Cekricek.id — Munadliroh memutar satu lagu berulang-ulang sampai hafal jeda dan tarikan napasnya, lalu menyalin liriknya baris demi baris ke dalam catatan. Sesudah itu ia mulai menandai. Baris mana yang terdengar seperti dorongan yang ingin segera dituruti, baris mana yang terdengar seperti rem, dan baris mana yang berdiri di antara keduanya sambil menawar. Catatan itulah yang kemudian menjadi bahan bakunya, dan sepanjang pengerjaan lagu tersebut tidak pernah ia perlakukan sebagai hiburan.
Lagu itu Jiwa yang Bersedih karya Ghea Indrawari. Munadliroh mengerjakannya bersama Siti Nur Fatimah, keduanya dari Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Universitas KH. Abdul Chalim, Mojokerto. Hasilnya terbit sebagai artikel Analisis Psikologi Sastra dalam Lirik Lagu Jiwa yang Bersedih Karya Ghea Indrawari: Teori Sigmund Freud di Jurnal Ilmu Budaya Volume 14 Nomor 1 tahun 2026, halaman 65–72. Satu lagu itu menjadi seluruh bahan yang mereka olah, tanpa pembanding dari penyanyi lain dan tanpa kuesioner kepada pendengar.
Alat yang dipakai Munadliroh dan Siti Nur Fatimah berumur satu abad lebih. Sigmund Freud membagi kepribadian menjadi tiga bagian yang saling tarik-menarik: Id yang menuntut kepuasan segera tanpa peduli kenyataan, Superego yang menyimpan nilai moral dan tuntutan agar seseorang tampil sempurna, serta Ego yang berdiri di tengah dan mencari jalan yang masih bisa dijalani. Id bekerja dengan prinsip kesenangan dan Ego dengan prinsip kenyataan, sementara Superego, tulis Freud, mengejar kesempurnaan dan bukan dua-duanya.
Daftar Isi
Mendengarkan lagu itu berulang-ulang

Datanya dikumpulkan dengan tiga cara yang sederhana. Munadliroh mendengarkan lagu itu berkali-kali, bukan untuk menikmati melodinya, melainkan untuk menangkap suasana yang tidak muncul kalau lirik hanya dibaca sebagai teks di layar. Ia lalu mencatat seluruh liriknya sebagai bahan utama. Sesudah itu Siti Nur Fatimah dan ia menelusuri pustaka tentang psikoanalisis dan psikologi sastra sebagai pegangan tafsir. Cara mendengar berulang itu mereka pilih justru karena suasana sebuah lagu kerap menguap begitu liriknya dipisahkan dari suara yang membawakannya.
Lagu itu dipilih karena isinya. Ghea Indrawari menyanyikan seseorang yang lelah, merasa sendirian, dan terbebani hidup, lalu diajak berhenti berpura-pura kuat. Munadliroh dan Siti Nur Fatimah merujuk Dewi, yang pada 2019 mengkaji ekspresi kesepian dalam lirik lagu indie Indonesia, untuk menunjukkan bahwa lirik semacam ini punya lapisan yang bisa dibongkar, bukan sekadar kalimat sedih yang dirangkai agar enak dinyanyikan. Lagu itu, dalam pembacaan keduanya, lebih banyak menawarkan tempat bersandar daripada nasihat, dan di situlah celah masuk analisisnya.
Baca juga Simpati Mendominasi Kolom Komentar Najwa Shihab
Dasar pijakannya diambil dari beberapa nama. Rachmat Djoko Pradopo menyebut lirik lagu sebagai salah satu bentuk puisi yang dinyanyikan, dengan keindahan dan makna yang bekerja seperti puisi pada umumnya. Anas Ahmadi menempatkan psikologi sastra sebagai kajian lintas bidang yang memperhatikan sisi kejiwaan dalam karya, baik pada tokohnya, pengarangnya, maupun pembacanya. Suwardi Endraswara menambahkan lirik lagu termasuk yang bisa dibaca sebagai aktivitas kejiwaan, baik milik pengarang maupun milik tokoh di dalam lagunya. Nattiez, yang juga mereka kutip, memandang musik sebagai rangkaian bunyi yang menyatu dan memiliki durasi dalam penciptaannya.
