Virus Melon Bengkulu, 60 Sampel Positif Tiga Virus Sekaligus

A A

Ilustrasi dua buah melon berkulit jala tumbuh di antara dedaunan di kebun. [Foto: Pexels]

  • Seluruh 60 sampel daun melon bergejala dari tiga desa di Bengkulu positif CMV, TMV, dan PRSV sekaligus.
  • Kejadian penyakit tertinggi 73,3 persen pada Snow & Rock berumur 63 hari di Kandang Limun.
  • Angka terendah 29 persen tercatat pada Merlin F1 berumur 40 hari di Air Sebakul.
  • Para penulis menilai gejala lapangan tidak dapat dibedakan secara andal hanya lewat diagnosis visual.

Cekricek.id — Seratus persen sampel daun melon bergejala dari tiga desa di Bengkulu positif membawa tiga virus sekaligus. Tidak satu sampel pun terinfeksi hanya oleh satu virus. Angka itu datang dari penelitian virus melon Bengkulu yang memeriksa 60 sampel daun, masing-masing 20 dari tiap desa.

Ketiga virus itu adalah Cucumber mosaic virus (CMV), Tobacco mosaic virus (TMV), dan Papaya ringspot virus (PRSV). Seluruh sampel diuji di Laboratorium Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Para peneliti menyebut hasil ini laporan pertama infeksi campuran virus pada melon di Provinsi Bengkulu.

Penelitian ditulis enam orang dari Program Studi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Mereka adalah Mimi Sutrawati, Hendri Bustamam, Sempurna Br. Ginting, Ratna Nabila Pradita, Ella Mustika, dan Ewa Aulia. Sutrawati tercatat sebagai ketua tim yang menyusun rencana penelitian dan menulis naskah.

Judulnya First Detection of Major Viruses Causing Mixed Infections in Melon (Cucumis melo L.) in Bengkulu Province, Indonesia. Artikel itu dimuat JPT: Jurnal Proteksi Tanaman Volume 9 Nomor 2 tahun 2025, halaman 108–118. Naskahnya diterima 4 Juli 2025, direvisi 29 September 2025, dan terbit 31 Desember 2025.

Daftar Isi
  1. Tiga Desa, 60 Sampel Daun
  2. 73,3 Persen Tanaman Bergejala di Kandang Limun
  3. Lima Gejala yang Tumpang Tindih
  4. Tiga Antiserum dalam Uji DIBA
  5. 100 Persen Sampel Positif Virus Melon Bengkulu
  6. Lebih dari 90 Spesies Virus pada Labu-labuan
  7. Yang Tidak Diukur dari 60 Sampel

Tiga Desa, 60 Sampel Daun

Lokasi pertama Desa Kandang Limun, Kota Bengkulu, pada ketinggian 80 meter di atas permukaan laut. Lokasi kedua Desa Air Sebakul, Kabupaten Bengkulu Tengah, hanya 15 meter. Lokasi ketiga Desa Tawang Rejo, Kabupaten Seluma, pada 50 meter di atas permukaan laut.

Dari masing-masing desa dipetik 20 daun bergejala. Pengambilan sampelnya purposif, artinya hanya daun dengan gejala mirip infeksi virus yang diambil. Gejala yang dijadikan patokan ada lima, yaitu mosaik, pita tulang daun, penjernihan tulang daun, daun cacat, dan tanaman kerdil.

Dua varietas tercatat di ketiga desa itu. Snow & Rock ditanam di Kandang Limun, sedangkan Merlin F1 ditanam di Air Sebakul dan Tawang Rejo. Menurut paper, pertanaman melon di Bengkulu berkembang cepat beberapa tahun terakhir, baik di rumah jaring maupun di lahan terbuka.

Baca juga Mikoriza lokal menekan kutu kebul pada cabai Kopay

73,3 Persen Tanaman Bergejala di Kandang Limun

Kejadian penyakit tertinggi tercatat pada Snow & Rock di Kandang Limun, yaitu 73,3 persen. Tanaman di sana berumur 63 hari setelah tanam, paling tua di antara ketiga lokasi. Angka terendah 29 persen, pada Merlin F1 berumur 40 hari di Air Sebakul.

Tawang Rejo berada di tengah dengan 64 persen. Varietasnya sama dengan Air Sebakul, yaitu Merlin F1, tetapi umurnya lebih tua, 57 hari setelah tanam. Selisih umur 17 hari antara kedua desa itu dibarengi selisih kejadian penyakit 35 poin persentase.

