Cekricek.id — Angkanya 2,33. Itu rata-rata skor konsentrasi 15 anak sekolah dasar sebelum mereka memegang busur.
Sesudah enam sesi memanah, rata-rata itu menjadi 9,47. Selisihnya 7,14 poin.
Kedua angka berasal dari satu alat ukur yang sama, yaitu Concentration Grid Test. Waktu pengerjaannya satu menit.
Lokasinya SD Negeri Duren Tiga 14, Jakarta Selatan. Pengambilan datanya berlangsung selama satu bulan pada 2025.
Penelitinya lima orang dari Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Olahraga dan Kesehatan, Universitas Negeri Jakarta.
Mereka Nadya Dwi Oktafiranda, Ramdan Pelana, Dinan Mitsalina, Dzulfiqar Diyananda, dan Ela Yuliana. Laporannya berjudul The Effect of Archery Activities on Concentration Levels in Elementary School Children.
Artikel itu dimuat Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan Volume 11 Nomor 1, Juni 2026, halaman 166 sampai 172. Naskahnya disetujui 10 April 2026 dan terbit 2 Juni.
Daftar Isi
6 sampai 12 Tahun, Usia yang Diuji
Anak usia sekolah dasar didefinisikan peneliti sebagai individu berusia 6 sampai 12 tahun. Rujukannya Papalia tahun 2020.
Pada rentang usia itu, anak mulai masuk pendidikan formal. Kemampuan kognitif, sosial, emosional, dan moralnya disebut sedang menanjak.
Konsentrasi sendiri dirumuskan sebagai kemampuan memusatkan perhatian pada satu kegiatan. Rujukannya Fatchuroji dan rekan tahun 2023.
Peneliti menyebut dua sumber gangguan pada anak sekolah dasar. Yang dari dalam berupa kebiasaan bergawai dan gaya hidup kurang gerak.
Yang dari luar disebut mencakup polusi suara. Rujukan tahun 2017 yang mereka pakai menyoroti kebisingan lalu lintas harian di sekolah kota besar.
Akibat konsentrasi yang buruk dirinci menjadi tiga. Pemahaman menurun, motivasi belajar turun, dan tingkat stres naik.
15 Anak, 6 Laki-laki, 9 Perempuan
Jumlah sampelnya 15 anak. Rinciannya 6 laki-laki atau 40 persen dan 9 perempuan atau 60 persen.
Rata-rata usia mereka 10 tahun. Yang termuda 9 tahun dan yang tertua 12 tahun.
Rata-rata tinggi badannya 133,6 sentimeter. Rata-rata beratnya 30,7 kilogram.
Pengambilan sampelnya purposive, dengan tiga syarat masuk. Berusia 9 sampai 12 tahun, bukan atlet panahan, dan bersedia mengikuti seluruh rangkaian.
Anak yang tidak memenuhi syarat itu dikeluarkan dari daftar. Jumlah akhirnya tetap 15.
Populasi penelitiannya disebut siswa SD Negeri Duren Tiga 14 pada 2025. Berapa jumlah seluruh siswa di sekolah itu tidak dicantumkan.
10 Kali 10 Kotak dalam 60 Detik
Alat ukurnya Concentration Grid Test, disingkat CGT. Bentuknya kisi 10 kali 10 kotak.
Setiap kotak berisi dua digit angka. Rentangnya dari 00 sampai 99.
Peserta diberi waktu 1 menit untuk mengerjakannya. Acuan instrumennya Harris tahun 1984.
Skor maksimal yang bisa dicapai secara teoretis 100. Skor tertinggi yang tercatat pada penelitian ini 17.
Skor terendah saat pratest 0. Saat pascates, angka terendahnya naik menjadi 3.
Jarak antara 17 dan 100 itu perlu dicatat pembaca. Bahkan skor tertinggi sesudah perlakuan masih jauh di bawah kemampuan maksimal alat ukurnya.