Mencatat bait, menandai dorongan
Bagian pertama yang ditandai Munadliroh adalah Id. Dalam lirik lagu itu tertulis larik “Menangislah, kan kau juga manusia”. Menurut pembacaannya, kalimat itu memuat keinginan meluapkan kesedihan tanpa ditahan lebih dulu, sebuah dorongan yang ingin segera lepas dari tekanan. Freud menempatkan dorongan semacam itu di lapisan yang paling tidak sadar, yang bekerja tanpa menimbang logika maupun akibat. Menurut catatan Munadliroh, kalimat itu tidak menunggu keadaan membaik lebih dulu; ia meminta pelepasan pada saat itu juga.
Dua larik lain dibaca dengan cara yang sama. Bait yang berbunyi “Bawa lukamu biar aku obati” ditandai Munadliroh sebagai kebutuhan dasar akan penerimaan dan rasa aman. Sementara larik “Tidakkah letih kakimu berlari” ia baca sebagai keinginan untuk berhenti, beristirahat, dan mengakui bahwa tenaganya sudah habis. Ketiganya, menurut Munadliroh dan Siti Nur Fatimah, menuntut pemenuhan sekarang, bukan nanti. Freud menyebut Id sebagai gudang tenaga psikis yang tidak tertata dan tidak memiliki arah, dan tiga larik itu dibaca persis dalam kerangka tersebut.
Di seberang dorongan itu berdiri Superego. Munadliroh menunjuk frasa “Berpura-pura sempurna” dalam lirik tersebut sebagai wujud paling jelas dari nilai sosial yang menuntut seseorang tampak kuat dan tanpa cela. Tuntutan itu, tulisnya bersama Siti Nur Fatimah, sudah tidak datang dari luar lagi; ia sudah ditelan dan dipasang di dalam diri, lalu bekerja sebagai hakim yang tidak pernah libur. Dalam uraian Freud yang mereka pakai, Superego memang tidak mengejar kesenangan seperti Id ataupun kenyataan seperti Ego, melainkan kesempurnaan.
Baca juga Menonton Dara Petak Dara Jingga di Candi Pulau Sawah
Dua larik berikutnya dipakai untuk memperlihatkan dari mana tuntutan itu datang. Dalam lagu tersebut terdapat baris “Begitu dingin dunia yang kau huni” dan “Ada hal yang tak mereka mengerti”. Siti Nur Fatimah dan Munadliroh membacanya sebagai lingkungan yang tidak menerima kesedihan sebagai sesuatu yang wajar, sehingga orang yang sedang sedih menyimpan perasaannya sendiri dan merasa makin jauh dari siapa pun. Satu larik lain dalam lagu itu, “Hanya kau tak didengar”, mereka tandai sebagai titik puncak dari perasaan tidak dimengerti tersebut.
Menimbang Ego sebagai penengah
Di antara dua kutub itulah Munadliroh menempatkan Ego, dan di situ pembacaannya menjadi paling menarik. Larik “Kan kau juga manusia”, yang tadi dibaca sebagai izin bagi Id untuk menangis, sekaligus ia baca sebagai kerja Ego. Kalimat itu menormalkan tangis dengan alasan yang masuk akal: menangis adalah hal manusiawi, jadi tidak perlu ada rasa bersalah yang menyertainya. Ego di sini tidak melawan Superego secara terbuka, melainkan melonggarkan simpulnya sedikit supaya dorongan tadi tetap mendapat jalan keluar.
