Metafora Bumi Manusia yang Pudar dalam Bahasa Jerman

A A

Ilustrasi rel kereta melengkung membelah hamparan sawah hijau dan permukiman. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Di satu halaman Bumi Manusia, si aku memandang jaringan rel yang membentang di tanah kelahirannya dan memilih satu kata kerja yang tidak sopan untuk menggambarkannya. Rel itu, tulisnya, telah membelah-belah pulaunya, Jawa. Bukan melintasi, bukan menghubungkan, bukan menjangkau. Membelah. Satu kata itu memuat seluruh sikapnya terhadap kemajuan yang dibawa penjajah, dan satu kata itu pula yang lenyap ketika kalimatnya dipindahkan ke bahasa Jerman.

Dalam Garten der Menschheit, edisi Jerman novel Pramoedya Ananta Toer itu, kalimat yang sama berbunyi bahwa jaringan rel yang bercabang-cabang “erstreckte sich über ganz Java, meine Insel” — terbentang di seluruh Jawa, pulauku. Rel tidak lagi melukai apa pun. Ia hanya membentang, seperti selimut yang dibuka di atas ranjang. Tuduhan yang ada di dalam kalimat asli menguap tanpa jejak, dan pembaca Jerman tidak pernah tahu bahwa tuduhan itu pernah ada. Kalimatnya tetap benar. Isinya tinggal separuh.

Enam peneliti dari Universitas Indraprasta PGRI Jakarta menghitung berapa kali hal semacam itu terjadi. Merry Lapasau, Ryan Hidayat, Erna Megawati, Puji Anto, Vina Nur Indah Sari, dan Herlina menulis Reframing metaphor in translation: A cultural-linguistic analysis of Bumi Manusia and Garten der Menschheit with pedagogical insights, terbit di jurnal LITERA volume 25 nomor 1 tahun 2026, halaman 95 sampai 106. Yang mereka periksa bukan kesetiaan penerjemah pada kata, melainkan apa yang terjadi pada cara berpikir ketika ia berpindah bahasa.

Daftar Isi
  1. Enam Puluh Empat Kalimat yang Dibaca Dua Kali
  2. Gunung yang Tetap Bertapa dan Iman yang Batal Runtuh
  3. Yang Ditinggalkan Terjemahan Itu di Ruang Kelas

Enam Puluh Empat Kalimat yang Dibaca Dua Kali

Ilustrasi halaman buku yang terbuka memperlihatkan barisan teks tercetak.
Ilustrasi halaman buku yang terbuka memperlihatkan barisan teks tercetak. [Foto: Pexels]

Bahan kerjanya enam puluh empat ungkapan metaforis, diambil satu per satu dari kedua teks secara manual. Tidak ada perangkat lunak yang memindai. Setiap kalimat dibaca dari dekat, dicurigai, lalu diuji dengan prosedur identifikasi metafora yang sudah baku dalam linguistik kognitif. Yang lolos hanya ungkapan yang benar-benar memuat pemetaan antara dua ranah pengalaman dan punya bobot budaya atau nilai untuk diajarkan di kelas. Sisanya disingkirkan, betapapun indahnya. Sampel itu memang dipilih, bukan diacak, dan tim tersebut menyatakannya terang-terangan di bagian metode.

Setiap metafora dibongkar menjadi dua bagian. Ada ranah sumber, yaitu wilayah pengalaman yang konkret dan akrab, dan ada ranah sasaran, yaitu gagasan abstrak yang hendak dipahami lewat wilayah tadi. Ketika seseorang menyebut kerja keras sebagai membanting tulang, ranah sumbernya adalah tubuh yang dirusak, dan ranah sasarannya adalah usaha manusia. Tubuh dipinjam untuk menerangkan kerja. Sesudah itu metaforanya digolongkan: struktural bila satu gagasan disusun memakai gagasan lain, orientasional bila bertumpu pada arah dan ruang, ontologis bila hal abstrak diperlakukan sebagai benda, dan kultural bila hanya masuk akal di dalam satu cara hidup tertentu.

Baca juga Naskah Turang dan Larangan Kawin Semarga di Karo

Dari enam puluh empat ungkapan itu muncul sebelas kelompok tema. Emosi diberi wujud sebagai beban, sebagai bunyi, sebagai zat cair yang membanjiri kursi. Pikiran datang sebagai sambaran petir. Gunung berdiri seperti pertapa yang membatu. Gagasan berkembang biak seperti bakteri. Rel memotong pulau. Manusia dinilai lewat perbandingan dengan hewan pemangsa dan hewan pemakan bangkai. Cahaya perak memandikan hutan, dan lampu karbid kereta menyibak kegelapan dengan cara yang disebut tidak kenal damai. Terang dan gelap dalam novel itu tidak hanya soal penglihatan; keduanya dipakai menimbang nasib, akal sehat, dan moral sekaligus.