Peneliti tidak menjelaskan mengapa angka pratest serendah 2,33. Tidak disebutkan pula apakah peserta pernah mengenal bentuk tes semacam itu sebelumnya.
Enam sesi panahan dijalankan di antara dua pengukuran tersebut. Jeda antarsesinya tidak dicantumkan di dalam laporan.
Alasan memilih aktivitas fisik dijelaskan lewat rujukan tahun 2008. Aktivitas fisik disebut menambah aliran darah ke otak.
Aktivitas fisik juga disebut memicu pelepasan dua zat penghantar saraf. Keduanya dopamin dan serotonin, yang dikaitkan dengan fungsi kognitif.
Panahan dipilih karena menggabungkan dua hal sekaligus. Gerak fisik di satu sisi, pemusatan perhatian dan ketenangan di sisi lain.
Tiga syarat memanah disebut peneliti secara berurutan. Ketenangan, pengendalian diri, dan koordinasi visual-motorik.
Rujukan tahun 2022 yang mereka pakai mengaitkannya dengan korteks prefrontal. Bagian otak itu disebut berhubungan dengan pengaturan perhatian.
Baca juga Lagu Anak Jepang dan Naiknya Fokus Anak TK di Padang
Perlakuannya berupa aktivitas panahan sebanyak 6 sesi. Setiap sesi berlangsung 60 menit.
Isinya teknik dasar yang dirinci menjadi tujuh tahap. Berdiri, memasang anak panah, mengait, menyiapkan, menarik, mengunci, dan melepas.
Acuan tekniknya Teresa Johnson tahun 2015. Urutannya dijalankan sama pada setiap sesi.
Urutan penelitiannya tiga langkah. Pratest dengan CGT, enam sesi panahan, lalu pascates dengan CGT yang sama.
Program kegiatannya disebut sudah dirancang sebelum penelitian dimulai. Enam sesi itu dijalankan mengikuti rancangan tersebut tanpa perubahan.
Pratest dipakai untuk memperoleh data dasar konsentrasi peserta. Pascates dipakai untuk mengukur ulang setelah 6 sesi selesai.
Cara memberi skor CGT tidak dirinci dalam laporan. Tidak disebutkan apakah angka yang dihitung adalah jumlah kotak yang berhasil ditemukan berurutan.
Kesediaan peserta menjadi syarat ketiga. Seluruh 15 anak disebut memberi persetujuan sebelum rangkaian dimulai.
Kegiatan itu tidak melibatkan pelatih dari klub panahan mana pun menurut laporan. Seluruh 6 sesi dijalankan tim peneliti sendiri.
Rata-rata 2,33 pada pratest disertai simpangan baku 2,1. Nilainya bergerak dari 0 sampai 5.
Rata-rata 9,47 pada pascates disertai simpangan baku 4,6. Nilainya bergerak dari 3 sampai 17.
Simpangan baku yang lebih dari dua kali lipat itu berarti sebarannya melebar. Sesudah perlakuan, jarak antara anak yang tertinggi dan terendah bertambah jauh.
Peneliti tidak membahas pelebaran tersebut. Yang mereka soroti hanya kenaikan rata-ratanya.
2,1 dan 4,6 Sebelum Z Minus 3,327
Uji normalitasnya memakai Shapiro-Wilk. Data pratest ternyata tidak berdistribusi normal dengan p kurang dari 0,05.
Karena itu ujinya berpindah ke Wilcoxon Signed Rank Test. Hasilnya nilai Z sebesar minus 3,327.
Nilai signifikansinya 0,001. Angka itu lebih kecil daripada 0,05.
Tanda minus pada nilai Z menunjukkan arah peringkat. Pada uji Wilcoxon, tanda itu mengikuti cara penyusunan pasangan datanya.
Dari dua angka tersebut peneliti menyimpulkan ada perubahan bermakna. Kesimpulan itu ditarik antara skor pratest dan pascates.
