- Petani Sedulur Sikep di Desa Wotan membuat pupuk dari kotoran sapi dan kerbau yang dicampur limbah dapur.
- Anak-anak Sikep tidak mengenyam pendidikan formal dan ikut bertani sejak sekitar usia tujuh tahun.
- Kini mereka menyewa lahan orang lain, memakai traktor dan selepan, serta mulai menggunakan pupuk kimia.
- Beras hasil pupuk kimia dijual sekitar Rp8.500 per kilogram, sedangkan beras organik dapat mencapai Rp13.000.
- Naskah tidak memuat bagian keterbatasan penelitian dan tidak menyebut jumlah informan.
Daftar Isi
Cekricek.id — Kotoran sapi dan kerbau dicampur dengan sisa limbah dapur, lalu didiamkan selama beberapa hari sebelum dipakai di sawah. Begitulah petani Sedulur Sikep di Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, membuat pupuk organik untuk lahan mereka.
Air bekas cucian beras diperlakukan serupa. Air itu diendapkan bersama limbah dapur dan dipakai sebagai pestisida untuk memberantas hama. Endapannya bukan milik satu keluarga. Air dan pupuk hasil endapan menjadi milik seluruh masyarakat Sikep di Desa Wotan, sehingga siapa pun yang membutuhkan boleh memakainya. “Endapan pestisida ini dapat bertahan sampai dua tahun tanpa pengawet buatan,” tulis Natsuwa Cindi Aulia.
Endapan itu kini tidak lagi menjadi satu-satunya bahan yang masuk ke sawah. Masyarakat Sedulur Sikep di Sukolilo, menurut catatan Natsuwa, mulai menerapkan sistem pertanian modern dengan bantuan bahan kimia. Pupuk kimia dan pestisida buatan sudah dipakai, dan alat pertanian konvensional berganti dengan peralatan modern. Pupuk organik tetap bertahan, tetapi hanya untuk sebagian lahan sawah.
Natsuwa Cindi Aulia berasal dari Jurusan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang. Catatannya dimuat dalam artikel Transformasi Budaya Bertani Masyarakat Sedulur Sikep Di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati di jurnal Solidarity Volume 12 Nomor 1 tahun 2023, halaman 212–219. Halaman depan naskah mencantumkan tanggal diterima, disetujui, dan dipublikasikan yang sama, yakni 29 Maret 2023.
Natsuwa ingin mengetahui sejauh mana transformasi budaya bertani terjadi di tengah masyarakat Sedulur Sikep. Ia memakai metode kualitatif dengan observasi partisipan dan wawancara mendalam. Informannya dibagi dua. Informan utama adalah warga Sikep yang masih melestarikan budaya bertani mereka, sedangkan informan pendukung adalah warga Desa Wotan yang mengetahui tentang Sedulur Sikep.
Desa Wotan dipilih karena di sanalah Sedulur Sikep berada. Data yang terkumpul diuji kredibilitasnya dengan triangulasi, lalu dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Wawancara yang dikutip dalam naskah bertanggal 29 Mei 2022, sama dengan tanggal pada keterangan dua foto hasil penelitian yang dimuat di dalamnya.
Anak Sikep turun ke sawah sejak usia tujuh tahun
Masyarakat Sedulur Sikep tersebar di beberapa kabupaten di Pulau Jawa, seperti Blora, Pati, dan Kudus. Warga di Sukolilo disebut masih melestarikan ajaran Saminisme, ajaran Samin Surosentiko yang pada awalnya muncul sebagai perlawanan terhadap pemerintah Kolonial Belanda yang semena-mena terhadap orang pribumi. Mereka lebih menyukai sebutan Sedulur Sikep karena kata Samin memiliki konotasi negatif di tengah masyarakat.
Ajaran hidup mereka sederhana. Gunarti, yang diwawancarai pada 29 Mei 2022, merumuskan tujuan hidup orang Sikep dalam bahasa Jawa: “nek Sikep niku tujuan urip e damai.” Naskah membacanya sebagai prinsip untuk hidup aman dan damai. Prinsip itu terlihat pada kehidupan sehari-hari mereka yang damai bersama warga non-Sikep di Sukolilo.
