Cekricek.id — Di kaki Candi Borobudur ada deretan pahatan yang isinya sulit dicocokkan dengan kitab mana pun. Satu panil memperlihatkan perampasan harta milik orang lain, lalu dua figur berkelahi, satu di antaranya menggenggam senjata tajam. Panil lain menampilkan orang membawa busur lengkap dengan anak panahnya, dua figur memasak di bagian bawah, dan di atasnya beberapa figur tampak sedang berbincang. Ada pula panil berisi penari dan penabuh alat musik. Semua itu dipahat pada candi Buddha terbesar di Jawa, pada rangkaian relief yang justru dinamai menurut sebuah ajaran tentang hukum sebab-akibat.
Kejanggalan itu ditelusuri Mif Yasmin Azizah As Sakina dan Dona Prawita Arissuta, keduanya dari Program Studi Seni Rupa Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, dalam artikel Menjembatani Masa Lalu dan Masa Kini: Reinterpretasi Semiotik dan Estetika Relief Karmawibhangga Borobudur sebagai Refleksi atas Krisis Sosial dan Lingkungan Masa Kini. Artikel itu terbit di jurnal Artchive Volume 6 Nomor 1 pada 2025. Keduanya mengamati langsung relief di kaki candi, memotretnya dengan kamera digital beresolusi tinggi, lalu menyandingkan hasilnya dengan dokumentasi foto milik Balai Konservasi Borobudur dan bacaan para peneliti terdahulu.
Nama rangkaian relief itu sendiri sudah menyiratkan tuntutan yang dipikulnya. Bernet-Kempers dan Soekmono membaca karma sebagai perbuatan atau tingkah laku, dan wibhangga sebagai gelombang atau alur perjalanan — jadi, perjalanan akibat dari sebuah perbuatan. Yang semestinya dipahat di batu adalah ajaran tentang sebab dan akibat itu. Yang tampak di batu adalah orang berburu, orang memasak, orang menari, dan orang merampok. Jarak antara nama dan isi itulah yang dikerjakan kedua peneliti tersebut, panil demi panil, dengan kerangka kritik seni Feldman: mendeskripsi, menganalisis bentuk, menafsir, lalu menilai.
Daftar Isi
Cara Silpin Menerjemahkan Kitab ke Dalam Batu

Jawaban pertama datang dari seorang arkeolog Belanda. August Johan Bernet-Kempers menyatakan pada 1973 bahwa relief Karmawibhangga di kaki Borobudur tidak mengacu pada teks asli naskah Karmawibhangga. Menurut dia, pahatan itu kemungkinan besar lahir dari olah rasa, cipta, dan karsa para silpin — sebutan bagi seniman pemahatnya — yang bekerja dengan bahan dari keadaan sosial masyarakat Mataram Kuno di sekeliling mereka sendiri. Kitabnya menjadi kerangka; isinya diambil dari kampung sendiri. Dari situlah adegan-adegan yang tampak terlalu duniawi untuk sebuah candi mulai masuk akal.
Cara kerja semacam itu punya riwayat panjang. Sedyawati menyebut asimilasi yang berlangsung setelah kedatangan pedagang dari India menghasilkan kebudayaan baru yang tetap mempertahankan sentuhan lokal, dan bekasnya terbaca pada bentuk Borobudur sendiri: berundak, menyerupai bangunan megalitik yang jauh lebih tua daripada candi itu. Bangunan tersebut didirikan sekitar tahun 800 Masehi pada masa Raja Samaratungga dari Mataram Kuno, berdenah bujur sangkar 123 kali 123 meter, dan tingginya 42 meter bila payung puncaknya ikut dihitung, 31 meter bila tidak. Relief di kakinya sendiri baru ditemukan J.W. Ijzerman pada 1885.
