- Skor keluhan otot 502 pekerja Taipei naik dari 1,95 ke 2,31 setelah pindah dari rumah ke kantor; 22,51 persen memburuk
- Skor BSRS-5 naik dari 7,02 ke 8,75, dengan insomnia dan kecemasan bergerak paling jauh
- Yang skor jiwanya naik berpeluang 15,666 kali masuk kelompok memburuk; postur lebih tegang 7,914 kali
- Kolom total Tabel 1 tidak berjumlah 502 dan persentase setelan mouse tampak tertukar
Daftar Isi
- Lima ratus dua orang yang pulang ke kantor dengan bahu yang lebih sakit
- Yang berubah bukan jam duduknya, melainkan tidur, jeda, dan cara duduk
- Titik balik di tabel regresi: pikiran yang tegang, tubuh yang memburuk
- Kejutan pada pekerja 40 tahun ke atas, dan batas yang diakui para penulis
- Angka-angka di dalam tabel yang tidak selalu sepakat dengan teksnya
Pintu kantor dibuka lagi, dan tubuh yang kembali melewatinya ternyata tidak sama dengan tubuh yang dulu pergi. Lima ratus dua pekerja di Taipei mengisi kuesioner tentang dua masa: bulan-bulan bekerja dari rumah saat puncak COVID-19, lalu hari-hari sesudah dipanggil pulang ke meja kantor. Skor keluhan otot mereka naik. Skor kesehatan jiwa mereka ikut naik, dan pada skala itu naik berarti memburuk.
Cerita itu ditulis Feng-Jen Tsai, Ruey-Yu Chen, Ya-Yuan Hsu, Hong-Yu Chu, dan Shu-Hsuan Yeh dalam Impact of transferring from “work from home” to office work on workers’ musculoskeletal disorder symptoms and mental health in Taiwan, artikel di BMC Public Health volume 26 nomor 1436 tahun 2026. Naskahnya berbahasa Inggris. Empat penulis bekerja di Taipei Medical University, satu di Institute of Labor, Occupational Safety And Health, Ministry of Labor, yang juga mendanai riset ini.
Mundur sebentar ke 2021. Taiwan sempat mencatat nol kasus sepanjang 2020, lalu varian Delta datang pada Mei 2021. Sampai akhir tahun itu kumulatif 17.050 kasus terkonfirmasi dan 782 kematian tercatat. Kebanyakan perusahaan memberlakukan kerja dari rumah beberapa bulan, sebagian sampai lebih dari setengah tahun. Setelah gelombang itu surut, para pekerja dipanggil kembali ke kantor.
Lima ratus dua orang yang pulang ke kantor dengan bahu yang lebih sakit
Para responden datang dari 11 perusahaan yang bersedia ikut: empat dari sektor keuangan dan asuransi, tiga dari informasi dan komunikasi, dua manufaktur, dua pendidikan dan kesehatan. Semuanya pekerja purnawaktu berusia 18 tahun ke atas yang pernah pindah dari kantor ke rumah lalu kembali lagi. Kuesioner kertas anonim dibagikan petugas keselamatan kerja tiap perusahaan antara Juni dan November 2022, dan semua 502 lembar dipakai.
Mayoritas mereka perempuan, 59,36 persen, dan menikah, 65,34 persen. Hampir separuh, 45,82 persen, sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun. Tiga perempat bukan pemegang jabatan administratif. Sebagian besar bekerja 40 sampai 49 jam sepekan. Saat masih di rumah, keluhan yang paling sering mereka laporkan adalah nyeri bahu, 45,64 persen, dan nyeri leher, 41,46 persen, disusul punggung atas dan siku yang masing-masing sekitar 27 persen.
Lalu mereka kembali ke kantor. Skor keluhan otot rata-rata, yang dihitung dari Nordic Musculoskeletal Questionnaire, bergerak dari 1,95 menjadi 2,31. Seratus tiga belas orang, atau 22,51 persen, masuk kelompok yang keluhannya memburuk. Tiga ratus delapan belas orang tetap. Hanya 49 orang yang membaik. Satu-satunya ciri pribadi yang membedakan ketiga kelompok itu adalah umur: hampir separuh kelompok yang memburuk, 49,54 persen, berusia di bawah 40 tahun.
