik. Pada perempuan arahnya sama tetapi lebih lemah, yakni 2,38 tanpa penyesuaian dan 2,57 setelah disesuaikan, dan keduanya tidak bermakna secara statistik.
Untuk diskriminasi yang disaksikan, kedua kelompok sama-sama bermakna. Rasio odds yang disesuaikan untuk laki-laki 4,99, sedangkan untuk perempuan 3,55. Pada perempuan, hanya diskriminasi yang disaksikan yang kaitannya bermakna secara statistik, baik tanpa maupun dengan penyesuaian.
Perempuan yang Bertahan
Perempuan dalam sampel ini umumnya lebih muda, lebih sedikit punya anak, dan lebih sering lajang, yakni 56,64 persen dibanding 29,00 persen pada laki-laki. Sebanyak 74,83 persen perempuan berpendidikan universitas, sedangkan laki-laki 42,88 persen. Hanya 25,87 persen perempuan bekerja di lapangan, dibanding 52,37 persen laki-laki.
Peneliti menduga perempuan yang tetap bekerja di tambang adalah kelompok yang bertahan. Mereka yang paling terdampak diskriminasi mungkin sudah lebih dulu keluar dari industri ini. Yang tersisa bisa jadi sudah membangun cara bertahan yang lebih kuat.
Cara perempuan menghadapi dan melaporkan diskriminasi juga bisa berbeda. Takut dibalas atau terbiasa diperlakukan buruk dapat memengaruhi jawaban mereka. Menurut tim, kaitan yang lebih lemah itu kemungkinan besar tidak berarti perempuan kurang rentan.
Untuk laki-laki, peneliti menunjuk norma maskulin. Norma itu kerap membuat laki-laki enggan mencari bantuan dan memilih memendam masalah sendiri. Riset di tambang Chile yang dirujuk tim juga mencatat tekanan untuk selalu tegar dan selalu siap bekerja.
Baca juga Pengusaha Kecil Lagos: Kendali Kerja Baik, Depresi Lebih Jarang
Lewat Tekanan Batin
Tim juga mengukur distres psikologis dengan skala K6 yang skornya 0 sampai 24. Skala enam butir ini menangkap seberapa sering pekerja merasa cemas dan murung dalam sebulan terakhir. Distres lalu diuji sebagai jalur penghubung.
Hasilnya, distres psikologis menjelaskan 81,44 persen kaitan antara diskriminasi yang dialami dan gejala depresi pada model yang disesuaikan. Tanpa penyesuaian, porsinya 86,67 persen. Jalur langsung di luar distres tidak bermakna secara statistik.
Untuk diskriminasi yang disaksikan, distres menjelaskan 65,89 persen kaitannya, dan jalur langsung tetap bermakna pada model yang disesuaikan dengan rasio odds 1,90. Menurut peneliti, menyaksikan diskriminasi mungkin berdampak tersendiri pada kesehatan jiwa, misalnya lewat tekanan moral, beban empati, atau rasa ketidakadilan. Wilayah ini, kata mereka, masih perlu diteliti lebih jauh.
Yang Disarankan
Menurut tim, upaya di tambang tidak cukup hanya menekan perilaku diskriminatif karena dampak psikologisnya juga perlu ditangani. Mereka menyebut saluran bantuan di tempat kerja, dukungan sesama pekerja, dan kebijakan organisasi yang inklusif. Untuk diskriminasi yang terlihat orang lain, pelatihan kepemimpinan dan lokakarya tim dinilai bisa berguna.
Tim menganjurkan pendekatan menyeluruh yang menggarap bahaya kerja, budaya organisasi, dan kesejahteraan pekerja sekaligus. Program yang menangani stres kerja, kelelahan, dan rasa terasing, terutama yang peka budaya dan gender, dinilai dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja. Menurut mereka, dukungan psikososial yang kuat dibutuhkan di lingkungan berisiko tinggi yang didominasi laki-laki.
Mereka juga merujuk meta-analisis atas 70 studi tentang cara menekan diskriminasi kerja. Sesi edukasi singkat hampir tak mengubah perilaku. Yang paling efektif adalah menuntut tanggung jawab atas keputusan dan mengubah norma sosial organisasi.
Bagian kesimpulan laporan itu ditutup dengan seruan kepada perusahaan. “Secara keseluruhan, hasil ini menyoroti kebutuhan mendesak akan kebijakan organisasi untuk mengurangi diskriminasi di tempat kerja dan menumbuhkan lingkungan yang aman secara psikologis di industri pertambangan,” tulis Bravo-Rojas dan rekan, dalam terjemahan bebas.
Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Batas Temuan
Penelitian ini memotret satu waktu saja. Karena itu, peneliti mengakui sebab-akibat tidak bisa dipastikan, termasuk kemungkinan arah yang terbalik. Faktor pengganggu yang tidak terukur juga belum bisa disingkirkan sepenuhnya.
Semua data berasal dari laporan pekerja sendiri. Kekhawatiran akan pembalasan di tempat kerja bisa memengaruhi keterbukaan jawaban. Sampelnya pun hanya dari satu perusahaan tambang besar, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk industri atau budaya lain.
Jumlah perempuan juga sedikit. Daya uji untuk kelompok ini hanya 23,15 persen pada diskriminasi yang dialami dan 42,36 persen pada yang disaksikan. Karena itu, hasil yang tidak bermakna pada perempuan perlu dibaca hati-hati.
Peneliti menyarankan studi lanjutan yang mengikuti pekerja dari waktu ke waktu, dengan jumlah perempuan lebih berimbang. Pendekatan kualitatif atau metode campuran juga dianjurkan untuk menangkap pengalaman diskriminasi secara lebih utuh. Asumsi sebab-akibat pun disarankan diuji secara formal.















