- Hasilnya, 12,9 persen mengalami kecemasan, 12,3 persen depresi, dan 17,9 persen distres psikologis.
- Dari seluruh faktor yang diuji, hanya kendali kerja yang bermakna pada ketiga masalah kesehatan jiwa sekaligus.
- Pengusaha perempuan yang mengalami depresi tercatat 19,4 persen, sedangkan pengusaha laki-laki hanya 6,0 persen.
- Pengusaha yang bekerja lebih dari 40 jam per minggu mengalami distres 11,4 persen, sedangkan yang bekerja 40 jam atau kurang 34,1 persen.
Daftar Isi
Kebebasan mengatur pekerjaan sendiri dan tekanan beban kerja yang tinggi sama-sama melekat pada pengusaha kecil dan menengah di Lagos, Nigeria, tetapi keduanya bergerak ke arah berlawanan pada kesehatan jiwa mereka. Kendali kerja yang baik berhubungan dengan peluang cemas, depresi, dan distres yang jauh lebih kecil, sementara stres kerja tinggi berhubungan dengan peluang yang berlipat.
Temuan itu ditulis Mary Balogun dan Anne Clayson dalam Anxiety, depression and psychological distress among small and medium-scale entrepreneurs in Lagos state, Southwest Nigeria, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2512, tahun 2026. Mary Balogun berafiliasi dengan Unit Kesehatan Kerja University of Ibadan dan University of Milan, sedangkan Anne Clayson dari University of Manchester.
Datanya berasal dari 156 pengusaha anggota National Association of Small and Medium Enterprises (NASME) di Lagos yang mengisi kuesioner lengkap pada Oktober sampai Desember 2020. Hasilnya, 12,9 persen mengalami kecemasan, 12,3 persen depresi, dan 17,9 persen distres psikologis. Sebanyak 25,6 persen tergolong stres kerja tinggi, sementara 60,6 persen mengaku merasa stres karena pekerjaannya.
Gambaran kerja para pengusaha itu memperlihatkan beban yang berat. Sebanyak 73,7 persen bekerja lebih dari 40 jam per minggu, 48,7 persen lebih dari delapan jam per hari, dan 73,1 persen tidak pernah mengambil cuti. Hampir semuanya, 91,7 persen, mempekerjakan orang lain dengan median empat karyawan, dan 86,5 persen sudah menjalankan usaha lima tahun atau lebih.
Kendali Kerja yang Melindungi
Di satu sisi ada kendali kerja, yakni kebebasan memutuskan pekerjaan apa yang dikerjakan dan kapan. Sebanyak 71 persen responden memiliki kendali kerja yang baik. Pada kelompok ini, kasus kecemasan hanya 7,3 persen, depresi 4,5 persen, dan distres 8,2 persen. Pada 45 pengusaha dengan kendali kerja buruk, angkanya melonjak menjadi 26,7 persen, 31,1 persen, dan 40,0 persen.
Selisih itu bertahan setelah faktor lain diperhitungkan bersama. Kendali kerja yang baik memiliki peluang tersesuaikan 0,17 untuk kecemasan, 0,10 untuk depresi, dan 0,13 untuk distres psikologis. Dari seluruh faktor yang diuji, hanya kendali kerja yang bermakna pada ketiga masalah kesehatan jiwa sekaligus, sebuah pola yang oleh kedua peneliti disebut sebagai temuan paling menarik.
“Responden dengan kendali kerja yang baik memiliki peluang kecemasan sekitar 83 persen lebih rendah dibanding mereka yang kendali kerjanya buruk,” tulis Mary Balogun dan Anne Clayson dalam naskah mereka yang berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi respondents with good job control had approximately 83% lower odds of anxiety compared with those with poor job control. Untuk depresi, peluangnya sekitar 90 persen lebih rendah.