Yang menonjol dari susunan itu adalah tubuh. Sebagian besar metafora dalam novel tersebut, menurut tim Lapasau, membaca hal-hal abstrak melalui daya, benturan, dan kerja fisik. Kerja adalah tulang yang dibanting. Malu adalah tubuh yang terpental. Kekuasaan adalah berada di dalam genggaman tangan orang lain. Bahasa Indonesia dalam novel itu memikirkan dunia lewat badan. Bahkan pengetahuan pun bergerak: pertanyaan tidak diajukan, melainkan menyambar seperti kilat, datang lebih cepat daripada kesempatan untuk bersiap.

Bahasa Jerman tidak selalu mau ikut. Pada kalimat tentang membanting tulang, penerjemah memilih kata benda abstrak, Mühe, yang berarti susah payah. Maknanya selamat: usaha itu memang sia-sia. Tetapi tulang yang dibanting tidak ada lagi di sana. Yang tersisa hanya kata yang rapi, tanpa bunyi, tanpa rasa sakit, dan tanpa tubuh yang menanggungnya. Hal serupa terjadi pada mata yang menggerayangi ruang tamu; dalam versi Jerman mata itu hanya mengembara, bergerak di ruang tanpa menyentuh apa pun. Rabaan berubah menjadi lintasan.

Gunung yang Tetap Bertapa dan Iman yang Batal Runtuh

Tidak semua hilang. Ada kalimat dalam novel yang menggambarkan gunung-gemunung berdiri tenang dalam keangkuhan, seperti pertapa berbaring membatu. Dalam versi Jerman, gunung itu tetap pertapa yang membatu, bahkan ditambahi keterangan bahwa mereka berbaring dalam keagungan yang damai. Metaforanya tidak sekadar bertahan; ia naik satu tingkat. Personifikasi alam ternyata sesuatu yang dipahami di kedua sisi. Peneliti menyandingkan temuan itu dengan kajian lintas bahasa yang menunjukkan bahwa cara memandang alam sebagai sesuatu yang bernyawa dan berjiwa tersebar sangat luas, jauh melampaui satu rumpun budaya.

Kalimat tentang mata yang berkilau seperti sepasang kejora juga lolos. Bintang tetap bintang, hanya berganti nama menjadi bintang kejora pagi. Tetapi kalimat itu punya sambungan yang lebih berat: senyum perempuan tersebut disebut mampu meruntuhkan iman. Di versi Jerman, iman tidak runtuh. Yang hilang hanya kepala. Senyum itu membuat orang kehilangan akal, bukan kehilangan agamanya. Bintangnya diselamatkan, imannya tidak. Dalam satu kalimat yang memuat dua metafora, penerjemah mempertahankan yang satu dan menumpulkan yang lain.

Baca juga Migrasi Magis: Mantra Sijundai Jadi Teater Tari

Peneliti menyebut pergeseran itu sebagai pelunakan yang berdimensi ideologis. Godaan yang dalam bahasa sumber diukur dengan takaran moral dan keimanan diterjemahkan menjadi kekacauan psikologis biasa. Perkaranya bukan salah terjemah. Perkaranya adalah bahwa satu takaran diganti dengan takaran lain, dan pembaca di ujung sana menilai adegan yang sama dengan timbangan yang berbeda. Bahasa Indonesia dalam novel itu, menurut tim tersebut, condong ke ranah tubuh, bunyi, alam, dan hal-hal yang bersifat rohani; bahasa Jerman dalam terjemahannya condong ke ranah mesin, idiom mapan, dan nalar.

Pola yang sama berulang di tempat lain. Kata modern yang dalam novel disebut menggelumbang dan membiak seperti bakteria berubah menjadi wabah dalam bahasa Jerman — kekuatannya tetap, kekhususan biologisnya hilang. Burung gagak yang sedang menaksir calon bangkai kehilangan bangkainya dan tinggal menaksir mangsa. Setiap kali ada yang dipertahankan, ada pula yang dipangkas. Emosi yang dalam novel disebut seperti gendang bermain di dalam jantung masih berdetak dalam versi Jerman, tetapi gendangnya sudah tidak ada; yang tinggal hanya jantung yang bertalu. Alat musiknya dibawa pulang oleh bahasa asalnya.

Yang dipangkas hampir selalu bagian yang paling tidak nyaman. Idiom zoomorfis untuk laki-laki yang gemar menggoda perempuan, misalnya, diganti dengan label sosial yang sudah lazim dalam bahasa Jerman. Penilaian moralnya tetap sampai. Citra hewannya tidak. Dan bersama citra itu ikut hilang sikap tertentu terhadap perbuatan tersebut, sikap yang hanya bisa dibawa oleh binatang, bukan oleh kata benda. Peneliti mengaitkannya dengan kecenderungan yang sudah lama dicatat dalam kajian penerjemahan: ungkapan yang tajam melunak, dan yang bergambar menjadi datar, ketika berpindah ke bahasa yang tidak punya padanan sekuat itu.

