Cekricek.id — Pertanyaan itu diajukan kepada sesuatu yang tidak mungkin menjawab. Dalam salah satu tuturan yang dicatat sebuah kajian bahasa dari novel O karya Eka Kurniawan, seorang tokoh berkata: “Jika kau harus memilih, Sobat, dengan cara apa kau ingin mati?” Sapaan itu tidak ditujukan kepada manusia. Menurut catatan kajian tersebut, ia ditujukan kepada sebuah revolver.
Yang tertinggal di kepala bukan pertanyaannya, melainkan sapaannya. Orang memilih kata sobat ketika merasa sejajar sekaligus dekat. Dipakai kepada benda, kata itu memindahkan si benda ke kursi seorang kawan, dan sejak saat itu percakapan berjalan seolah-olah ada dua pihak setara di dalam ruangan. Nurfatjriah Wulandari dan Ngusman Abdul Manaf mencatatnya sebagai satu data di antara ribuan data lain yang mereka kumpulkan.
Keduanya berasal dari Universitas Negeri Padang dan menyusun kajian berjudul Jenis dan Bentuk Deiksis Persona dan Deiksis Sosial serta Konteks Penggunaannya dalam Novel Bergaya Fabel: Studi dalam Dua Novel Indonesia Terpilih, yang terbit di jurnal berkode JPERS terbitan Universitas Negeri Padang, Volume 5 Nomor 3 tahun 2026, halaman 451 sampai 466. Objek yang mereka bedah dua novel: O karya Eka Kurniawan dan Dongeng Kucing karya Boy Candra.
Daftar Isi
Sebuah Revolver yang Diajak Bicara seperti Sahabat

Kedua novel itu menaruh hewan sebagai tokoh. Di O, pusat ceritanya seekor monyet betina; di Dongeng Kucing, dunianya diisi kucing-kucing bernama Bobin, Kiti Pengkor, Gaura, dan Si Tua. Persoalan yang lahir dari pilihan itu terdengar sederhana tetapi tidak sepele: kalau yang berbicara bukan manusia, kata ganti dan sapaan macam apa yang mereka pakai, dan kepada siapa sebenarnya kata-kata itu menunjuk? Untuk menjawabnya, keduanya membongkar seluruh tuturan tokoh dalam dua novel dan memilah deiksis, yaitu kata yang acuannya berpindah-pindah mengikuti siapa yang sedang berbicara. Hitungannya besar: 3.690 data deiksis persona dalam 14 bentuk, dan 95 data deiksis sosial dalam 8 bentuk sapaan. Bentuk yang paling sering muncul adalah aku, sebanyak 979 kali. Yang paling jarang, dia, hanya dua kali.
Baca juga Ketika Tipologi Soekanto Membaca Novel 1998
Kata semacam itu memang licin. Acuannya tidak tetap, bergeser mengikuti siapa yang membuka mulut dan kepada siapa ia berbicara, sehingga aku yang sama bisa menunjuk dua makhluk yang sama sekali berbeda. Dalam kutipan yang dicatat kajian tersebut, kalimat “Aku sudah punya isteri dan anak” datang dari seorang polisi bernama Sobar, sementara kalimat “Aku dari kota” datang dari seekor kucing hitam bernama Bobin. Bentuknya identik, penuturnya berjarak jauh.
Angka terakhir itu yang ganjil. Sebuah novel biasanya penuh dengan dia. Di dua novel ini, dia nyaris lenyap dan tempatnya diambil ia sebanyak 252 kali serta akhiran -nya sebanyak 135 kali. Menurut kedua peneliti, dominasi bentuk aku menunjukkan pengarang lebih banyak menghadirkan sudut pandang tokoh dari dalam, bukan mengamatinya dari kejauhan. Monyet dan kucing itu tidak diceritakan; mereka bercerita.
Sapaan di antara mereka pun bekerja persis seperti sapaan manusia. Dalam kutipan yang dicatat kajian tersebut dari novel O, seorang tokoh berkata: “Kau beruntung, Kawan kecil.” Bentuk kawan hanya muncul empat kali di dua novel itu, dan selalu dalam hubungan yang setara tetapi tidak akrab — kepada seekor monyet kecil, kepada seorang sopir taksi. Jarak itu dijaga oleh satu kata, dan hanya oleh satu kata.
Ada pula tuturan yang hanya mungkin keluar dari mulut hewan. Dalam kutipan dari novel Dongeng Kucing karya Boy Candra yang dicatat kajian itu, seekor kucing bertanya: “Apakah mereka tidak melihat kita?” Kata mereka di sana menunjuk manusia yang berlalu-lalang di jalan. Dalam satu kalimat pendek, manusia berpindah dari pusat cerita menjadi orang ketiga jamak yang lewat begitu saja tanpa menoleh.
Baca juga Hutan Nagari Halaban dan Ladang di Kawasan Lindung
Pilihan bentuk fabel sendiri bukan kebetulan. Cerita binatang, dalam pengertian yang dipakai kajian itu, adalah personifikasi watak manusia, dan tokoh hewan kerap menjadi jalan memasukkan kritik atas ketimpangan sosial, relasi kuasa, dan konflik identitas tanpa menyebut siapa pun secara langsung. Di sanalah sapaan menjadi penting: yang tidak bisa dinyatakan lewat peristiwa sering sudah bocor lebih dulu lewat satu kata panggilan.