Stres Kerja yang Menekan
Di sisi lain ada stres kerja tinggi, yang dialami 40 dari 156 pengusaha. Rata-rata skor stres seluruh responden 30,57 dari nilai maksimal 50, sedikit di bawah batas 35 yang dipakai untuk menandai stres tinggi. Pada kelompok stres tinggi, kasus kecemasan mencapai 25,0 persen, jauh di atas 8,7 persen pada kelompok stres rendah.
Pola serupa muncul pada distres psikologis, yakni 32,5 persen pada stres tinggi dan 12,2 persen pada stres rendah. Setelah disesuaikan, stres kerja tinggi berhubungan dengan peluang kecemasan sekitar 3,4 kali lipat, peluang tersesuaikan 3,43, dan peluang distres 5,33. Pada depresi, stres kerja tinggi memberi angka 2,03, tetapi tidak bermakna secara statistik.
Kedua peneliti menyebut beberapa sumber tekanan itu dari rujukan yang mereka kutip. Pengusaha di Lagos menghadapi listrik tidak andal, kemacetan lalu lintas, biaya hidup dan biaya usaha yang tinggi, inflasi, serta pajak berlapis. Sebagian dari mereka harus menyediakan listrik dan air sendiri, beban tambahan yang disebut memperberat stres kerja sehari-hari.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
“Studi ini menegaskan adanya sisi gelap kewirausahaan di Lagos,” tulis keduanya, lagi-lagi dalam bahasa Inggris, this study confirms the existence of a dark side of entrepreneurship in Lagos. Menurut mereka, manfaat kemandirian tertutup oleh beban kerja yang ekstrem dan tekanan akibat tata kelola, sehingga keuntungan psikologis dari menjadi bos bagi diri sendiri tidak cukup untuk menahan tekanan tersebut.
Pengusaha Perempuan, Pengusaha Laki-laki
Pada jenis kelamin, perbedaan paling tajam muncul di depresi. Pengusaha perempuan yang mengalami depresi tercatat 19,4 persen, sedangkan pengusaha laki-laki hanya 6,0 persen. Setelah faktor lain diperhitungkan, laki-laki memiliki peluang tersesuaikan 0,13, atau 87 persen lebih rendah dibanding perempuan. Responden terbagi hampir berimbang, 83 laki-laki dan 72 perempuan.
Pada kecemasan dan distres, jenis kelamin tidak membuat perbedaan yang bermakna. Distres pada laki-laki 16,9 persen dan pada perempuan 18,1 persen, hampir sama. Peluang kecemasan laki-laki 0,34 dengan selang kepercayaan 0,11 sampai 1,06, rentang yang melewati angka satu. Jadi, jarak antara perempuan dan laki-laki hanya tegas pada satu dari tiga ukuran.
“Di Nigeria, beban merawat dan kondisi serba kekurangan sering jatuh secara tidak seimbang kepada perempuan, yang berpotensi memperburuk masalah kesehatan jiwa mereka,” tulis Mary Balogun dan Anne Clayson. Aslinya berbahasa Inggris, in Nigeria, the burden of care and the context of scarcity often fall disproportionately on women. Mereka juga menyinggung beban ganda urusan rumah tangga dan usaha.
Tanggungan di Rumah, Jam Panjang di Usaha
Pada kasus kedua, faktor rumah dan faktor usaha memberi arah yang berbeda terhadap distres. Sebanyak 69,2 persen responden memiliki tanggungan. Kelompok ini memiliki peluang tersesuaikan distres 4,50 dibanding yang tidak punya tanggungan, walau selang kepercayaannya lebar, 1,08 sampai 18,78. Secara kasar, distres pada kelompok bertanggungan 19,4 persen dan tanpa tanggungan 12,8 persen.
Jam kerja panjang justru berjalan berlawanan dengan dugaan umum. Pengusaha yang bekerja lebih dari 40 jam per minggu mengalami distres 11,4 persen, sedangkan yang bekerja 40 jam atau kurang 34,1 persen. Setelah disesuaikan, peluang distres kelompok jam panjang 0,24. Pada depresi, arah angkanya serupa, 0,39, tetapi tidak bermakna secara statistik.