Baca juga Relief Candi Sukuh dan Jalan Ritual Peziarah
Perbedaan cara membaca pahatan pun bukan hal baru di kalangan ahli. Koentjaraningrat menjelaskan relief sebagai wujud dari kumpulan gagasan dan sistem budaya yang bersifat abstrak, sementara Asmito melihat seni pahat relief sebagai penyajian ide yang muncul dari cerita kedewataan, lengkap dengan bentuk kepahlawanan dan aspek kehidupan manusia. Dua pandangan itu tidak bertabrakan. Keduanya sama-sama mengandaikan ada lapisan lokal yang menempel pada cerita yang dipinjam dari luar, dan lapisan itulah yang kemudian bisa dibaca sebagai catatan tentang masyarakat pemahatnya.
Cara Panil Bekerja sebagai Papan Pengumuman
Kalau relief adalah alat komunikasi, pertanyaannya berubah: siapa berbicara kepada siapa. Mif Yasmin dan Dona Prawita menunjuk panil nomor 16 dan panil nomor 26, yang sama-sama memperlihatkan seorang bhikkhu memberi wejangan kepada figur-figur yang datang menghadap. Pada sisi kiri tampak seorang laki-laki dan seorang perempuan duduk dan terlihat berbahagia sesudah mendengarkan. Di masa Mataram Kuno, tulis keduanya, masyarakat biasa memang belajar ajaran suci lewat media semacam itu, bukan lewat naskah yang hanya beredar di kalangan terbatas dan hanya terbaca oleh segelintir orang.
Panil nomor 86 memberi contoh lain, dan sekaligus contoh perselisihan tafsir. Hariani Santiko dan Nugrahani pada 2012 membacanya sebagai penggambaran kelahiran kembali di neraka, sesuatu yang buruk rupa dan menyeramkan. Mif Yasmin dan Dona Prawita membacanya lain: sebuah peristiwa kejahatan biasa. Alasan mereka diambil dari apa yang terlihat — di bagian kiri ada adegan perampasan harta milik orang lain, dan pada adegan berikutnya dua figur berkelahi, satu bertangan kosong, satu membawa senjata tajam, tepat di bagian yang batunya sudah rusak sehingga tidak seluruh adegannya bisa diikuti.
Baca juga Lima Buku Kajian Jawa, Tiga Penulis Indonesia
Perbedaan itu bukan main-main, sebab ia menentukan untuk apa relief tersebut dipahat. Kalau panil 86 adalah neraka, ia mengancam. Kalau ia peristiwa kejahatan yang memang sering terjadi, ia memperingatkan. Kedua peneliti itu memilih bacaan kedua, dan menyimpulkan pahatan tersebut dimaksudkan agar orang berhati-hati bila hendak melakukan perjalanan jauh. Relief, dalam bacaan itu, bekerja seperti papan pengumuman yang dipahat pada dinding: bukan sekadar hiasan candi dan bukan pula ilustrasi kitab, melainkan pesan praktis yang dipasang di tempat yang dilalui banyak orang.
Cara Prasasti Menguji Bacaan atas Relief
Bacaan atas batu itu diuji dengan batu yang lain. Untuk panil nomor 6 sampai nomor 12, tafsir terdahulu — Santiko dan Nugrahani yang mengacu pada Jan Fontein — melihat rangkaian tersebut sebagai gambaran orang yang memperoleh umur panjang sebagai buah perbuatan baik, kebalikan dari keburukan yang dipahat pada panil satu sampai lima. Mif Yasmin dan Dona Prawita menawarkan pembacaan lain untuk panil nomor 6: sebuah tradisi besar yang berkaitan dengan penguasa, terlihat dari pemberian hadiah berupa hewan buruan seperti babi, hewan ternak seperti ayam, dan figur-figur yang membawa mangkuk besar berisi makanan.
Tradisi yang mereka maksud adalah penetapan sima, yaitu pengukuhan sebuah desa menjadi daerah perdikan. Timbul Haryono pada 2016 sudah menghubungkannya dengan Prasasti Rukam bertarikh 829 Saka atau 907 Masehi, yang mencatat hidangan bagi penguasa: nasi paripurna timan dengan dendeng kakap, ikan kadiwas, ikan duri, udang, telur, kepiting, sampai sayur daging sapi. Prasasti Sangguran menyebut skul dangdangan, beras yang ditanak di dandang, dan hinirusan, dari kata irus, wadah yang dibuat dari tempurung kelapa. Daftar semacam itu tidak muncul dalam kitab keagamaan mana pun.