Urutan umurnya 40, 57, lalu 63 hari. Urutan kejadian penyakitnya 29, 64, lalu 73,3 persen. Para penulis mencatat kejadian penyakit cenderung naik seiring umur tanaman, dan menduga tekanan infeksi menumpuk sementara gejala makin tampak dari waktu ke waktu.

Kejadian penyakit dihitung dari jumlah sampel bergejala dibagi jumlah sampel yang diamati, dikali 100 persen. Rumus itu dicantumkan sebagai persamaan pertama di bagian metode. Paper menilai perbedaan varietas dan umur memengaruhi keparahan gejala, bukan menunjukkan ketahanan mutlak terhadap virus.

Lima Gejala yang Tumpang Tindih

Gejala virus melon Bengkulu yang paling sering dijumpai di ketiga lokasi adalah mosaik. Empat gejala lain menyertainya, yaitu pita tulang daun, klorosis, daun menggulung, dan pertumbuhan terhambat. Gambar kedua paper memperlihatkan empat variasinya, dari mosaik dengan pita tulang daun sampai mosaik dengan daun kecil.

Tingkat keparahannya tidak sama. Sebagian daun hanya bergejala ringan sampai sedang, sementara tanaman lain memperlihatkan helai daun menebal, sangat keriting, dan ukuran daun menyusut. Menurut para penulis, perubahan bentuk dan menyusutnya luas daun menandakan gangguan fisiologis yang dapat menurunkan fotosintesis dan produktivitas.

Pengamatan lapangan juga mencatat buah kecil dan cacat bentuk pada tanaman bergejala. Buah seperti itu, menurut paper, tidak laku dijual dan menimbulkan kerugian ekonomi besar bagi petani. Kombinasi gejala yang rumit lebih sering dikaitkan penulis dengan infeksi campuran ketimbang satu virus tunggal.

Gejala kerdil, tulis para penulis, menandakan infeksi kemungkinan dimulai pada fase vegetatif awal. Masa itu memberi cukup waktu bagi virus menyebar ke seluruh tanaman dan memunculkan gejala. Ketiga virus yang diuji pun, menurut paper, sama-sama dapat memunculkan pola mosaik pada tanaman labu-labuan.

Tiga Antiserum dalam Uji DIBA

Deteksi virus melon Bengkulu memakai Dot Immunobinding Assay atau DIBA, dengan antiserum khusus untuk tiga virus sasaran. Daun digerus dalam larutan penyangga Tris dengan perbandingan 1 banding 10. Sekitar 5 mikroliter ekstraknya diteteskan ke membran nitroselulosa, lalu dikeringkan pada suhu ruang.

Membran kemudian direndam larutan pemblokir selama 2 jam pada 50 putaran per menit. Larutan itu berisi 2 persen susu tanpa lemak dan 2 persen Triton X-100. Sesudahnya membran dicuci lima kali dengan air bebas ion, masing-masing selama 5 menit.

Untuk PRSV, membran direndam konjugat enzim berpengenceran 1:1.000 pada suhu 4 derajat Celsius selama 24 jam. Untuk CMV dan TMV, dipakai antibodi primer lalu konjugat enzim, masing-masing selama 2 jam. Tahap akhir memakai substrat NBT dan BCIP selama 10 sampai 30 menit.

Reaksi positif ditandai warna ungu tepat di titik tetesan sampel pada membran. Daun tanaman sehat dipakai sebagai kontrol negatif, dan pada kontrol itu tidak muncul perubahan warna sama sekali. Menurut paper, DIBA sudah banyak dipakai untuk mendeteksi virus pada tanaman labu-labuan.

Baca juga Varietas cabai lokal Sumatera Barat yang paling tahan lalat buah

100 Persen Sampel Positif Virus Melon Bengkulu

Hasilnya seragam. Seluruh sampel bergejala dari ketiga lokasi positif PRSV, CMV, dan TMV, masing-masing 100 persen dalam Tabel 1 paper. Artinya, ke-60 tanaman terinfeksi tiga virus bersamaan, dan infeksi campuran virus melon Bengkulu itu muncul di semua lokasi serta kedua varietas.

