Cekricek.id — Sepuluh sen adalah harga tiket untuk masuk ke Jinruikan, Paviliun Manusia, di area Pameran Industri Nasional Kelima yang digelar Jepang di Osaka pada 1903. Di dalamnya, pengunjung berjalan melewati deretan rumah tradisional tiruan tempat orang-orang dari berbagai bangsa dipajang hidup-hidup: orang Jawa, orang Afrika, orang India, orang Turki, orang Melayu, orang Ainu dan Okinawa yang telah dijajah Jepang sendiri, hingga suku Han dan penduduk asli Taiwan. Bangunan-bangunan itu dibuat semirip mungkin dengan rumah asli mereka, seolah kehidupan sehari-hari sedang berlangsung di balik kaca pameran.
Tidak ada satu pun orang Jepang atau orang Barat yang ikut dipajang di dalam paviliun itu. Panitia pameran hanya menempatkan bangsa-bangsa yang, dalam kacamata mereka sendiri, dianggap primitif dan pantas ditonton.
Adegan ini direkam dalam penelitian Bryna Rizkinta, Khairana Zata Nugroho, Ahmad Fauzan Baihaqi, dan Fauzan Syahru Ramadhan dari Universitas Diponegoro, berjudul Dutch East Indies, Its People, and Japan at the 1903 Osaka Exhibition, dimuat di jurnal PURBAWIDYA Volume 15 Nomor 1 edisi Juni 2026, halaman 373 sampai 388.
Daftar Isi
Bagaimana Sebuah Pameran Industri di Osaka Berubah Menjadi Panggung Bangsa-Bangsa

Pameran ini adalah yang kelima dari rangkaian Pameran Industri Nasional yang digelar Jepang sejak era Meiji, dan yang terbesar dari semuanya. Berbeda dari empat pameran sebelumnya yang murni bersifat domestik, pameran di Osaka ini setengah internasional, mengundang partisipasi negara-negara lain, termasuk Hindia Belanda. Tujuannya jelas: menegaskan bahwa Jepang, yang baru saja menyusul kemajuan Barat, layak diperlakukan setara oleh dunia. Pameran ini menempati lahan seluas seratus ribu tsubo, tiga kali lebih luas dari pameran pertama di Tokyo pada 1877, dan berhasil menarik 4.350.693 pengunjung, termasuk 12.443 orang dari Eropa dan Amerika serta 8.677 orang dari Tiongkok dan Korea.
Baca juga Patung Kayu Bali yang Menyeberang ke Osaka 1970
Ini bukan pameran pertama yang digelar Jepang. Yang pertama berlangsung di Taman Ueno, Tokyo, pada 1877, digagas Menteri Dalam Negeri Okubo Toshimichi yang terinspirasi Pameran Wina 1873. Pameran pertama itu digelar di tengah Pemberontakan Satsuma, pemberontakan samurai yang biayanya menelan 42 juta yen, atau sekitar 80 persen anggaran tahunan pemerintah Jepang saat itu. Setelah itu, pameran serupa digelar lagi pada 1881 dan 1890 di Tokyo, lalu 1895 di Kyoto, sebelum akhirnya sampai ke Osaka pada 1903.
Panitia pameran bahkan salah hitung soal minat dunia internasional. Mereka semula hanya menyiapkan 300 tsubo, sekitar 685 meter persegi, untuk barang pameran dari luar negeri. Begitu barang-barang dari berbagai negara benar-benar tiba, ternyata dibutuhkan lebih dari 2.000 tsubo, jauh melampaui perkiraan awal.
Hindia Belanda diundang di tengah kegelisahan pemerintah kolonial Belanda sendiri terhadap kebangkitan Jepang. Sejak Perang Tiongkok-Jepang Pertama pada 1894-1895, Belanda mulai cemas akan tersaingi secara dagang oleh kekuatan kolonial yang lebih besar, sekaligus khawatir Jepang mengincar Papua Nugini di ujung timur wilayah kolonial mereka yang penjagaannya lemah. Kekhawatiran itu membuat Belanda pada 1899 memberi status hukum setara Eropa kepada orang Jepang, sebuah pengakuan yang lahir bukan dari rasa hormat, melainkan dari kecemasan.
