- 24 informan di Puskesmas Jatinangor: 8 pasien, 8 keluarga, 5 kader, 3 petugas PTM
- Lima tema hambatan: minim informasi, rasa aman semu, kurang dukungan keluarga, tradisi botram, ragu pada obat
- Tradisi makan bersama botram menyajikan ikan asin dan kerupuk yang tinggi garam
- Sebagian pasien menghindari periksa karena takut menemukan penyakit lain
Daftar Isi
Seorang ibu di Jatinangor sudah memasak dengan garam yang lebih sedikit sejak dirinya didiagnosis hipertensi. Ia yakin itu langkah yang benar, karena ibunya sendiri pernah mengalami hal serupa dan berhasil menurunkan tekanan darahnya dengan cara yang sama. Namun tekanan darahnya tetap naik, dan ia mulai menduga penyebabnya bukan lagi makanan, melainkan sesuatu yang lebih sulit dijelaskan: stres.
Kejanggalan semacam itu ditelusuri Andi Mayasari Usman, Cecep Eli Kosasih, Iqbal Pramukti, Yulia Sofiatin, dan Rian Adi Pamungkas dalam Exploring the social and behavioral barriers to hypertension self-care among indonesian adults: a qualitative study based on the theory of planned behavior, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2045, tahun 2026. Usman berafiliasi ke Universitas Padjadjaran dan Universitas Nasional, sedangkan Kosasih, Pramukti, dan Sofiatin berasal dari Universitas Padjadjaran, dan Pamungkas dari Universitas Esa Unggul.
Kurang Garam, Tetap Naik
Peneliti mewawancarai 24 informan di Puskesmas Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, terbagi dalam empat kelompok: delapan pasien hipertensi tak terkontrol, delapan anggota keluarga yang merawat mereka, lima kader kesehatan, dan tiga petugas program penyakit tidak menular. Kerangka yang dipakai adalah Theory of Planned Behavior, atau TPB, yang membaca perilaku lewat tiga hal: sikap, norma sosial di sekitar seseorang, dan seberapa besar ia merasa mampu mengendalikan perilakunya sendiri.
Dari sanalah kejanggalan tadi mulai terurai. Banyak pasien memang tahu bahwa garam berlebih memperburuk tekanan darah, tetapi pengetahuan itu berhenti di situ. Mereka tidak tahu makanan mana saja yang sebenarnya tinggi garam, atau bagaimana mengolah bahan agar tetap terasa enak tanpa menambah masako atau sasa. Satu informan bahkan mengira obat penambah darah berfungsi menaikkan tekanan darah, sehingga ia sengaja menghindarinya.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Tahu, Tetapi Tidak Yakin
Persoalannya bukan cuma soal informasi yang tidak sampai. Lima informan mengaku tidak konsisten minum obat atau mengikuti anjuran perawatan, dengan alasan yang beragam: keterbatasan biaya, tidak paham konsekuensi bila berhenti berobat, dan kebiasaan lingkungan yang sudah telanjur mengakar sejak lama. Sebagian yang lain justru menghindari pemeriksaan rutin bukan karena jauh atau mahal, melainkan karena takut menemukan penyakit lain. Ketakutan itu berputar menjadi lingkaran: mereka enggan diperiksa supaya tidak cemas, padahal menurut peneliti kecemasan akibat ketidaktahuan itu sendiri berpotensi menaikkan tekanan darah yang ingin mereka hindari.
“Lebih baik tidak tahu. Kalau tahu saya kena penyakit lain, saya jadi terlalu memikirkannya dan makin cemas. Lebih gampang tidak usah khawatir,” kata salah seorang pasien perempuan berusia 52 tahun kepada peneliti, sebagaimana dikutip dalam naskah aslinya yang berbahasa Inggris.
Rumah yang Menentukan Menu
Yang membuatnya rumit adalah rumah tangga sendiri tidak selalu sejalan dengan niat pasien. Delapan anggota keluarga yang diwawancarai mengaku belum tahu cara memasak makanan rendah garam yang tetap enak bagi seluruh anggota keluarga, sehingga menu harian tetap mengikuti selera mayoritas. Seorang ibu menceritakan bahwa suami dan anak-anaknya menyukai makanan asin, sehingga ia memasak sesuai selera mereka, bukan sesuai kebutuhan dirinya sendiri yang hipertensi.
Kader kesehatan yang mendampingi program di lapangan melihat pola yang sama dari sisi berbeda. Koordinator kader melihat masih ada peluang besar memperbaiki pemahaman warga tentang penyebab tekanan darah tidak terkendali, karena banyak yang menganggap obat saja cukup tanpa perlu mengubah gaya hidup. Jumlah kader dan petugas jauh lebih sedikit dibanding jumlah warga yang perlu didampingi, sehingga edukasi yang diberikan cenderung sepintas dan satu arah. Tujuh dari delapan pasien mengaku kesulitan mengakses layanan kesehatan karena jarak, biaya transportasi daring yang mahal, atau memilih memakai uangnya untuk kebutuhan makan.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Kenapa Kumpul Bareng Menyulitkan
Karena itu, kebiasaan berkumpul yang sebenarnya menyenangkan justru menjadi titik lemah dalam menjaga tekanan darah. Tradisi botram, makan bersama ala Sunda, menghadirkan lauk seperti ikan asin, gorengan, dan kerupuk, yang semuanya tinggi garam. Bukan acara berkumpulnya yang bermasalah, melainkan jenis makanan yang lazim disajikan di sana, dan suasana ramai itu sendiri cenderung menaikkan selera makan semua orang yang hadir.
