Bengkel dan Bahagia, Dua Jalan Kata Serapan

A A

Ilustrasi kamus tebal terbuka memperlihatkan dua lajur lema. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Kata yang Dibawa Kapal Dagang
  2. Kata yang Ditinggalkan Meja Kolonial
  3. Bahasa yang Punah di Jawa
  4. Nama yang Bertahan di Larantuka

Cekricek.id — Kata bengkel dan kata bahagia dipakai orang Indonesia setiap hari tanpa ada yang merasa perlu bertanya asalnya, padahal keduanya masuk dari dua arah yang berlawanan. Yang satu turun dari kapal dagang yang menyeberangi Teluk Benggala, membawa bahasa upacara dan kitab. Yang satu lagi ditinggalkan pegawai kolonial yang menyebut sudut tokonya dengan kata winkel. Keduanya kini sama-sama terdengar seperti kata Indonesia, dan justru itulah yang membuat riwayatnya sukar dilihat. Riwayat itu baru terlihat kalau kata-katanya dibongkar satu per satu.

Ana Purwitasari, peneliti di University of Freiburg, Jerman, melacak jalur masuk kata-kata semacam itu dalam artikel Backtracking Indo-European Languages Influence on Indonesian yang terbit di jurnal LITERA, Volume 24 Nomor 2, tahun 2025, halaman 73 sampai 87. Ia memakai dua sudut pandang sekaligus: diakronis, untuk merekonstruksi bentuk purba tiap kata dengan mengacu pada Mallory dan Adams serta teori peminjaman Campbell, dan sinkronis, untuk mengenali jenis serapannya menurut Swe.

Hasilnya, tulis Purwitasari, memperlihatkan bahwa kata serapan Indo-Eropa masuk ke bahasa Indonesia lewat dua pintu yang berbeda watak. Pintu pertama adalah kontak bahasa: orang bertemu orang, berdagang atau memerintah, dan kata berpindah karena dipakai. Pintu kedua adalah luxury loan, peminjaman karena kebutuhan sekaligus gengsi, ketika bahasa Indonesia belum punya kata untuk barang atau gagasan yang baru datang. Rumpun Indo-Iran dan Germanik mengisi pintu pertama, sementara Italik dan Hellenik lebih banyak melewati pintu kedua. Lima jenis serapan ia bedakan, dari yang diambil bulat-bulat sampai yang bentuknya diciptakan sendiri untuk menerjemahkan gagasan asing.

Kata yang Dibawa Kapal Dagang

Ilustrasi kapal-kapal kayu bersandar di dermaga dengan pekerja di atas geladak.
Ilustrasi kapal-kapal kayu bersandar di dermaga dengan pekerja di atas geladak. [Foto: Pexels]

Sanskerta datang paling awal dan mengendap paling dalam. Purwitasari mencatat, dengan mengacu pada kamus Jawa Kuno-Sanskerta susunan Zoetmulder yang terbit pada 1982, bahwa hampir separuh kosakata Jawa Kuno berakar Sanskerta, dengan jumlah tidak lebih dari 25.500 kata yang dipakai sehari-hari. Jejaknya tidak berhenti di dalam teks. Nama kota Jayapura, yang dulu bernama Hollandia, dan Pegunungan Jayawijaya, yang dulu disebut Orange Range, sama-sama dibangun dari kata Sanskerta: nama baru yang justru diambil dari lapisan bahasa jauh lebih tua daripada nama yang digantikannya. Kedudukan Sanskerta yang tinggi, terikat pada penyebaran Hinduisme, membuat kata-katanya bertahan di ranah agama, kesenian, sekaligus urusan sehari-hari.

Baca juga Janlup dan Gercep di Kolom Komentar TikTok

Yang menarik bukan kata yang berpindah utuh, melainkan kata yang berpindah sambil berubah arti. Dalam daftar Purwitasari, curiga berasal dari churika yang dalam Sanskerta berarti “pisau”; bicara dari vicara yang berarti “pembahasan” dan “pertimbangan”; bangsa dari vamsa yang berarti “garis keturunan”; bendahara dari bhandara yang berarti “gudang”. Sebagian lain nyaris tidak bergeser: aksara tetap huruf, biji tetap benih, dana tetap pemberian. Pergeseran semacam itu ia sebut loanshift, sedangkan yang bertahan utuh disebut direct loan.