Yang berubah bukan jam duduknya, melainkan tidur, jeda, dan cara duduk
Jam di depan komputer nyaris tidak bergeser. Separuh responden bekerja delapan jam atau lebih dengan komputer, baik di rumah maupun di kantor. Jam duduk pun sama. Yang bergeser tajam adalah hal-hal di sekitar pekerjaan. Rapat daring menyusut: yang rapat kurang dari empat jam sepekan naik dari 43,23 persen menjadi 68,53 persen. Pekerjaan rumah tangga juga berkurang, dan yang mengerjakannya kurang dari dua jam sehari melonjak ke 68,53 persen.
Tidur ikut terpangkas. Di rumah, 17,93 persen responden tidur delapan jam atau lebih; di kantor tinggal 3,19 persen. Jeda kerja menyempit. Yang beristirahat enam sampai sepuluh kali sehari turun dari 31,67 persen menjadi 6,37 persen, sementara yang tidak beristirahat sama sekali naik dua kali lipat menjadi 7,77 persen. Postur berubah arah: yang duduk bersandar turun dari 36,85 persen menjadi 15,94 persen, yang condong ke depan naik dari 32,07 persen menjadi 44,82 persen.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Skala BSRS-5 mengukur lima gejala: insomnia, kecemasan, hostilitas, depresi, dan rasa rendah diri, masing-masing dari 0 sampai 4. Skor total naik dari 7,02 menjadi 8,75. Kelima butirnya naik bermakna, dengan insomnia dan kecemasan bergerak paling jauh, sekitar 0,4 poin. Para penulis membacanya sebagai penurunan kesehatan jiwa ketika responden kembali ke lingkungan kantor.
Titik balik di tabel regresi: pikiran yang tegang, tubuh yang memburuk
Di sinilah cerita berbelok. Ketika tiga kelompok perubahan keluhan otot dibandingkan, 71,68 persen anggota kelompok yang memburuk juga mengalami kenaikan skor BSRS-5. Pada kelompok yang membaik, angkanya hanya 8,16 persen. Kelompok yang memburuk juga paling banyak beralih ke posisi duduk yang lebih tegang, 38,05 persen, dan paling banyak kehilangan jam tidur, 45,13 persen.
Regresi logistik multinomial, dengan kelompok membaik sebagai pembanding dan sudah disesuaikan umur serta jenis kelamin, memberi angkanya. Responden yang skor BSRS-5-nya naik punya peluang 15,666 kali lebih besar masuk kelompok memburuk. Yang skornya tetap pun 8,596 kali. Beralih ke postur lebih tegang: 7,914 kali. Lingkungan kerja rumah yang ergonominya buruk: 2,750 kali. Pengurangan tidur menghasilkan rasio 5,649 tetapi rentang kepercayaannya terlalu lebar dan tidak bermakna secara statistik.
Para penulis merangkumnya dalam kalimat penutup naskah, aslinya berbahasa Inggris. “Penelitian ini menemukan status gangguan muskuloskeletal pekerja memburuk ketika mereka beralih dari kerja jarak jauh kembali ke kerja berbasis kantor. Temuan kami menunjukkan memburuknya MSD ini berkaitan bermakna dengan menurunnya kesehatan jiwa selama peralihan,” tulis Feng-Jen Tsai, Ruey-Yu Chen, Ya-Yuan Hsu, Hong-Yu Chu, dan Shu-Hsuan Yeh dalam naskahnya.
Penjelasan yang mereka tawarkan menyangkut kehadiran fisik. “Satu penjelasan yang mungkin untuk fenomena ini adalah bahwa kembali ke kantor dapat mempertinggi tekanan untuk menanggapi tuntutan pekerjaan secara langsung, terutama di hadapan atasan,” tulis mereka. Postur condong ke depan, dalam bacaan para penulis, bisa menjadi tanda pikiran yang terfokus dan tegang, sedangkan posisi bersandar, meski tidak ideal, dikaitkan dengan kesehatan jiwa yang lebih baik.
