- Dosis 2.000 gram per tanaman memberi tomat tinggi rata-rata 104,17 cm dan akar sepanjang 79,00 cm.
- Kotoran sapi menghasilkan volume akar 56,29 ml dan umur panen rata-rata 58,50, berbeda nyata dengan kotoran kambing.
- Kotoran kambing menghasilkan rata-rata 32,67 buah dan berat buah 1.360,58 gram per tanaman.
- Kesimpulan paper memilih kotoran sapi 2.000 gram, sementara tabel hasil panennya condong ke kotoran kambing.
Cekricek.id — Tanah berwarna kemerahan di banyak lahan Sumatra sekilas tampak siap ditanami, padahal tanah itu masam, kering, dan tergolong kurang subur. Di atas tanah semacam itu, dosis pupuk kandang yang diberikan ke setiap tanaman tomat ikut menentukan tinggi batang, panjang akar, sampai berat buah yang dipanen. Sebuah penelitian di Rokan Hilir, Riau, mengukur hubungan itu satu per satu.
Penelitian itu dikerjakan Meli Roslianti, Sari Susanti, dan Chusrin Irwansyah dari Program Studi Agroteknologi Institut Teknologi Rokan Hilir, bersama Sisi Nila Wati, mahasiswa program studi yang sama. Hasilnya terbit dengan judul Pengaruh Dosis Berbagai Jenis Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum) pada Tanah Podsolik Merah Kuning Rokan Hilir di Jagur Jurnal Agroteknologi Volume 7 Nomor 1, halaman 41–48, edisi April 2025.
Tujuan mereka adalah mencari dosis pupuk kandang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tomat pada tanah Podsolik Merah Kuning, yang dalam paper disingkat PMK. Dua jenis kotoran ternak dibandingkan, yakni pupuk kandang sapi dan pupuk kandang kambing, masing-masing dalam empat takaran: 500, 1.000, 1.500, dan 2.000 gram per tanaman. Hasilnya tidak bermuara pada satu jawaban, karena jenis pupuk yang unggul berganti menurut bagian tanaman yang diukur.
Daftar Isi
- Mengapa tanah merah membutuhkan bahan pembenah
- Cara dosis pupuk kandang diuji di Banjar XII
- Nitrogen dan akar yang memanjang mengikuti takaran
- Serat kotoran sapi dan volume akar yang membesar
- Pasokan hara yang mempercepat bunga dan panen
- Kotoran kambing yang cepat terurai menambah buah
- Di mana kesimpulan paper tidak bertemu tabelnya
Mengapa tanah merah membutuhkan bahan pembenah
Persoalannya berangkat dari tanah. Paper mencatat tanah PMK tersebar seluas 45.794.000 hektare, sekitar 25 persen daratan Indonesia, dengan sebaran terluas di Pulau Sumatra seluas 9.469.000 hektare. Para peneliti menggambarkannya sebagai tanah mineral tua berwarna kuning atau kemerahan yang bersifat masam dan kering. Kandungan bahan organiknya rendah, nutrisi makronya rendah, dan ketersediaan fosfornya sangat rendah, sehingga budidaya pertanian di atasnya perlu pemupukan.
Riau sendiri tercatat sebagai salah satu provinsi penghasil tomat. Produksinya 117 ton pada 2019, naik menjadi 158 ton pada 2020, dan 203 ton pada 2021, tetapi paper menilai angka itu masih rendah dibandingkan Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Karena itu, para peneliti menoleh ke pupuk organik, yang dalam uraian mereka dapat meningkatkan kesuburan tanah, mempertinggi kadar humus, memperbaiki struktur tanah, dan mendorong kehidupan mikroba pembusuk.
Pupuk organik, menurut paper, tidak hanya menyumbang unsur hara. Bahan itu juga membantu struktur tanah menjadi lebih longgar dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme di dalam tanah. Bagi tanah jenis ini, kebutuhan tersebut disebut sebagai syarat untuk memperbaiki tiga sifat tanah sekaligus. “Tanah PMK yang bereaksi masam, bahan organik rendah, KTK rendah dan miskin unsur hara membutuhkan bahan-bahan pembenah tanah untuk memperbaiki kondisi fisik, kimia dan biologi tanah,” tulis Meli Roslianti dan rekan-rekannya.