Pada kalimat mata gelap, pemangkasannya paling tuntas. Ungkapan itu memetakan hilangnya akal sebagai kegelapan penglihatan sekaligus kegelapan moral. Versi Jerman menggantinya dengan kata yang menyebut satu perasaan saja: cemburu. Akibatnya tetap sama, orang tertembak mati. Tetapi jalan menuju akibat itu berubah dari kebutaan batin menjadi sekadar nama sebuah emosi. Satu contoh lain bahkan berbelok lebih jauh: kalimat tentang menyerahkan diri mentah-mentah, yang membayangkan penyerahan sebagai sesuatu yang siap ditelan, berganti menjadi kalimat tentang seseorang yang mengikuti panggilan dari rumah berhantu. Yang menyerah berubah menjadi yang tergoda.

Yang Ditinggalkan Terjemahan Itu di Ruang Kelas

Kembali ke rel yang membelah Jawa. Tim Lapasau tidak menuduh penerjemahnya lalai. Mereka menduga penerjemah sengaja menetralkan kalimat itu agar terbaca wajar bagi pembaca asing, atau sekadar mengikuti kebiasaan bahasa Jerman yang memang tidak memakai citra memotong untuk infrastruktur. Yang mereka soroti bukan niatnya, melainkan akibatnya: kritik terhadap kolonialisme di kalimat itu menjadi jauh lebih tipis. Pembangunan yang dalam bahasa sumber terasa sebagai tindakan terhadap sebuah pulau berubah menjadi keterangan tentang cakupan dan keteraturan.

Baca juga Hutan Nagari Halaban dan Ladang di Kawasan Lindung

Dari situ artikel tersebut berbelok ke ruang kelas. Enam peneliti itu bekerja di lingkungan pengajaran bahasa, dan seluruh temuan mereka diarahkan ke sana. Dua teks yang disandingkan, kata mereka, bisa dipakai melatih pelajar tingkat lanjut untuk melihat bagaimana makna dibentuk oleh cara pandang budaya, dan bagaimana satu pilihan kata dapat menggeser siapa yang disalahkan dalam sebuah kalimat. Kelas bahasa asing di Indonesia, tulis mereka, jarang sampai ke lapisan itu; yang lebih sering diajarkan adalah kosakata dan tata bahasa, bukan cara pandang yang menempel pada keduanya.

Latihannya sederhana dan bisa dikerjakan siapa saja. Ambil kalimat asli, ambil terjemahannya, lalu tanyakan apa yang tersisa dan apa yang hilang. Pelajar yang terbiasa melakukannya akan berhenti membaca metafora sebagai hiasan. Ia mulai membacanya sebagai keputusan — keputusan yang diambil pengarang, lalu diambil ulang oleh penerjemah, kadang dengan hasil yang berbeda arah. Kemampuan semacam itu, menurut artikel tersebut, berguna bukan hanya untuk calon penerjemah, tetapi juga untuk siapa pun yang setiap hari membaca teks yang sudah berpindah bahasa sebelum sampai kepadanya.

Batas kerjanya diakui sendiri di bagian penutup. Tim itu menyatakan analisis mereka terbatas pada satu novel dan satu terjemahan, bergantung pada penafsiran manusia dalam menandai metafora, dan belum diuji di ruang kelas yang sesungguhnya. Enam puluh empat ungkapan bukan seluruh isi Bumi Manusia, dan satu terjemahan Jerman bukan seluruh sejarah penerjemahan sastra Indonesia. Apa yang mereka susun adalah peta yang bersifat menjajaki, bukan hitungan yang bisa dipakai menyimpulkan watak dua bahasa.

Rel itu masih ada di kedua buku. Di buku yang satu ia membelah sebuah pulau, di buku yang lain ia terbentang di atasnya. Pembaca yang memegang salah satunya tidak akan pernah tahu bahwa ada versi lain dari kalimat yang sama, kecuali ada orang yang meletakkan kedua halaman itu berdampingan dan membacanya bergantian, satu demi satu, enam puluh empat kali.

Bagikan

Baca Juga

Kebencian Mendominasi Dialog Novel Aku Juga Ingin Dianggap
Generasi Sandwich dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu
Novel Deana dan Kelas Sosial yang Runtuh oleh Stigma
Fiksi Ilmiah Indonesia dan Kata yang Dipinjamnya
Ketika Perempuan Kuat dalam Novel Ikut Goyah
Kekerasan terhadap Anak di Aku Juga Ingin Dianggap