Baca juga Karpet Salah Tempat di Pameran Furnitur Bertutur
Kejutan pada pekerja 40 tahun ke atas, dan batas yang diakui para penulis
Ada satu adegan yang tidak sesuai skenario. Pekerja berusia 40 sampai 49 tahun justru lebih sering membaik setelah kembali ke kantor; kelompok usia itu mengisi 55,10 persen dari mereka yang membaik. Para penulis menyebutnya hasil tak terduga yang memerlukan riset lanjutan. Mereka juga mengakui belum tahu apakah menurunnya kesehatan jiwa terutama disebabkan lingkungan kantor, atau ikut dipengaruhi berkurangnya jeda dan jam tidur.
Batas riset ini mereka tulis sendiri. Semua data berasal dari laporan diri dan ingatan responden tentang masa di rumah. Desainnya potong lintang, sehingga hubungan sebab-akibat tidak dapat ditegakkan dan perancu mungkin tidak sepenuhnya terkendali. Sampelnya diambil secara kemudahan dari perusahaan yang bersedia, sehingga keterwakilannya terbatas. Hanya sebagian butir kuesioner Nordic yang dipakai, dan lama bekerja dari rumah tidak dicatat.
Angka rasio peluang di atas juga perlu dibaca dengan jarak. Rentang kepercayaan 95 persen untuk kenaikan BSRS-5 membentang dari 4,089 sampai 60,022, dan untuk postur tegang dari 1,622 sampai 38,610. Rentang selebar itu lahir dari kelompok pembanding yang kecil, hanya 49 orang. Arah hubungannya jelas, tetapi besarnya jauh dari pasti.
Angka-angka di dalam tabel yang tidak selalu sepakat dengan teksnya
Pembaca yang membuka tabelnya akan menemukan beberapa hal yang tidak klop. Pada Tabel 1, kolom total untuk pendidikan menulis 11 orang lulusan SMP-SMA, 129 perguruan tinggi, dan 59 pascasarjana, jumlahnya 199, bukan 502. Baris masa kerja serupa: kolom total menyebut 146 orang bermasa kerja satu sampai empat tahun, sementara jumlah dari tiga kelompoknya hanya 73. Kolom total tampak bergeser dari barisnya.
Teks hasil menyebut 47,8 persen responden berkomuter 30 sampai 59 menit dan 15,7 persen lebih dari dua jam. Tabel 1 hanya memuat dua baris, kurang dari satu jam dan satu sampai dua jam, tanpa baris lebih dari dua jam. Teks juga menulis proporsi yang tidur lebih dari delapan jam turun dari 16,93 persen, sedangkan Tabel 2 mencantumkan 17,93 persen untuk 90 orang.
Pada Tabel 3, setelan mouse yang baik ditulis 288 orang atau 39,64 persen, padahal 288 dari 502 adalah 57,37 persen; angka persen di baris baik dan buruk tampak tertukar, dan teks mengulang angka 39,64 itu. Kalimat hasil menulis rasio 15,666 untuk kelompok yang skornya tetap dan 8,596 untuk yang naik, kebalikan dari Tabel 4. Diskusi menyebut pengurangan tidur berkaitan bermakna dengan memburuknya keluhan, padahal pada regresi nilai p-nya 0,204.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Satu lagi yang layak dilihat. Kelompok yang keluhannya memburuk justru lebih banyak memiliki setelan rumah yang baik, dari keyboard sampai kursi, dibandingkan kelompok yang membaik; setelan kursi baik 46,02 persen lawan 22,45 persen. Regresi kemudian menyimpulkan ergonomi rumah yang buruk menaikkan risiko memburuk 2,750 kali. Kedua arah itu berdiri berdampingan di naskah tanpa dijelaskan.
Pintu kantor itu tetap terbuka. Lima ratus dua orang sudah duduk kembali di meja mereka, lebih condong ke depan, lebih sedikit tidur, lebih jarang berdiri dari kursi. Skor di dua kuesioner naik bersamaan, dan para penulis menempatkan keduanya dalam satu kalimat. Yang belum diketahui adalah mana yang menarik mana, dan itu mereka akui sendiri di halaman diskusi.