Pali, bahasa pengantar ajaran Buddha yang dibawa pedagang India, meninggalkan jejak lebih sedikit tetapi tidak kalah akrab: belanja dari valanja, percaya dari paricaya yang berarti “keakraban”, duka dari dukkha, dan merana dari marana yang dalam Pali berarti “pembunuhan”. Pedagang Persia menyumbang bandar, cadar, gandum, kismis, dan kaisar, juga baju, yang di Persia sebagai bazu justru berarti “lengan”. Dari Hindi datang acar, cuti, curi, cacar, candu, dan bangsal. Hampir seluruhnya kata dapur, kata pasar, kata sakit: kosakata yang hanya bisa berpindah lewat percakapan, bukan lewat dokumen.

Kata yang Ditinggalkan Meja Kolonial

Belanda menyumbang paling banyak, dan alasannya bukan mutu bahasanya melainkan lamanya kehadiran, sekitar 350 tahun di kepulauan ini. Advokat dari advocaat, apotek dari apotheek, aktual dari actueel, andil dari aandeel, arbei dari aardbei, baut dari bout. Beberapa di antaranya kata majemuk yang terbawa utuh: asbak dari as yang berarti “abu” ditambah bak yang berarti “wadah”, dan baskom dari was yang berarti “cuci” ditambah kom yang berarti “mangkuk”. Lalu bengkel, yang dalam bahasa Belanda Pertengahan adalah winkel, sudut, kemudian menjadi toko, dan di Indonesia berakhir sebagai tempat memperbaiki mesin. Perpindahan makna sejauh itu jelas tidak terjadi dalam semalam.

Jerman tidak pernah menjajah kepulauan ini, tetapi ikut menitipkan kata. Bioskop, halte, akrobat, aparatur, empiris, dan fonetik masuk lewat jalur ilmu pengetahuan dan hiburan, sebagian bersamaan dengan kedatangan orang Jerman yang berlayar bersama Belanda. Purwitasari juga mengingatkan bahwa nama negeri ini sendiri disebarluaskan seorang Jerman, Adolf Bastian, pada abad ke-19. Inggris berdiri di jalur yang lain lagi: pengaruhnya hampir tidak lahir dari penjajahan, melainkan dari gengsi. Akses, akting, entri, dasbor, fesyen, gaun, koboi, dan gosip masuk belakangan, dan ejaannya mengikuti bunyi, bukan tulisan aslinya.

Baca juga Lirik Ghea Indrawari di Bawah Kacamata Freud

Portugis meninggalkan kata-kata yang justru paling terdengar Indonesia: bola, boneka, bendera, biola, beranda, bolu, cerutu, armada, algojo. Latin dan Yunani masuk paling belakangan dan paling tertib, hampir seluruhnya lewat ruang kuliah dan ruang sidang: almamater, fakultas, forum, humaniora, demokrasi, filsafat, mitos, stadion, teater. Purwitasari mencatat satu hal yang mudah terlewat, yaitu bahwa sebagian kata Yunani itu tidak datang langsung dari Yunani, melainkan menumpang bahasa Belanda dan Portugis, bahasa dari bangsa yang memang benar-benar berlabuh di sini.

Bahasa yang Punah di Jawa

Di antara semua jejak itu, yang paling rapuh adalah sebuah bahasa yang kini tidak lagi punya penutur. Namanya Petjuk atau Petjoh, lahir dari percampuran bahasa Belanda dengan bahasa Sunda, Jawa, Melayu Betawi, dan Melayu Pasar, lalu dipakai kalangan Indo-Belanda yang tinggal di Pulau Jawa. Penuturnya menyusut dari tahun ke tahun sampai habis. Purwitasari mencatat Paasman pernah menyusun sejumlah aturan untuk menaikkan status bahasa tersebut, tetapi usaha itu sia-sia; yang tersisa sekarang hanya catatan tata bahasanya. Padahal bahasa tersebut pernah menjadi bahasa rumah bagi keluarga berdarah campuran Belanda dan Indonesia.

