Nyai Retno Gumilang di Balik Nama Ratu Mas Malang

A A

Kompleks Makam Ratu Mas Malang di Gunung Kelir, Bantul. (Foto: Wikimedia Commons)

Cekricek.id — Sebuah makam abad ke-17 di lereng Gunung Sentana, Bantul, dan nama seorang bintang film Bollywood duduk berdampingan dalam satu kalimat yang diucapkan juru kunci makam itu. Yang pertama adalah tempat Ratu Mas Malang dikuburkan, permaisuri Amangkurat I yang direbut dari suaminya. Yang kedua adalah Kareena Kapoor, ukuran kecantikan yang dipakai sang juru kunci untuk menjelaskan rupa Ratu Malang kepada orang yang tidak pernah melihatnya.

Perjumpaan dua hal itu tercatat dalam kajian Alfi Nur Khoirunnisa, mahasiswa Magister Sastra Universitas Gadjah Mada, berjudul Objektifikasi Perempuan dalam Legenda Makam Ratu Mas Malang: Kajian Sastra Feminis. Artikel tersebut terbit di jurnal ARNAWA Volume 3 Nomor 2 tahun 2025. Datanya dikumpulkan lewat observasi lapangan dan wawancara di Pedukuhan Gunung Kelir, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sepanjang Maret dan April 2024.

Daftar Isi
  1. Raja yang Meminta dan Dalang yang Menolak
  2. Wajah yang Dipuji dan Rahim yang Diperhitungkan
  3. Satu Perempuan yang Mati dan Empat Puluh yang Dihukum
  4. Peziarah yang Percaya dan Tetangga yang Tidak Peduli

Raja yang Meminta dan Dalang yang Menolak

Deretan nisan batu di antara akar pohon di kompleks Makam Ratu Mas Malang
Nisan di kompleks Makam Ratu Mas Malang, Bantul. (Foto: Wikimedia Commons)

Dua tokoh berdiri di pangkal cerita ini. Yang satu Amangkurat I, bernama asli Raden Mas Sayidin, raja Mataram yang memerintah pada 1646–1677. Yang satu lagi Ki Dalang Mas, disebut juga Ki Panjang Mas, seorang dalang yang dipanggil bermain di keraton. Yang pertama menyandang gelar Sayidin Panatagama dan khalifatullah, dua sebutan keagamaan yang menurut kajian itu menempatkan raja sebagai pihak yang tidak dapat ditentang. Yang kedua hanya memiliki satu hal yang diinginkan raja, yaitu istrinya, seorang sinden.

Bapak Sarjito (50), juru kunci Makam Ratu Mas Malang sejak tahun 2000 dan pemegang mandat kekuncen generasi kelima, menuturkannya begitu saja kepada peneliti. “Awalnya ‘kan Ki Dalang Mas disuruh bermain di Keraton. Ketika tahu sindennya cantik, mau diminta (untuk diperistri). Ketika ditanya Amangkurat I, Ki Dalang menjawab bahwa itu adalah istrinya. Kemudian diminta oleh Amangkurat I, tapi tidak diizinkan oleh Ki Dalang Panjang. Selang beberapa hari lagi, dia disuruh bermain lagi di keraton, tetapi sebelum pertunjukkannya dimulai, semua pemain gamelan dan Ki Dalang diracun, hanya Ratu Malang yang tidak diracun,” kata Sarjito.

Dua permintaan, dua nasib. Yang pertama ditolak dengan sopan oleh sang suami. Yang kedua tidak pernah lagi diajukan kepada siapa pun karena orang yang berhak menolaknya sudah mati. Alfi membaca urutan itu sebagai penanda: keinginan raja tidak berhenti pada penolakan, ia hanya berpindah cara. Sementara keberatan Ratu Malang sendiri tidak pernah masuk hitungan. “Ratu Malang tahu bahwa dalang pembunuhan suaminya adalah Amangkurat I, tapi karena beliau seorang raja, maka dia terpaksa (mau dijadikan sebagai istrinya),” kata Sarjito.

Wajah yang Dipuji dan Rahim yang Diperhitungkan

Alasan Amangkurat I menginginkan Ratu Malang, menurut penuturan juru kunci, ada dua dan keduanya berada di luar kendali perempuan itu. Yang pertama wajahnya. Yang kedua kepercayaan bahwa ia membawa wahyu keraton, sehingga anak yang lahir darinya kelak akan naik takhta. “Amangkurat I ingin memperistri Ratu Malang karena kecantikannya, juga karena katanya, jika Ratu Malang melahirkan, maka anaknya itu yang akan naik tahta, karena Ratu Malang dikabarkan memiliki wahyu keraton,” kata Sarjito.

