Bank dan Perusahaan Energi Untung Besar dari Perang Iran

A A

Kilang minyak di Anacortes, Amerika Serikat. Ilustrasi. (Foto: Walter Siegmund/Wikimedia Commons, CC BY 2.5)

Cekricek.id — Enam bulan setelah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai, laporan keuangan kuartal kedua memperlihatkan pembagian yang tegas: perusahaan energi dan bank membukukan laba besar, sementara maskapai dan pabrikan mobil menanggung kerugian.

Saudi Aramco mencatat laba 33,4 miliar dolar Amerika Serikat, ExxonMobil 14,5 miliar dolar, dan Chevron 12 miliar dolar. Di Eropa, Shell membukukan 9,8 miliar dolar, TotalEnergies 6 miliar dolar, dan BP 5,73 miliar dolar.

Energi Bisa Menaikkan Harga

Analis senior Swissquote Bank, Ipek Ozkardeskaya, menjelaskan mengapa perusahaan energi Eropa bahkan melampaui pesaing mereka di Amerika Serikat.

“Perusahaan energi Eropa bahkan lebih baik daripada pesaing Amerika mereka karena mereka memperdagangkan minyak, dan itu juga membantu mendongkrak pendapatan mereka,” katanya.

Baca juga Perang Ekonomi AS ke Iran Uji Gencatan Dagang China

Menurut dia, kelangkaan pasokan tetap menjadi risiko. “Kekurangan pasokan memang tetap menjadi risiko bagi bisnis, tetapi energi itu kebutuhan pokok, dan perusahaan mampu menaikkan harga untuk menutup kehilangan pendapatan dan meraih untung darinya,” ujarnya.

Ongkos Perang Menuju Satu Triliun

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat menaksir biaya perang 37,5 miliar dolar pada Juli 2026. Angka itu dinilai jauh dari lengkap oleh dosen senior kebijakan publik di Harvard Kennedy School, Linda Bilmes.

“Ada biaya besar di setiap kategori, tetapi Pentagon hanya membicarakan biaya jangka pendek, sebagian besar amunisi yang dinilai dengan harga persediaan lama,” katanya.

“Analisis saya menunjukkan total biaya anggaran kemungkinan akan mencapai satu triliun dolar,” kata Bilmes.

Pesanan Industri Pertahanan

RTX Corporation memperoleh kontrak senilai 22,9 miliar dolar pada 17 Agustus 2026, sementara Lockheed Martin mengantongi 59 miliar dolar.

Baca juga Krisis BBM Rusia Merembet, Asia Tengah Panik Bensin

Pendiri sekaligus Direktur Utama Cordoba Advisory Partners, Rami Sarafa, memerinci apa yang paling dicari.

“Permintaan meningkat untuk pertahanan udara dan rudal, rudal pencegat, teknologi antidrone, sistem pengawasan dan intelijen, satelit, propulsi, hulu ledak, dan pengisian ulang amunisi,” katanya.

Perbandingan biayanya timpang: satu sistem Patriot berharga di atas satu miliar dolar dan setiap rudal pencegatnya sekitar empat juta dolar, sedangkan drone Shahed Iran ditaksir 20 ribu sampai 50 ribu dolar. “Ini pelajaran yang dipelajari Amerika Serikat dan Israel dengan cara yang pahit,” ujar Sarafa.

Pupuk, Pangan, dan Penerbangan

Pakar pasar energi di ING Research, Gerben Hieminga, mengingatkan dampak yang tidak langsung terlihat.

“Kawasan Teluk penting bukan hanya untuk minyak dan gas, tetapi juga untuk pupuk dan bahan bakunya,” katanya.

Baca juga Saudi Kaji Perluasan Petroline 2 Juta Barel per Hari

“Jika petani menanggapi harga tinggi dengan mengurangi pemakaian pupuk, dampak ekonominya bisa muncul berbulan-bulan kemudian lewat panen yang lebih rendah dan harga pangan yang lebih tinggi, dengan negara pengimpor yang rentan di Afrika dan Asia menanggung risiko terbesar,” ujar Hieminga.

Maskapai di Timur Tengah diperkirakan merugi 4,3 miliar dolar. Toyota menaksir biaya akibat konflik sebesar 4,3 miliar dolar, sementara laba Volkswagen turun hampir sepertiga.

Yang Diuntungkan dari Harga Tinggi

Guru besar kebijakan energi dan iklim di Universitas Oxford, Jan Rosenow, melihat arah lain yang ikut terdorong.

“Saya pikir perusahaan makin memperkirakan harga minyak dan gas akan tetap tinggi untuk waktu yang cukup lama,” katanya. Ia menambahkan, “Secara keseluruhan, ini seharusnya memperkuat pasar energi terbarukan.”

Empat bank besar Amerika Serikat — JPMorgan, Bank of America, Citigroup, dan Wells Fargo — membukukan laba gabungan 42,5 miliar dolar pada kuartal kedua. Laba HSBC naik 60 persen menjadi 10,1 miliar dolar.

Bagikan

Baca Juga

Kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat melintas di perairan Selat Hormuz
Iran Hantam Pangkalan AS di Yordania dan UEA Usai Serangan Larak
Kapal perang mengawal kapal tanker di laut
400 Kapal Terjebak, Iran Sebut Selat Hormuz Masih Ditutup
Deretan tangki penyimpanan minyak mentah dalam laporan tentang ancaman sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran.
Perang Ekonomi AS ke Iran Uji Gencatan Dagang China
Seorang pria membaca surat kabar Hamshahri yang memuat foto Presiden Donald Trump
Iran Peringatkan Negara Tetangga soal Sanksi AS
Presiden Iran Masoud Pezeshkian berdiri berdampingan dengan seorang pejabat militer
Pezeshkian: Saatnya Akhiri Perang Selagi Iran Kuat
Pompa angguk di ladang minyak Airankol, wilayah Atyrau, Kazakhstan
Brent Sentuh US$94,71, Tertinggi dalam Sebulan