Kedua peneliti tidak buru-buru menyebut jam kerja panjang sebagai pelindung. Mereka menulis bahwa temuan itu mungkin terbalik arah, yakni pengusaha yang sedang tertekan jiwanya kurang sanggup bertahan bekerja lama. Kalimat aslinya berbahasa Inggris, entrepreneurs experiencing psychological distress may be less able to sustain long working hours, sehingga mereka yang bekerja lama bisa jadi kelompok yang sejak awal lebih sehat.
Mereka juga menyebut kemungkinan bias penyintas. Pengusaha yang bertahan cukup lama hingga terdaftar di NASME dan sanggup bekerja berjam-jam barangkali sudah beradaptasi dengan tuntutan usaha, berbeda dengan yang lebih dulu keluar. Penjelasan lain yang mereka ajukan, jam panjang bisa dibaca pengusaha sebagai tanda usaha berjalan baik, apalagi bila disertai kendali kerja yang tinggi.
Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Batas yang Diakui Peneliti
Penelitian ini bersifat potong lintang, sehingga tidak bisa membuktikan sebab-akibat ataupun urutan waktu antara kondisi kerja dan kesehatan jiwa. Semua ukuran berasal dari laporan diri, dan peneliti mengakui responden mungkin melaporkan gejala lebih sedikit dari yang sebenarnya karena stigma atau keinginan tampak baik di mata orang lain.
Sampelnya juga terbatas pada anggota NASME yang terdaftar, kelompok yang menurut penulis kemungkinan memiliki modal sosial dan stabilitas usaha lebih tinggi daripada sektor informal Nigeria yang lebih luas. Kuesioner elektronik ikut membawa bias literasi digital dan sosial ekonomi. Dari 300 pengusaha yang menerima kuesioner, hanya 156 atau 52 persen yang mengisinya secara lengkap.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Angka yang Tidak Cocok
Ada beberapa kejanggalan yang bisa diperiksa pembaca. Abstrak menulis bahwa kerja lebih dari 40 jam per minggu melindungi dari depresi dan distres. Namun, tabel prediktor depresi mencantumkan peluang 0,39 dengan selang kepercayaan 0,11 sampai 1,31 dan nilai p 0,128, yang berarti tidak bermakna. Hanya distres yang bermakna.
Pada tabel depresi, baris jam kerja mingguan dan baris cuti memuat angka yang persis sama, yakni 9 kasus atau 7,9 persen dan 10 kasus atau 24,4 persen dengan nilai chi kuadrat 7,629. Padahal kelompoknya berbeda ukuran, 115 pengusaha bekerja lebih dari 40 jam dan 114 tidak mengambil cuti, sehingga angka identik itu patut dicek ulang.
Kriteria inklusi juga mencantumkan pengusaha yang pindah ke Lagos dalam enam bulan terakhir, padahal kriteria eksklusi mengeluarkan kelompok yang sama. Kesimpulan menyebut angka kecemasan dan depresi secara efektif dua kali lipat dari patokan nasional 5,8 sampai 11,1 persen, padahal 12,9 dan 12,3 persen hanya sedikit di atas 11,1 persen.
Sebagai jalan keluar, kedua peneliti mengusulkan kelompok dukungan sebaya yang mereka namai Entrepreneurial Resilience Circles di bawah NASME, serta skrining kesehatan jiwa ringan dalam pertemuan asosiasi dagang. Kepada pemerintah, mereka meminta regulasi yang stabil dan perbaikan listrik serta transportasi, supaya beban lingkungan usaha tidak terus menekan jiwa para pemiliknya.
Kendali kerja dan stres kerja lahir dari pekerjaan yang sama, tetapi pada 156 pengusaha di Lagos keduanya berdiri di baris yang berlawanan dalam tabel hasil. Satu menurunkan peluang ketiga masalah jiwa, satu lagi menaikkan dua di antaranya, sementara jam panjang dan tanggungan keluarga memberi cerita yang belum sepenuhnya terurai oleh data sekali potret ini.















