Cekricek.id — Sebuah mesin jahit dan lingkaran penari randai berdiri di panggung yang sama, dan keduanya sama-sama diperlakukan sebagai alat musik. Roda mesin itu diputar sampai berderak; celana galembong ditepuk sampai berdentum. Di sudut lain, sebuah penyedot debu ditempelkan ke saluang, meniupnya dengan tenaga listrik alih-alih napas manusia. Yang terdengar bukan lelucon panggung, dan bukan pula pameran alat rumah tangga. Itu susunan bunyi yang disengaja, disiapkan lewat latihan berbulan-bulan, untuk membicarakan satu perkara yang jarang dibawa ke panggung tradisi: bagaimana sekelompok orang mengambil keputusan bersama tanpa ada yang dibungkam.
Karya itu berjudul Legaran Demokrasi, dan pertanggungjawaban akademiknya ditulis M. Arif Anas bersama Martis, keduanya dari Program Studi Seni Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Artikelnya, Legaran Demokrasi: Kolaborasi Nyanyian Mentawai dan Legaran Randai Minangkabau dalam Perspektif Seni Pertunjukan, terbit di jurnal Ekspresi Seni Volume 27 Nomor 2 tahun 2025, halaman 316–335. Dua tradisi yang jarang berada di ruang yang sama dipertemukan di situ: legaran randai dari daratan Minangkabau, dan nyanyian ritual dari Kepulauan Mentawai, yang selama ini lebih sering disebut berdampingan di brosur pariwisata daripada di satu panggung.
Daftar Isi
Lingkaran randai Minang, kesunyian vokal Mentawai

Keduanya dipertemukan bukan karena kebetulan panggung. Randai sejak lama tidak berhenti sebagai hiburan; sejumlah peneliti yang dirujuk artikel ini mencatatnya sebagai sarana menyampaikan kritik sosial, bahkan sebagai latihan berpikir kritis ketika dibawa ke ruang kelas. Di seberang laut, masyarakat Mentawai mempertahankan praktik musikal dan ritualnya sebagai cara menjaga keutuhan budaya di tengah tekanan modernisasi, sebagaimana dicatat Nurmalinda dan Zulfa pada 2024. Satu tradisi berbicara ke luar, satu tradisi menjaga ke dalam. Artikel ini menaruh keduanya pada bidang yang sama dan menolak menyusunnya sebagai latar depan dan latar belakang. Seni pertunjukan tradisional, tulis kedua penulisnya di bagian pendahuluan, bukan hanya wadah ekspresi estetis melainkan juga cerminan susunan sosial dan politik masyarakat yang melahirkannya.
Randai adalah teater rakyat yang menggabungkan drama, tari, musik, dan dendang dalam formasi melingkar. Dalam pembacaan Arif Anas dan Martis, lingkaran itu bukan sekadar pengaturan posisi di lantai. Tidak ada yang berdiri lebih tinggi dari yang lain di dalamnya, dan setiap orang memegang peran yang setara, sejalan dengan falsafah adat yang dipegang masyarakatnya. A. A. Navis menempatkan randai sebagai medium pemindahan nilai sosial, termasuk musyawarah, kebersamaan, dan saling menghormati, sementara Mursal Esten menyebutnya teater rakyat yang bekerja sebagai alat pendidikan sosial dan moral, bukan tontonan yang berhenti pada tepuk tangan.
Baca juga Kedokteran Kerja dari Milan 1906 hingga Surabaya 2026
Nyanyian Mentawai bergerak ke arah yang berlawanan. Urai sikerei dibawakan dalam upacara penyembuhan dan inisiasi, dengan struktur vokal yang berulang dan lambat, menempatkan sikerei sebagai penjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan roh leluhur. Hanefi, dalam kajiannya pada 1986 yang dikutip artikel ini, menyatakan nyanyian Mentawai tidak dibawakan untuk menghibur melainkan sebagai bagian dari ritual sakral. Yang satu ramai dan kolektif; yang lain sunyi dan kontemplatif. Persamaannya justru terletak di dasar keduanya: bunyi pada dua tradisi itu terikat pada susunan sosial dan kepercayaan yang melahirkannya, bukan berdiri sendiri sebagai capaian estetis.
