Padi Lokal Pesisir Selatan Diuji Lawan Wereng Batang Cokelat

A A

Petak sawah di Talu, Pasaman Barat, Sumatera Barat. [Foto: Wikimedia Commons/Tisa0603 (CC BY-SA 4.0)]

Cekricek.id — Satu dari lima padi lokal Pesisir Selatan bertahan. Empat sisanya tumbang.

Yang bertahan bernama Banang Salai. Wereng batang cokelat yang menyerangnya mati 83,13 persen.

Yang paling cepat tumbang bernama Sarai Sarumpun. Wereng yang mati di sana hanya 25,94 persen.

Pengujiannya dilakukan di laboratorium. Yang menguji tiga peneliti dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang.

Mereka Dea Safitri, Novri Nelly, dan Arneti. Laporannya berjudul Resistance of Local Rice Varieties from South Pesisir Regency to Brown Planthopper, Nilaparvata lugens Stal.

Artikel itu dimuat JPT: Jurnal Proteksi Tanaman Volume 9 Nomor 2 tahun 2025. Letaknya di halaman 72 sampai 82.

Naskahnya diterima 17 Juni 2025 dan diperbaiki 28 September. Disetujui 17 Desember dan terbit pada akhir bulan yang sama.

Daftar Isi
  1. Hama yang Diuji
  2. Tujuh Perlakuan
  3. 160 Nimfa
  4. Angka Kematian
  5. Persentase Serangan
  6. Skor Ketahanan
  7. Daun Kasar
  8. Satu Kata yang Berbeda

Hama yang Diuji

Wereng batang cokelat bernama ilmiah Nilaparvata lugens Stal. Ia termasuk hama padi paling merusak di Asia.

Serangannya menimbulkan gejala hopperburn. Daun mengering seperti terbakar dan tanaman bisa mati berpetak-petak.

Kehilangan hasilnya bisa melampaui 70 persen pada serangan berat. Angka itu dikutip peneliti dari rujukan tahun 2023.

Kerusakan tidak berhenti di situ. Wereng ini juga menularkan virus kerdil rumput padi.

Ledakan populasinya kerap berulang di Indonesia. Karena itu varietas tahan tetap menjadi tumpuan pengendalian.

Persoalannya, keterangan tentang padi lokal masih tipis. Peneliti menyebut informasi ketahanan varietas asli Pesisir Selatan masih terbatas.

Tujuh Perlakuan

Rancangannya acak lengkap dengan tujuh perlakuan. Ulangannya empat kali.

Lima perlakuan berupa padi lokal Pesisir Selatan. Namanya Sarai Sarumpun, Kutu, Bakwan, Banang Salai, dan Bujang Marantau.

Dua perlakuan sisanya berupa pembanding. TN1 sebagai pembanding rentan dan IR74 sebagai pembanding tahan.

Benihnya diperoleh dari petani setempat di Padang. Benih direndam 24 jam, dikeringanginkan sekitar dua jam, lalu disemai.

Wadah semainya gelas plastik 250 mililiter. Benih disebar merata di dalamnya.

Perendaman dipakai untuk memancing perkecambahan. Sesudah itu benih dibiarkan mengering di udara terbuka.

Baca juga Petani Padi Karawang di Antara Banjir dan Tikus Sawah

160 Nimfa

Infestasi dilakukan saat bibit berumur tujuh hari. Setiap perlakuan berisi 20 tanaman.

Setiap tanaman diberi delapan nimfa wereng. Totalnya 160 nimfa per perlakuan.

Nimfa yang dipakai berada pada instar kedua sampai ketiga. Tahap itu dipilih karena daya makannya sudah tinggi.

Tanaman lalu ditutup sungkup mylar berbentuk tabung. Ukurannya 18 sentimeter garis tengah dan 50 sentimeter tinggi.

Bagian atas sungkup ditutup kain kasa. Tujuannya menahan serangga keluar sambil menjaga udara tetap mengalir.

Pengamatan berjalan sejak sehari setelah infestasi. Berhentinya ketika TN1 mati 90 persen atau mati seluruhnya pada hari kedelapan.