Ketika Sapaan Berpindah Mengikuti Siapa yang Berkuasa
Bagian yang paling banyak menyita kerja keduanya bukan penghitungan bentuk, melainkan pemetaan situasinya. Setiap tuturan ditimbang dengan dua ukuran yang mereka pinjam dari Brown dan Levinson: kekuasaan dan solidaritas. Lawan bicara bisa lebih berkuasa, sederajat, atau lebih rendah kedudukannya; hubungannya bisa akrab, bisa berjarak. Dari 2.724 tuturan yang berhasil dipetakan, polanya keluar cukup rapi. Ketika lawan bicara sederajat dan hubungannya akrab, yang mengalir adalah aku — 313 kali, jumlah terbesar dalam seluruh data. Ketika hubungannya tetap sederajat tetapi renggang, yang naik justru kau, 165 kali. Dan ketika lawan bicara lebih rendah kedudukannya namun dekat secara emosional, kau tetap yang dipilih, 117 kali. Kau, dalam dua novel ini, adalah kata yang mengurus jarak.
Sapaan sosialnya mengikuti pola yang sama, hanya dengan bahan yang lebih sedikit. Bentuk bang muncul 47 kali dan hampir selalu ditujukan kepada orang yang dipandang lebih tinggi kedudukannya. Dalam kutipan yang dicatat dari novel O, seorang tokoh berkata: “Tapi, Bang ... Itu monyet punya Betalumur. Masa aku jual.” Penolakan disampaikan dengan jelas, tetapi hierarkinya tidak digugat sedikit pun. Di ujung yang lain ada sayang, 19 kali, dipakai pada hubungan setara yang akrab dan kepada orang yang lebih rendah kedudukannya namun dekat. Ada nak, tujuh kali, dari yang lebih tua kepada yang lebih muda. Ada kakek, hanya dua kali. Delapan bentuk sapaan untuk dua novel penuh — jumlah yang kecil dibanding kata ganti, tetapi kerjanya jauh lebih tajam.
Kadang keduanya bekerja dalam satu kalimat sekaligus. Dalam kutipan dari novel O, seorang tokoh berkata: “Aku tahu kau berutang budi kepada Jarwo Edan, Bang,” dan dalam satu tarikan napas itu si penutur memakai aku untuk dirinya, kau untuk lawan bicaranya, dan bang untuk menaikkan kedudukan orang yang sedang ia tekan. Keakraban dan hierarki dipasang berdampingan tanpa saling membatalkan. Kesimpulan keduanya bertumpu di situ. Pilihan kata ganti dan sapaan dalam novel bergaya fabel tidak ditentukan oleh siapa tokohnya — monyet, kucing, manusia, bahkan sebuah revolver — melainkan oleh relasi kuasa dan tingkat keakraban di antara mereka. Personifikasi hewan tidak mengubah tata sapa manusia; ia justru memperlihatkan tata sapa itu dengan lebih telanjang, tulis Nurfatjriah Wulandari dan Ngusman Abdul Manaf.
Baca juga Wayang dan Sate dalam Terjemahan Cantik Itu Luka
Kalimat-kalimat lain menunjukkan hal yang sama dari sisi jamak. Dalam kutipan yang dicatat dari novel Dongeng Kucing, seseorang berkata: “Kalian saudara kandung, harus saling dukung,” ditujukan kepada sepasang kucing kembar. Sementara dari novel O tercatat “Setengah bungkus rokok sehari, atau kami cari tempat lain,” yang keluar dari sepasang pemulung tua. Kalian menuntut, kami menawar; dua bentuk jamak, dua posisi yang berbeda.
Dua Novel yang Belum Menutup Perkara Sapaan
Kedua peneliti menuliskan batas kerjanya sendiri tanpa berputar-putar. Objeknya hanya dua novel, sehingga temuannya berlaku bagi dua novel itu dan bukan bagi novel fabel Indonesia secara umum. Kajiannya juga hanya menyentuh deiksis persona dan deiksis sosial, sementara deiksis tempat, waktu, dan wacana belum tersentuh padahal ketiganya berpotensi memperkaya pembacaan konteks tuturan di dalamnya. Batas ketiga yang mereka akui menyangkut diri mereka sendiri. Instrumen penelitiannya adalah peneliti, dan penafsiran atas siapa lebih berkuasa daripada siapa dalam sebuah percakapan fiksi tidak pernah sepenuhnya lepas dari subjektivitas. Pengabsahan lewat triangulasi oleh dosen pembimbing yang ahli bahasa memang dilakukan, lembar validasinya ditandatangani, tetapi keduanya tidak mengklaim langkah itu menghapus persoalannya.
Mereka juga menempatkan temuannya di antara kajian yang sudah ada. Penelitian Putri dan Harahap lebih dulu menemukan dominasi deiksis persona, tetapi berhenti pada identifikasi jenis dan bentuknya; yang ditambahkan kajian ini adalah pemetaan konteks tuturnya. Untuk deiksis sosial, keduanya menyebut kajian Amarasuli dan Hanif sebagai titik berangkat yang mereka lanjutkan, bukan sebagai temuan yang mereka gugurkan. Saran mereka bagi peneliti berikutnya tidak muluk: tambah jumlah novelnya, masukkan tiga jenis deiksis yang belum dikaji, lalu kaitkan temuan itu dengan gaya bahasa pengarang, struktur naratif fabelnya, atau pesan moral yang dibawanya. Perkara siapa memanggil siapa dengan kata apa, dengan kata lain, baru dibuka sedikit di dua novel dan masih terbuka lebar di rak yang lain.
Sementara itu revolver bernama Sobar tetap di tempatnya, diajak bicara, dipanggil sobat, dan tidak sekali pun menjawab. Yang bergerak hanya orang yang memegangnya, dan kata yang ia pilih untuk memanggilnya.