Baca juga Tambo, Kartini, dan Syarat Perempuan Masuk Sejarah

Yang pertama diukur dengan pembanding dari zaman yang sama sekali lain. “Beliau cantik sekali, seperti artis Bollywood Karina Kapoor. Pokoknya cantik sekali,” kata Pak Sarjito ketika diminta menggambarkan rupa Ratu Malang. Yang kedua diukur dengan cerita lain: Ken Dedes, yang juga dikisahkan membawa wahyu keprabon dan melahirkan raja-raja Singasari. Alfi memakai konsep male gaze atau tatapan laki-laki, yang diperkenalkan Laura Mulvey pada 1975, untuk membaca keduanya sebagai satu gerak yang sama.

Perhitungan itu tidak berdiri sendiri. Saat menginginkan Ratu Malang, kata Sarjito, Amangkurat I sudah memiliki empat puluh selir dan seorang permaisuri bernama Ratu Labuan. Merujuk Moedjanto (1987), artikel itu menyebut Mataram memakai sistem patrimonial yang bersandar pada garis keturunan, sehingga raja mengangkat dua permaisuri dan puluhan selir demi memperbesar trah. Selir juga dipakai untuk mengawasi gerak-gerik pemimpin di wilayah asalnya. Kecantikan dan kesuburan, dalam hitungan itu, sama-sama menjadi urusan negara.

Satu Perempuan yang Mati dan Empat Puluh yang Dihukum

Dua kematian menutup bagian tengah cerita ini, dan keduanya menimpa perempuan. Yang pertama Ratu Malang sendiri. Menurut Pak Sarjito, ia dibawa ke keraton dalam keadaan mengandung anak Ki Dalang Mas berusia dua bulan, hanya sebulan berada di sana sebelum diangkat menjadi permaisuri, dan sepanjang waktu itu menyimpan duka atas kematian suami serta para penggamel yang ikut diracun. “Dia tinggal di Keraton dengan menyimpan banyak kesedihan. Tidak mau makan, tidak mau minum. Lalu memilih bunuh diri dengan meminum racun,” katanya.

Baca juga Dua Umpak yang Mengubah Riwayat Candi Boyolangu

Yang kedua menimpa perempuan-perempuan lain di keraton yang sama. “Setelah Ratu Malang meninggal, para selirnya dipenjara di bawah tanah. 40 selirnya dipenjara di penjara bawah tanah di Keraton. Mereka dituduh (oleh Amangkurat I) telah meracuni Ratu Malang. Selama 40 hari, mereka tidak diberi makan dan minum. Tinggal satu yang masih hidup, itu pun akhirnya dibunuh pakai keris,” kata Sarjito. Tuduhan itu tidak pernah dibuktikan, dan tidak seorang pun dari mereka diberi kesempatan menjawab.

Angka lisan itu berbeda dari angka tertulis. Graaf (1987), yang dikutip dalam artikel tersebut, menyebut Amangkurat I memerintahkan penahanan empat puluh tiga selir tanpa diberi makan atau minum, ditambah sekitar tiga ratus lima puluh orang lain yang ikut kehilangan nyawa. Versi lisan menyebut empat puluh, versi tertulis empat puluh tiga. Artikel itu memuat keduanya berdampingan tanpa memilih salah satu sebagai yang benar.

Ada satu lagi yang hilang dari perempuan itu, dan bukan nyawa. Sebelum menjadi permaisuri, namanya Nyai Retno Gumilang atau Nyai Tuntrum. “Sebelum diangkat jadi ratunya Amangkurat I, beliau punya nama asli Nyai Retno Gumilang atau Nyai Tuntrum,” kata Sarjito. Kata “Mas” berasal dari suami pertamanya; “Malang” dan “Wetan” disematkan sesudah ia menjadi istri raja. Kata “malang” sendiri berarti menghalangi, julukan yang menurut penuturan itu justru diberikan para selir lain.

Alfi juga menghitung kata kerjanya. Dalam kutipan-kutipan yang ia kumpulkan, perempuan muncul sebagai sasaran tindakan: dikabarkan, diperistri, dibawa, diminta, dituduh, dibunuh. Laki-laki muncul sebagai pelakunya. Penutur ceritanya pun laki-laki, yaitu juru kunci yang menerima mandat dari ayah mertuanya dan menyatakan pernah didatangi Amangkurat I dalam mimpi. Sudut pandang cerita, tulis Alfi, memang tidak pernah berpindah ke pihak perempuannya.