Cara dosis pupuk kandang diuji di Banjar XII
Percobaan berlangsung di Kelurahan Banjar XII, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir, dari Oktober 2024 sampai Januari 2025. Bahan yang tercatat meliputi benih tomat varietas Servo F1, polybag kecil berukuran 7x11 cm, polybag besar berukuran 40x50 cm, pupuk Urea, ZA, SP-36, dan KCl, serta insektisida dan fungisida. Alat yang dipakai antara lain ajir, lanjaran bambu, cangkul, gembor, sprayer, dan timbangan.
Rancangannya adalah rancangan acak lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama berupa jenis pupuk organik, yaitu kotoran sapi atau kotoran kambing. Faktor kedua berupa dosis pupuk kandang, dari 500 gram sampai 2.000 gram per tanaman dengan jarak 500 gram. Data pengamatan diuji dengan sidik ragam atau uji F, dan bila F hitung lebih besar dari F tabel, pengujian dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5 persen.
Cara membaca hasilnya bergantung pada satu ketentuan yang tertera di bawah setiap tabel paper: angka yang diikuti huruf kecil yang sama dinyatakan tidak berbeda nyata. Karena itu, sebuah takaran bisa mencetak rata-rata tertinggi tetapi secara statistik tidak terpisah dari takaran tepat di bawahnya. Pola ini muncul berulang kali pada pengamatan pertumbuhan, dan menjadi kunci untuk memahami mengapa dua takaran teratas sering berada dalam satu kelompok huruf.
Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen
Nitrogen dan akar yang memanjang mengikuti takaran
Tinggi tanaman diukur pada umur 9 minggu setelah tanam. Jenis pupuk tidak berinteraksi dengan dosis, dan yang berpengaruh nyata hanyalah dosis pupuk kandang. Tanaman yang menerima 2.000 gram per tanaman mencapai rata-rata 104,17 cm, disusul 1.500 gram dengan 98,17 cm, 1.000 gram dengan 89,50 cm, dan 500 gram dengan 88,67 cm. Takaran tertinggi tidak berbeda nyata dengan 1.500 gram, tetapi berbeda nyata dengan dua takaran terendah.
Paper menjelaskan jalannya lewat nitrogen. Pada fase vegetatif, tanaman membutuhkan banyak unsur hara, terutama unsur hara makro, dan nitrogen menjadi bagian integral penyusun klorofil untuk fotosintesis. Bila nitrogen cukup tersedia di dalam tanah, fotosintesis berjalan lancar, hasil fotosintesis meningkat, dan tinggi tanaman berkembang lebih cepat. Nitrogen juga disebut membantu pembentukan sel baru seperti daun dan cabang, serta mengganti sel yang rusak.
Panjang akar mengikuti pola yang serupa, dan lagi-lagi hanya dosis yang berpengaruh nyata. Dosis 2.000 gram menghasilkan akar rata-rata 79,00 cm, tidak berbeda nyata dengan 1.500 gram yang mencapai 75,17 cm, tetapi berbeda nyata dengan 1.000 gram (73,33 cm) dan 500 gram (69,33 cm). Penambahan bahan organik ke tanah PMK, tulis para peneliti, diharapkan membentuk struktur tanah yang gembur sehingga akar dapat menyerap unsur hara yang tersedia.
Yang membuat panjang akar penting adalah luas wilayah yang bisa dijangkaunya. Paper menguraikan bahwa akar memperkuat berdirinya tubuh tanaman, menyerap air dan unsur hara dari tanah, mengangkutnya ke bagian yang memerlukan, serta membantu pertukaran gas. Peningkatan panjang akar berarti memperluas daerah penyebaran akar, dan pada akar muda terdapat banyak rambut akar yang menambah luas permukaan penyerapan air.