Mesin jahit sebagai bunyi, kain sarung sebagai ikatan
Pertunjukannya dibuka dengan seorang penari perempuan menyanyikan vokal Mentawai. Gerakannya lambat, kain menjadi properti, cahaya lampu dibiarkan lembut sehingga panggung terasa lebih dekat daripada seharusnya. Arif Anas dan Martis membaca bagian ini sebagai suara keterasingan budaya yang tersisih oleh arus zaman, sekaligus penanda peran perempuan dalam merawat akar tradisi yang jarang mendapat sorotan. Baru sesudah itu mesin jahit masuk, dan ia tidak diperlakukan sebagai perabot latar melainkan sebagai sumber bunyi: roda yang berputar dan benda yang bergesek menghasilkan pola ritmis yang dipakai menopang seluruh bagian tersebut. Kesan yang dibangun disebutkan ritualistik sekaligus intim, dan di dalamnya kerentanan tradisi lokal di hadapan budaya yang lebih berkuasa dijadikan pesan yang paling depan.
Bahan yang dipakai disusun dari dua daftar yang tidak biasa berdampingan. Dari sisi Minangkabau: legaran randai, tapuak galembong, tari gelombang, dan dendang seperti Dendang Dayang Daini. Dari sisi Mentawai: vokal ritual sikerei dengan struktur repetitif dan meditatif, yang memikul kesan kesunyian dan keterasingan. Di luar keduanya, benda rumah tangga diperlakukan sebagai sumber bunyi, mulai dari mesin jahit dan penyedot debu sampai botol air mineral dan kain sarung, dengan bunyi mekanis sengaja dipakai sebagai kiasan modernitas. Arif Anas dan Martis menegaskan pengambilannya tidak imitatif, melainkan menafsir ulang fungsi dan makna tiap idiom.
Baca juga Subjektivasi Perempuan dalam Dua Novel Jawa
Penari kemudian menari di atas mesin jahit. Adegan itu, tulis kedua pengkarya, menautkan perempuan, kerja domestik, dan produktivitas budaya dalam satu gambar; suara yang selama ini tinggal di ruang privat dipindahkan ke tengah panggung dan dibiarkan terdengar. Transisinya menyusul dengan cara yang sama tidak lazimnya, yaitu seluruh penari meninggalkan panggung sambil tetap berada di atas mesin jahit yang bergerak, dengan kain terbentang mengikuti mereka. Kain sarung dipakai sebagai kiasan ikatan sosial yang melilit sekaligus merangkul perbedaan, dan mesin yang berjalan itu dibaca sebagai tanda bahwa tradisi tidak pernah benar-benar diam.
Penyedot debu meniup saluang, kaki menghentak galembong
Inovasi yang paling berisiko ada di bagian berikutnya. Penyedot debu dipakai sebagai peniup saluang, dan bunyi yang keluar nyaring serta terdengar asing di telinga yang terbiasa dengan tiupan napas dan teknik pernapasan berkelanjutan. Beberapa pemain kemudian berbaris dengan ritme serempak tetapi berlapis, masing-masing memegang peran bunyi yang berbeda dan tidak ada yang meniru tetangganya. Susunan itu dibaca pengkaryanya sebagai keberagaman yang tertata, dan dari situ mereka menarik satu proposisi yang menjadi punggung seluruh karya: demokrasi bukan keseragaman, melainkan keteraturan yang tumbuh di dalam keberagaman. Dalam daftar bahan yang mereka susun, bunyi mekanis semacam itu memang diletakkan sebagai kiasan modernitas dan teknologi yang masuk ke ruang tradisi, bukan sebagai tempelan yang dipilih karena unik.
Di seberangnya berdiri bunyi yang sepenuhnya berasal dari tubuh. Tapuak galembong, tepuk tangan, dan hentakan kaki disusun dalam formasi silang, meninggalkan pola melingkar yang biasa dipakai. Zulkifli, dalam penelitiannya pada 2003, sudah lebih dulu menunjukkan randai memiliki sistem musikal internal berupa hentakan kaki, tepuk tangan, dan suara silabel yang bisa dikembangkan menjadi komposisi baru. Perpindahan dari lingkaran ke silang itu dibaca sebagai pergeseran susunan sosial: dari musyawarah yang tertutup rapat dalam satu bulatan menjadi susunan yang lebih cair, dengan setiap kelompok membawa arah dan iramanya sendiri tanpa keluar dari satu tubuh pertunjukan.
Dua lingkaran berlawanan arah, satu ruang mufakat
Bagian ketiga mengembalikan lingkaran, kali ini lingkaran di dalam lingkaran dengan sehelai kain besar sebagai penanda visual. Dua putaran berjalan konstan, dibaca sebagai dua arus yang bekerja dalam masyarakat mana pun, tradisi dan perubahan, yang saling menarik tanpa pernah selesai. Puncaknya, dua lingkaran itu berputar ke arah yang berlawanan sementara vokal kolektif meninggi dan cahaya menyempit. Perbedaan arah sengaja tidak diselesaikan menjadi satu arah pada akhir pertunjukan. Arif Anas dan Martis membacanya sebagai kekuatan dinamis dalam masyarakat yang demokratis, bukan pertentangan yang menuntut salah satu pihak mengalah.
