- Dengan batas itu, tercatat 236 peserta yang beralih dari tensi normal menjadi darah tinggi.
- Mereka yang memakainya sepuluh tahun atau lebih mempunyai rasio 1,42, atau 42 persen lebih tinggi.
- Ketiga jalur tadi dirangkum para penulis dari kajian lain, bukan diukur pada peserta di Shahrekord.
- Lama panggilan, waktu menatap layar, dan kebiasaan sebelum tidur tidak ikut dicatat.
Daftar Isi
Hipertensi insiden, kalau diterjemahkan ke bahasa sehari-hari, adalah tekanan darah tinggi yang baru muncul pada orang yang semula tensinya normal. Istilah itu menjadi kunci sebuah kajian di Shahrekord, Iran, yang mengikuti 7.490 orang dewasa pemilik telepon genggam dari tahun ke tahun. Pertanyaannya sederhana dan dekat dengan saku siapa pun: apakah lamanya seseorang memakai ponsel ikut menentukan siapa yang kelak terkena darah tinggi.
Jawabannya ditulis Vahid Khosravi, Ali Ahmadi, Azimeh Chaboki, Sepideh Tousizadeh, dan Samaneh Torkian dalam Long-term mobile use and incident hypertension: findings from the Shahrekord PERSIAN cohort study, BMC Public Health, tahun 2026. Naskahnya masih berstatus artikel dalam proses terbit, sehingga nomor volume belum tercantum. Kelima penulis bekerja di Shahrekord University of Medical Sciences, Iran.
Pesertanya orang dewasa berusia 35 sampai 70 tahun, dengan rata-rata 47,55 tahun, yang tinggal di kota Shahrekord dan desa-desa di Ardal, Provinsi Chaharmahal and Bakhtiari. Sedikit lebih dari separuhnya, yakni 52,7 persen, laki-laki. Sebanyak 71,9 persen tinggal di kota, 95 persen menikah, dan hampir separuh, 47 persen, beretnis Lor.
Semua peserta punya ponsel pribadi, tetapi umur kepemilikannya berbeda-beda. Sebanyak 1.011 orang atau 13,5 persen memakainya kurang dari lima tahun, dan 1.922 orang atau 25,7 persen sudah lima sampai sepuluh tahun. Sisanya, 4.557 orang, memakainya lebih dari sepuluh tahun. Artinya, kira-kira enam dari sepuluh peserta sudah lebih dari satu dasawarsa hidup bersama ponsel.
Hipertensi insiden: darah tinggi yang baru muncul
Kata insiden di sini berarti kejadian baru, bukan kasus lama yang terbawa. Karena itu, siapa pun yang sejak awal sudah bertekanan darah tinggi tidak diikutkan. Batas yang dipakai naskah jelas: tekanan sistolik, angka atas pada alat tensi, 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik, angka bawahnya, 90 mmHg atau lebih, atau sedang minum obat penurun tekanan darah.
Dengan batas itu, tercatat 236 peserta yang beralih dari tensi normal menjadi darah tinggi. Naskah menyatakannya sebagai 3,81 kasus per 1.000 orang-tahun, satuan yang menjumlahkan lama pengamatan seluruh peserta hingga mencapai 61.895,9 tahun. Maksudnya, bila seribu orang diikuti selama satu tahun, kira-kira empat di antaranya akan pulang dengan diagnosis baru.
Angka itu tampak kecil, dan memang begitulah wajah penyakit yang datang pelan. Yang dicari para penulis bukan besarnya angka itu sendiri. Mereka ingin tahu apakah empat orang tadi lebih sering berasal dari kelompok yang sudah lama memegang ponsel, atau tersebar merata di semua kelompok.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Rasio hazard: cara membandingkan laju risiko
Alat ukurnya bernama rasio hazard, yaitu perbandingan laju munculnya penyakit antara dua kelompok selama masa pemantauan. Angka satu berarti kedua kelompok setara. Pembandingnya adalah peserta yang memakai ponsel kurang dari lima tahun, dan hitungannya sudah menimbang usia, berat badan, depresi, kadar lemak darah, serta sejumlah faktor lain.
Hasilnya tidak merata. Peserta yang sudah memakai ponsel lima sampai sepuluh tahun mempunyai rasio hazard 1,60, atau laju risiko 60 persen lebih tinggi daripada kelompok pembanding. Mereka yang memakainya sepuluh tahun atau lebih mempunyai rasio 1,42, atau 42 persen lebih tinggi. Kedua angka itu dinyatakan bermakna secara statistik.
