Cekricek.id — Harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan akan ada pembalasan terhadap negara-negara yang menopang Iran. Kenaikan itu terjadi pada perdagangan Kamis waktu New York atau Jumat dini hari, 21 Agustus 2026, waktu Indonesia bagian barat, dikutip dari Reuters.
Kontrak berjangka minyak Brent naik US$1,94 atau 2,1 persen ke US$93,56 per barel pada pukul 13.49 waktu bagian timur Amerika Serikat. Itu merupakan harga tertinggi sejak 24 Juli 2026. Kontrak berjangka minyak mentah jenis West Texas Intermediate untuk pengiriman September menguat US$2,18 atau 2,5 persen ke US$88,01 per barel, juga level tertinggi sejak 24 Juli 2026.
Baca juga: AS Janjikan Sanksi Terberat ke Iran, China Diminta Ikut
Kontrak WTI September jatuh tempo pada hari yang sama. Kontrak WTI untuk pengiriman Oktober tercatat menguat 2,7 persen ke US$86,68 per barel.
Ancaman Trump dan Kebuntuan Diplomasi
Trump pada Rabu mengancam akan melancarkan “perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap Teheran. Ia memperingatkan adanya konsekuensi bagi negara mana pun yang memberi “segala bentuk tali penyelamat kepada Iran”.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan akan menggelar konferensi pers pada Senin “untuk membicarakan persisnya apa yang akan kami lakukan”. Ancaman itu memupus harapan tercapainya kesepakatan yang membuka penuh Selat Hormuz.
Baca juga: MoU AS-Iran Berakhir, Trump Minta Iran Menyerah
Perang yang dimulai hampir enam bulan lalu ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran telah menewaskan ribuan orang. Blokade Teheran atas Selat Hormuz dan serangan Iran terhadap fasilitas energi di berbagai titik di Timur Tengah membuat aliran minyak dan gas ke belahan dunia lain terganggu berat.
Pasokan Timur Tengah Menyempit
“Ketegangan di Timur Tengah tetap tinggi, sehingga masih terbuka ruang bagi gangguan pasokan lebih lanjut,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo. “Ekspor minyak yang lebih rendah dari Timur Tengah sekali lagi membuat pasar minyak makin ketat.”
Ancaman Trump terhadap negara-negara yang membantu Iran berpotensi menjadi topik sensitif dalam hubungan Amerika Serikat dengan Tiongkok, karena Tiongkok merupakan pengimpor terbesar minyak mentah Iran. Penilaian itu disampaikan analis energi StoneX, Alex Hodes.
Baca juga: AS Lumpuhkan Kapal Kargo Vela Nova, Iran Tetap Tolak Buka Selat Hormuz
Uni Emirat Arab pada awal pekan ini menghentikan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut. Langkah tersebut menyorot kembali hubungan yang tegang antara produsen minyak utama Arab di Teluk itu dan Teheran.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz pada Rabu tidak berubah dibanding hari sebelumnya dan masih jauh di bawah level sebelum perang. Sebelum perang Iran, pengapalan yang setara dengan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati jalur perairan tersebut.
Stok Bahan Bakar Sulingan Menyusut
Perang juga memukul pasokan bahan bakar hasil olahan dan menguras persediaan karena minyak mentah yang tersedia bagi kilang berkurang. Persediaan bahan bakar distilat Amerika Serikat, termasuk solar dan minyak pemanas, turun pekan lalu untuk pekan ketiga berturut-turut menurut Badan Informasi Energi Amerika Serikat pada Rabu. Sebaliknya, persediaan minyak mentah justru naik 4,4 juta barel di luar perkiraan.
Pada perdagangan Jumat di Asia, Brent sempat menyentuh puncak sebulan di US$94,71 per barel sebelum aksi ambil untung menekan harga. Brent kemudian tercatat melemah 0,7 persen ke US$93,12 per barel, tetapi masih menguat lebih dari 5 persen sepanjang pekan, sedangkan minyak mentah Amerika Serikat turun 0,7 persen ke US$86,18 per barel.
