Serat kotoran sapi dan volume akar yang membesar
Volume akar menjadi satu-satunya ukuran pertumbuhan yang dipengaruhi nyata oleh jenis pupuk maupun dosisnya, walau keduanya tetap tidak berinteraksi. Kotoran sapi menghasilkan volume akar rata-rata 56,29 ml, sedangkan kotoran kambing 46,25 ml, dan keduanya berbeda nyata. Dari sisi takaran, 2.000 gram per tanaman memberi 54,67 ml, tidak berbeda nyata dengan 1.500 gram (52,83 ml), tetapi berbeda nyata dengan 1.000 gram (51,17 ml) dan 500 gram (46,42 ml).

Penjelasan paper untuk selisih itu bertumpu pada serat. Di antara jenis pupuk kandang, kotoran sapi disebut memiliki kadar serat yang tinggi seperti selulosa. Bahan itu menyediakan unsur hara makro dan mikro, menggemburkan tanah, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan porositas serta komposisi mikroorganisme, dan memudahkan pertumbuhan akar. Karena itu, para peneliti menyebut kotoran sapi sebagai jenis pupuk organik yang paling efektif untuk meningkatkan volume akar tanaman tomat.
Pasokan hara yang mempercepat bunga dan panen
Pada umur berbunga, jenis pupuk dan dosis pupuk kandang berinteraksi nyata, satu-satunya pengamatan dalam paper yang menunjukkan interaksi seperti itu. Bunga paling cepat muncul pada kombinasi kotoran sapi 1.500 gram dan kotoran kambing 2.000 gram, keduanya rata-rata 27,33 hari. Angka kotoran sapi 1.500 gram itu tidak berbeda nyata dengan kotoran kambing 2.000 gram serta kotoran sapi 2.000, 1.000, dan 500 gram. Bunga paling lambat muncul pada kotoran kambing 1.000 gram, rata-rata 30,33 hari.
Kecepatan berbunga dijelaskan sebagai urusan pasokan. Menurut paper, ketersediaan unsur hara di dalam tanah berhubungan dengan suplai energi dan bahan pembangun untuk pembentukan serta perkembangan bunga. Tanaman yang mendapat unsur hara cukup dapat menyelesaikan siklus hidupnya lebih cepat, sedangkan tanaman yang kekurangan unsur hara memiliki siklus hidup lebih panjang. Kandungan nitrogen pada kotoran sapi dan kambing disebut dapat mempercepat peralihan dari fase vegetatif ke fase generatif atau berbunga.
Umur panen hanya dipengaruhi nyata oleh jenis pupuk. Pada tanaman berpupuk kotoran sapi, umur panen rata-rata tercatat 58,50, berbeda nyata dengan kotoran kambing yang tercatat 60,08; paper tidak mencantumkan satuan untuk angka umur panen. Interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata, dan rata-rata menurut dosis pupuk kandang hanya bergeser dari 59,67 pada 500 gram ke 59,00 pada 2.000 gram. Para peneliti mengaitkan selisih antarjenis itu dengan tingginya kandungan unsur hara makro pada kotoran sapi.
Paper mencantumkan kandungan kotoran sapi berupa nitrogen 0,01 persen, fosfor 0,28 persen, kalium 2,40 persen, dan rasio C/N 39,07, sedangkan kotoran kambing memuat fosfor 0,4 persen, nitrogen 0,7 persen, kalium 0,25 persen, dan rasio C/N 20–25. Unsur hara makro pada kotoran sapi disebut berfokus untuk buah. “Tercukupinya kandungan unsur hara pada pupuk kandang sapi menyebabkan pemasakan buah pada tanaman tomat lebih cepat,” tulis mereka.
Baca juga Pertanian Terapung Daha Selatan, Fosfornya Bertahan Empat Tahun
Kotoran kambing yang cepat terurai menambah buah
Pada hasil panen, arah keunggulan jenis pupuk berbalik. Kotoran kambing menghasilkan rata-rata 32,67 buah per tanaman, berbeda nyata dengan kotoran sapi yang menghasilkan 30,25 buah. Dosis juga berpengaruh nyata, dan keempat takaran terpisah satu sama lain: 26,00 buah pada 500 gram, 30,50 pada 1.000 gram, 33,33 pada 1.500 gram, dan 36,00 pada 2.000 gram. Kombinasi dengan jumlah buah tertinggi adalah kotoran kambing 2.000 gram, yaitu 37,00 buah.