Kematian wereng dihitung tiap hari. Angkanya dikoreksi dengan rumus Abbott.

Tiga hal yang dicatat adalah kematian wereng, persentase serangan, dan intensitas serangan. Datanya dianalisis dengan uji beda nyata terkecil pada taraf 5 persen.

Perangkat lunak yang dipakai Statistix 8. Penentuan tingkat ketahanan diambil dari nilai modus empat ulangan.

Skor kerusakan mengacu pada patokan IRRI. Skor 0 berarti tanpa kerusakan, skor 9 berarti seluruh tanaman mati.

Skor 1 diberi label tahan. Kerusakannya kurang dari 1 persen pada ujung daun pertama dan kedua.

Skor 3 berarti agak tahan, dengan sebagian besar daun pertama dan kedua menguning. Skor 5 berarti agak rentan, dengan 10 sampai 25 persen tanaman layu.

Skor 7 diberi label rentan. Lebih dari separuh tanaman layu atau mati, sisanya kerdil dan mengering.

Angka Kematian

Kematian tertinggi tercatat pada IR74, pembanding tahan. Angkanya 87,19 persen pada hari kedelapan.

Banang Salai menyusul dengan 83,13 persen. Selisih keduanya tidak berbeda nyata secara statistik.

Tiga varietas berikutnya berkumpul di kisaran yang sama. Bujang Marantau 49,32 persen, Bakwan 48,88 persen, dan Kutu 46,50 persen.

Sarai Sarumpun berada paling bawah dengan 25,94 persen. Pada TN1 angkanya nol.

Kematian di IR74 sudah mencapai 54,05 persen pada hari kelima. Angka itu naik menjadi 87,19 persen pada hari kedelapan.

Kematian di Sarai Sarumpun bergerak jauh lebih lambat. Rentangnya hanya 7,84 sampai 25,94 persen pada periode yang sama.

Peneliti membaca kematian tinggi pada Banang Salai sebagai tanda antibiosis. Artinya tanaman itu merugikan serangga yang memakannya.

Baca juga Jamur yang Disemprotkan ke Cabai untuk Membunuh Kutu Daun

Persentase Serangan

Ukuran kedua adalah berapa banyak tanaman yang terserang. Di sini jaraknya lebih lebar.

TN1 dan Sarai Sarumpun sama-sama 100 persen. Seluruh tanamannya terserang.

Bakwan dan Kutu mencapai 97,5 persen. Bujang Marantau 96,26 persen.

Banang Salai jauh lebih rendah dengan 68,75 persen. IR74 paling rendah dengan 58,75 persen.

Kenaikan paling tajam terjadi antara hari keempat dan keenam. Sesudah itu angkanya melandai.

Intensitas serangan juga naik dari hari pertama sampai kedelapan. Lonjakan terbesarnya terjadi mulai hari kelima.

Banang Salai naik paling lambat di antara seluruh varietas. Sarai Sarumpun sebaliknya, naik paling cepat.

Skor Ketahanan

Ukuran ketiga adalah intensitas serangan. Nilainya diterjemahkan menjadi skor 0 sampai 9.

TN1 mencatat 92,21 persen dengan skor 9. Sarai Sarumpun 90,52 persen, juga skor 9.

Keduanya masuk kategori sangat rentan. Bakwan 76,50 persen dan Kutu 76,40 persen masuk kategori rentan dengan skor 7.

Bujang Marantau 66,52 persen dan berskor 5. Kategorinya agak rentan.

Banang Salai 50,34 persen dan berskor 3. Kategorinya agak tahan.

IR74 mencatat 23,81 persen dengan skor 1. Hanya pembanding itu yang masuk kategori tahan.

Baca juga Dua Calon Jagung Komposit Diuji di Payakumbuh dan Agam

Daun Kasar

Peneliti mencari sebabnya pada bentuk tanaman. Pengamatan mereka mencatat Banang Salai berdaun relatif kasar dan berbatang kaku.

Dua sifat itu diduga menghambat tusukan stilet wereng. Penyerapan cairan tanaman menjadi lebih sulit.

Hambatan fisik semacam itu menurunkan efisiensi makan. Akibat lanjutannya, kematian serangga naik.