Baca juga Tarik-Menarik Hutan Nagari Sumbar Sejak 1967
Kerangka yang mereka pakai untuk membaca semua itu datang dari dua arah. Taylor menyebut praktik kolaboratif dalam seni sanggup menciptakan ruang hibrida, tempat dialog dan pembentukan identitas berlangsung tanpa salah satu pihak melebur ke pihak lain. Smith, dalam kajiannya tentang performa demokrasi di Asia Tenggara, menunjukkan seniman memakai tubuh, suara, dan ruang sebagai bentuk intervensi atas wacana yang sedang berkuasa. Dari dua pijakan itu Arif Anas dan Martis menolak menyebut karyanya asimilasi dua budaya, dan memilih menyebutnya koeksistensi: dua sistem nilai yang berjalan berdampingan di satu panggung tanpa satu pun kehilangan namanya. Pilihan istilah itu penting bagi mereka, sebab asimilasi mengandaikan salah satu tradisi menyerahkan bentuknya, sementara yang mereka kerjakan justru menjaga agar dua bentuk tetap dikenali sebagai dua.
Bentuk akhirnya dicapai lewat tiga tahap garap yang mengikuti Hawkins dan Rahayu Supanggah: eksplorasi, improvisasi, lalu pembentukan. Tema demokrasi ditetapkan lebih dulu, idiom gerak dan bunyi diuji satu per satu, termasuk menguji bunyi alat rumah tangga sebelum diputuskan dipakai. Latihan direkam, didiskusikan, dan dibongkar ulang, sampai empat bagian naratif tersusun, dari konflik budaya, distorsi identitas, pertemuan teknologi dan tradisi, hingga rekonsiliasi. Keputusan artistiknya, tulis keduanya, tidak sepenuhnya dari atas ke bawah, melainkan dibentuk lewat dialog dengan pendukung karya, mahasiswa dan dosen ISI Padangpanjang, serta kolaborator dari lingkungan sekitar.
Kesimpulan yang mereka tarik menyentuh perkara yang lebih besar daripada satu pertunjukan. “Pelestarian budaya tidak harus melalui pelanggengan bentuk lama, melainkan bisa dilakukan melalui inovasi yang sensitif terhadap nilai lokal dan terbuka terhadap interpretasi zaman,” tulis Arif Anas dan Martis dalam abstraknya. Kalimat itu langsung mereka imbangi dengan peringatan pada bagian saran: eksplorasi media non-konvensional perlu dijaga relevansi kontekstual dan kekuatan naratifnya, supaya tidak berhenti sebagai kejutan sesaat. Mereka juga meminta ruang lebih luas bagi praktik seni eksperimental yang kerap terpinggirkan dalam skema pendanaan dan apresiasi publik.
Sejauh mana temuan itu boleh dibawa, keduanya memberi batas sendiri. Metodenya kualitatif berbasis praktik artistik, dengan analisis yang mereka sebut interpretatif dan kontekstual, bukan numerik. Validasinya bersandar pada refleksi estetis pengkarya, bimbingan dosen, diskusi tim artistik, serta respons penonton pada pertunjukan terbuka yang dicatat tanpa alat ukur dan tanpa pembanding. Artinya ini laporan atas satu karya di satu panggung, bukan pengujian yang bisa dipakai menyimpulkan bahwa kolaborasi lintas budaya selalu bekerja, atau bahwa penonton di ruang lain akan menangkap makna yang sama. Lima butir kesimpulan yang mereka susun pun adalah pembacaan pengkarya atas karyanya sendiri, posisi yang mereka akui sebagai bagian dari metode praktik artistik.
Yang tersisa dari panggung itu adalah dua kemungkinan yang sama-sama masuk akal. Tradisi bisa dirawat dengan mengulangnya persis seperti yang diwariskan, dan cara itu memberi kepastian bentuk serta jaminan bahwa tidak ada yang hilang di jalan. Tradisi juga bisa dirawat dengan dibongkar lalu disusun ulang memakai mesin jahit dan penyedot debu, dan cara itu membuka kemungkinan baru dengan risiko yang sepadan. Legaran Demokrasi memilih jalan kedua untuk satu malam pertunjukan, dan tidak sekali pun menyatakan jalan itu lebih benar daripada yang pertama. Yang tercatat hanyalah bahwa mesin jahit itu sempat berbunyi, dan lingkaran itu sempat berputar ke dua arah sekaligus.