Peziarah yang Percaya dan Tetangga yang Tidak Peduli

Dua kelompok pendengar cerita ini bersikap berlawanan. Yang pertama peziarah dari luar daerah. “Yang banyak (percaya) adalah para peziarah. Misalnya mereka meminta jabatan. Banyak juga yang minta agar auranya cantik, dan itu banyak yang berhasil,” kata Sarjito. Permintaan aura kecantikan itu, menurut keterangannya, muncul setiap tahun, dengan syarat membawa dupa atau menyan dan bunga setaman, serta larangan masuk makam bagi perempuan yang sedang menstruasi.

Baca juga Kerudung Gaya Minang di Majalah Soeara Aisjijah

Yang kedua warga di sekitar makam, dan mereka justru tidak lagi menoleh. “Kalau masyarakat sekitar udah gak peduli, mbak, karena mereka sudah hidup dekat dengan itu (makam),” kata Sarjito. Karena itu wawancara warga dipindahkan ke desa lain, yaitu Demangan Tegal, Jambidan, Banguntapan, Bantul, sekitar 1,6 kilometer dari lokasi makam. Tiga orang ditemui di sana pada April 2024.

Jawaban ketiganya bergerak ke dua arah sekaligus. Tri Lestari (48), warga Demangan Tegal, bertanya balik, “Kenapa ya, jika ada pemimpin (raja) yang buruk seperti itu, permasalahannya terletak pada wanita?” Sri Sulasmi (76) menjawab lebih pendek: “Cerita Ratu Malang itu sangat kasihan, dipaksa menikah dengan raja dengan cara suaminya dibunuh.” Iqbal Hidayat (28) menempuh arah lain: “Memang tidak bisa dihindari, salah satu kelemahan laki-laki adalah perempuan.”

Alfi membaca ketiganya sebagai satu gejala berkepala dua. Di satu sisi, pertanyaan Tri Lestari dan rasa iba Sri Sulasmi menunjukkan kesadaran bahwa cerita ini memang menempatkan perempuan sebagai objek. Di sisi lain, jawaban Iqbal Hidayat mengulang anggapan lama bahwa perempuan adalah kelemahan dan gangguan bagi laki-laki. Legenda yang sama, tulis artikel itu, sekaligus memperkuat stereotip dan membuka kesadaran terhadapnya.

Batas kajian ini perlu disebut. Penuturan utamanya datang dari satu orang, dan tanggapan warga dari tiga orang di satu desa yang bahkan bukan desa tempat makam berada — pemindahan itu dilakukan justru karena warga terdekat sudah tidak lagi peduli pada ceritanya. Kajian ini juga membaca cerita lisan, bukan memverifikasi peristiwa sejarah: versi Pak Sarjito menyebut Ratu Malang hanya sebulan berada di keraton, sedangkan Remmelink (2022) menuliskan versi yang menyebut ia sempat melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian disayangi Amangkurat I. Yang dianalisis adalah cara cerita itu dituturkan hari ini, bukan apa yang benar-benar terjadi pada abad ke-17.

Dua hal tetap berdiri berdampingan di lereng Gunung Sentana. Ada makam yang didatangi orang untuk meminta jabatan dan wajah yang menarik, dan ada cerita yang, ketika dibaca kalimat demi kalimat, memperlihatkan seorang perempuan kehilangan suami, nama, lalu nyawanya sendiri. Cerita itu diteruskan karena yang pertama, dan mulai dipersoalkan karena yang kedua. Keduanya sama-sama masih berjalan.

Bagikan

Baca Juga

Kartini bersama ayah dan tiga saudara perempuannya dalam potret lama
Tambo, Kartini, dan Syarat Perempuan Masuk Sejarah
Haluan bangkai Kapal Toshimaru mencuat dari perairan dangkal Pantai Sosol, Malifut, Halmahera Utara
Toshimaru di Pantai Sosol, Tinggal Enam Puluh Persen
Ilustrasi meriam besi tua berkarat di atas landasan batu dengan lubang sundut terlihat jelas, berlatar meriam perunggu berpatina hijau di atas kereta kayu jati di beranda gedung museum bergaya kolonial
Sembilan Belas Logo Kamar Dagang VOC di Meriam Kuno
Ilustrasi tanduk kerbau tua berwarna cokelat gelap yang permukaannya penuh goresan halus sejajar, terbaring di atas kain tenun lipat pada lantai papan rumah kayu, dengan jendela terbuka ke arah lembah hijau
Tanduk Kerbau Kerinci dan Dipati yang Diupah
Dua Umpak yang Mengubah Riwayat Candi Boyolangu
Dua Umpak yang Mengubah Riwayat Candi Boyolangu
Ilustrasi kampung pesisir berumah panggung beratap daun di tepi pantai pasir gelap dengan perahu bercadik berlayar pandan yang ditambatkan, berlatar hutan sagu dan kerucut gunung berapi berasap
Migrasi Orang Tobelo: Dari Talaga Lina ke Bacan dan Obi