Sejak kecil mereka dididik untuk tidak mempunyai rasa iri terhadap orang lain, dan prinsip itu diterapkan turun-temurun dalam budaya bertani. Bagi masyarakat Sikep, bertani adalah pekerjaan mulia karena petani menyediakan sumber pangan bagi seluruh masyarakat. Menurut Gunarti, semua masyarakat Sedulur Sikep di Sukolilo bertani, dan kebiasaan itu dimulai sejak dini.
“nggih.. ke sawah itu ya sejak mereka bisa. Jadi misal mereka umur 7 tahun sudah bisa ke sawah ya akan ikut bertani,” tutur Gunarti. Anak-anak Sedulur Sikep tidak mengenyam pendidikan formal. Mereka bertani di ladang setiap hari, dari pagi hingga siang, lalu pulang ke pondok, sebutan bagi rumah mereka, saat sore dan malam hari.
Di pondok itulah pelajaran lain berlangsung. Anak-anak Sikep diajari unggah-ungguh berbahasa Jawa, aksara Jawa, ajaran Saminisme, serta budaya Jawa. Orang tua juga mengajarkan prinsip dan tujuan hidup yang sederhana. Dari pendidikan informal itu, tulis Natsuwa, terbentuk karakter yang sederhana, mencintai alam, dan tidak mudah iri, yang mendasari mata pencaharian utama mereka sebagai petani.
Baca juga Petani Porang Ngrayun Menanam Tanpa Menyebut Etika
Tata Nggauto mengatur kerja petani Sedulur Sikep
Di sawah, pekerjaan mereka punya aturan. Masyarakat Sikep memakai Tata Nggauto atau tata kerja, yang berisi aturan dalam melakukan pekerjaan mereka, yaitu bertani. Petani dianggap profesi dasar yang mulia untuk keseimbangan alam. “Alam merupakan representasi ibu bagi masyarakat Sedulur Sikep di Sukolilo Pati,” tulis Natsuwa. Ajaran itu diwariskan turun-temurun, dan kecintaan pada alam terepresentasi lewat budaya bertani.
Selain bertani, petani Sedulur Sikep di Sukolilo juga memelihara hewan ternak. Dari kandang itulah bahan pupuk berasal. Pupuk organik mereka dibuat dari limbah hewan dan tumbuhan, umumnya kotoran sapi dan kerbau yang dicampur sisa limbah dapur. Kotoran ternak itu tidak berhenti sebagai pupuk. Naskah mencatat mereka juga memiliki kemampuan mengolah limbah kotoran ternak menjadi biogas.
Pemanfaatan limbah itu, menurut Natsuwa, menjadi salah satu cara menjaga keseimbangan alam. Ia juga menulis bahwa hasil tani dari pupuk organik lebih sehat dikonsumsi dibandingkan hasil tani dari pupuk kimia. Naskah tidak menyertakan data pengukuran untuk perbandingan itu. Pada awalnya, sawah yang mereka olah adalah milik sendiri, dan tenaga kerbau serta sapi dipakai untuk membajaknya.
Baca juga Biogas Kotoran Sapi ITS Jadi Energi Dapur Warga Papua Barat
Sawah sewaan dan traktor menggantikan bajak kerbau
Menurut Natsuwa, budaya bertani itu berubah pada tiga dimensi, yaitu pengetahuan, aktivitas bertani, dan alat pertanian. Pada awalnya masyarakat Sikep di Pati adalah petani subsisten yang bertani untuk memenuhi kebutuhan pangan. Kegiatan itu dijalankan secara konvensional, di atas sawah sendiri, dengan tetap menjaga ekologi.
Tabel perbandingan dulu dan sekarang dalam naskah memperlihatkan pergeseran pada dimensi pertama. Sekarang petani Sedulur Sikep bertani tidak hanya untuk kebutuhan pangan, tetapi juga untuk kebutuhan sekunder dan tersier. Di kedua kolom tabel itu ada satu hal yang tidak berubah: mereka sudah bertani sejak kecil, dan bertani tetap menjadi mata pencaharian utama.
