Cekricek.id — Tiga puluh empat anak diminta menari satu per satu di hadapan guru yang memegang lembar penilaian. Yang diuji bukan hafalan gerak. Yang diuji adalah apakah tangan, kaki, kepala, dan badan mereka bergerak sebagai satu tubuh, dan apakah tubuh itu sanggup mengejar ketukan musik pengiring. Ketika lembar itu selesai diisi, sembilan nama berada di kategori baik, delapan belas di kategori cukup baik, dan tujuh berhenti di kategori paling bawah.
Tujuh anak itu tidak kalah dalam urusan menghafal. Mereka tersandung pada tiga hal yang jauh lebih sulit dinilai: koordinasi gerak, ketepatan irama, dan keberanian berekspresi di depan teman sekelas. Dalam persentase, dua puluh koma lima sembilan persen dari satu kelas berhenti di sana, sementara lima puluh dua koma sembilan empat persen berada di tengah dan hanya dua puluh enam koma empat tujuh persen yang dinilai baik. Ketiga hal tadi justru kerap dianggap bonus dalam pelajaran seni di sekolah dasar, sesuatu yang diandaikan tumbuh sendiri asal anak rajin berlatih. Catatan dari satu kelas di Pekanbaru memperlihatkan bahwa andaian itu terlalu ringan.
Angka tersebut berasal dari penelitian Fatia Kurniati, Hengki Satria, Gustifany, dan Iyon Riski Simbolon dari Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Riau, Pekanbaru. Laporan mereka, The Role of Dance Learning in Developing the Psychomotor, Affective, and Cognitive Domains of Elementary School Students, terbit dalam Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Volume 28 Nomor 1 tahun 2026, halaman 44 sampai 55.
Yang dinilai bukan skor tunggal. Guru menimbang empat unsur yang lazim dipakai dalam tari: wiraga, yaitu ketepatan bentuk gerak dan sikap tubuh; wirama, kesesuaian gerak terhadap irama musik; wirasa, penghayatan dan ekspresi; serta harmoni, keselarasan antara gerak, irama, dan kekompakan kelompok. Rusliana, yang dikutip tim peneliti, menempatkan nilai keindahan tari tepat pada keempat unsur itu, sehingga keempatnya dapat dipakai menakar kualitas kepenarian siswa.
Susunan penilaian semacam itu menentukan apa yang dianggap berhasil. Kalau yang dihitung hanya wiraga, pelajaran tari akan berhenti sebagai latihan meniru bentuk, dan anak yang paling patuh meniru akan selalu menang. Dengan wirasa dan harmoni ikut ditimbang, kerapian gerak saja tidak cukup untuk membawa seorang anak ke kategori teratas, sebab penghayatan dan kekompakan dengan teman satu barisan ikut dihitung. Penilaian seperti ini menuntut guru menonton jauh lebih lama daripada sekadar mengecek urutan gerak, dan menuntut anak melakukan sesuatu yang tidak bisa dilatih dalam semalam.
Daftar Isi
Setiap Kamis, sebelum satu gerakan pun boleh dimulai

Pelajaran seni tari di SD Negeri 182 Pekanbaru jatuh pada hari Kamis dan tidak pernah dimulai dari tarian. Anak-anak berbaris lebih dulu, lalu berdoa, lalu pemanasan. Pemanasan itu bukan formalitas pembuka yang bisa dilewati kalau waktu mepet. Gerak tari menuntut kelenturan, keseimbangan, dan koordinasi tubuh sekaligus, dan tubuh yang belum disiapkan cenderung menolak permintaan sebesar itu. Urutan yang selalu sama tersebut juga mengerjakan hal lain: ia memberi tanda kepada anak bahwa pelajaran sudah dimulai, dan bahwa apa yang akan mereka lakukan berikutnya bukan permainan bebas.