Panil nomor 72, yang memperlihatkan penari, diuji dengan cara yang sama. Terjemahan baris kesembilan belas sampai kedua puluh satu Prasasti Rukam yang dibaca Titi Surti Nastiti dan rekan-rekannya berbunyi, “Setelah itu mereka menari, berjoget, bersuka ria bersama”, dan menutup rangkaian upacara ketika Desa Rukam dikukuhkan menjadi daerah perdikan oleh Rakryan Sanjiwana. Kesenian memang biasa ditampilkan sesudah upacara penetapan sima selesai, dan kehadiran raja atau pejabat kerajaan dianggap kehormatan tersendiri bagi warga desa yang tanahnya ditetapkan hari itu.
Prasasti Pangumulan bertarikh 824 Saka atau 902 Masehi bahkan menyimpan nama para pelakunya. Pemimpin penabuh gamelan bernama si Catu, ayah dari Kriya; juru kenong bernama si Wara, ayah dari Bhoga; keduanya menerima sehelai kain bebed dan emas satu masa. Empat petugas lampu — si Ma, si Manol, si Sagara, dan si Andon — masing-masing diberi emas satu masa. Si Mari, yang bertugas menyiapkan air, dibayar emas satu kupang, sedangkan si Paracan, pelawaknya, dibayar perak empat masa. Upah pun dicatat sampai ke pelawaknya.
Baca juga Dewi Kilisuci Hamil dalam Naskah Panji Jayakusuma
Dari sini bacaan kedua peneliti itu berdiri lebih kokoh. Istilah manigal, angigel, dan inigellakan yang berakar pada kata igel atau tari muncul di prasasti-prasasti tersebut, dan pola perayaannya cocok dengan apa yang terpahat pada panil 72. Relief, tulis Mif Yasmin dan Dona Prawita, menjadi penghubung antara masyarakat biasa dan penguasa — media yang, bersama prasasti, candi, dan naskah lontar, dipakai untuk mewariskan pelajaran kepada angkatan sesudahnya tanpa perlu kemampuan membaca aksara.
Di Mana Bacaan Itu Berhenti
Jangkauan bacaan itu ada batasnya, dan kedua penelitinya menyatakan sendiri di mana batas tersebut berdiri. Relief Karmawibhangga terdiri atas 160 panil; yang mereka pilih untuk ditelaah hanya lima. Satu adegan pada panil 86 batunya sudah rusak. Tafsir yang mereka ajukan lahir dari pengamatan langsung, bukan dari teks yang bisa dicocokkan kata demi kata, dan seni pahat relief, menurut mereka, memang belum banyak diungkap para ahli justru karena terlalu banyak pertimbangan yang harus ditimbang lebih dulu dalam menafsirkannya.
Ada pula yang menggantung. Bagian metodenya menyebut wawancara mendalam dengan ahli seni, arkeologi, dan lingkungan sebagai penguat temuan, tetapi tidak satu pun ahli itu disebut namanya atau dikutip pendapatnya di sepanjang artikel. Abstraknya juga menjanjikan penerjemahan relief ke dalam karya seni kontemporer dengan bantuan kecerdasan buatan, sedangkan yang sampai di bagian hasil hanyalah pembacaan atas panilnya. Lima panil dari 160 belum cukup untuk berbicara atas nama Borobudur, apalagi atas nama seluruh masyarakat Mataram Kuno yang hidup di sekitarnya.
Maka kembali ke deretan pahatan di kaki candi itu. Perampokan, perburuan, dapur, dan tarian tetap tidak cocok dengan kitab mana pun. Bukan karena para silpin salah membaca ajarannya, melainkan karena mereka memilih menerangkan ajaran tersebut dengan hal-hal yang saban hari mereka lihat sendiri di kampung sekeliling candi. Yang bertahan seribu dua ratus tahun di batu itu, pada akhirnya, bukan doktrinnya. Melainkan tetangga mereka.