Catatan itu memuat perincian yang ganjil sekaligus masuk akal. Dari setiap seratus kata pada tiap kelas kata, seluruh kata sandang Petjuk berasal dari Belanda, kata depannya sembilan puluh sembilan dari seratus, kata gantinya sembilan puluh lima dari seratus. Sebaliknya, kata serunya sembilan puluh sembilan dari seratus berasal dari Melayu, begitu pula kata sapaan dan kata sambung kepemilikan. Secara keseluruhan sekitar 60,76 persen kosakatanya berakar Belanda dan 39,24 persen berakar Melayu, sementara tata bahasanya mengikuti pola bahasa lokal.

Baca juga Kesantunan Bahasa Jerman di Buku Ajar Netzwerk

Pola itu, tulis Purwitasari, sejalan dengan yang lama dikemukakan Holmes: bahasa yang berstatus lebih tinggi cenderung memasok kosakata, sementara bahasa sehari-hari lebih menentukan tata bahasanya. Belanda berdiri sebagai bahasa berprestise, Melayu sebagai bahasa sehari-hari sepanjang kepulauan. Belanda memasok kata, Melayu memasok cara menyusunnya. Bunyinya pun ikut bergeser, z menjadi s, v menjadi f, h menjadi ch, dan ja diucapkan ijo. Yang tersisa dari bahasa itu kini bukan penutur melainkan daftar: daftar kata, daftar pergeseran bunyi, dan daftar aturan yang tidak sempat menyelamatkannya.

Nama yang Bertahan di Larantuka

Kalau Petjuk adalah jejak yang hilang, nama keluarga berakar Portugis adalah jejak yang bertahan. Purwitasari merunut jalurnya: sejak 1560-an orang Portugis bermukim di Pulau Solor, lalu pindah ke Larantuka menjelang 1600. Ketika kongsi dagang Belanda merebut Solor pada 1613, komunitas itu ikut bergeser ke Larantuka di Flores. Pada 1661, orang-orang berbahasa Portugis dibawa Belanda ke Batavia sebagai budak, dan dari sanalah tumbuh permukiman yang kemudian dikenal sebagai Kampung Tugu di Jakarta Utara. Kontak pertama Portugis dengan penduduk Nusantara sendiri, catatnya, terjadi jauh di barat, di Malaka.

Yang tertinggal dari perpindahan berabad-abad itu adalah nama: Fernandez, Soares, da Costa, Michiels, Mendes, Rodrigues, Alvares, Lopes. Nama-nama tersebut masih dipakai penduduk asli Nusa Tenggara sampai hari ini, terutama di Larantuka, dan tertulis di kartu keluarga orang yang tidak pernah menginjak Portugal. Purwitasari sendiri membatasi analisisnya hanya pada bahasa Indonesia, bukan pada bahasa-bahasa daerah di Flores dan Timor, meski ia mencatat serapan Portugis di sana justru jauh lebih banyak daripada yang masuk ke bahasa Indonesia.

Ia menutup artikelnya dengan pengakuan bahwa pemeriksaan atas kata serapan dalam bahasa Indonesia belum selesai dan masih memerlukan kajian lanjutan, sementara sebagian bentuk purba yang ia susun berstatus rekonstruksi, ditandai bintang, bukan bentuk yang pernah benar-benar tercatat. Dua rombongan itu pada akhirnya meninggalkan warisan yang tidak sejenis. Pedagang meninggalkan kata untuk hal-hal yang dirasakan: duka, merana, percaya, bahagia. Penjajah meninggalkan kata untuk hal-hal yang diatur: advokat, apotek, akta, aliansi. Purwitasari tidak menimbang mana yang lebih dalam, dan sejauh ini memang belum ada alat untuk menimbangnya.

Bagikan

Baca Juga

Nyeri Punggung Bawah Menimpa 56 Persen Pegawai Bank di Pokhara
Pemakai Rokok Elektrik Korea Turun Setelah Imbauan Tahun 2019
Igya Ser Hanjob, Cara Suku Arfak Menjaga Hutan dan Menjamu Tamu
Hoaks Kesehatan di Media Sosial Lebih Sering Dijumpai Anak Muda
Enam Negara Cepat Menurunkan Stunting, Anak Miskin Tertinggal
Cegah Demensia, Kota di Jepang Ramai Latih Otak, Sepi Urus Rokok