Tiga Abad Persahabatan yang Membawa Produk dan Budaya Hindia Belanda ke Osaka
Hubungan Belanda dan Jepang jauh lebih tua dari pameran itu sendiri. Sejak awal abad ke-17, ketika Tokugawa Ieyasu mengusir orang Portugis pada 1639 karena kebijakan anti-Kristennya, Belanda menjadi satu-satunya bangsa Barat yang diizinkan berdagang dengan Jepang. Bahasa Belanda bahkan sempat menjadi bahasa pengantar bagi orang Jepang untuk berkomunikasi dengan negara-negara Barat lain, sebelum Jepang membuka diri seluas-luasnya setelah Restorasi Meiji pada 1868. Orang Jepang sendiri sudah bekerja untuk VOC sejak 1612, dan pada 1623 tercatat ada 130 orang Jepang bersenjata yang berkumpul di bawah naungan perusahaan dagang itu di Nusantara.
Baca juga Rijsttafel, Meja Nasi yang Meniru Cara Bumiputera
Panitia Hindia Belanda untuk Osaka dibentuk pada 2 Juli 1902, dipimpin E. G. Taylor dari Kamar Dagang dan Industri Batavia, dengan H. R. du Mosch, kepala firma Maintz & Co., ditunjuk mewakili panitia langsung di Jepang. Dalam katalognya, panitia menegaskan keikutsertaan itu bukan sekadar soal dagang, melainkan juga persahabatan tiga abad antara kedua bangsa. Barang yang dipamerkan meliputi kopi, gula, kina, nila, tembakau, teh, kopra, pala, lada, hingga batik, kris, songket, dan ukiran kayu dari Jepara yang berasal dari koleksi pribadi Gubernur Jenderal Rooseboom.
Kabar soal rencana pameran ini sudah tersiar di Hindia Belanda sejak awal 1902, setahun sebelum acara berlangsung. Pada Maret 1902, Kementerian Pertanian dan Perdagangan Jepang lewat konsulatnya di Amsterdam resmi mengundang Belanda, dengan alasan tambahan bahwa partisipasi itu akan mempererat hubungan kedua negara. Sebulan kemudian, Kamar Dagang dan Industri Batavia menerima surat edaran dari konsul Belanda di Jepang, mengajak para pedagang di Hindia Belanda ikut serta.
Sepuluh hari sejak pameran dibuka, produk kerajinan asli Hindia Belanda sudah banyak yang berlabel terjual, bahkan sempat dipuji pers Jepang sendiri. Orang Jepang tertarik pada kain batik dan selendang, kerajinan tembaga dari Gresik, perak filigree dari Padang, serta ukiran kayu dari Rembang dan Jepara.
Kategori barang bernama Native Industry, atau industri pribumi, di dalam pameran ini erat kaitannya dengan Vereeniging Oost en West, sebuah perhimpunan yang selama ini mempromosikan ekspor kerajinan pribumi Hindia Belanda. Alasan kemanusiaan dan perbaikan kondisi masyarakat menjadi dalih utama perhimpunan ini dalam mendukung industri pribumi, sebuah bingkai yang menutupi fakta bahwa 780 produk kerajinan yang mereka bawa ke Osaka, mulai dari batik Solo, kris, selendang, tempolong, hingga bokor dan vas, pada akhirnya tetap diperjualbelikan sebagai komoditas dagang.