Baca juga Ujaran Kebencian @jokowi di Mata Linguistik Forensik
Materi gerak diberikan bertahap dan berurut. Gerak tangan lebih dulu, kemudian kaki, kemudian kepala, baru koordinasi seluruh anggota tubuh. Iringan musik sengaja tidak diperdengarkan sejak awal. Musik baru masuk setelah bentuk gerak dasar dipahami, dan sejak saat itu anak-anak menghadapi persoalan yang sama sekali lain: bukan lagi mengingat gerak, melainkan menaruhnya pada tempo yang tidak mau menunggu siapa pun.
Pengulangan menjadi bagian dari metode, bukan tanda pelajaran mandek. Setiap putaran memberi kesempatan memperbaiki satu hal yang keliru pada putaran sebelumnya, dan kesempatan itu berulang sebanyak jumlah Kamis dalam satu semester. Tim peneliti mengikuti prosesnya lewat pengamatan langsung, mewawancarai guru kelas dan guru seni budaya, mengumpulkan dokumentasi kegiatan, lalu menutupnya dengan tes unjuk kerja yang melahirkan tiga kategori tadi. Subjeknya siswa kelas V, dan yang dijadikan informan adalah kedua guru yang berada di ruangan itu sepanjang pelajaran.
Ketukan yang akhirnya menemukan tubuh anak-anak
Perubahan pertama muncul di bagian yang paling mudah dilihat. Anak yang semula tidak sanggup menyambung gerak tangan dengan langkah kaki mulai menampilkan keduanya sebagai satu rangkaian yang utuh. Keseimbangan membaik. Tubuh lebih lentur. Gerak mulai jatuh pada tempo yang benar tanpa harus dihitung keras-keras oleh guru di depan barisan, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan irama itulah yang paling sering disebut dalam catatan pengamatan sebagai penanda bahwa latihan sudah masuk.
“Siswa yang pada awal pembelajaran masih mengalami kesulitan menghubungkan gerak tangan, kaki, kepala, dan badan mulai mampu menampilkan gerakan secara lebih sinkron setelah beberapa kali latihan,” tulis Fatia Kurniati dan tiga rekannya dalam laporan tersebut. Kalimat itu mereka susun sesudah membandingkan hasil pengamatan pada pertemuan awal dengan penampilan anak-anak yang sama pada pertemuan berikutnya.
Baca juga Kain Sembilan Meter dari Adat Kapan Salampih
Keuntungannya ternyata tidak berhenti di ruang tari. Langkah, ayunan tangan, perpindahan posisi, dan perubahan arah memakai bahan yang sama dengan berjalan, melompat, berlari, dan menjaga keseimbangan, yaitu kemampuan motorik kasar yang biasanya dilatih di lapangan olahraga. Sementara gerak jari, pergelangan tangan, dan detail ekspresi wajah bekerja pada wilayah motorik halus, wilayah yang lebih sering dikaitkan dengan menulis dan menggunting. Satu pertemuan menyentuh dua lapis kemampuan gerak sekaligus, dan itu terjadi tanpa satu pun anak diminta mengikuti senam.
Lapisan berikutnya tumbuh tanpa pernah diajarkan secara langsung. Tari dikerjakan berkelompok, dan kelompok memaksa anak menyesuaikan diri: hadir tepat waktu, mengikuti instruksi guru, menjaga kekompakan barisan, menanggung bagiannya sendiri agar formasi tidak rusak. Dalam tabel perkembangan yang disusun tim peneliti, kerja sama adalah satu-satunya aspek yang memperoleh kategori sangat baik. Sisanya, termasuk percaya diri dan disiplin, berhenti di kategori baik. Temuan itu sejalan dengan kajian Kurniati, Erawati, dan Tamara terbitan 2025 yang mencatat kegiatan seni di sekolah sebagai penumbuh nilai disiplin, kerja keras, kemandirian, dan kerja sama.
