Karpet Salah Tempat di Pameran Furnitur Bertutur

A A

Gedung Museum Sejarah Jakarta, bekas Stadhuis Batavia. [Foto: Wikimedia Commons]

Cekricek.id — Di salah satu ruang pameran temporer Furnitur Bertutur, sehelai karpet bermotif oriental terhampar di lantai sebuah ruang tamu tiruan abad ke-18, tepat di bawah cangkir-cangkir teh, kotak sirih berukir, dan sebuah tempolong yang sengaja ditaruh seolah penghuninya baru saja beranjak dan bisa kembali kapan saja. Bagi kebanyakan pengunjung yang datang ke Museum Sejarah Jakarta sepanjang Oktober 2024 hingga Januari 2025, karpet itu tampak seperti pelengkap dekorasi yang sudah semestinya ada di sana. Tidak ada label yang menjelaskan kenapa ia terhampar di situ. Nyaris tidak ada pengunjung yang berhenti untuk bertanya.

Detail sekecil karpet itulah yang menjadi salah satu titik tolak sebuah kajian arsitektur interior dan sejarah museum berjudul A Glance at Furnitur Bertutur: A Temporary Exhibition at Jakarta History Museum. Ditulis Aditya Bayu Perdana, peneliti dari Telkom University, bersama Mush'ab 'Abdu Asy Syahid dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, kajian ini dimuat jurnal Purbawidya volume 14 nomor 1 terbitan Juni 2025. Keduanya beberapa kali mendatangi ruang pamer itu sepanjang Oktober 2024, mencermati satu demi satu detail yang oleh sebagian besar pengunjung lain mungkin cuma dilihat sekilas.

Furnitur Bertutur sendiri pertama kali dibuka pada 14 Oktober 2024 di tiga ruang pada sayap depan Museum Sejarah Jakarta, gedung balai kota atau stadhuis peninggalan VOC yang berdiri sejak 1710. Pameran ini melibatkan sejumlah kolaborator, dari Indonesia Heritage Agency hingga GPIB Jemaat Sion dan Museum Sonobudoyo, serta menampilkan kursi, lemari, dan buaian berukir yang sebagian besar berasal dari periode kekuasaan VOC di abad ke-17 dan ke-18. Di bangunan stadhuis yang sama, tersimpan pula sebuah layar kayu jati berukir dari awal abad ke-18 yang pernah dipamerkan di Victoria and Albert Museum, Inggris, sebagai bagian dari pameran gaya Barok dunia pada 2009. Benda itu kini cuma menempati sudut yang tak begitu menonjol di museum, dan tidak diikutsertakan sama sekali dalam Furnitur Bertutur — sebuah kesempatan yang menurut kajian ini terlewat begitu saja.

Daftar Isi
  1. Cara Karpet Oriental Sebenarnya Dipakai
  2. Sketsa yang Menyangkal Ruang di Sebelahnya
  3. Bayangan Digital yang Ikut Menyamar
  4. Rekonstruksi yang Berhenti di Pertanyaan

Cara Karpet Oriental Sebenarnya Dipakai

Taman di bagian dalam kompleks Museum Sejarah Jakarta
Taman di dalam kompleks Museum Sejarah Jakarta. (Foto: Wikimedia Commons)

Karpet oriental pada abad ke-18 bukan barang murah yang sembarangan diinjak. Ia diimpor dari kawasan penenun yang jauh dengan harga yang sangat mahal, kadang bahkan dijadikan hadiah diplomatik antarkerajaan. Bagi pemilik Eropa yang mampu membelinya, karpet semacam itu adalah barang pamer, bukan alas kaki. Rumah-rumah Belanda di Batavia, dan juga di Eropa sendiri, justru lebih sering menaruhnya di atas meja sebagai taplak ketimbang membentangkannya di lantai. Kebiasaan ini bertahan luas hingga jauh memasuki abad ke-18, sebagaimana terekam dalam banyak lukisan sezaman.