Seorang Antropolog, Sebuah Kesunyian, dan Kecurigaan yang Tak Kunjung Reda
Tsuboi Shogoro, antropolog yang menyusun Paviliun Manusia itu sekaligus menuliskan laporannya di Jurnal Masyarakat Antropologi Tokyo, menyebut tujuannya semata menampilkan berbagai ras yang ada di dunia. Dari bagian Hindia Belanda sendiri, Tsuboi mencatat yang paling layak diperhatikan adalah patung kayu, figur penari, dan wadah sirih buatan orang Jawa, benda-benda yang di ruang pameran resmi disebut sebagai barang dagangan, tetapi di Paviliun Manusia justru berdiri berdampingan dengan manusia yang dipajang seperti benda.
Baca juga Bacaan Barat yang Menciptakan Timur yang Dijelaskannya
Jepang juga menggunakan sarana lain untuk menegaskan identitas modernnya. Sebuah surat kabar di Hindia Belanda menerjemahkan puisi berjudul Het Lied van Osaka, atau Lagu Osaka, yang aslinya memenangkan sayembara surat kabar Osaka Asahi Shimbun untuk merayakan pameran ini. Puisi itu memuji gumpalan asap yang membubung dari cerobong-cerobong pabrik sebagai lambang kemakmuran dan kejayaan kota Osaka, dan tindakan menerjemahkannya ke bahasa kolonial, menurut Rizkinta dan tim, menunjukkan kesediaan pers Hindia Belanda ikut menyebarkan citra kemodernan yang tengah dibangun Jepang sendiri.
Para peneliti dari Universitas Diponegoro membaca Paviliun Manusia ini lewat kerangka poskolonial, sebagai bentuk mimikri: Jepang meniru cara Barat memamerkan bangsa-bangsa jajahan untuk menegaskan dirinya setara dengan Eropa dan Amerika, sekaligus menempatkan diri lebih tinggi dari bangsa Asia lain. Semangat itu, menurut mereka, sejalan dengan datsu-a nyu-o, upaya Jepang melepaskan diri dari Asia dan menyejajarkan diri dengan Barat, sebuah semangat yang di baliknya tersembunyi rasa rendah diri yang sama besarnya.
H. R. du Mosch, wakil resmi Hindia Belanda yang menulis laporan panjang tentang pameran ini, sama sekali tidak menyinggung keberadaan orang Jawa di Paviliun Manusia, meski orang Jawa adalah kelompok etnis terbesar di koloni yang ia wakili. Tidak ada pula catatan mengenai identitas orang itu, baik nama maupun asal-usulnya, sebuah kekosongan yang oleh penelitian ini sendiri diakui sebagai batas dari sumber-sumber kolonial yang tersisa hingga kini. Kesunyian itu bukan hal aneh: memajang penduduk pribumi dalam pameran kolonial sudah menjadi kebiasaan lama di berbagai pameran dunia. Yang tidak biasa justru sebaliknya: kali ini yang memajang adalah sesama bangsa Asia.
Tidak lama setelah pameran usai, perang pecah antara Jepang dan Rusia, dan kekhawatiran Belanda terhadap ambisi Jepang kembali menyala. Sebagian pers Belanda menyebut kekhawatiran itu berlebihan, mengutip pendapat seorang pengusaha di Kyoto bahwa buruh Jepang malas, boros, dan tidak disiplin, narasi yang mirip persis dengan mitos pribumi pemalas yang selama itu dilekatkan Belanda sendiri pada penduduk Hindia Belanda. Beberapa bulan setelah perang berkecamuk, sebagian pers Belanda bahkan secara terbuka mengharapkan kekalahan Jepang, memakai istilah rasial het gele gevaar, bahaya kuning, karena takut pasar dunia dibanjiri produk-produk Jepang yang akan mematikan persaingan produk Eropa. Di ruang pamer yang sama tempat orang Jawa pernah berdiri sebagai tontonan, hierarki yang menempatkan bangsa lain di bawah terus berulang, hanya berpindah tangan siapa yang berdiri di atas panggung dan siapa yang berdiri di dalam kandang kaca.