Seorang pasien mengaku hampir tiap hari mengikuti botram dengan menu ikan asin dan tempe goreng, dan menduga kebiasaan itulah yang membuat tekanan darahnya sulit terkendali. Pasien lain bahkan menyebut dirinya mewarisi kesukaan pada ikan asin, terasi, dan sambal dari ibunya, yang juga mengidap hipertensi karena kegemaran yang sama. Kebiasaan makan di sini diwariskan seperti resep keluarga, bukan sekadar pilihan pribadi yang bisa diubah begitu saja.
Ragu pada Obat, Longgar pada Diri
Yang lebih sulit dijelaskan adalah keraguan pasien terhadap manfaat pengobatan itu sendiri. Sejumlah informan hanya minum obat ketika muncul gejala seperti sakit kepala, dan berhenti begitu gejala reda, tanpa menyadari tekanan darah tetap bisa tinggi meski tubuh terasa baik-baik saja. Ada pula yang rajin berolahraga dan mengurangi garam, tetapi tekanan darahnya tetap tinggi, sehingga ia menyimpulkan sendiri bahwa usahanya sia-sia dan lambat laun menjadi malas menjalankannya.
Para peneliti menyimpulkan pola ini dengan tegas dalam pembahasan mereka. “Miskonsepsi dan keraguan atas efektivitas pengobatan mencerminkan sikap negatif yang menurunkan niat dan kepatuhan pasien,” tulis Andi Mayasari Usman dan koleganya dalam naskah berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi misperceptions and doubts about treatment efficacy reflect negative attitude that reduce patients’ intentions and adherence.
Dalam pembahasannya, peneliti menyinggung satu elemen yang menurut mereka penting namun belum banyak dimanfaatkan program: pendampingan sesama penyintas. Pasien yang melihat langsung ada orang lain berhasil mengendalikan tekanan darahnya, kata peneliti, cenderung lebih percaya diri untuk mencoba cara yang sama, sedangkan yang ragu terhadap kemampuannya sendiri lebih mudah menyerah begitu usaha awal tidak langsung membuahkan hasil. Argumen ini menjelaskan mengapa edukasi satu arah dari petugas kesehatan saja belum cukup mengikis keraguan pasien terhadap pengobatan yang dijalaninya sehari-hari.
Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia
Di Mana Penjelasan Berhenti
Penjelasan ini berhenti pada satu batas yang diakui sendiri oleh peneliti: studi dilakukan hanya di satu wilayah semi-urban, sehingga hasilnya belum tentu berlaku di daerah dengan budaya atau akses layanan kesehatan yang berbeda. Data juga bersumber dari pengalaman yang diceritakan sendiri oleh informan, sehingga berpotensi dipengaruhi ingatan yang tidak lengkap atau kecenderungan menjawab sesuai harapan sosial, bukan gambaran objektif dari kondisi sebenarnya.
Yang Perlu Diperiksa Ulang
Ada pula kejanggalan kecil dalam naskah yang layak dicermati pembaca. Tabel kategori tema mencantumkan sub-tema untuk keraguan terhadap manfaat pengobatan dengan penomoran satu, dua, lalu langsung lima, sehingga nomor tiga dan empat hilang tanpa penjelasan. Judul kolom pada tabel informan juga menuliskan “Health Community Workers” padahal konteksnya jelas mengacu pada kader kesehatan masyarakat, kemungkinan urutan katanya tertukar saat penyusunan tabel.
Naskah juga menyebutkan seluruh wawancara direkam dalam bahasa Indonesia lalu diterjemahkan ke bahasa Inggris untuk dianalisis, tetapi kutipan yang ditampilkan hanya versi Inggrisnya. Tanpa transkrip asli yang dilampirkan, pembaca tidak punya cara memeriksa apakah nuansa ucapan informan, misalnya rasa takut atau keraguan yang halus, tetap terjaga setelah melewati proses penerjemahan tersebut. Peneliti sendiri mengakui telah membahas ulang setiap ketidaksesuaian hasil terjemahan secara internal, tetapi proses itu tidak dapat diverifikasi pembaca dari luar tim.
Jawaban atas kejanggalan pembuka tadi kini lebih jelas. Ibu yang sudah mengurangi garam itu tidak salah dalam satu hal, tetapi terjebak pada lima hal sekaligus: informasi yang setengah jalan, rasa takut memeriksakan diri, rumah tangga yang menu utamanya ditentukan selera bersama, tradisi berkumpul yang menyajikan makanan asin, dan keraguan pelan-pelan terhadap gunanya berobat. Tekanan darah yang tetap naik bukan berarti usahanya sia-sia, melainkan tanda bahwa satu perubahan pola makan saja tidak cukup melawan lima hambatan yang bekerja bersamaan, apalagi bila keempat hambatan lainnya tetap dibiarkan berjalan seperti biasa di sekelilingnya.