Aktivitas bertani ikut bergeser. Pertanian yang dijalankan petani Sedulur Sikep sekarang memakai lahan orang lain, yakni tanah yang mereka sewa. Pupuk kimia mulai dipakai, sementara dulu pupuknya adalah pupuk alami dari limbah tumbuhan dan hewan. Naskah tidak menjelaskan sejak kapan lahan sewaan itu digarap, berapa luasnya, atau dari siapa tanah itu disewa.

Perubahan yang paling mudah dilihat ada pada alat. Di sawah petani Sedulur Sikep, tenaga kerbau dan sapi berganti peralatan modern, seperti traktor dan selepan untuk menggiling padi. Pestisida buatan juga sudah dipakai. Natsuwa menyebut perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai penyebab transformasi pada ketiga dimensi itu, tetapi tidak merinci wawancara mana yang memperlihatkan hubungan tersebut.
Beras pupuk kimia dijual sekitar Rp8.500 per kilogram
“Namun, transformasi yang terjadi pada Masyarakat Sikep di Sukolilo, Pati tidak terjadi secara keseluruhan,” tulis Natsuwa. Petani Sedulur Sikep masih memakai pupuk organik untuk sebagian lahan sawahnya. Mereka juga tetap mempertahankan ajaran dan kearifan lokal dalam bertani sebagai mata pencaharian utama.
“Mereka masih percaya bahwa petani merupakan suatu profesi yang mulia dan representasi kecintaannya terhadap alam,” lanjut Natsuwa. Perubahan itu, menurut naskah, juga membawa dampak positif bagi ekonomi mereka. Hasil pertanian yang memakai pupuk kimia dijual karena menyesuaikan harga di pasaran.
Selisih harganya dicantumkan. Beras hasil pupuk kimia di pasaran berkisar sekitar Rp8.500 per kilogram, sedangkan beras hasil pupuk organik dapat mencapai Rp13.000 per kilogram. Uang dari penjualan itu dipakai petani Sedulur Sikep untuk membeli kebutuhan di luar kebutuhan pangan. Naskah tidak menyebut di pasar mana, pada tahun berapa, atau dari siapa angka harga itu diperoleh.
Naskah delapan halaman tanpa bagian keterbatasan
Naskah tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Jumlah informan utama maupun pendukung tidak disebutkan, begitu pula lama observasi partisipan di Desa Wotan. Hanya satu informan yang dikutip dengan nama, yaitu Gunarti, lewat dua tuturan dari wawancara 29 Mei 2022.
Beberapa keterangan juga tidak sejalan. Wawancara dan foto bertanggal Mei 2022, sementara tabel perbandingan diberi sumber analisis data primer 2023. Di tabel, kebutuhan yang kini dipenuhi disebut primer, tersier, dan sekunder, sedangkan uraian di bawahnya menyebut kebutuhan pangan, sekunder, dan tersier.
Baca juga Hutan Adat Tenganan, Delapan Larangan dan Lima Tingkat Sanksi
Abstrak dan pendahuluan pun memilih kata berbeda. Abstrak menulis bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat kearifan lokal mulai hilang eksistensinya, sedangkan pendahuluan menyebut beberapa aspek kearifan lokal mulai bertransformasi. Kesimpulan menyebut budaya bertani masyarakat Sedulur Sikep di Kabupaten Pati, padahal kerja lapangan yang dipaparkan hanya berlangsung di satu desa di Sukolilo.
Kotoran sapi dan kerbau yang dicampur limbah dapur itu masih didiamkan sebelum dipakai, tetapi kini hanya untuk sebagian lahan petani Sedulur Sikep. Di petak lain, pupuk kimia sudah dipakai. Hasil panen dari petak berpupuk kimia itulah yang dijual, dan uangnya dibelanjakan untuk kebutuhan selain pangan.