Tari Melayu di ruang kelas dan apa yang tak terbaca lembar penilaian
Materi yang dipakai bukan gerak bebas. Anak-anak mempelajari gerakan lenggang dan gerak tari tradisi Melayu, dan di titik itulah pelajaran menyeberang dari tubuh ke kepala. Mereka tidak hanya memperagakan. Mereka juga diminta menerangkan jenis tari tradisional Melayu dan fungsinya di tengah masyarakat, sehingga materi yang semula berbentuk hitungan gerak berubah menjadi bahan yang bisa dibicarakan. Pengenalan bentuk gerak, nilai estetika, dan identitas budaya berjalan lewat pintu yang sama, yaitu badan yang sudah lebih dulu mencobanya.
Pemahaman itu datang belakangan, sesudah tubuh lebih dulu mengerjakannya. Anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, tahap ketika konsep lebih mudah masuk lewat pengalaman langsung, sebagaimana dirujuk tim peneliti dari kajian Bujuri terbitan 2018. Ruang, waktu, tenaga, pola lantai, dan irama adalah istilah yang sulit dijelaskan di papan tulis, tetapi masuk akal begitu dipraktikkan dengan badan sendiri.
Rujukan tim peneliti bahkan sampai ke John Dewey, yang pada 1934 menempatkan seni sebagai pengalaman yang menyatukan emosi, tubuh, dan pemahaman dalam satu proses belajar. Argumen itu berumur hampir seabad dan masih dipakai untuk membela pelajaran seni dari tuduhan sebagai pengisi jadwal. Data dari Pekanbaru tidak membuktikan Dewey benar. Data itu hanya memperlihatkan bahwa di satu kelas, ketiga wilayah tadi memang bergerak bersamaan.
Baca juga Cara Sanggar Tari Menilai Murid Tanpa Rapor
Keberanian tampil punya jalurnya sendiri, dan jalurnya paling lambat. Anak yang semula malu atau ragu mulai maju ke depan kelas, memperagakan gerak, lalu menjelaskan apa yang baru saja ia peragakan. Guru mencatat perubahan itu sebagai bagian dari sisi afektif, bersama kemampuan mengendalikan rasa takut dan menghargai penampilan teman. Di lembar penilaian, sisi itu pula yang menahan tujuh nama di kategori paling bawah, karena unsur wirasa menuntut sesuatu yang tidak bisa dipinjam dari anak lain di barisan depan.
Batas penelitiannya diakui sendiri oleh penulisnya. Ini kajian deskriptif kualitatif atas satu kelas di satu sekolah, tanpa kelas pembanding yang tidak mendapat pelajaran tari, sehingga perbaikan yang terekam tidak dapat dinyatakan sebagai akibat tunggal dari pelajaran tari. Tim peneliti sendiri menempatkan temuannya sebagai gambaran kondisi lapangan di SD Negeri 182 Pekanbaru, bukan sebagai ukuran umum. Tiga puluh empat anak di satu kota juga bukan gambaran sekolah dasar di Indonesia, dan tidak ada dalam laporan itu yang mengklaim demikian.
Keabsahan datanya dijaga dengan cara yang sederhana. Hasil pengamatan disandingkan dengan keterangan guru, dokumentasi kegiatan, dan hasil tes unjuk kerja, supaya temuan tidak bertumpu pada satu sumber saja. Cara itu tidak menghapus keterbatasan tadi. Cara itu hanya memastikan bahwa yang dilaporkan memang terlihat oleh lebih dari satu alat ukur.
Yang membedakan laporan ini dari kajian sejenis terletak di tempat lain. Sebagian besar penelitian pembelajaran tari selama ini berhenti pada peningkatan kemampuan motorik atau keaktifan belajar. Tim Universitas Islam Riau memilih menakar tiga wilayah sekaligus dalam satu proses yang sama, dan memperlihatkan bahwa ketiganya tidak berjalan sendiri-sendiri: tubuh yang lebih terkendali membuat anak berani tampil, dan keberanian tampil membuka jalan bagi penjelasan tentang tari.
Lembar penilaian itu sudah diisi. Sembilan nama di atas, delapan belas di tengah, tujuh di bawah. Kamis berikutnya barisan dibentuk lagi, doa dibaca lagi, dan musik pengiring diputar dari awal untuk tubuh-tubuh yang belum selesai belajar mengejarnya.