Angka visualnya berkisar 29 sampai 73,3 persen, tetapi hasil laboratoriumnya tidak berbeda sama sekali. Para penulis menilai munculnya gejala bergantung pada umur tanaman, intensitas infeksi, dan respons tanaman inang. Kejadian lebih rendah pada tanaman berumur 40 hari bisa menandakan infeksi laten atau gejala yang belum berkembang.

“Gejala lapangan yang tumpang tindih dan beragam tidak dapat dikaitkan dengan satu virus,” tulis Sutrawati dan rekan-rekannya. Gejala itu, lanjut mereka, juga tidak dapat dibedakan secara andal hanya lewat diagnosis visual. Menurut mereka, budidaya melon di tiga lokasi itu berada dalam keadaan epidemiologis yang mendukung virus bertahan dan beredar.

Infeksi campuran, tulis para penulis, dapat memperparah gejala karena interaksi sinergis antarvirus. Sinergi itu bisa muncul dari tertekannya pertahanan tanaman atau meningkatnya replikasi virus yang menginfeksi bersamaan. Pengelolaan yang hanya bersandar pada gejala, menurut mereka, berisiko salah diagnosis dan tidak efektif.

Lebih dari 90 Spesies Virus pada Labu-labuan

Paper mencatat lebih dari 90 spesies virus diketahui menginfeksi tanaman famili Cucurbitaceae secara alami di lapangan. Famili itu mencakup sekitar 975 spesies dalam 98 genus, termasuk melon, mentimun, semangka, labu, dan pare. Virus pada tanaman ini, tulis penulis, ditularkan secara efisien oleh serangga vektor.

Penularan lewat vektor membuat penyakit menyebar cepat, lalu hasil dan mutu buah turun cukup besar. Sampai kini, menurut paper, belum tersedia cara kuratif yang efektif untuk penyakit virus pada melon. Karena itu, deteksi dini dan pengelolaan pencegahan dinilai penting.

Virus yang menyerang satu jenis labu-labuan juga berpotensi menyerang jenis lain, karena vektornya sama dan lahannya berdekatan. Para penulis berharap 60 hasil uji ini menjadi data dasar pola infeksi virus melon Bengkulu. Data itu diperlukan untuk menyusun pengendalian yang sesuai lokasi.

Penelitian didanai hibah Penelitian Unggulan Batch I nomor 1988/UN30.15/PP/2022 tertanggal 20 Juni 2022. Hibah itu berasal dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Bengkulu. Keenam penulis menyatakan tidak memiliki konflik kepentingan finansial maupun pribadi dalam penelitian ini.

Baca juga Bakteri dari Laut Pasir Bromo untuk hawar daun padi

Yang Tidak Diukur dari 60 Sampel

DIBA adalah metode kualitatif. Para penulis sendiri mencatat metode ini tidak mengukur konsentrasi virus. Angka 100 persen untuk virus melon Bengkulu karena itu belum menunjukkan seberapa banyak virus di tiap daun. Seluruh 60 sampel juga dipilih karena bergejala, sehingga tidak ada tanaman tanpa gejala yang ikut diuji selain kontrol sehat.

Redaksi mencatat beberapa kejanggalan naskah. Paper tidak menyebut kapan survei lapangan dilakukan; yang tercantum hanya tanggal hibah 20 Juni 2022, sedangkan naskah diterima jurnal 4 Juli 2025. Rumus kejadian penyakit membagi sampel bergejala dengan sampel diamati, padahal ke-20 sampel per desa semuanya bergejala.

Paper tidak menjelaskan dari berapa tanaman angka 29, 64, dan 73,3 persen dihitung. Tahun rujukan prosedur DIBA ditulis 2007 di bagian metode, tetapi 1997 di daftar pustaka. Keterangan Gambar 3 hanya memberi huruf A dan B, sedangkan panel ketiga untuk TMV disebut tanpa huruf.

Angka tertinggi yang dicatat paper tetap 73,3 persen di Kandang Limun. Berapa kilogram panen yang hilang akibat tiga virus itu tidak diukur dalam penelitian ini.

Bagikan

Baca Juga

Pulau Enggano, 64 Jenis Hewan dan Penyu Hijau di Urutan Teratas
Satu Pohon Aren di Talamau Mengalirkan 37 Liter Nira Sehari
Telur Ulat Grayak di Jagung Gorontalo 92 Persen Diparasit
Subsidi Pupuk Menaikkan Produksi Padi, Bukan Laba Petani
Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen
Enggano, Pulau yang Baru Mengenal Beras pada Zaman Jepang