Nadya Dwi Oktafiranda dan empat rekannya menutup abstrak dengan satu kalimat. Diterjemahkan dari bahasa Inggris, “panahan dapat dipakai sebagai sarana stimulasi kognitif di sekolah.”
4 Rujukan yang Diklaim Sejalan
Peneliti menyandingkan hasilnya dengan empat rujukan terdahulu. Semuanya disebut menunjukkan arah yang sama.
Rujukan tahun 2021 menyebut panahan sebagai olahraga perseorangan yang menuntut pikiran tenang. Karena itu ia dinilai membuka peluang menaikkan konsentrasi sementara.
Rujukan tahun 2020 menyoroti hubungan positif antara aktivitas fisik pada masa kanak-kanak dan perhatian. Rujukan lain pada tahun yang sama menyoroti rentang perhatian anak 9 sampai 13 tahun.
Rujukan tahun 2022 membandingkan dua kelompok siswa. Yang mengikuti ekstrakurikuler panahan disebut punya kemampuan konsentrasi belajar lebih tinggi.
Perbandingan dua kelompok itulah yang justru tidak dikerjakan penelitian ini. Yang ada hanya 1 kelompok yang diukur 2 kali.
Peneliti mengklaim mengisi celah yang belum terisi. Menurut mereka, kajian tentang pengaruh panahan pada anak sekolah dasar masih terbatas.
Baca juga Senenan, Turnamen Tombak Bambu Sebelum Ada Kurikulum
1 Sekolah, 0 Kelompok Pembanding
Angka berikutnya justru yang paling menentukan. Jumlah kelompok pembanding pada penelitian ini nol.
Desainnya disebut pre-experiment dengan pretest-posttest one-group design. Hanya ada satu kelompok, dan seluruh anggotanya menerima perlakuan.
Meski begitu, bagian prosedur menyebut kata kelompok kontrol. Disebutkan pascates dilakukan pada kedua kelompok dan hasilnya dapat dibandingkan.
Bagian pembahasan mengulang kekeliruan yang sama. Di sana disebut ada kelompok yang tidak menerima intervensi apa pun.
Kelompok itu tidak pernah muncul di bagian sampel, tabel, maupun perhitungan. Seluruh angka dalam laporan bersandar pada satu kelompok berisi 15 anak.
Akibatnya satu kemungkinan tidak bisa disingkirkan. Kenaikan 7,14 poin itu bisa saja berasal dari terbiasanya anak mengerjakan tes yang sama untuk kedua kalinya.
Peneliti sendiri mencatat keterbatasan lain. Penelitian hanya dilakukan di satu sekolah, pada satu kelompok usia, tanpa membandingkannya dengan aktivitas fisik lain.
80 Persen yang Tidak Nyambung
Ada satu angka lagi yang perlu dicatat pembaca. Bagian pembahasan membuka dengan pernyataan bahwa 80 persen anak dengan gangguan pemusatan perhatian cenderung mengalami kesulitan belajar.
Angka itu dikutip dari rujukan tahun 2009. Sampel penelitian ini tidak diseleksi berdasarkan gangguan pemusatan perhatian.
Tidak ada keterangan berapa anak di antara 15 peserta yang punya diagnosis semacam itu. Angka 80 persen karena itu berdiri tanpa kaitan dengan datanya sendiri.
Saran penutup peneliti sendiri lebih hati-hati. Mereka meminta penelitian berikutnya memakai sampel lebih besar dan melibatkan sekolah dari berbagai daerah.
Saran kedua mereka menyangkut variabel lain. Faktor psikologis, lingkungan belajar, dan tingkat aktivitas fisik lain diakui belum diperhitungkan.
Baca juga Tujuh Anak Tertinggal Ketukan di Kelas Tari Pekanbaru
Angka terakhir yang layak diingat tetap 15. Yang belum dijawab adalah apakah 15 anak di satu sekolah cukup untuk menyimpulkan panahan menaikkan konsentrasi.