Sketsa yang Menyangkal Ruang di Sebelahnya

Ruang tamu tiruan di hall ketiga Furnitur Bertutur direkonstruksi dari sketsa cat air karya Jan Brandes (1743-1808), seorang pendeta Lutheran asal Belanda yang tinggal di Batavia antara 1790 dan 1795. Sketsa itu, berjudul Theevisite in een Europees huis in Batavia dan kini tersimpan di Rijksmuseum, menggambarkan dua perempuan duduk berbincang sambil minum teh di sekitar meja guéridon, dilayani abdi yang membawa peralatan menyirih dan nampan makanan. Salinan cetak sketsa itu sendiri dipajang tepat di sebelah pintu masuk ruang rekonstruksi, seolah menjadi rujukan resmi bagi apa yang ada di dalamnya.

Baca juga Tiga Menara Berkubah di Gereja Santo Yoseph Matraman

Persoalannya, sketsa itu justru menyangkal karpet yang ada di ruang sebelahnya. Lantai kayu pada sketsa Brandes tampak polos, tanpa alas apa pun. Bandingkan dengan lukisan Gerard ter Borch berjudul A Young Woman Playing a Theorbo to Two Men (1667-1668): karpet oriental di situ memang muncul, tetapi terhampar di atas meja, bukan di lantai. Dua rujukan visual yang sezaman dengan furnitur yang dipamerkan sama-sama menunjukkan pola yang sama, dan pola itu bukan pola yang dipilih kurator Furnitur Bertutur untuk ruang rekonstruksinya.

Perdana menyebut belum jelas apakah pemasangan dan penempatan karpet itu sudah melalui proses verifikasi sejarah sebelum ruang itu dibuka untuk umum. Ia dan Asy Syahid mencatat bahwa kelonggaran artistik memang tak terhindarkan dalam setiap upaya rekonstruksi, tetapi detail seremeh posisi sehelai karpet, menurut keduanya, adalah jenis kekeliruan yang bisa saja menyesatkan pengunjung awam yang datang tanpa bekal referensi apa pun.

Bayangan Digital yang Ikut Menyamar

Karpet bukan satu-satunya benda yang menyamar di ruang itu. Di dinding yang sama tergantung sebuah gambar yang disodorkan seolah-olah lukisan lanskap konvensional, padahal setelah diamati dari dekat gambar itu ternyata adalah citra layar lipat Jepang atau byobu yang diubah ukurannya secara digital, dicetak, lalu dibingkai. Garis sambungan antarpanel layar lipat itu masih terlihat jelas di permukaan cetakannya, mengkhianati asal-usulnya sendiri. Dekorasi yang menurut kajian ini lebih pas dipasang di ruang tersebut sebenarnya adalah lukisan ekspor Tiongkok, mengingat pelukis Tiongkok sudah menguasai pasar lukisan Batavia sejak akhir abad ke-18. Seorang penulis Belanda bernama Josua van Jpern bahkan pernah menyebut nama salah satu pelukis itu dalam catatannya tahun 1782: Hokki.

Baca juga Patung Kayu Bali yang Menyeberang ke Osaka 1970

Kejanggalan serupa muncul lagi di titik lain pameran, kali ini di spot foto yang disediakan menjelang pintu keluar. Latar belakang spot foto itu, menurut pengamatan kedua peneliti, tampak dibuat dengan generator gambar kecerdasan buatan. Detail lilin, meja, dan bingkai cermin di latar itu menunjukkan bentuk yang tidak koheren, gambaran ukiran yang justru khas dihasilkan gambar buatan mesin. Padahal penyelenggara pameran sudah punya akses ke furnitur antik asli dan bisa memotretnya dalam resolusi tinggi; mengandalkan gambar buatan mesin untuk latar foto, menurut kajian ini, jadi terasa tidak perlu.

Rekonstruksi yang Berhenti di Pertanyaan

Masalah verifikasi yang sama muncul lagi di luar ruang rekonstruksi, di hall pertama pameran. Sebuah kursi neoklasik bergaya Raffles dari masa Interregnum Inggris (1811-1816) dan sebuah kursi neo-gotik koleksi pelukis Raden Saleh dari era pemerintahan kolonial Hindia Belanda (1861-1945) dijejerkan begitu saja dengan kursi-kursi era VOC dari abad ke-17 dan ke-18. Padahal, menurut kajian ini, kebanyakan furnitur yang dipamerkan bisa ditelusuri ke periode VOC, sebelum kongsi dagang itu bangkrut pada 1799. Dengan menjejerkan potongan dari rentang waktu yang jauh berbeda tanpa penanda kronologis yang jelas, pameran ini menegaskan bingkai masa kolonial yang serba longgar, satu payung besar yang menyamarkan perbedaan zaman alih-alih menjelaskannya.