Rujukan tahun 2024 yang dipakai peneliti menambahkan satu angka. Varietas berdinding sel lebih tebal dan berlignin lebih tinggi menurunkan efisiensi makan wereng sampai 40 persen.

Kerapatan bulu daun juga disebut berpengaruh. Rujukan tahun 2022 mengaitkannya dengan menurunnya minat wereng makan dan bertelur.

Pertahanan kedua bersifat kimia. Peneliti menyebut asam oksalat, senyawa fenolik, flavonoid, dan saponin.

Senyawa-senyawa itu dilaporkan beracun atau membuat serangga enggan makan. Sasarannya serangga pengisap cairan floem seperti wereng.

Cara kerjanya mengganggu pencernaan dan metabolisme serangga. Pertumbuhan terhambat, kemampuan berbiak turun, dan kematian naik.

Rujukan tahun 2018 menyoroti asam oksalat pada batang padi. Kadar tinggi senyawa itu disebut menghambat wereng bertelur.

Rujukan tahun 2021 menyoroti flavonoid. Varietas berkadar flavonoid tinggi disebut menurunkan aktivitas makan wereng sampai 55 persen.

Peneliti mengakui satu hal penting di sini. Analisis biokimia tidak dilakukan dalam penelitian ini.

Karena itu penjelasan kimia tersebut berstatus dugaan. Yang mereka punya hanya pola kematian, bukan kadar senyawanya.

Faktor lain yang disebut adalah kandungan hara tanaman. Nitrogen dan karbohidrat dianggap ikut menentukan.

Kadar nitrogen tinggi membuat tanaman lebih enak dimakan. Pertumbuhan dan perkembangbiakan wereng ikut terdorong.

Sebaliknya, kadar nitrogen rendah disertai senyawa sekunder tinggi membuat tanaman kurang disukai. Perilaku makan wereng terganggu.

Peneliti menyimpulkan kedua sifat itu bekerja bersamaan. Sifat bentuk dan sifat kimia disebut saling menguatkan.

Mereka juga menegaskan ketahanan padi terhadap wereng bersifat poligenik. Banyak gen terlibat, dan mekanismenya rumit.

Satu Kata yang Berbeda

Di sinilah abstrak dan tabel tidak sejalan. Abstrak menyebut Banang Salai menunjukkan respons tahan.

Tabel intensitas serangan menyebutnya agak tahan. Skornya 3, bukan 1.

Selisih satu kategori itu bukan urusan kecil. Dalam sistem skor yang dipakai, tahan dan agak tahan menempati dua tingkat yang berbeda.

Dea Safitri, Novri Nelly, dan Arneti menulis dalam abstraknya. Diterjemahkan dari bahasa Inggris, Banang Salai disebut “sumber daya genetik lokal yang menjanjikan untuk ketahanan terhadap wereng batang cokelat.”

Catatan berikutnya menyangkut asal benih. Varietasnya disebut berasal dari Pesisir Selatan, tetapi benihnya diperoleh dari petani di Padang.

Pengujiannya pun berhenti pada bibit berumur tujuh hari. Tidak ada data hasil panen, tidak ada uji di sawah, dan seluruhnya berlangsung delapan hari.

Laporan itu tidak memuat bagian keterbatasan penelitian. Padahal jarak antara sungkup mylar dan petak sawah cukup jauh.

Penelitian ini didanai kementerian yang membawahi pendidikan tinggi. Nomor kontraknya dicantumkan atas nama Novri Nelly.

Yang sudah pasti hanya satu. Dari lima padi lokal yang diuji, hanya Banang Salai yang layak diteruskan.

Bagikan

Baca Juga

Hawar Daun Padi Ditahan Bakteri dari Laut Pasir Bromo
Burnout Atlet Dayung dan Arah Hubungan yang Tak Ditunjukkan
Skor Konsentrasi Anak 2,33 ke 9,47 Setelah Enam Sesi Panahan
Hutan Adat Sungai Utik, dari Tolakan 1979 ke SK 2020
Nagari Sijunjung, Enam Unsur Adat dan Atap yang Berganti
Etnoastronomi Suku Bajo Wuring dan Bintang yang Tak Dicatat