Cara kerja yang sama ia temukan pada larik “Kemarilah, singgah dulu sebentar” serta “Beri waktu tuk bersandar sebentar”. Bukan kabur dari kelelahan, bukan pula bertahan sampai patah, melainkan jeda yang masuk akal dan bisa diterima lingkungan. Feist bersama koleganya menyebut Ego sebagai pengambil keputusan utama dalam kepribadian, yang menjaga keseimbangan agar seseorang tetap bisa bertindak di tengah tekanan. Munadliroh menandai satu momen lain ketika Ego menguji kenyataan, yaitu ketika lagu itu mempersoalkan sampai kapan seseorang sanggup berpura-pura sempurna.
Dari susunan itu Munadliroh dan Siti Nur Fatimah menarik satu pola yang berputar. Norma yang menuntut seseorang tampak baik-baik saja membuat kesedihan ditahan. Kesedihan yang ditahan membuat orang merasa tidak dimengerti. Perasaan tidak dimengerti memperbesar keinginan untuk didengar, dan tuntutan agar tetap tampak sempurna kembali menutup pintunya. Ego, dalam pembacaan keduanya, bekerja di lingkaran itu tanpa pernah benar-benar menang. Pola tersebut membuat kesedihan tidak berhenti sebagai rasa sedih, tulis mereka, melainkan berkembang menjadi rasa terasing yang punya sumber di luar diri.
Baca juga Lima Kaidah Budaya dalam The Architecture of Love
Kesimpulan mereka ditulis dengan hati-hati. Lirik itu, tulis Munadliroh dan Siti Nur Fatimah, “tidak hanya sekadar lagu tentang kesedihan, melainkan sebuah representasi artistik dari pertarungan psikologis yang kompleks antara dorongan bawah sadar, kesadaran akan realitas, dan internalisasi moralitas dalam pengalaman manusia”. Yang mereka klaim adalah nilai lirik itu sebagai bahan untuk memahami dinamika kepribadian menurut Freud, bukan sebagai diagnosis atas siapa pun. Munadliroh dan Siti Nur Fatimah tidak menyebut satu nama pun yang mereka anggap sedang mengalaminya.
Apa yang tidak terjangkau catatan lirik
Batas kajian ini ditentukan oleh cara datanya diambil. Munadliroh dan Siti Nur Fatimah menyatakan bahannya hanya tiga: mendengarkan lagu berulang kali, mencatat liriknya, dan menelaah pustaka. Tidak ada wawancara dengan Ghea Indrawari sebagai penulis dan penyanyinya, tidak ada pendengar yang ditanyai, dan tidak ada pengukuran apa pun. Yang mereka hasilkan adalah tafsir atas teks, bukan potret keadaan jiwa seseorang. Ghea Indrawari sendiri tidak pernah ditanyai apa yang ia maksudkan ketika menulis larik-larik tersebut, sehingga niat penulisnya berada di luar jangkauan artikel ini.
Cakupannya juga sempit dan disadari sempit. Satu lagu bukan potret suasana hati satu generasi, dan Freud hanyalah satu di antara sekian cara membaca. Munadliroh dan Siti Nur Fatimah sendiri menempatkan kerjanya sejajar dengan kajian serupa atas objek lain: Sari pada novel, Putra pada tokoh antagonis sebuah drama, dan Santoso pada film horor kontemporer. Semuanya memakai lensa yang sama pada bahan yang berbeda. Kesimpulan mereka pun berhenti di teks, tanpa mengklaim apa yang terjadi pada pendengar yang menyanyikan lagu itu sendirian di kamar.
Yang tersisa adalah catatan Munadliroh, berisi larik-larik yang sudah diberi tanda dan dikelompokkan. Di satu kolom, dorongan untuk menangis dan beristirahat. Di kolom lain, tuntutan agar tetap terlihat sempurna. Di antaranya, beberapa baris pendek yang mengajak singgah sebentar, yang menurut pembacaannya adalah satu-satunya bagian dari lagu itu yang menawarkan jalan keluar tanpa menyuruh siapa pun berhenti merasa sedih. Kolom itu yang paling sedikit isinya, dan paling sering ia putar ulang sebelum catatannya ditutup.