Bedanya begini. Angka 60 persen bukan berarti enam dari sepuluh pemakai lama akan terkena darah tinggi. Yang naik adalah laju relatifnya terhadap kelompok pembanding, sementara jumlah kasus barunya tetap 236 dari ribuan orang. Rentang ketidakpastiannya pun lebar: untuk kelompok lima sampai sepuluh tahun, nilainya terentang dari 1,05 sampai 2,43.
Ada satu hal yang mudah terlewat. Kelompok dengan pemakaian terlama justru tidak memegang angka tertinggi, sebab 1,42 lebih rendah daripada 1,60. Naskah tidak membahas selisih ini secara khusus. Dalam pembahasannya, para penulis menggabungkan keduanya menjadi satu pernyataan: pemakaian lebih dari lima tahun berkaitan dengan risiko darah tinggi yang lebih besar.
Temuan ini mereka sandingkan dengan UK Biobank, kajian terhadap 212.046 orang di Inggris yang dipantau 12 tahun. Di sana, pengguna ponsel juga lebih berisiko, dan risikonya menanjak seiring durasi panggilan mingguan. Arah sebaliknya pernah dilaporkan sebuah kajian sesaat pada orang berusia 50 tahun ke atas, yang menurut para penulis mungkin mencerminkan pengguna lanjut usia yang memang lebih sehat.
Mekanisme perilaku: kebiasaan, bukan gelombang
Ketika ponsel dikaitkan dengan penyakit, orang lazim langsung menunjuk radiasi. Naskah ini memberi jawaban yang lebih hati-hati. Sejumlah kajian, tulis para penulis, mempertanyakan apakah medan elektromagnetik frekuensi radio memang langsung memengaruhi pengaturan jantung dan pembuluh darah pada orang sehat.
“Bukti kumulatif dari kajian paparan jangka panjang menunjukkan bahwa mekanisme yang dominan bersifat perilaku dan sirkadian, bukan efek langsung medan elektromagnetik,” tulis Vahid Khosravi, Ali Ahmadi, Azimeh Chaboki, Sepideh Tousizadeh, dan Samaneh Torkian dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Torkian, penulis korespondensi, adalah asisten profesor epidemiologi, sedangkan Ahmadi profesor epidemiologi di kampus yang sama.
Perilaku yang dimaksud pertama-tama adalah duduk diam. Pemakaian ponsel yang lama, menurut naskah, melekat pada gaya hidup kurang gerak, yang mengurangi aliran darah ke tepi tubuh, mengganggu pengaturan metabolisme, dan menambah timbunan lemak. Para penulis mengutip satu ukuran yang mudah dibayangkan: setiap tambahan seribu langkah sehari menurunkan peluang respons tekanan darah yang tidak normal sebesar 38 persen.
Sirkadian, yakni irama tidur dan bangun tubuh, adalah jalur kedua. Menatap layar dalam cahaya redup menjelang tidur dapat menekan melatonin, hormon yang mengatur irama itu. Kadar melatonin yang turun berkaitan dengan tekanan darah malam yang tidak menurun sebagaimana mestinya. Jalur ketiga adalah tekanan batin karena terus-menerus terhubung, yang menurut naskah dapat menjaga sistem saraf tetap siaga selama bertahun-tahun.
Di sinilah penjelasan itu perlu diberi batas. Ketiga jalur tadi dirangkum para penulis dari kajian lain, bukan diukur pada peserta di Shahrekord. Yang ditanyakan kepada peserta hanyalah sudah berapa tahun mereka memakai ponsel. Lama panggilan, waktu menatap layar, dan kebiasaan sebelum tidur tidak ikut dicatat.
Baca juga Kurangi Garam, Tekanan Darah Tetap Naik, Ini Sebabnya
Faktor independen: yang tetap terlihat setelah disaring
Independen, dalam naskah ini, berarti hubungan yang masih tampak setelah faktor lain ikut dihitung. Ponsel bukan satu-satunya yang lolos saringan itu, dan bukan pula yang terkuat. Usia berada jauh di depan. Dibandingkan peserta berumur 35 sampai 45 tahun, rasio hazard kelompok 45 sampai 55 tahun mencapai 2,19 dan kelompok 55 sampai 65 tahun mencapai 3,00.