Paper membaca kenaikan itu sebagai soal hara yang tersedia. Dengan bertambahnya dosis pupuk kandang, jumlah unsur hara ikut meningkat, sehingga unsur hara yang dibutuhkan tanaman tersedia di dalam tanah. Untuk jenis pupuk, penjelasannya lebih spesifik dan menyangkut kecepatan bahan itu terurai. “Hal ini menunjukkan bahwa tanaman tomat mampu memanfaatkan pupuk kandang kambing dengan baik dikarenakan pupuk kandang kambing bisa terurai dengan cepat sehingga unsur hara tersedia,” tulis Roslianti, Susanti, Irwansyah, dan Wati.
Berat buah per tanaman mengikuti arah yang sama. Kotoran kambing memberi rata-rata 1.360,58 gram, berbeda nyata dengan kotoran sapi yang memberi 1.194,58 gram. Menurut takaran, 2.000 gram per tanaman menghasilkan 1.811,67 gram buah, disusul 1.500 gram dengan 1.473,00 gram, 1.000 gram dengan 1.104,17 gram, dan 500 gram dengan 721,50 gram. Kombinasi kotoran kambing 2.000 gram mencatat angka tertinggi di tabel, yaitu 1.861,67 gram.
Para peneliti menjelaskan bahwa unsur hara dari dosis 2.000 gram per tanaman pada media PMK dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman untuk fase generatif. Makin tinggi takaran pupuk organik yang diberikan, makin tinggi pula berat buah tomat. Berat itu juga dikaitkan dengan jumlah buah, karena paper menyebut makin banyak buah yang dihasilkan, makin tinggi berat buah per tanaman. Jumlah dan berat buah, dengan demikian, sama-sama naik mengikuti dosis pupuk kandang.
Baca juga Hawar Daun Padi Ditahan Bakteri dari Laut Pasir Bromo
Di mana kesimpulan paper tidak bertemu tabelnya
Penjelasan itu tersendat di bagian kesimpulan. Dari tujuh pengamatan, kotoran kambing unggul nyata pada jumlah dan berat buah, sedangkan kotoran sapi unggul nyata pada volume akar dan umur panen. Dalam pembahasan tanah PMK, para peneliti juga menulis bahwa pertumbuhan dan hasil tomat dengan kotoran kambing menunjukkan hasil yang baik. Kesimpulan mereka berbunyi lain: “Pemberian pupuk kandang sapi dengan dosis 2000 g/tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman tomat pada tanah Podsolik Merah Kuning (PMK).”
Ada ketidakcocokan lain di dalam naskah. Pada tabel berat buah, takaran 500 gram (721,50 gram) dan 1.000 gram (1.104,17 gram) sama-sama diberi huruf c, padahal selisih keduanya melampaui nilai BNJ dosis yang tercantum, yakni 94,00. Abstrak menyebut kotoran sapi berpengaruh nyata pada umur berbunga, sementara bagian hasil menyebut pengaruh itu berupa interaksi. Kalimat pengantar tabel umur berbunga justru menyebut umur panen, dan satu paragraf pembahasan tinggi tanaman tercetak dua kali.
Paper tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Dari uraian metodenya, percobaan dilakukan di satu kelurahan selama Oktober 2024 hingga Januari 2025, dengan tanaman di dalam polybag. Jumlah ulangan tiap perlakuan tidak disebutkan, dan tidak ada perlakuan tanpa pupuk kandang sebagai pembanding, karena dosis pupuk kandang terendah yang diuji adalah 500 gram per tanaman. Kesimpulan paper pun hanya menyarankan pemakaian pupuk organik dengan dosis yang sesuai, khususnya pupuk kandang.
Tanah kemerahan yang masam itu, dengan demikian, merespons dosis pupuk kandang, dan responsnya paling jelas pada takaran terbesar: batang lebih tinggi, akar lebih panjang, buah lebih banyak dan lebih berat. Yang belum dijawab tuntas oleh paper adalah kotoran ternak mana yang pantas direkomendasikan, sebab tabel hasil panennya condong ke kambing, sementara kesimpulannya memilih sapi.