Kejanggalan serupa juga muncul dalam klaim soal siapa yang membuat furnitur-furnitur itu. Pameran menyebut perajin Jawa turut menjadi tukang utama pembuatan furnitur di Batavia sejak awal kedatangan orang Eropa. Klaim ini, menurut kajian ini, justru bertentangan dengan sumber-sumber yang dikutip pameran itu sendiri, yang menyebutkan bahwa sepanjang era VOC orang Eropa lebih banyak mempekerjakan tukang kayu nonpribumi, terutama dari komunitas Tionghoa, untuk pekerjaan furnitur secara penuh waktu. Tukang Tionghoa dicari karena kemampuan mereka menyalin sedikit contoh furnitur Eropa yang dikirim ke Batavia sekaligus menambahkan sentuhan Asia pada rancangannya. Tukang kayu Jawa, sebaliknya, baru membangun tradisi furnitur yang berkembang pesat di tempat seperti Jepara pada periode setelah VOC bubar, dan kemungkinan hanya dilibatkan sebagai perajin hias di bawah pengawasan kepala tukang Tionghoa atau Eropa selama masa VOC.

Baca juga Rijsttafel, Meja Nasi yang Meniru Cara Bumiputera

Semua kejanggalan itu tidak mengurangi capaian besar pameran ini secara keseluruhan. Furnitur Bertutur berhasil menyajikan kekayaan furnitur gaya Indis dalam tata ruang yang menarik dan mudah dinikmati; katalog digital dwibahasanya, lengkap dengan foto resolusi tinggi dan daftar pustaka, disebut layak menjadi contoh bagi museum-museum lain di Indonesia. Pameran ini bahkan dianggap ikut melawan citra buram museum Indonesia sebagai bangunan kolonial yang tua, gelap, dan menyeramkan, karena gedung stadhuis tahun 1710 yang jadi lokasinya justru ditata terang dan profesional.

Tetapi capaian itu, menurut kajian ini, tidak menghapus tanggung jawab edukatif museum atas detail yang keliru. Banyak pengunjung domestik Kota Tua sudah lebih dulu meyakini kawasan itu otentik secara historis, meski penilaian pakar warisan dunia justru menyatakan sebaliknya. Dalam situasi seperti itu, kekeliruan kecil seperti karpet yang salah tempat bukan sekadar cacat produksi, melainkan kesempatan yang terlewat untuk mendidik publik secara akurat. Kajian ini menyarankan agar pameran-pameran serupa di masa depan melibatkan lebih banyak ahli arsitektur, interior, dan budaya material sezaman sejak tahap perancangan.

Perdana dan Asy Syahid sendiri mengakui batas kajian mereka. Keduanya menulis dari sudut pandang akademis semata, dan mengakui bahwa menilai pameran dari kacamata pengunjung awam atau menghimpun perspektif berbagai profesi lain kemungkinan akan menghasilkan temuan yang berbeda, sesuatu yang mereka sebut berada di luar jangkauan tulisan mereka kali ini.

Karpet itu, pada akhirnya, tetap terhampar di lantai ruang tamu tiruan itu sampai pameran ditutup pada 19 Januari 2025. Ia tidak pernah dipindahkan ke atas meja, dan mungkin tidak akan pernah ada pengunjung yang tahu bahwa di sanalah, sebenarnya, tempatnya berada.

Bagikan

Baca Juga

Kolam pancuran Pura Tirta Empul dengan deretan patirtan batu
Prasasti Manukaya dan Mata Air yang Tak Pernah Kering
Semangkuk sup daging panas khas Korea dalam mangkuk batu, ditaburi irisan daun bawang
Doenjang Jjigae dan Resep Terakhir Ibu Zauner
Potret studio sekelompok orang Jawa pada masa kolonial
Sepuluh Sen Melihat Orang Jawa di Osaka 1903
Dalang memainkan wayang kulit di depan kelir dalam sebuah pertunjukan
Kitsie Emerson dan Prinsip Diam di Atas Panggung
Bulan bersinar di balik lapisan awan tipis pada langit malam
Sinar Bulan yang Dingin dalam Puisi Meditasi
Deretan punggung buku berjajar rapat di sebuah rak
Tiga Novel Populer, Dua Arah Islam dalam Sastra