Pada kelompok tertua, 65 sampai 70 tahun, angkanya 5,10. Para penulis menerangkannya lewat pembuluh darah yang mengeras dan makin tidak lentur seiring umur. Obesitas, yakni indeks massa tubuh 30 atau lebih, membawa rasio 1,83. Hampir seperempat peserta, 23,3 persen, masuk golongan ini.
Dua faktor lain berdiri sejajar dengan ponsel. Trigliserida tinggi, yaitu lemak darah 150 mg/dL atau lebih, berasio 1,71 dan dialami 37,9 persen peserta. Depresi yang didiagnosis dokter berasio 1,62 dan tercatat pada 14,4 persen peserta. Menurut naskah, depresi mengaktifkan poros hormon stres sehingga denyut jantung dan tahanan pembuluh darah meningkat.
Etnis juga muncul. Peserta beretnis Fars berasio 3,13 dan Turk 2,88 terhadap kelompok etnis pembanding. Para penulis meminta angka ini dibaca hati-hati karena sebagian kelompok etnis berjumlah kecil. Sebaliknya, jenis kelamin, status bekerja, kekayaan rumah tangga, aktivitas fisik, diabetes, lama tidur, dan lama sekolah tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.
Satu hasil terdengar ganjil. Peserta yang mengaku tidak minum alkohol justru berasio 1,52 dibandingkan yang minum. Para penulis sendiri menolak membacanya sebagai manfaat alkohol. Konsumsi alkohol dilaporkan sendiri oleh peserta, dan norma budaya serta sosial di Iran membuat pengakuan itu cenderung kurang dari kenyataan. Mereka menegaskan tidak ada takaran alkohol yang dapat dianjurkan untuk mencegah penyakit jantung.
Perancu tersisa: hal yang belum terhitung
Perancu adalah faktor ketiga yang diam-diam berhubungan dengan dua hal sekaligus, sehingga keduanya tampak saling terkait. Perancu tersisa berarti faktor semacam itu yang tidak sempat dicatat. Naskah mengakui daftarnya: penyakit ginjal kronis, asupan natrium dan kalium dari makanan, obat penurun tekanan darah yang mulai diminum selama pemantauan, kerentanan genetik, dan rincian pola tidur.
Keterbatasan kedua menyangkut ponsel itu sendiri. Lama pemakaian hanya ditanyakan sekali, pada awal pemantauan, sehingga perubahan pola atau intensitas sesudahnya tidak terekam. Orang yang tidak memiliki ponsel juga tidak diikutkan. Menurut para penulis, hal itu dapat menimbulkan bias seleksi, dan rancangan satu pusat membatasi seberapa jauh hasilnya berlaku di tempat lain.
Karena itu, kata yang dipilih para penulis adalah berkaitan, bukan menyebabkan. Mereka menyebut pemakaian ponsel jangka panjang mungkin merupakan faktor risiko perilaku baru yang masih bisa diubah. Untuk memastikannya, mereka meminta kajian besar lain yang mengukur pemakaian ponsel berulang kali, bukan sekali di awal.
Baca juga Layar Sebelum Usia Dua Tahun Terkait Skor Kembang Rendah
Catatan naskah: angka yang belum seiring
Beberapa angka dalam naskah bisa diperiksa ulang oleh pembaca. Jumlah peserta disebut 7.490, tetapi dua baris trigliserida, 4.657 normal dan 2.837 tinggi, berjumlah 7.494. Kelompok pemakaian terlama ditulis lebih dari sepuluh tahun di satu bagian dan sepuluh tahun atau lebih di bagian lain. Satuan aktivitas fisik juga berganti antara jam dan menit per minggu.
Pada tabel hitungan awal, etnis Lor tercatat bernilai p 0,010 padahal rentangnya, 0,61 sampai 4,61, melewati angka satu. Etnis Fars bernilai p 0,193 padahal rentangnya, 1,36 sampai 9,94, tidak melewatinya. Kedua nilai itu tampak tertukar. Naskah ini memang versi yang belum disunting akhir, dan hal semacam itu wajar dirapikan sebelum terbit penuh.
Yang tersisa adalah batas istilah itu sendiri. Hipertensi insiden di Shahrekord menandai siapa yang baru terkena darah tinggi, dan lama pemakaian ponsel menandai sudah berapa tahun benda itu ada di saku. Di antara keduanya terbentang hubungan yang terukur, 60 dan 42 persen. Apa yang dilakukan orang dengan ponselnya selama tahun-tahun itu belum ikut terhitung.















